
Anniyah_PoV
*
Menikah nggak hanya menyatukan dua manusia, namun juga dua keluarga beserta di lingkungannya juga. Maka banyak nasihat yang sering diucap, sebelum menikah kenali dulu keluarga serta lingkungannya, apakah kamu akan cocok atau tidak.
Banyak yang bisa memutuskan menikah, namun tak semua bisa mempertahankannnya. Berjuanglah untuk orang yang kamu cintai, karena aku tahu kamu mampu.
" Saya terima nikah dan kawinnya Najwa Zahrotun Binti Susanto dengan mas kawin tersebut di bayar tu—nai" Jawab Mas Anton dengan suara yang lantang.
" Bagaimana para saksi, Sah?" Seru Pak penghulu menatap ke arah para saksi dan juga beberapa para tamu undangan yang hadir sore ini di rumah Mbak Najwa.
" SAH,, SAH.."
" Alhamdulillah..."
Bapak penghulu segera membacakan doa untuk pasangan yang baru saja sah menjadi sepasang suami istri. Mas Anton terlihat begitu bahagia sekali, membuatku ikut merasakannya.
Aku juga melihat raut binar kebahagiaanya di wajah Mbak Najwa yang kini sudah menjadi Mbak Iparku. Satu persatu anak-anak Bapak dan Ibu sudah pada menikah dengan pasangan mereka masing-masing. Sungguh rasanya baru kemarin kami bertiga masih saling bertengkar antar saudara, saling berebut apapun itu.
Hingga tak sengaja aku melihat ada bayangan merah di sisi wajah Mbak Najwa, membuatku seketika tersentak kagey saking terkejutnya bahkan aku tak sadar sedikit menjerit.
" Astagfirullah..." Pekikku sedikit memundurkan dudukku yang jaraknya tak begitu jauh dari mereka.
" Ada apa Mbak?" Tanya Anna menatap heran padaku, tak hanya Anna, bahkan semua orang ikut menatap ke arahku, membuatku seketika menunduk malu.
Tak terkecuali Mas Aziz yang tadinya duduk di sampingku, ia langsung menggenggam tanganku yang tiba-tiba terasa dingin, entah apa tadi yang kulihat, menyeramkan sekali, ia bahkan sempat tersenyum padaku.
__ADS_1
" Ami lihat Mbak Najwa ya?" Tebak Bang Aziz yang berbisik padaku. Aku hanya bisa mengangguk pelan masih dengan kepala yang menunduk. " Nggak apa-apa ada Abi disini, dia nggak akan berani ganggu Ami." Di genggam semakin erat tanganku ini.
Aku mengangguk pelan, entahlah tapi aku tidak berani lagi menatap ke arah Mbak Najwa, seakan makhluk yang ada di samping Mbak Najwa terus saja mengawasiku. Entah bagaimana bisa aku melihat barang begituan?
Setelah acara akad selesai dan di lanjutkan dengan acara sungkeman kepada kedua orangtua. Kami hanya melihat dari jarak jauh saja. Sebab sebentar lagi ada acara temu manten, ternyata adat di kota sini hampir sama seperti di kampungku, yang saling menukar kembar mayang juga.
Acara disini lumayan ramai ternyata, banyak sanak saudara yang hadir. Sedangkan dari pihak kami, hanya keluarga inti saja, Bapak, Ibu, Nenek, Anna dan suaminya, begitupun denganku yang datang bersama suamiku.
Setelah acara demi acara selesai, begitupun dengan selesainya acara sesi foto, tinggalah kami sekeluarga, sementara Mas Anton bersama dengan keluarga Mbak Najwa istrinya. Aku hanya sekilas menatap merrka bedua, dan Alhamdulillahnya, di samping Mbak Najwa juga sudah tidak ada lagi yang mendampirnginya.
Beberapa saat kemudian kami sekeluarga akhirnya harus berpamitan sebab malam sudah semakin larut. Kasihan Zia yang sedang ku gendong dia sudah terlelap sejak tadi. Satu persatu mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, yang akhirnya sudah bersama. Dan tibalah kini giliranku yang akan mengucapkan selamat untuk Masku ini.
" Selamat menempuh hidup baru ya Mas dan Mbak Najwa, semoga kalian berdua menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warohmah. Aamiin.." Ujarku kepada Mas Anton juga Mbak Najwa, bisa kuliahnya senyum yang tak puasa dari bibir keduanya.
" Iya, terima kasih banyak ya Niyah dan Zia, Mas sangat terbaru sekali. Hati-hati nanti di jalan." Sahut Mas Anton memelukku juga semua anggota keluarga yang ikut datang. Aneh saja dengar Mas Anton memanggil suamiku dengan nama putri kami.
Kami semua juga langsunh berpamitan kepada kedua orangtua Mbak Najwa dan juga dua adiknya. Bahkan semua anggota keluarganya ikut serta.
Anna sendiri naik mobil dengan suaminya, bersama dengan Bapak dan Ibu, sementara Nenek bersamaku semobil. Ya jelas Nenek memilihku karena memang aku cucu kesayangannya, bukannya aku sombong atau berbangga hati, namun memang kenyataannya seperti itu adanya, kata Nenek Anna itu anaknya susah di atur, apalagi Mas Anton lebih-lebih kali.
Lambaian tangan pun mengiringi kepergian kami, ku lihat Mas Anton yang merangkul pinggang istrinya dengan mesra di hadapan semua orang. Tadi aku juga melihat Mas Anton yang memeluk Ibu dengan erat bahkan kulihat ia meneteskan air mata, entah itu sungguhan ataukah bualan saja. Atau mungkin saja memang tengah bersedih harus berpisah dengan keluarga besarnya.
Tak lama kami sudah memasuki kota besar kami, kulihat di bangku belakang Nenek ternyata sudah terlelap, mungkin saking lelahnya hampir seharian di acara pernikahan Mas Anton tadi.
Tiba-tiba aku jadi kepikiran dengan yang tadi saat selesai acara akad nikah. " Bi, sebenarnya tadi apa yang aku lihat? Kenapa dia ada di samping Mbak Najwa? Apa dia sedang berusaha mengganggunya?" Tanyaku pelan takut menggangu Nenek yang sudah tidur.
" Dia itu Jin sayang, nggak apa-apa dia memang yang mendampingi Mbak Najwa selama ini." Jawab Nang Aziz datar dan biasa saja.
__ADS_1
" Apa! Jin? Ta—tapi bagaimana aku bisa melihatnya Bi? Secara aku 'kan tidak mempunyai mata batin atau ilmu semacamnya." Sahutku mengelak, namun juga sedikit penasaran." Tunggu dulu, Abi bilang mendampingi Mbak Najwa selama ini? Maksudnya apa ya? Bukankah Mbak Najwa itu lulusan dari ponpes ya Bi? Kenapa bisa begitu—Maksudnya kalau orang yang masuk ponpes Bukankah ilmunya tinggi dan bisa mengusir jin yang berusaha mengganggunya Bi?" Tanyaku lagi yang semakin penasaran.
" Iya memang, namun tidak semua orang yang lulusan ponpes mamlu meraih ilmu yang tinggi apalagi semua orang memiliki sifat dan perilaku yang berbeda-beda Mi. Kita tidak bisa mengatasnamakan ponpes sebagai bentuk kebaikan itu sendiri, itu semua tergantung dengan diri kita masing-masing. Percuma menuntut ilmu sangat tinggi jika kita tidak bisa mengamalkannya. Bisa jadi itu memang keinginan dari Mbak Najwa sendiri, atau ada hal yang tidak di ketahui oleh orang lain, termasuk kira. Biarkan saja itu menjadi urusan dia dengan sang Maha pencipta. Kita doakan saja semoga hubungannya dengan Mas Anton baik-baik saja dan di karuniai banyak rezki, Aamiin.." Terang suamiku panjang lebar.
" Iya, Ami mengerti. Hanya saja masih tidak percaya rasanya hingga sampai sekarang Bi." Ujarku pelan menatap ke arah depan.
Hingga tak sadar kami sudah hampir sampai di rumah. Ternyata Mobilnya Kholil sudah lebih dulu sampai dan sudah terparkir di halaman rumah. Aku segera membangunkan Nenek dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, begitu turun dari mobil, hawa dingin langsung menusuk hingga ke tulang-tulangku.
" Nenek akan pulang saja." Nenek sudah akan berjalan keluar halaman, namun aku segera mencegahnya.
" Jangan Nek, ini sudah malam sekali lho. Sudah Nenek nginap saja, biar Anni yang siapkan kamarnya. ayo." Ajakku dengan menggandeng tangan Nenek sembari menggendong Zia yang nampak sangat pulas.
Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, padahal tadi kami pulang dari rumah Mbak Najwa sekitar pukul sebelas lebih. Apa memang jaraknya segitu ya?
" Sini Zia biar Abi letakkan di atas ranjang dulu Mi." Pinta suamiku lalu metaih dan menggendong putri kami masuk ke dalam kamar, sementara aku berjalan ke kamar belakang dekat kamar Ibu dan Bapak.
" Sudah biar Nenek saja, kamu temani suamimu itu, pasti dia lelah menyetir, pijitin suaminya sana, jangan sukanya cuma pas di kasih uang saja. " Desis Nenek yang justru mengomeliku.
" Apa sih Nek," Kulihat Nenek akan mengomelku kembali, namun segera aku jawab dan ingin segera keluar dari kamar menuju kamarku sendiri." Iya-iya ini Niyah mau pijitin Kakanda, puas Nenek, heum!" Ujarku melangkah keluar, ada-ada saja Nenek ini.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.