Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Perubahan Drastis..


__ADS_3

Anna_PoV


*


" Huaa...huaa..hiks..hikss..." Terdengar suara tangis Erika yang mungkin terjaga dari tidur panjangnya. Aku segera cepat-cepat membasuh kedua tangan karena baru saja mencuci piring.


Namun baru saja akan berjalan menuju kamar, sudah tidak terdengar lagi suara tangis Erika, ada apa ya? Aku buru-buru berlari takut putriku kenapa-kenapa pasalnya tidak ada orang di rumah ini selain aku dan putriku.


Suamiku sudah berangkat bekerja lima belas menitan yang lalu, sementara kedua mertuaku sedang pergi berziarah ke rumah kerabatnya yang jaraknya lumayan jauh dari rumah, namun masih satu kota. Aku tidak mungkin ikut mertuaku apalagi membawa serta Erika yang masih bayi.


" Ssttt, cup sayang.."


Terdengar suara laki-laki dari dalam, membuatku sedikit waspada, namun begitu sampai di ambang pintu yang memang sengaja aku buka, supaya jika Erika terbangun aku bisa mendengarnya, seketika aku mematung melihat siapa pria yang tengah menenangkan Erika, hingga tidak membuat bayi itu menangis lagi.


" A-abang... kok balik lagi? A-ada yang ketinggalankah?" Tanyaku dengan suara terbata dan hampir tercekat di tenggorokan saking takutnya bila nanti suamiku memarahiku kembali.


Setelah Erika sudah tenang dan juga sudah kembali terlelap oleh suamiku di letakkan di atas kasur dengan sangat hati-hati agar putri kami tidak kembali terjaga. Sebab hari masih terlalu pagi jika Erika tidurnya kurang pasti nanti akan rewel.


Sebelum menjauh dari ranjang Bang Kholil memastikan sekali lagi jika Erika tidak terganggu. Setelahnya pelan-pelan ia berjalan ke arah pintu dimana aku berdiri tak jauh dari situ, sebelum keluar ia memberi kode agar aku mengikutinya keluar kamar.


" Kamu bisa menjaga anakmu tidak sih! Baru punya anak satu saja kamu tidak becus mengurusnya, bagaimana nanti kalau keluargaku menginginkan anak lagi?!" Bukannya menjawab pertanyaanku lebih dulu, ia justru berucap pelan namun tajam padaku begitu kami sudah berada di luar kamar.


Ya Allah suamiku sepertinya sedang salah paham padaku.? Aku masih menunduk tidak berani menatapnya.

__ADS_1


" Maaf Bang, tadi itu sebenarnya..." Belum juga selesai mengatakan alasanku, suamiku sudah memotong lebih dulu ucapanku.


" Kamu itu sebenarnya sedang apa sih Sok sibuk di belakang, anak nangis bukannya cepat di gendong dan di tenangin malah asik saja dengan pekerjaan, bila perlu tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah apapun, kamu fokus saja menjaga Erika, itu sudah cukup bagiku. Atau memang begini kerjaanmu setiap hari, membiarkan anakku menangis kejer dulu baru setelah itu baru kamu tolong, begitu?!! Jahat sekali kamu jadi seorang Ibu, Anna!!" Bentaknya kembali dengan pemikirannya sendiri.


" Aku sungguh tidak tahu jika Erika sudah bangun, karena tadi itu aku sedang mencuci piring Bang, itupun.." Kembali ucapanku terhenti begitu sebelah tangannya di acungkan di depan wajahku, sebagai tanda berhenti.


" Jangan banyak alasan kamu! Aku selalu bilang jaga baik-baik Erika jangan sampai dia menangis, kenapa itu sulit sekali bagimu! Aku ini suamimu bukan? Bukankah seorang istri itu patuh terhadap perintah suaminya? Begitu saja kamu minta di ceramahin dulu baru mengerti lho, heran!!" Pungkasnya lagi dengan kata-kata yang semakin membuatku sakit.


Huft.. Sabar Anna, ayo semangat demi Erika putri cantikmu. Aku hanya bisa berucap dapam hati, takut ucapanku nanti justru membuatnya semakin meradang terhadapku. Jadi lebih baik dengarkan saja dulu apa keluhannya, baru aku bicara setelahnya.


" Kenapa diam saja! Ayo bicara!" Desisnya yang kini dengan nada sedikit menurun dari sebelumnya. Dan inilah waktunya..


" Baiklah. Maafkan aku jika tadi aku terlambat sampai ke kamar, tapi demi Allah aku hanya mencuci piring bekas kamu sarapan tadi, itupun belum selesai aku membilasnya itu masih ada di dalam wastafel. Dan aku ingin menjelaskan ttetapi kamu terus saja memotong ucapanku, tidak memberikan aku waktu barang semenit saja." Dengkusku dengan wajah datar, sengaja memang ingin melihat reaksinya.


" Apa kamu jujur kali ini? Demi apa kalau kamu tidak sedang meng-drama padaku?"


" Ya Allah, sampai segitunya kamu tidak percayai aku Bang! Apa selama kita menikah aku pernah membohongimu! Pernah berkata kasar! Pernah menghianatimu! Katakan!!? Justru kamulah Bang yang pernah tidak jujur padaku waktu itu, masih ingatkah waktu aku kabur ke rumah Mbak Anniyah? Dan aku masih mau memberimu kesempatan, karena aku menyayangimu, ingin mempertahan pernikahan kita, tapi kenapa hanya masalah putrimu menangis kamu sampai berkata kasar padaku, bahkan tak segan memukulku. Yang namanya seorang bayi itu hanya bisa menangis sebagai ganti bicara, sungguh kamu telah berubah Bang..." Jelasku panjang lebar mengeluarkan semua uneg-unegku.


Kulihat ia langsung terdiam dan sedikit salah tingkah tanpa ingin menatapku. Kemana wajah sangarnya tadi? Apa cuma segitu saja kemarahannya?


" Maafkan Abang Dek, janganlah di ungkit lagi itu sudah menjadi masa lalu." Ujarnya lirih. Kalian semua dengar! Wah,, luar biasa memang laki-laki!


Aku heran saja apa semua laki-laki memang begini jika sudah mempunyai seorang anak? Istri harus bisa membuat anaknya tenang, diam tidak boleh sampai menangis barang sedetik, ini yang salah siapa? Yang bodoh siapa sebenarnya?

__ADS_1


Aku juga sadar dia mungkin bersikap demikian karena terlalu mencintai dan menyayangi putrinya. Namun apakah harus sebegitunya tingkahnya itu? Sungguh ini membuatku bingung. Untung saja aku bukanlah seorang istri yang ember, yang suka mengeluh atau berbagi cerita kepada orang lain, termasuk kepada kedua mertuaku sendiri yang setiap hari ada bersamaku, tinggal serumah dengan kami berdua.


Jangankan kepada mereka berdua, kepada kedua orangtuaku saja tidak! Bahkan kepada Mbak Anniyah dan juga Mas Anton yang saudara kandungku aku tidak pernah berbagi cerita tentang masalah rumah tanggaku, lagi pula bagiku itu masalah pribadiku dan suami.


Selagi aku masih sanggup mengatasi masalahku sendiri, maka akan aku lakukan. Namun jika sudah menthok tidak ada jalan lain, barulah aku akan meminta bantuan mungkin kepada Mbak Anniyah yang memang aku sangat dekat denganya.


Walau dulunya aku sangat nakal, jahil dan juga badung terhadap Mbakku dan selalu meminta gendong padanya walau berakhir aku terkena cubitan lebih dulu darinya. Namun Mbak Anniyah tidak pernah dendam padaku, karena aku Adik kesayangannya, Adik yang selalu merepotkan, jika ingat masa-masa itu aku ingin kembali saja menjadi bocah kecil yang tahunya hanya bermain dan bermain, tanpa harus pusing mencari uang untuk makan, atau memikirkan masalah seperti yang aku alami sekarang ini.


" Memang gampang ngomong maaf Bang!" Sindirku yang tanpa tahu itu akan menjadi bumerang bagi rumah tanggaku setelahnya.


" Kamu ya!" Bentaknya untuk yang kesekian kali tanpa sadar tangannya sudah mencekik leherku sedikit kuat.


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2