
Setelah pergumulannya dengan Wirra, Meyta kerap merasakan nyeri di kakinya. Awalnya Meyta mengabaikan rasa nyeri itu. Wanita itu pikir, mungkin dirinya terlalu lama menekuk kaki saat pertempuran panasnya bersama sang kekasih hati. Meyta bahkan merasa senang. Walau kakinya terasa sedikit nyeri, setidaknya apa yang sudah dia rencanakan untuk Anna, berhasil. Dengan alasan kurang sehat, Anna tidak lagi datang ke kediamannya pada akhir pekan berikutnya.
Senyum Meyta begitu sumringah saat membaca pesan dari Anna. Usahanya benar-benar berhasil. Nyeri di kakinya pun seketika tak lagi terasa karena tertutupi oleh kebahagiaan yang dirasakannya.
Namun, kebahagiaan yang Meyta rasakan hanya bertahan beberapa hari. Akibat dari perbuatannya itu, kaki Meyta semakin bertambah sakit dari hari ke hari. Wanita itu bahkan kembali rutin mengonsumsi obat pereda nyeri untuk mengatasi rasa sakit yang dia rasakan.
Dan satu Minggu setelahnya, kaki Meyta membengkak.
“Kita periksakan saja ke rumah sakit,” ucap Wirra saat melihat ada bagian kaki Meyta yang membengkak.
“Tidak perlu, Wir. Hanya bengkak sedikit seperti ini. Mungkin digigit serangga. Aku sudah mengoleskan minyak tawon. Kata ibu, minyak itu bisa mengurangi pembengkakan.”
Meyta sengaja tak mau dibawa ke rumah sakit. Besok, istri pertama Wirra itu kembali datang setelah dua pekan tak berkunjung. Meyta ingin mengulangi kembali rencananya pada Anna. Dia ingin melihat kembali raut kekecewaan di wajah Anna.
Meyta pun memberitahukan pada mutiara mengenai rencana Anna yang akan kembali datang ke kediaman mereka.
Mutiara tentu saja merasa senang saat mendengar kabar itu. Dua Minggu tak bertemu dengan Anna, membuat gadis kecil itu merasa begitu rindu pada ibu tirinya.
“Tapi, Bu Anna sepertinya tidak akan menginap kali ini,” ucap Meyta pada sang anak.
Mutiara kecewa. Senyum sumringah gadis itu perlahan memudar. Gadis kecil itu begitu merindukan Anna. Dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan ibu tirinya yang baik itu. Jika Anna tidak menginap, itu artinya Mutiara hanya memiliki waktu selama beberapa jam saja untuk melepas rasa rindunya pada Anna.
“Kamu bujuk saja Bu Anna agar dia mau menginap. Kalau kamu yang membujuk, Bu Anna pasti mau. Kalau perlu, kamu sampai menangis,” ucap Meyta.
Mutiara kembali sumringah. Gadis kecil itu mengangguk dengan penuh semangat. Dia akan membujuk sampai Anna setuju untuk menginap.
Dan benar dugaan Meyta. Saat melihat Mutiara merengek-rengek, Anna menjadi tak tega. Akhirnya, wanita itu setuju untuk kembali menginap.
“Kamu ambilkan pakaian Anna, Wir. Biar dia menginap beberapa malam,” ujar Meyta. Wirra pun langsung melaksanakan perintah Meyta.
Tak hanya Mutiara, Wirra juga merasa senang jika Anna menginap. Itu artinya dia tak perlu mencuri waktu di sela-sela jam kerjanya untuk bertemu Anna.
Meyta pun kembali menyusun sebuah rencana. Wanita itu ingin Anna kembali melihat pergumulan antara dirinya dengan Wirra. Meyta menginginkan hati Anna hancur berkeping-keping hingga wanita itu berkeinginan untuk melepaskan Wirra dan Meyta akan memiliki Wirra seutuhnya, untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Meyta sudah menyusun rencana itu dengan matang. Meyta merasa rencana yang dia susun sangat sempurna. Rencana itu pasti berhasil, pikirnya. Hati Anna pasti akan hancur berkeping-keping. Wanita itu pasti akan segera meninggalkan Wirra, kali ini.
Namun, tampaknya semesta berkehendak lain. Bukan hati Anna yang hancur berantakan, namun Meyta.
......................
Meyta yang terbangun tengah malam karena merasa haus, tak mendapati sang suami di atas ranjang mereka.
“Kemana Wirra? Apa dia juga merasa haus dan pergi ke dapur?” gumamnya.
Meyta pun menggapai tongkat yang ada di samping ranjang. Meyta melangkah pelan di bawah lampu kamarnya yang temaram.
Wanita itu berjalan menyusuri ruang keluarga, menuju dapur. Semakin dekat dengan dapur, jantung Meyta berdetak semakin tak karuan. Wanita itu samar-samar mendengar suara yang begitu familiar.
Rupanya Wirra tengah melampiaskan rasa rindunya yang menggebu pada Anna. Bahkan, saat Meyta tiba di sana, tubuh Wirra sudah menegang. Tampaknya pria itu sudah terpuaskan.
Tanpa bisa dibendung, air mata Meyta mengalir melewati pipinya. Meyta menggenggam dadanya yang terasa sesak. Sepertinya, wanita itu kini merasakan apa yang berulang kali Anna rasakan.
Dan dada Meyta semakin sesak, bahkan wanita itu seakan tak bisa bernapas saat mendengar ucapan Wirra. Pria itu menyampaikan betapa besar rasa cintanya pada Anna. Wirra bahkan dengan jelas mengatakan jika dirinya menyesal telah menduakan Anna dengan berpoligami.
Meyta terkulai. Wanita itu berusaha menahan tangisnya agar tak terdengar oleh sepasang suami istri yang baru saja bergumul dengan hebat itu.
“Sudahlah Mas. Kamu sudah mengatakan hal itu berulang kali sejak berbulan-bulan lalu. Kamu tidak boleh begitu. Itu artinya kamu menyesal telah membuat Arka hadir ke dunia,” lirih Anna.
“Satu-satunya yang bisa aku syukuri hanyalah kehadiran Rara dan Arka di hidupku. Selebihnya ... hanya berisi penyesalan.”
“Sudahlah, ayo bersiap. Bagaimana kalau ibu, Mey, bahkan Rara ke sini. Ayo pakai kembali celana kamu,” ujar Anna yang tengah mendorong Wirra agar segera melepaskan pelukannya.
Sementara itu, Meyta pun bergegas untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu. Dan saat Meyta terburu-buru beranjak dari sana, wanita itu tergelincir.
“Aaaaaaakk...!”
Teriakan Meyta membuat Wirra dan Anna panik. Untungnya Wirra sudah membereskan sisa pergumulannya dengan Anna di samping gudang yang berada di dekat dapur.
__ADS_1
Bersama Wirra, Anna gegas menghampiri suara. Mereka begitu terkejut saat menyaksikan Meyta sudah terbaring di lantai.
“Ya ampun, Mey! Kamu kenapa?!” teriak Anna.
Anna dan Wirra pun membantu Meyta berdiri, namun wanita itu malah histeris.
“Kakiku sakit sekali, Wir. Kakiku sakit sekali!” teriaknya sambil menangis.
Kakinya yang teramat sakit, bahkan membuat Meyta lupa akan sakit hati yang tadi dia rasakan.
“Gendong saja ke kamar, Mas,” ucap Anna. Wirra pun menganggukkan kepala dan langsung menggendong Meyta dan membawa Meyta ke kamar.
“Bagian mana yang sakit?” tanya Wirra saat Meyta sudah berbaring di ranjang. Dengan terus merengek menahan sakit, Meyta menunjuk kakinya. Wirra pun memeriksanya.
“Kaki kamu tambah bengkak, Mey,” ucap Wirra.
“Aku ambil kompres dulu.”
Dengan sigap Anna keluar dari ruangan itu dan menyiapkan kompres dingin untuk Meyta. Wanita itu bahkan dengan telaten mengompres kaki Meyta yang membengkak.
Sementara itu, Meyta terus menangis menahan sakit di kakinya. Wirra pun memberikan obat pereda nyeri pada Meyta agar wanita itu tak lagi merasa sakit. Dan tak lama setelah itu, Meyta pun tertidur.
Namun, rasa sakit itu kembali melanda saat efek obat nyeri yang dikonsumsi Meyta sudah menghilang.
Meyta pun terbangun dari tidurnya dan kembali menangis.
Atas saran Anna, Wirra membawa Meyta ke rumah sakit. Dan dokter memutuskan untuk melakukan pembedahan pada kaki Meyta yang membengkak, keesokan harinya.
Tindakan pembedahan kecil itu, mengharuskan Meyta untuk kembali menginap di rumah sakit selama tiga malam. Dan Anna pun kembali mengurusi Mutiara dan Arkana.
Masa-masa indah yang dirasakan Anna sebagai ibu, kembali terulang. Bahkan, saking bahagianya, Anna sempat terucap agar Meyta tak kembali lagi agar dia bisa mengurus Mutiara dan Arkana selamanya.
Namun, tak seperti Meyta yang menyukai penderitaan Anna. Anna justru sebaliknya. Istri pertama Wirra Pramudya itu, segera menepis pikiran buruk yang sempat terlintas di benaknya.
__ADS_1
“Maafkan aku Tuhan, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong sembuhkan Meyta. Anak-anak pasti merasa sedih kalau ibu mereka terus-menerus sakit,” lirihnya.