
Aziz_PoV
*
Selesai makan malam bersama dengan keempat anakku, aku segera membereskan peralatan bekas kami makan membawanya ke wastafel di bantu oleh putri sulungku Musdalifah. Tidak terasa putriku sudah besar sekarang, sebentar lagi sudah masuk SMA.
Selesai membersihkan meja makan, Mus menghampiriku." Abi istirahat saja, biar Neng saja yang akan meneruskan mencucinya." Ucapnya berdiri di sampingku. Namun aku tak ingin bergeser maupun mundur.
" Memang Neng tidak belajar? Besok mulai masuk sekolah 'kan?" Tanyaku yang masih meneruskan acara mencuci piring.
" Tadi seharian sudah belajar kok Bi." Elaknya sambil menunduk.
" Tidak susul Adik-adik saja, ini Abi sudah selesai— Nah sudah 'kan? Ayo kita kesana." Ajakku melangkah ke ruang tengah, terlihat Hilda dan Zikri yang sedang bermain hitung jari.
" Abi, kok Umi belum pulang?" Tanya putriku Hilda yang melihatku datang bersama Nengnya.
" Mungkin sebentar lagi sayang." Aku duduk di samping putraku Aidan, dia putraku yang lebih banyak diam. Sedangkan Zikri pintar bicara, selalu ada saja bahan pembicaraan dan juga mudah bergaul dengan siapa saja, sehingga tidak heran jika kadang sering cek cok dengan Nengnya Hilda.
Setelah cukup lama kami berada di ruang tengah, mengobrol juga menonton acara hiburan di televisi akhirnya aku meminta semuanya untuk tidur di dalam kamar mereka, sebab malam pun semakin larut.
" Mus, Aidan. Masuklah kamar ajak Adek-adekmu untuk segera beristirahat. Besok bangun pagi semuanya sekolah 'kan? Jangan lupa bersih-bersih dan sikat gigi." Titahku yang langsung di angguki oleh keempat anakku, aku sangat bersyukur semua anakku patuh dan sangat sopan pada orangtua.
Setelah semuanya sudah masuk ke kamar mereka masing-masing, aku segera mematikan lampu-lampu ruangan yang tidak terpakai, tak lupa aku juga mengecek anak-anak apakah sudah siap untuk tidur semua sebelum aku masuk ke dalam kamar.
Setelah membersihkan diri, aku naik ke atas ranjang, namun tak langsung tidur. Pikiranku sekarang sedang memikirkan pergi kemana Nikmah? Hingga jam segini baru pulang, kurasa Mus tahu kemana Uminya pergi, namun ia lebih memilih diam tak memberitahuku. Wajar seorang anak pasti akan membela Ibunya, tetapi seharusnya dia memberitahu padaku Abinya.
__ADS_1
Tak ingin berpikir yang bukan-bukan pada Nikmah dan putriku, aku meraih ponsel dan mencoba menghubungi Anni, siapa tahu dia menungguku pulang malam ini. Sebab aku hanya ingin memastikan Nikmah pulang tidak malam ini? Dan aku harus tahu kemana dia pergi, sebab itu masih menjadi hakku sebagai seorang suami yang harus tahu istrinya pergi kemana pun. Tak lama panggilanku langsung di angkat olehnya.
" Assalamulaikum.." Sapanya dengan lembut. Yang mampu menyejukkan hati.
" Waalaikumsalam, sayang malam ini Abi tidak datang, nggak apa-apa 'kan? Tidak perlu menunggu Abi, cepatlah istirahat, jangan begadang tidak baik, apalagi kamu sedang hamil. Besok pagi-pagi Abi akan kesana, mau di belikan apa?" Tanyaku, yang mungkin saja ia ingin makan sesuatu.
" Hmmm, ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu Anni istirahat ya Bang, sudah ngantuk. Besok beliin bubur kacang hijau saja aku pengen makan, dan juga beliin nasi kuning ya, banyakin sambelnya. Tapi harus nasi kuning asli bandung, nggak mau yang lain." Rengeknya dengan manja.
Duh membuayku gemas saja, aku yakin sebenarnya dia sedih juga kesal karena aku tidak menemaninya, namun ia berusaha menutupinya. Ya Allah, maafkan aku yang sudah menyakiti hatinya..
" Baiklah, besok Abang belikan. Sayang—maafin Abang ya, ya sidah tidurlah, jangan di matikan teleponnya. Abang akan temanin sampai Dedek tidur ya." Ku dengar dia menghela napas pelan, dan ijin ke kamar mandi sebentar meninggalkan ponselnya yang masih terhubung denganku. Tak begitu lama, terdengar suaranya kembali.
" Bang, Abang sudah tidur? Teleponnya di matikan saja ya, aku nggak apa-apa kok. Abang istirahat aja." Pintanya.
Aku tahu dia pasti merasa tidak enak pada Nikmah. Dia pasti mikirin Nikmah yang sedang tidur di sampingku sekarang, aku berusaha memahaminya. Tak lama kami pun mengakhiri panggilan kami. Aku masih belum mengantuk, ku lihat jam digital yang menempel di dinding, sudah hampir pukul sembilan malam, kemana Nikmah belum pulang juga jam segini?
Tak begitu lama aku seperti mendengar derap langkah seseorang yang semakin mendekat ke kamarku. Ya itu pasti Nimmah, perasaanku jadi lega sekarang, aku memejam, pura-pura sudah terlelap.
Dan pintu kamar terbuka, mataku kubuka sedikit untuk mengintip dan aku bisa melihat siluetnya, pasti tidak salah lagi dia adalah Nikmah istriku. Setelah meletakkan gelas mug minumannya, ia berjalan ke kamar mandi untuk bersih-bersih, tak lama ia keluar dan duduk di tepi ranjang.
Nikmah membuka laci, sepertinya sedang mencari sesuatu di dalam sana, lalu terdengar dia meraih mug dan meminumnya. Apa barusan dia meminun obat? Tapi obat apa? Apa dia sedang sakit? Belum selesai mencari jawaban dalam benakku, ia sudah merebahkan, mungkin karena keadaan yang gelap, ia tidak menyadari ada aku di sebelahnya.
Ku dengar dia menghela napas berat." Menyesal pun rasanya tidak ada gunanya saat ini." Ucapnya begitu lirih, apa maksud perkataannya barusan? Menyesal apa? Kuberanikan diri untuk bertanya, biarlah dia mungkin sedikit terkejut mekihatku ada di sampingnya, tetapi aku lebih semakin penasaran saat ini.
" Apa yang perlu di sesali?" Tanyaku setengah berbisik, dia langsung menoleh ke samping, bisa kulihat wajah tegangnya. Seperti melihat jin saja yang bermuka seram. Astagfirullah..
__ADS_1
" A-abi? Ka-kapan pulang?" Tanyanya dengan gugup. Ada apa dengannya? Apa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku?
" Apa yang di sesali? Dan Umi darimana, jam segini baru pulang? Apa setiap hari Umi pulang larut seperti sekarang?" Cecarku, yang mencoba menggali kejujurannya.
" Oh, maafkan Umi Bi. Tadinya Umi cari Abi di kost dia? Tapi ternyata kalian belum pulang. Saat perjalanan pulang, tiba-tiba teman-temanku pada ngajak ketemuan ada acara ulang tahun salah satu dari mereka, akhirnya aku mampir ke restoran, dimana tempat di selenggarakannya acara tersebut. Bahkan pestanya belum selesai sekarang, tapi aku ijin pulang lebih dulu, sebab aku teringat anak-anak di rumah. Maka dari itu, aku pulang lebih cepat." Jawabnya dengan nada yang masih gugup. Entah percaya atau tidak dengan ucapannya saat ini, tetapi rasanya tidak mungkin sampai mematikan ponsel di acara seperti itu, biasanya 'kan para wanita suka sekali mengabadikan momen bahagianya dengan saling memfoto lalu di bagikan di laman sosmed mereka.
Tidak ingin suudzon terlalu jauh, aku pun mengangguk, mengajaknya untuk beristirahat. Mata memejam, namun pikiranku memikirkan yang tidak-tidak. Astagfirullah... semooga ini hanya perasaanku saja, berharap cepat tertidur.
**
Keesokkan harinya, saat aku sudah terjaga Nikmah sudah tidak ada di sampingku. Sepertinya tengah berada di dapur memasak. Entah mengapa pikiranku tertuju pada laci, ingin memastikan obat apa yang dia minum semalam? Kalau memang dia sakit, kenapa tidak bilang padaku?
Segera aku beranjak dan mengecek laci tersebut, di sana ada beberapa macam obat dalam kemasan. Namun perhatianku tertuju pada tablet yang berada paling atas, yang kemungkinan sehabis di pegang oleh Nikmah semalam, sebab aku sangat mengetahui kegunaan obat tersebut. Buat apa dia minum obat itu? Kami bahkan tidak—Astagfirullah,, dia tidak mungkin melakukan hal itu bukan? Jadi apakah aku boleh suudzon jika sudah seperti ini?
.
.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.