
Aziz_PoV
*
Sudah hampir semingguan ini aku berada di rumah, dan selama itu pula tidak ada tanda-tanda keanehan atau apapun di dalam maupun di sekitar rumah kami.
Mungkin hanya ada suara-suara yang biasa terdengar setiap tengah malamnya, selebihnya tidak ada, bahkan yang kata Anni ada yang sengaja mengganggu di dalam rumah pun tidak ada sama sekali.
Anni sudah menceritakan kejadian demi kejadian yang ia alami di rumah ini. Aku tahu apa yang tengah ia rasakan, tapi sungguh tidak terjadi apa-apa, bahkan aku sengaja begadang setiap malamnya.
" Ini Bang diminum dulu." Aku menoleh ke samping ternyata Anniyah istriku tengah menyodorkan segelas jus jeruk hangat untukku, yang segera aku terima dan menyesap isinya hingga tersisa setengah gelas.
Memang aku tidak bisa minum es atau yang dingin-dingin. Dikarenakan aku mempunyai penyakit Amandel sedari kecil, pernah dulu sekali aku minum es campur karena saking hausnya saat terik-teriknya disiang hari. Tak lama setelah minuman itu habis, leherku serasa membengkak, tidak bisa makan maupun minum, jika di paksapun rasanya begitu sakit untyk menelan.
Hingga aku pun dilarikan ke klinik oleh Kedua orangtuaku, sejak saat itu aku sangat menghindari minuman dingin, air bersoda, bahkan makanan pedas sekalipun. Ya walau bagaimanapun rasanya ingin sekali minum yang segar-segar, tapi aku memilih menahannya, berat sekali memang, tapi itu lebih baik daripada aku merasakan sakitnya kembali. Itulah mengapa aku sering minum teh garam hangat, atau air biasa saja.
" Terima kasih sayang." Aku meletakkan gelas itu kembali ke baki di samping tempat dudukku.
Anni memberikan senyum manisnya seperti biasa padaku. Lalu ia mengambil tempat duduk tepat di sampingku, hening sejenak.
" Kamu lihatkan sayang, tidak terjadi apa-apa selama Abang di rumah?" Kami berdua sama-sama menatap kebun jagung mini yang sedang menjadi objek pemandangan kami di siang hari ini.
Tentu saja mini karena hanya ada beberapa pohon saja yang kami tanam, selain untuk mencari kesibukan berkebun, lahannya memanglah kecil di samping rumah ini.
Tak hanya ada pohon jagung saja sebenarnya, ada pohon cabe dan beberapa sayuran lainnya dan yang terpenting ada pohon ketela yang daun atasnya sudah hilang di sayur oleh Anni tadi pagi. Katanya biar hemat tidak harus semuanya harus beli, anak-anak saat ini juga sedang pada tidur siang, tinggallah kami berdua yang rasanya engap berada di dalam rumah.
" Bukannya nggak ada Bang, sepertinya mereka itu takut sama Abang, buktinya mereka tidak keluar untuk mengganggu seperti biasa. " Suara Anni terdengar sewot dan juga sedikit kesal padaku.
__ADS_1
Aku yang mendengarnya justru terkekeh geli mendengarnya. " Kamu ini ada-ada aja Sayang, memangnya Abang ini pawangnya mereka apa! Tapi memang sebenarnya tiap malam sehabis pulang dari Masjid Abang keliling rumah dulu, baru masuk ke dalam rumah." Ya memang itulah yang aku lakukan.
"Pantas saja Bang tidak ada yang keluar, la wong sudah di doa'in dulu rumahnya sama Abang. Semoga saja seterusnya akan begini, biar kita betah tinggal disini. Ya walaupun sepi karena rumahnya paling ujung sendiri, tapi tidak apa, disini cukup nyaman." Akunya yang membuatku menoleh dan tersenyum padanya.
" Aamiin, maaf ya sayang nanti sore Abang harus berangkat kerja lagi, mumpung ada kerjaan di kota. Dan juga Abang ingin mengunjungi anak-anak, kemarin nggak sempat mampir ke rumah, karena pulang dari luar kota langsung ke rumah Neng Delisha. Tidak apa-apa 'kan?" Ku tatap wajah cantiknya, serta meminta jawabannya.
Sebenarnya berat sekali kalau harus berjauhan lagi dengan istriku, jujur saja walau aku harus bersikap adil kepada kedua istriku, namun sebenarnya sekarang ini aku lebih condong kepada Anni di bandingkan kepada Nikmah.
Tentu saja semua itu karena luka batin ku masih tersisa, walau pun sudah kuusahakan untuk menerima dan juga lapang dada.
" Tidak apa-apa Bang, aku sadar diri jika aku bukan istrimu satu-satunya. Dan memang disini akulah orang ketiga itu." Balasnya sendu, dan terlihat senyumnya juga di paksakan.
Aku tahu apa yang ia rasakan, aku pun juga tidak ingin seperti ini. Bahkan ber-angan pun aku tidak berniat sama sekali untuk melakukan poligami. Namun aku percaya inilah jalan hidup kami, inilah takdir kami bertiga.
*
Setelah selesai berdoa untuk perjalananku, aku pun mengambil tas kecilku dari tangan Anni. Tak lupa aku juga mendoakan keluarga kecilku agar selalu berada dalam lindungan Allah.
" Abi berangkat sekarang ya sayang, putri-putri sholehahnya Abi sekolah yang pinter, dan jangan lupa sholat dan ngaji." Pesanku kepada semuanya. Dan tak lupa aku menciumi satu persatu putriku, terlebih aku sangat gemas sekali dengan wajah gembul putriku Zefa yang sudah mulai tengkurap." Assalamualaikum..."
" Wa'alaikummusalam..."
" Hati-hati Abii..." Kedua putriku melambaikan tangannya seiringnya motorku keluar dari pekarangan rumah. Sedih rasanya kembali berpisah...
Tapi mau bagaimana lagi kerjaanku ada di kota, sementara jika tinggal disini aku tidak yakin bisa bekerja, terlebih kebanyakan orang laki-lakinya bekerja di kebun atau ladang, aku mana bisa. Walaupun Abah punya sawah sekalipun Abah memperkerjakan kepada orang-orang yang membutuhkan pekerjaan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam an, akhirnya aku sudah sampai di rumah yang selama ini aku tinggali dengan Nikmah. Setelah membuka gerbang motorku segera ku bawa masuk di pekarangan rumah. Terlihat ada beberapa motor sudah terparkir di sana, sepertinya ada tamu di dalam.
__ADS_1
" Assalamualaikum.." Aku berjalan masuk tapi tidak ada tanda-tanda ada orang sama sekali. Aku pun berniat masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih.
" Mas Aziz pulang.." Sebelum aku mencapai daun pintu terdengar suara dari arah samping yang langsung membuatku menoleh seketika.
" Lho Juleha kamu disini..?" Tentu saja aku terkejut dan juga heran dengan kehadiran wanita itu yang tiba-tiba. Terlebih aku tahu hubunganya dengan Nikmah sudah tidak seperti dulu sebelum kejadian itu terjadi.
Padahal tadi sepertinya tidak ada orang sama sekali di rumah. Anak-anak mungkin masih ada di masjid karena tadi melewatinya, dan sepertinya ada pengajian disana tadi.
" Apa mas belum tahu kalau Mbak Nikmah di bawa kerumah sakit tadi? Apa tidak ada yang menghubungi Mas..?" Ujarnya memberitahu.
Deg!!.
" Rumah sakit..??"
Mendengar ucapannya seketika aku mencari ponselku yang ada di dalam tasku untuk segera mengeceknya, dan dilayar depan memang terlihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari beberapa nomor. Pasti saat di jalan tadi aku tidak mendengar nada deringnya.
.tbc
Maafkan Author yang baru up kembali Kakak setelah sekian purnama. Kemarin sungguh mabok berat, baru dua bulan melahirkan ini, huhuu..
Terima kasih yang sudah mengikuti cerita ini, semoga sedikit terobati..
Insya Allah akan rutin up lagi.
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1