
“Mana yang lebih tidak tau malu, aku yang menggoda Mas Wirra yang notabenenya adalah suami sahku, atau kamu yang tidur dengan suami orang! Bahkan kamu menggoda Mas Wirra di rumahku! Siapa yang lebih tidak tau malu, aku atau kamu?”
Ucapan yang dilontarkan oleh Anna membuat Meyta terdiam. Tidak hanya Meyta, Wirra pun terkejut mendengarnya. Wirra pikir, Anna tak mengetahui perbuatannya dengan Meyta, kala itu.
“Kamu ... kamu—”
“Iya Mas, aku tau semuanya. Aku tau apa yang sudah kalian lakukan. Bahkan, aku menyaksikan adegan itu secara langsung dari balkon kamar kita.”
Tubuh Wirra bergetar. Rasa bersalah menerpanya. Tak bisa dia bayangkan bagaimana rasa sakit yang Anna derita karena menyaksikan pergumulannya dengan Meyta, kala itu.
Tapi, setelah menyaksikan pergumulan terlarang itu, mengapa Anna masih terus bersikap baik? Wanita itu bahkan selalu mengalah pada Meyta.
Wirra menatap Anna dengan lekat. Mungkin, walau dia bersujud dan mencium kaki istri pertamanya itu, tak akan bisa menghapus luka yang dia torehkan pada Anna.
Wirra mendekat pada Anna dan menggenggam kedua jemari istri pertamanya itu.
“Aku tau An, kata maaf mungkin tak akan cukup. Tapi, aku benar-benar menyesalinya. Aku sungguh-sungguh meminta pengampunan dari kamu. Maaf, aku terlalu banyak membuatmu terluka.”
Ucapan Wirra pada Anna, genggaman tangan Wirra pada istri pertamanya itu, tatapan penuh penyesalan yang tergambar pada netra pria itu, semuanya membuat Meyta meradang.
Wirra menyampaikan rasa sesalnya. Pria itu menyesal karena telah mengkhianati Anna. Apa itu artinya Wirra juga menyesal telah menikahi dirinya?
Meyta marah!
“Jadi, kamu menyesal karena tidur denganku, Wir?! Memangnya aku yang menggoda kamu? Memangnya aku yang mengajakmu bergumul?!”
Wirra bahkan tak menoleh saat Meyta melampiaskan amarahnya. Rasa bersalah yang begitu besar, membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya dari Anna sebelum mendapatkan pengampunan dari wanita yang kini dicintainya itu.
Hal itu membuat Meyta semakin bertambah marah.
“Wirra!” pekik Meyta.
__ADS_1
Mendengar teriakan Meyta, Wirra dan Anna yang tadi saling menatap, kini mengalihkan pandangan mereka pada Meyta.
“Mey, apa kamu tidak punya rasa malu sedikitpun pada Anna? Bisakah kamu mengerti posisiku sedikit saja? Anna menyaksikan perbuatan tercela kita, tapi dia masih mau mencoba mengerti hubungan kita. Dia bahkan sering mengalah dan membiarkan aku menghabiskan waktu lebih banyak bersama kamu. Apa kamu tidak merasa bersalah pada Anna?”
Mendengar rentetan pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan sang suami, Meyta tersenyum sinis. Merasa bersalah? Untuk apa dirinya merasa bersalah pada Anna. Bukankah wanita itu sendiri yang dengan suka rela menyerahkan suaminya?
“Jadi, ini semua salahku, Wir?!” ketus Meyta.
“Kamu yang memulai semua ini, Wir. Kamu yang tak bisa menahan hasrat saat bersamaku. Kamu yang berulang kali mendatangiku dan memohon-mohon agar aku bersedia jadi istri keduamu. Lalu, mengapa ini semua jadi kesalahan aku?!” teriak Meyta.
Wirra yang masih menggenggam jemari tangan Anna, terlihat menghela napas berat.
“Aku tau kesalahan ini bermula dariku, Mey. Maka dari itu, aku merasa sangat bersalah pada Anna. Maka dari itu, aku memohon kepada kamu untuk mengerti posisiku, sedikit saja. Sedikit saja, Mey,” lirih Wirra.
Meyta kembali tersenyum sinis. Rasa kesal dalam dirinya semakin bertambah. Terlebih Wirra tak juga melepaskan jemari tangan Anna dari genggamannya.
“Di mana rasa bersalahmu itu saat mengajakku bergumul, Wir? Pergi ke mana rasa bersalah itu saat kamu menikmati tubuhku?! Kenapa baru sekarang kamu merasa bersalah?!”
“Apa kamu menikahi aku hanya sekadar untuk memuaskan obsesi mu, Wir? Dan sekarang, setelah rasa penasaranmu terpenuhi, setelah aku telah berhasil kamu miliki, kamu merasa bosan dan meninggalkan aku. Benar begitu, Wir?”
“Mey ... Aku mengajakmu menikah karena aku mencintai kamu. Bahkan sampai saat ini pun aku masih mencintai kamu,” lirih Wirra.
“Oh ya? Kalau kamu memang mencintai aku, tinggalkan dia!” ucap Meyta seraya mengarahkan hari telunjuknya pada Anna.
Mata Anna membulat mendengar ucapan Meyta. Anna pun kesulitan untuk bernapas dengan lancar. Tubuh wanita itu bahkan gemetar
Anna takut jika Wirra menuruti keinginan Meyta. Wanita itu adalah cinta pertama sang suami. Wirra sangat mencintai Meyta. Terlebih, wanita yang kini tengah mengarahkan jari telunjuk padanya itu, sudah memberikan seorang keturunan pada sang suami.
Akankah Wirra menjatuhkan talak padanya? Anna benar-benar merasa takut.
Namun, jawaban yang diberikan oleh Wirra, membuatnya bisa bernapas lega.
__ADS_1
“Mey, dari sebelum kita menikah, bukankah sudah berulang kali aku katakan kalau aku tidak akan pernah menyeraikan Anna? Jika dulu saja aku tidak bisa meninggalkan dia, apa lagi sekarang.”
“Kalau begitu, aku yang akan meninggalkan kamu,” ancam Meyta.
Wirra hanya diam. Pria itu tak memberikan reaksi apapun. Bukannya dia tak lagi mencintai Meyta dan akan membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya. Selamanya Wirra tak akan pernah meninggalkan Meyta. Wirra hanya diam karena dia sangat mengenal Meyta. Dia tau dengan pasti, membujuk Meyta saat wanita itu tengah mengamuk adalah hal yang sia-sia. Wirra akan membiarkan wanita itu tenang lebih dulu, lalu mengajak Meyta berbincang dengan kepala dingin.
Namun, sikap Wirra yang tenang itu, membuat hati Meyta semakin tercabik-cabik. Meyta merasa sang suami tak lagi mencintai dirinya.
Dengan air mata yang menetes dan hati penuh amarah, Meyta berbalik badan dan berlari meninggalkan Wirra dan juga Anna yang masih saling menggenggam.
“Mas ... Kamu tidak mengejar Meyta? Bagaimana kalau dia benar-benar ingin berpisah? Bagaimana kalau dia tidak memperbolehkan kamu untuk bertemu dengan anak-anak? Kasihan Rara dan Arka, Mas. Kasihan anak-anak kalau kalian berpisah. Kamu harus mengejar Mey. Kamu harus turuti keinginannya. Jangan sampai kamu kehilangan wanita yang kamu cintai. Jangan sampai kamu kehilangan anak-anak yang kamu sayangi hanya demi aku, Mas,” ucap Anna.
Melihat Meyta berlari sembari menangis, benar-benar membuat Anna panik. Wanita itu bahkan rela ditinggalkan oleh Wirra agar Meyta tak berpisah dengan sang suami. Menurut Anna, Meyta adalah wanita yang membawa banyak kebahagiaan untuk sang suami. Wirra tak boleh melepaskan wanita itu hanya untuk dirinya yang tak sempurna.
“Mas ... Ayo kejar Mey. Ayo bujuk dia,” lanjut Anna.
Wirra hanya tersenyum. Pria itu menggenggam jemari Anna dengan lebih erat. Wirra bahkan mengecup lembut dahi sang istri.
“An ... Wanita yang aku cintai bukan hanya Meyta. Aku juga mencintaimu. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, ataupun Mey.”
Ucapan Wirra membuat Anna terperangah. Wanita itu bahkan tak dapat menahan mulutnya agar tak menganga. Ini adalah kali pertama sang suami mengungkapkan rasa cinta padanya. Anna berbunga-bunga. Pernyataan cinta dari sang suami membuat jantungnya bergemuruh.
Jantung Anna semakin bergemuruh saat Wirra kembali mengucapkan kata cinta sembari mengecup lembut bibirnya.
Namun, saat adegan kemesraan itu mau berlanjut, terdengar beberapa orang berteriak minta tolong.
Anna dan Wirra pun berlari ke asal suara. Sepasang suami istri itu begitu terkejut saat menyaksikan apa yang terjadi di sana.
Meyta terkulai dan bersimbah darah.
“Mey!!!” teriak Wirra.
__ADS_1