
Anniyah_PoV
*
Selesai menjemur pakaian aku kembali masuk ke dalam rumah. Berniar akan membantu Nenek yang akan berangkat berjualan, namun Nenek menolaknya, bahkan beliau selalu menolak untuk di antarkan dan memilih untuk berjalan kaki saja, alasannya sekalian olah raga agar tubuhnya selalu sehat.
" Ya sudah Nenek berangkat dulu ya Nduk, hati-hati di rumah." Pamit Nenekku seraya menggendong dagangan di punggungnya.
" Iya Nenek juga hati-hati." Sahutku mengantarkannya hingga sampai teras depan.
Sepeninggalan Nenek aku berniat masuk ke dalam kamar melihat anak-anak sudah bangun atau belum. Tadi saat aku tengah mencuci terdengar suara si bungsu menangis sehingga Bang Aziz langsung pun bergegas ke kamar untuk menenangkannya.
Namun langkahku terhenti begitu mendengar ucapan salam seseorang dari pintu depan, segera aku melangkah untuk melihat siapa gerangan tamu yang datang pagi ini. Ya ini masih pagi sekitar pukul tujuh.
" Wa'alaikumsalam, Eh Mbak Tini. Darimana kamu? Tumben pagi-pagi sudah ke rumah, ayo masuk dulu." Ajakku mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.
Walau aku di landa bingung juga sedikit heran melihatnya pagi ini ke rumahku, ralat rumah Nenekku tepatnya, namun aku memilih diam menunggu dia yang mengatakannya sendiri maksud kedatangannya itu.
Aku yakin pasti ada sesuatu hal yang buruk sedang terjadi dengannya. Namun karena beberapa menit berlalu dan dia masih diam saja, aku pun berniat bertanya, mungkin dia bingung menyampaikannya padaku.
" Mbak ada apa? Apa ada masalah?" Tanyaku dengan hati-hati.
Temanku itu mendongak menatapku yang awalnya tadi ia menunduk, seketika aku bisa melihat jika ia baru saja menangis. " Katakan saja, aku akan mendengarnya?" Desakku yang semakin yakin jika ada sesuatu yang telah ia alami, namun aku tidak tahu itu apa, berharap dia mau mengatakannya.
Sebab Ibunya sudah tidak ada di dunia ini sedari ia masih kecil, sedangkan Bapaknya sudah menikah lagi dengan wanita lain, ia hanya punya Adik laki-laki itupun saat ini sedang merantau ke kota besar. Yang pasti tidak ada tujuan untuk berkeluh kesah selain datang kepadaku.
" Maaf An, aku datang pagi-pagi begini ke rumahmu. Sungguh aku bingung juga tidak tahu harua pergi kemana, aku sungguh tidak tahan lagi, benar yang Adikku katakan ternyata Mas Edo memang mempunya wanita lain di desa sebelah, aku harus bagaimana An, aku bingung. Semua bukti sudah aku dapatkan, namun Mas Edo terus saja menyangkalnya, bagaimana pun juga aku sangat mencintainya An, kenapa dia tega berselingkuh dengan wanita lain!." Keluhnya dengan amat sangat kesal juga marah.
__ADS_1
" Ya sudah tinggalkan saja dia!" Desisku yang juga ikutan kesal kepada Edo suami berengs3knya itu.
Mendengar ucapanku, tangisnya semakin menjadi. Aku pun memeluk tubuh rapuhnya, " Ya keluarkan semuanya, lupakan amarah Mbak, jangan di tahan." Kuusap punggungnya yang bergetar.
Selingkuh itu adalah sebuah penyakit, dan penyakit bisa saja kambuh suatu hari nanti bukan? Lalu buat apa kita memelihara penyakit jika sewaktu-waktu dia akan terus menggerogoti kita secara perlahan.
Dan penyakit itu sebaiknya di basmi lalu di buang jauh-jauh. Aku yakin pria yang sudah mempunyai pernyakit seperti itu, akan sulit untuk sembuh. Namun aku juga ingin melihat apa hanv akan di lakukan olehnya setelah melihat langsung perselingkuhan suami bejatnya itu. Entah dari awal aku memang tidak menyukai Edo sama sekali, terlihat kok kalau dia itu mata keranjang, namun semuanya terpatahkan dengan yang namanya cinta, cinta Mbak Tini yang begitu besar sehingga tidak bisa melihat kejanggalan itu.
" Gini Mbak tenang dulu, setelah mengetahui semua ini, lalu apa yang akan Mbak lakukan? Aku sebagai sahabat Mbak akan selalu mendukung keputusan yang akan Mbak ambil, jangan mau di bodohi Mbak. Dan ingat aku akan selalu ada di samping Mbak." Seruku memberinya semangat, agar dia tidak terus menerus di bodohi oleh suaminya itu.
" Aku jadi bingung An, kalau aku minta pisah dengan suamiku, lalu bagaimana dengan Lia, dia masih kecil, apalagi seorang gadis semakin tumbuh besar butuh figur seorang Ayah yang akan selalu menemani, menjaganya. Sungguh aku tidak sanggup jika melihat kesedihan di wajah cantiknya Lia anakku An. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku maafkan saja perbuatan Mas Edo?" Tanyanya yang seolah meminta pendapatku.
Aku jadi serba salah kalau begini, ya aku akui selama mereka menikah Edo suaminya itu tidak pernah kasar terhadapnya. Hanya saja sifat mata keranjangnya itu yang tidak bisa dia tahan. Walau Edo bukan orang sini, tapi banyak yang bilang jika dia adalah pria playboy. Nasib tmanku saja yang tidak mujur, akan tetapi kembali lagi semua sudah menjadi suratan. Tidak berbeda jauh denganku, yang justru awalnya menjadi istri yang kedua untuk suamiku.
" Aku hanya bisa mendoakan untuk kelian Mbak, apapun keputusan kamu, semoga itu yang terbaik untuk kamu dan juga Lia. " Akhirnya hanya itu yang bisa aku katakan, jija menyangkut anak aku pun juga kasihan.
" Lho sayang kemana temanmu tadi?" Tanyanya seraya melihat sekitaran ruang tamu.
" Sudah pulang Bi baru saja. Kenapa? Hmmm,, wanginya suamiku mau kemana?.." Aku memeluk tubuh kekarnya seraya mengendus aroma harum sabun juga sampo yang ia gunakan.
" Harus dong 'kan mau pergi, kamu ingin pergi jalan-jalan tidak? Di dekat sini saja, tidak perlu jauh-jauh agar Zia dan Zaheera juga tidak jenuh di rumah terus, gimana mau tidak?" Tawarannya ini sungguh menggiurkan, terlebih aku juga sudah lama tidak pernah keluar rumah hanya untuk sekedar jalan-jalan di dekat sini saja tidak pernah setelah pulang dari kota waktu itu.
" Sayang mau tidak?" Ulang suamiku kembali saat aku belum menjawab ajakannya.
" Eum, baiklah. Aku mandiin anak-anak dulu kalau begitu."
Aku bergegas masuk ke dalam kamar di ikuti Bang Aziz di belakangku, terlihat Zia yang sedang bermain bersama boneka-bonekanya, sementara si bungsu juga terlihat juga sudah bangun dan tengah bermain sendiri dengan memainkan kedua kakinya di angkat ke atas, benar-benar menggemaskan.
__ADS_1
" Ayo sayang-sayangnya Ami dan Abi kita mandi terus pergi jalan-jalan, mau nggak?" Seruku dengan antusiasnya.
" Mau-mau, yeeyy,, kita pergi jalan-jalan Ami? Sama Abi juga Adek?" Tanyanya dengan wajah polos berbinar.
" Tentu dong sayang, 'kan memang Abi yang mau ngajak jalan-jakan, Zia seneng nggak?"
Terlihat putriku menggangguk dengan cepat, kelihatan sekali jika dia sangat bahagia mau di ajak keluar." Ya sudah kalau begitu kita mandi, biar cepat berangkat."
" Iya Amiku."
" Sini biar Zia Abi yang mandiin, Ami mandiin si kecil saja, ayo princess Abu." Seru Bang Aziz yang ternyata berniat membantu memandikan putrinya, tentu aku sangat senang melihat niatnya tersebut.
Sungguh aku sangat bersyukur dan juga merasa beruntung sekali mendapatkan suami yang ringan tangan. Ringan tangan dalam artian mau membantu istrinya yang sedang dalam kesulitan. Ya walaupun usia kami terpaut cukup jauh belasan tahun, namun jika kulihat lebih dekat, usia kami hanya terpaut beberapa tahun saja.
Melihat kisah rumah tangga temanku sendiri Tini, sungguh aku merasa kasihan sekaligus Iba sebagai sahabatnya. Dan memang seharusnya aku harus selalu bersykur atas semua nikmat yang Tuhan berikan padaku, sekarang juga untuk ke depannya.
Dulu awalnya aku belum siap menikah di usia yang masih belia, namun semakin kesini aku pun harus ikhlas menjalani pernikahanku dan aku justru senang mendapatkan suami yang jauh lebih dewasa dariku, dia tidak penah mengeluh di saat aku belum menyiapkan keperluannya, justru terkadang dialah yang banyak membantu istri kecilnya ini, semoga rumah tanggaku sakinah, mawaddah, warrohmah till jannah, Aamiin Ya Allah.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.