Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Cobaan Menjelang Hari-H.


__ADS_3

Anna_PoV


*


Saat pernikahan hanya tinggal menghitung hari, konon katanya ada saja hal yang tidak terduga, jadi jangan kaget jika tiba-tiba datang seseorang yang seketika mampu menggetarkan hati. Atau hubunganmu dan pasangan akan diganggu oleh orang ketiga, bahkan datang dari orang terdekatmu yang tak jarang malah datang dari masa lalu. Hati-hati sebelum bertindak, selalu libatkan calon pasangan pada setiap keputusan yang akan kita ambil.


Tak terasa hari yang aku tunggu pun telah tiba, semua anggota keluargaku juga sudah lengkap semuanya berkumpul di rumah saat ini tak terkecuali Abang Iparku Aziz yang menyempatkan pulang untuk menghadiri acaraku yang di adakan esok hari.


Bagaimana dengan Najwa? Tentu saja dia ikut pulang bersamaku, ikut turut hadir ke dalam acara melepas masa lajangku, juga katanya akan membantu meriasku.


" Nduk Ibu masuk ya..?" Seru Ibuku di luar kamar, tak lama muncul setelah mendengar sahutan dariku.


" Ada apa Buk?" Tanyaku yang merasa heran pada beliau. Seolah mengerti bahwa Ibu akan mengajakku untuk berbicara berdua saja. Najwa pun bangkit.


" Aku ke depan dulu ya?" Pamit Najwa bergegas keluar kamar. Dan kini tinggallah aku dan Ibu saja di kamarku.


" Kamu sudah yakin benar dengan keputusan ini? Ibu hanya ingin memastikan saja, sebelum ada kata terlambat." Seru Ibu melontarkan pertanyaan ini lagi. Ya ini bukan yang pertama kalinya Ibu bertanya padaku.


Saat aku akan berangkat ke kota minggu lalu pun juga sudah bertahlmya dengan pertanyaan yang sama. Membuatku sedikit merasa resah dan juga kesal, sebab yang sudah Bapak katakan tempo hari itu bahwa yang sebenarnya hitungan weton pernikahan kami tidaklah baik, namun aku sendiri yang memang keras kepala, aku dan Kolil tidak percaya dengan yang begituan. jadi kami tetap bersikeukeuh untuk meneruskan pernikahan kami.


" Insya Allah Bu, minta doanya ya. Anna dan Bang Kolil insya Allah akan menjalani pernikahan kami nanti dengan baik." Ujarku memberikan ketenangan pada Ibu, agar beliau tidak kepikiran terus.


" Ya sudah jika itu sudah menjadi keputusan kalian berdua, yang penting Ibu dan Bapak sudah pernah mengingatkan." Setelah mengatakan hal itu, Ibu langsung beranjak dan berlalu pergi dari kamarku meninggalkanku yang masih termangu.


" Memangnya akan ada apa jika kami meneruskan pernikahan ini? Tapi jika aku mundur, kasihan Bang Kolil dan keluarganya jika nanti aku batalkan. Terlebih aku sangat mencintainya." Gumamku pada diriku sendiri.

__ADS_1


Setelah cukup lama berdua diri di dalam kamar, aku pun keluar kamar menghampiri Najwa yang sedang duduk di teras bersama Mas Anton dan teman-temannya. Awalnya aku tak ingin keluar kamar, namun aku merasa jenuh juga nggak ngapa-nagapain.


" Mana si Tommi Mas?" Aku celingukan mencari salah satu teman Mas Anton di antara para teman prianya yang duduk di teras di tikar bawah.


" Memangnya apa yang kamu harapkan dari kedatangannya? Mana mungkin datang, jika tidak ingin menggali kuburannya sendiri di belakang rumah kita." Sahut Mas Anton sedikit ketus padaku.


" Lho bukannya kalian— Uppss." Reflek aku segera menutup mulutku menggunakan telapak tanganku, saat baru menyadari hal itu.


Ya Allah.. Aku baru sadar, kenapa dia tidak ada di depan rumahku. Ya mungkin dia merasa sakit hati. sebab kuputusin waktu itu. Dan sejak kapan Mas Anton dan Tommi tidak bersama lagi? Apa setelah hubungan kami berakhir? Huh! Aku jahat sekali pada pria yang baik hati itu.


Tapi aku bisa apa, tidak mungkin aku mundur dari rencanaku ini. Memang harus aku akui bahwa hingga detik ini pun rasa sayangku kepada Tommi masih ada, hanya saja ya seperti yang sudan aku julelaskan dulu. Aku type wanita yang tidak bisa berhubungan jarak jauh. Dan mungkin saja kita memang tidak di takdirkan untuk bersama, biarlah ku doakan dirinya juga cepat menemukan jodohnya. Aamiin.


Tak ingin membuat mood Mas Anton bertambah kesal, aku pun berjalan masuk ke dalam kamar kembali, dan akan ke kamar Mbak Niyah saja, pasti dia belum juga belum tidur. Sebab masih pukul delapan malam. Suaminya juga belum datang hingga kini, kata Mbak Nitah nanti malam datangnya.


Langkahku perlahan terhenti saat ku dengar suara Najwa yang tengah membelaku.


Tak kusangka Najwa akan membelaku seperti itu, dan kini aku jadi penasaran dengan jawaban Mas Anton, kira-kira ia akan jawab bagaimana? " Biar saja, itu memang salahnya dia, yang sudah meninggalkan pria baik seperti Tommi. Kurang apa lagi coba, tapi ta sudahlah, itu urusan mereka." Dengkusnya.


Sudah kuduga, tidak seharus aku terlalu berharap pada jawban si benjot itu. Dasar si Benjot! Kenapa si Benjot? Ya itu adalah nama julukannya Mas Anton jika saat di rumah dan di desa ini, semua orang kenalnya Mas Anton itu dengan nama Benjot. Yang katanya pria yang humor, juga tingkahnya yang konyol, tapi saat marah jangan sampai dekat-dekat dengannya, bahaya.


Aku pun segera masuk ke kamar Mbak Nitah, terlihat dia sedang bermain ponsel." Eh, kamu An. Ada apa? Kok belum tidur? Mikirin omongan Ibu ya?" Tebaknya. Ya sudah pasti Mbak Nitah dengar, sebab kamar kami hanya di sekat oleh triplek tipis, itupun atasnya bolong, dan tentu saja bisa kedengeran jika ada orang yang tengah berbicara kecuali berbisik-bisik mungkin nggak akan kedengeran. Mbak Niyah langsung menggeser duduk agak ke tengah ranjang, dan aku pun duduk di sampingnya.


" Nggak tahu lah Mbak. Tak hanya Bapak dan Ibu saja ternyata yang menentang hubungan kami, tetapi juga Mas Anton. Entah ada apa dengannya? Padahal 'kan awalnya dia juga merestui. Apa mungkin kena omongan si Tommi ya?" Tuduhku pada pria yang kini sudah berganti status menjadi mantan kekasihku.


" Astagfirullah, kamu ngomong apa sih An! Jangan suudzon gitu, belum tentu juga 'kan Mas Anton bersikap begitu karena Tommi. Aku yakin Tommi itu pria baik-baik kok, dan aku nggak yakin kalau Tommi yang menghasut Mas Anton yang tidak-tidak." Sarkas Mbak Anniyah dengan nada kecewa padaku.

__ADS_1


" Bukan gitu Mbak maksud aku tadi. Ah, sudahlah sebaiknya aku tidur saja. Pusing aku, dan aku juga nggak akan mundur, ini sudah menjadi keputusanku jadi aku akan menghadapinya hingga akhir." Tandasku setelahnya aku beranjak bangun dan ingin pergi ke kamarku sendiri. Namun langkahku terhenti saat mendengar suara Mbak Anniyah kembali.


" Iya, memang kamu nanti yang akan menjalani biduk rumah tanggamu sendiri, yang penting agamanya baik, baik pada Ibunya, dan bisa menuntunmu menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pesan Mbak, Turuti apa yang menjadi perintahnya jika kamu nanti sudah menjadi seorang istri." Pesan Mbak Anniyah padaku.


" Iya Mbak, makasih sudah mengerti aku." Aku barbalik dan tersenyum padanya, setelahnya aku langsung keluar menuju ke kamarku sendiri. Begitu masuk ke kamar, aku segera menjatuhkan tubuhku di atas ranjang, bukannya langsung tertidur, kedua mataku justru tak bisa terpejam, ada apa denganku? Ku dengar di luar sana suara Mas Anton beserta teman-temanmu yang sedang bersenda gurau. Hingga tak lama Najwa pun juga masuk ke kamar.


" Eh, aku kira kama sudah tidur tadi. Kenapa? Kamu tidak bisa tidur ya?" Tebaknya yang memang tepat sekali, aku hanya menghendikkan bahuku. Najwa langsung ikut berbaring di sebelahku, kami sama-sama menatap genteng di atas sana.


" Entahlah, kepalaku terasa cenat-cenut malam ini." Balasku dengan malas.


" Ya sudah tidur saja, jangan lupa berdoa, mimpi indah ya." Ujar Najwa yang memintaku segera tidur. Dan aku berusaha untuk terpejam setelah itu.


*Kenapa semuanya jadi tidak mendukungku? Ada apa sebenarnya?


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana*.

__ADS_1


__ADS_2