Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Roda Kehidupan..


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


Tidak ada yang mudah dalam hidup memberimu pemahaman bahwa mendapatkan hal yang berharga dan luar biasa, semuanya harus diupayakan, melalui kerja keras, dan pengorbanan.


Mungkin hanya makanan yang bisa kita dapatkan secara instan. Atau, bila kamu lahir dengan sendok perak di mulut alias pewaris kekayaan. Selain itu, kamu butuh waktu dan harus berusaha lebih untuk mendapatkannya.


Alhamdulillah suamiku sudah mendapatkan rumah kontrakan dengan harga yang relatif murah juga sudah mendapatkan pekerjaan. Walau aku tidak begitu mengerti jenis pekerjaan apa yang di kerjakan oleh suamiku dan juga teman-temannya yang pentung halal itu tidak masalah.


Sudah hampir sebulan ini aku menempati rumah kontarakan milik kenalan suamiku, namun tak jarang Bang Aziz yang kadang juga tidak pulang karena pekerjaannya bersama temannya yang bernama Roni.


" Mamam,,Mamam.." Tedengar celotehan Zia di depan sana, aku pun segera menghampirinya yang ternyata tengah memberitahu jika tukang sayur sudah lewat di depan rumah.


" Kenapa sayang? Zia mau beli kue ya? Ayo." Aku segera menggandeng tangan mungilnya ke depan sana menghampiri Ibu yang jual sayur langganan daerah sini.


" Eh, mba Niyah mau belanja juga?" Sapa seorang Ibu tetangga menatap kedatanganku.


" Iya ni Bu." Aku tersenyum sembari memilih beberapa sayuran yang pagi ini akan aku masak.


" Eh si kecil mau beli apa sayang?" Tanya si Ibu lainnya yang sedang berjongkok berbicara pada Zia putriku.


" Mamam,, mamam." Celoteh si Zia yang memang baru bisa berbicara demikian..


" Mau mamam ya, ayo mau apa?" Si Ibu itu terlihat gemas pada Zia, sehingga Zia langsung di gendong olehnya. " Yang ini biar saya saja yang bayar Mbak Niyah." Serunya lagi sembari mengambil jeli juga beberapa kue untuk putriku.


" Wah terima kasih banyak Bu, audah merepotkan, bilang makasih sayang." Sahutku yang merasa tidak enak hati.

__ADS_1


" Iya sama-sama Mbak, nggak sama sekali kok. Saya malah senang, dan memang suka anak kecil terlebih anak perempuan, tapi ya mau bagaimana lagi Allah ngasihnya anak laki-laki semua sudah tiga anak, sudah lelah, tua kalau mau melahirkan lagi, sangat beresiko." Jawab lirih si Ibu tadi, aku jadi semakin tidak enak hati dan hanya bksa tersenyum mendengar curhatan dari beliau.


" Ini nggak mau beli ikan asin Mbak Niyah, mumpung ikan asinnya besar-besar dan segar lho." Seru si Ibu penjual sayur menawarkan dagangannya padaku.


" Boleh deh Bu satu bungkus saja, nanti kebanyakan." Jawabku menerima bungkusan ikan asin yang memang benar ukurannya cukup besar, satu bungkus plastik berisi lima ekor ikan. " Jadi berapa totalnya Bu, sayur sama ini kuenya lima biji." Aku menunjukkan satu kantong plastik yang berisi kue untuk Zia juga sayur yang sudah ku pilih sebelumnya.


" Lho memang suaminya belum pulang ya Mbak? Nggak apa-apa bisa di simpan buat besok lagi. Jadi total semuanya lima puluh lima ribu ya Mbak Niyah." Sahut si Ibu yang langsung aku sodorkan dua lembar kertas lima puluh ribu juga lima ribuan kepadanya.


" Belum Bu, mungkin nanti malam abinya pulang. Baiklah saya permisi dulu Ibu-ibu, mari semuanya, Assalamulaikum.." Pamitku kepada mereka semua.


" Walaikum salam.."


Aku pun berbalik akan kembali masuk ke dalam rumah sembari menggandeng Zia kembali setelah si Ibu tadi yang sudah menurunkan Zia dari gendongannya. Namun langkahku terhenti saat bersamaan ada seorang wanita yang baru saja tiba menyapaku, tidak enak rasanya langsung pergi begitu saja dan sepertinya dia akan belanja sayuran juga.


" Assalamualikum Mbak Anniyah, sudah selesai ya belanjanya. Sudah besar ya Kakak Zia, sudah berapa bulan ini kandungannya Mbak?" Tanyanya sembari mengusap pipi gembul Zia lalu beralih ke puncak kepalanya.


" Waalaikum salam, iya ni Mbak. Alhamduillah sudah memasuki bulan ke lima." Sahutku tersenyum menatapnya.


" Aamiin, terima kasih banyak Mbak. Kalau begitu saya permisi masuk dulu mau masak ini Mba, Assalamulaikum." Pamitku yang ingin segera masuk ke dalam rumah, kasihan Zia yang sepertinya ingin makan kue yang masih aku tenteng.


" Iya silhkan Mba Aniiyah, Waalakuim salam." Setelahnya aku benar-benar pergi dan melangkah masuk ke adalm rumah.


" Kasihan sering di tinggal suaminya pergi-pergi."


" Iya mana anaknya masih kecil, belum lagi sedang hamil besar. Tidak tega rasanya."


" Kasihan masih muda sudah mau punya anak dua."

__ADS_1


Dan masih banyak lagi, aku mendengar ucapan-ucapan dari mereka semua, yang karena memang tak sengaja mendengar. Setelah di dalam aku mendudukkan Zia di karpet sembari memberikan kue kepadanya, sementara aku berjalan ke arah dapur untuk memasak sayuran yang aku beli tadi.


Karena tidak lagi mempunyai lemari pendingin, aku jadi tidak lagi menyetok bahan makanan yang memang cepat rusak jika di biarkan di luar begitu saja. Ku lihat Zia yang sangat lahap sekali memakan kuenya, membuatku semakin merasa bersalah belum bisa memberikan apa yang terbaik untuknya.


Aku hanya tidak ingin merasa di kasihani oleh orang lain, terlebih keluarga. Awalnya Neng Delisha dan Cak Arga menyuruh kami tinggal si rumahnya saja, akan tetapi aku dan Bang Aziz kompak langsung menolak dengan halus.


Tak hanya mereka berdua, Abah pun juga demikian, namun kali ini aku yang langsung menolaknya kepada Bang Aziz, aku juga tak mungkin bisa mengatakannya kepada Abah, sungkan sudah pasti. Sebab aku sangat tahu jika Neng Atin tidak menyukaiku, entah apa alasannya, kalau alasannya karena aku yang telah merebut Bang Aziz dari istri pertamanya, bukankah itu sudah berlalu.


Walau Neng Atin tidak mengatakan langsung iya atau tidak menerima kehadiranku dan Bang Aziz jika ikut tinggal di rumah Abah, namun tetap saja aku menolaknya. Sebab sampai saat ini aku masih ingat dengan jelas ucapannya padaku.


Waktu itu saat di tinggal dua hari Bang Aziz ke kota, Neng Atin sempat berbicara padaku sendirian tidak ada orang yang tahu, kecuali aku seorang sebab Neng Atin menemuiku di dalam kamar yang aku tempati. Dia mengancamku, yang seolah mengalahkanku jika semua musibah yang menimpa Adiknya adalah karena kehadiranku di keluarganya.


Dari mulai perceraian Bang Aziz yang sudah belasan tahun membina rumah tangga dengan Mbak Nikmah rusak gara-gara aku, lalu kematian Umma mertua yang berbarengan dengan kelahiran Zia putriku, di tambah musibah kebakaran malam itu, hingga Bang Aziz sudah tidak memiliki apapun lagi hanya tertinggal kendaraan roda duanya saja.


Itulah yang menjadi alasan Neng Atin tidak menyukaiku, mungkin selamanya dia akan membenciku dan tidak akan pernah mau menerimaku menjadi iparnya. Entahlah aku semkin sulit berpikir, padahal semua ini juga bukan kemauanku. Seumur hidup aku juga tidak berharap ingin menjadi istri kedua, namun kalau sudah takdir mau bagaimana lagi. Dan ini menjadi rahasiaku sendiri, tidak akan pernah aku ceritakan kepada suamiku yang mungkin nantinya bisa menjadi bumerang antar saudara.


Beberapa saat kemudian masakanku sudah matang, aku hanya masak sayur sop sama goreng ikan asin saja." Ayo makan sayang." Ujarku yang duduk di hadapan putriku dan langsung menyuapinya.


Aku tahu hidup itu seperti roda yang berputar. Ada kalanya kita di atas. Saat kita berada di posisi atas, kita memang bisa melakukan apa saja sesuka hati. Tapi kita harus ingat, di lain waktu bisa jadi kita berada di bawah. Posisi bawah itu pasti tidak enak, apalagi untuk orang-orang sombong. Itulah sebabnya, kita harus selalu berbuat baik agar posisi kita selalu baik di dunia ini.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2