
Anniyah_PoV
*
" Eh, dimana ini?" Gumamku sambil beranjak bangun lalu menatap sekelilingku sebab tempat ini sangat asing bagiku.
Aku berniat hendak melangkah keluar dari kamar ini yang entah kamar milik siapa, namun segera ku urungkan niatku saat tiba-tiba pintu kamar tersebut sudah terbuka dari luar, bersamaan dengan muncullah sesosok Ibu-ibu yang sudah sepuh yang mungkin seusia dengan Nenekku.
" Alhamdulillah kamu sudah bangun Cu..?" Ujarnya seraya melangkah masuk dan meletakkan segelas teh panas di atas meja kecil lalu mendekat dan duduk di sampingku, aku segera menyalami beliau." Kamu pasti bingung ya ini lagi dimana, tidak perlu cemas kamu sekarang ada di rumah Nenek. Tadi siang itu cucu Nenek yang membawamu kesini saat karena melihat kamu pingsan di depan warung Nenek. Untung ada tetangga nenek yang mempunyai mobil tadi lewat di depan warung, sehingga bisa membawamu kemari. Nama kamu siapa Cu? Lalu gimana keadaanmu sekarang?" Tanyanya terlihat sangat khawatir.
Jadi seperti itu ceritanya, aku sama sekali tidak sadar jika aku tadi pingsan. Dan ternyata Nenek inilah pemilik warung tempatku berteduh tadi siang di dekat jembatan. Ada rasa syukur dan juga lega karena di pertemukan dengan Nenek yang baik hati, namun juga tidak hati karena sudah merepotkan Nenek dan cucu serta tetangga beliau.
" Nama saya Anniyah Nek, saya mengucapkan banyak terima kasih sama Nek, karena sudah menolong juga membantu saya tadi, maaf kalau saya banyak merepotkan Nenek dan juga cucu Nenek." Lirihku semakin tidak hati saat tiba-tiba tangan Nenek mengusap puncak kepalaku dari balik jilbab yang aku kenakan ini.
" Sama-sama Anni, sama sekali tidak merepotkan kok bukankah setiap manusia harus saling tolong menolong. Oh iya rumah kamu dimana Cu, kasihan kamu sedang hamil besar begini sampai pingsan begitu, lalu dimana suami kamu? Apa dia tidak tahu kamu sedang berada diluar rumah? Atau dia sedang bekerja di luar kota?" Tanyanya yang terlihat bersimpati sekali padaku dan juga bisa menebak pekerjaan suamiku.
Ya aku baru ingat jika aku sudah lama pergi dari rumah, bahkan ini sudah hampir malam. Aku harus segera pulang dari sini, pasti semua orang tengah bingung mencariku, dan terlebih Zaheera dan Zia sudah pasti menangis tidak ada aku di samping mereka.
" Saya dari desa Sendang Nek, suami saya saat ini sedang ada di rumah baru pulang dari kota. Tapi maaf saya tidak bisa berlama disini Nek, saya harus segera pulang karena saya telah meninggalkan anak-anak saya yang masih kecil di rumah, sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Nenek, karena sudah menolong dan membantu saya, semoga Nenek di berikan rezeki yang berlimpah juga sehat selalu dan juga berumur panjang agar saya bosa bertemu lagi dengan Nenek." Terangku panjang lebar dan mengatakan yang sebenarnya.
" Aamiin.. Terima kasih doanya Cu. Semoga nanti lahirannya juga gangsar ya. Oh Sendang sini berarti masih dekat, jadi kamu ini sudah memiliki anak yang sudah besar toch? Ya sudah kalau begitu pulang sekarang saja mumpung hari belum gelap. Biar Nenek suruh Totok nganterin kamu pulang, minum dulu itu tehnya mumpung masih hangat. " Sahut Nenek seraya bangkit dan berjalan keluar kamar untuk memanggil cucunya.
Aku langsung mengangguk dan mulai menyesap perlahan teh hangat buatan Nenek tadi, setelah tinggal sisa sedikit saja aku berjalan keluar kamar sembari membawa gelas tersebut lalu meletakkan di atas meja makan yang tak jauh dari kamar tempatku beristirahat tadi.
Rumah Nenek terbilang sangat sederhana tidak berbeda jauh dengan rumah kedua orangtuaku. Perlahan aku berjalan ke teras depan, dan terlihat Nenek tadi sedang berbicara kepada cucunya.
__ADS_1
Pemuda yang bernama Totok ini langsung menyanggupi permintaan dari Neneknya dan segera menyiapkan motornya di depan rumah. Aku kembali berpamitan kepada Nenek.
" Nenek Anniyah pamit dulu ya, maaf sudah merepotkan Nenek dan Masnya. Nanti kalau ada waktu lain secepatnya Anni pasti akan kembali berkunjung kesini lagi. " Ujarku seraya menyalami beliau.
" Ya harus kesini dong, Nenek tunggu biar Nenek ada temannya juga, sebab rumah sebelah 'kan kosong jadinya ya tidak punya teman mengobrol, selain cucu ganteng Nenek satu ini. untung Totok tidak mau ikut tinggal di rumah Ibunya kalau tidak Nenek pasti kesepian. " Ujar Nenek yang sepertinya ingin banyak mengobrol denganku.
" Insya Allah ya Nek. Tapi memang orang pemilik rumah ini kemana kok sepi begitu?" Tanyaku sedikit kepo tentang masalah ini, karena bisanya aku memang sangat cuek terhadap orang lain. Namun mendengar cerita Nenek aku juga ingin bercerita banyak sebenarnya kepada beliau, namun apalah daya waktunya tidak tepat juga entah kapan bisa berkunjung kemari lagi.
" Rumah sebelah ' kan sedang kosong Cu, pemiliknya saat ini memilih tinggal bersama anaknya sejak kematian suaminya satu tahun yang lalu. Tapi rumahnya sering di kunjungi juga di bersihkan sama yang punya, dengar-dengar juga sih mau di jual gitu katanya, entah benar atau tidak, Nenek kurang jelas. Ya sudah kamu hati-hati di jalan ya Cu. Tok pelan-pelan saja jalannya, Mbaknya sedang hamil lho." Teriaknya kepada pemuda cucunya.
" Baik Nek, terima kasih banyak. Anniyah pamit dulu kalau begitu, Assalamualaikum.." Ujarku seraya melangkah menjauh ke arah Totok juga motornya.
" Iya waalaikumsalam."
Sepanjang perjalanan menuju ke desaku, kami berdua hanya saling diam. Hingga sepuluh menit berlalu akhirnya aku dan Totok telah sampai di halaman depan rumahku. Aku segera turun dari motor dan meminta Totok untuk mampir dulu.
Awalnya ia terus menolak dan akan bergegas pergi namun saat bersamaan suamiku Bang Aziz baru saja pulang entah darimana mungkin mencariku. Dan dia langsung mendekatiku dan juga Totok, tatapannya antara bersalah, sedih juga kesal. Mungkin kesal lantaran aku di antar oleh pria asing yang tidak di kenalnya.
" Alhamdulillah sayang.. akhirnya kamu pulang juga, sudah kemana-mana aku mencarimu sedari tadi siang. Dan ini siapa?" Tanyanya menatap heran ke arah Totok.
" Dia ini_
" Assalamualaikum Ustadz.. Alhamdulillah, senang sekali saya bisa bertemu dengan Ustadz kembali." Seru Totok tiba-tiba yang sepertinya kenal dnegan suamiku ini.
" Waalaikumsalam, sebentar-sebentar apa kamu kenal dengan saya? Sebab saya lupa dengan kamu.." Sahut Bang Aziz yang mungkin melupakan pemuda itu, maklum sudah tua 'kan ya, anak saja sudah mau tujuh orang.
__ADS_1
" Saya Totok Ustadz, mungkin Ustadz lupa dengan saya, salah satu murid Anda saat masih di kota dulu, tepatnya di Masjid Al-kahfi." Sahut si Totok menjelaskan masa lalu mereka.
" Subhanallah.. kamu Totok pemuda yang dulu itu? Maaf saya lupa, ya harap maklumlah ya. Tapi kamu kok bisa ada disini?" Tanya suamiku yang heran setelah mengingat jika Totok adalah muridnya dulu di kota.
Akhirnya Bang Aziz mengajak Totok mampir ke dalam rumah seraya menjelaskan semuanya jika selama ini ia tinggal dengan Neneknya, lantaran snag Nenek hanya sebatang kara di desa, sedangkan kedua orangtua serta Adik-adiknya tinggal di kota. Juga tidak ketinggalan kejadian yang menimpaku tadi siang. Bang Aziz terlihat sangat terkejut, dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Totok juga Neneknya.
Mereka berdua akhirnya mengobrol hingga menjelang Maghrib setelah itu Totok berpamitan. Sedangkan aku setelah membuatkan Teh untuk Totok langsung sibuk dengan kedua putriku yang terlihat sangat senang melihat kepulanganku.
" Sayang, maafkan Abi ya. Abi tahu ini sangat menyakitimu, begitupun dengan Abi, tapi Abi juga bingung pada saat itu tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Tolong jangan diamkan Abi sayang... Abi sudah berusaha akan terus membahagiakan kalian.." Sesal suamiku yang masih aku diamkan hingga malam hari, aku bicara hanya sekedarnya saja.
Bapak tak banyak bicara, namun Ibu tentu saja ikut mengomeliku, yang padahal aku tidak sadar telah pergi meninggalkan kedua putriku tadi siang. Rasanya aku masih ingin sendiri untuk menenangkan pikiranku ini..
Walau aku sadar telah berdosa mengabaikan suamiku sendiri, tapi aku begini juga akibat perbuatannya.. entahlah aku harua gimana kedepannya..
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1