
Aziz_PoV
*
Alhamdulillah acara Aqiqah Zaheera dan Zefa berjalan dengan lancar sore ini. Waktu itu belum sempat mengadakan acara untuk Zaheera dikarenakan keadaan yang masih pasang surut.
Dan baru hari ini Alhamdulillah bisa menggadakan Aqiqah mereka berdua. Aku mengundang Abah, Cacak dan juga Neng Delisha beserta anak-anak mereka, nihil Neng Atin saja.
Waktu itu aku pernah mengajak Cak Arga berkunjung ke kampung halaman istriku, sehingga ia sedikit tahu jalannya, ya walau aku harus meminta orang sini untuk menjemput mereka di ujung jalan dekat alas sana.
Karena acaranya relah sekesai, para tamu undangan juga sudah pada pamit pulang, kini tinggal kami sekeluarga dan juga keluarga besarku yang dari kota.
" Kemana Adikmu An, kok anaknya di asuh oleh Neneknya?" Tanya Neng Delisha terlihat penasaran. Memang aku tidak pernah bercerita mengenai keadaan keluarga istriku, toch buat apa juga juga, kami mempunyai masalah keluarga sendiri-sendiri.
" Kebetulan Adikku mendapat pekerjaan di kota JB Neng sebagai baby sitter, Alhamdulillah." Jawab Anni seraya menatap keponakannya yang sedang bermain bersama Zaheera.
Kasihan melihat anak itu, kedua orangtuanya sudah tidak lagi bersama, di tambah di tinggal bekerja oleh Ibunya. Waktu itu saat bertemu dengan Kholil dia terlihat sangat frustasi pasca perceraiannya. Bahkan hingga detik ini aku dengar dia belum menikah kembali. Kelihatan sekali dia hancur, tapi mau bagaimana lagi ingin mempertahankan rumah tangganya pun percuma jika salah satunya sudah menyerah duluan.
Sebab dalam rumah tangga pasti akan ada pasang surutnya, tidak perlu jauh-jauh contohnya saja kehidupan rumah tanggaku sendiri yang hingga sekarang ada saja yang terjadi, terlebih setelah aku rujuk dengan Nikmah, bukannya mengeluh ini lebih ke ingin berbagi apa yang aku rasakan.
" Kasihan juga ya masih kecil sudah di tinggal. Anggap saja anak kita sendiri An, mau bagaimana mana pun cara mengasih seorang Ibu dan seorang Nenek itu sangat berbeda. Ya kita doakan saja yang terbaik untuk mereka, semoga Adikmu juga kuat menjalani kehidupannya demi masa depannya dan juga demi putrinya. Aamiin." Ujar Neng Delisha lagi.
" Aamiin.." Ucap kami semua yang kebetulan duduk berdekatan.
" Zayyan sudah besar ya Neng, nggak kerasa sebentar lagi mantu." Tukasku uang membuat semua orang beralih menatap pemuda yang beranjak dewasa.
" Baru lima belas tahun. Yang lebih dulu mantu itu kamu lho Ziz, anak dua-duanya sudah gadis begitu." Celetuk Cak Aziz menimpali.
Aku hanya terkekeh mendengarnya. " Kalau yang sulung sih sepertinya begitu Cak, tapi yang kedua belum, dia justru bekerja di kota kembang sana." Sahutku apa adanya. Memang terlihat putriku Mus sudah siap menikah, tapi lebih baik begitu daripada terus berdekatan dengan seorang pria yang katanya adalah kekasihnya.
" Wah jauh sekali Hilda bekerja di sana. Ikut siapa dia?" Tanya Cacak yang terlihat mencemaskan keponakannya.
" Ikut Bibi Uminya, yang kebetulan waktu itu berkunjung ke rumah. Beliau mempunyai usaha minimarket dan kebetulan pegawai yang menjadi kasirnya sebentar lagi mau melahirkan, sehingga beliau mengajak Hilda yang kebetulan baru lulus sekolah tahun ini." Terangku menjelaskan yang sebenarnya.
__ADS_1
" Ya sudahlah mana baiknya, hitung-hitung cari pengalaman juga 'kan. Tapi tetap awasi dia walaupun dari jarak jauh, sebab dia anak gadis Ziz." Seru Cak Aziz menasehatiku yang langsung aku angguki.
Kulirik Anni yang sedari tadi hanya diam saja menyimak, sebelah tanganku mencari pasangannya setelah ketemu langsung saja aku genggam, aku tahu dia melirikku namun aku terus menatap ke depan sebab masih di ajak mengobrol Cacak. Kami terus mengobrol, hingga tak lama keluarga besarku pun berpamitan.
" Ya sudah karena hari juga sudah malam, si juga mulai rewel. Kami pamit pulang dulu ya" Ujar Cacak berpamitan pada kami semua.
Aku di tarik Abah agak ke depan, aku pun menurut saja, sepertinya beliau ingin berbicara ptibadi padaku." Maafkan Abah ya tidak bisa berlama-lama disini Ziz. Abah harap kalian semua rukun, Abah sedikit menyesal menikahkanmu kembali dengan Nikmah, namun kehadiranmu waktu itu di dalam kamarnya juga tidak di benarkan. Apa kamu marah pada Abah?" Tanyanya dengan raut wajah sendu.
Abah berbicara setengah berbisik, sehingga tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan kami berdua yang memang sangat pelan.
" Tidak Bah, maafkan Aziz yang sudah membuat Abah kepikiran, Aziz sungguh tidak bermaksud. Mungkin itu semua juga sudah menjadi suratan takdir yang harus Aziz jalani." Sahutku. Tentu saja aku masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu.
Awalnya aku memang marah kepada Abah bukannya mencari kebenarannya terlebih dahulu, tapi beliau langsung menyaranku untuk segera menikahi Nikmah. Yang aku duga Nikmah-lah yang telah merencanakan kejadian itu semua, bukannya aku suuzon padanya, namun firasatku mengatakan demikian.
" Ya sudah Abah sedikit tenang setelah mendengar jawaban tulus darimu Nak, terlebih Abah dengar kalau Nikmah kembali mengandung calon cucu Abah, semoga Ibu dan bayinya sehat sampai waktu lahiran tiba. Pesan Abah tetap bersikap adil kepada kedua istrimu, sayangi dan beri perhatian yang sama kepada mereka berdua. Walau demikian seorang wanita sangatlah membutuhkan perhatian yang besar dari suaminya. Ya sudah Abah mau pamitan kepada kedua mertuamu dulu." Ujarnya menasehatiku.
" Aamiin.. Terima kasih Bah atas kedatangannya serta doanya untuk anak-anak Aziz. Semoga lain waktu kami semua bisa segera berkunjung ke rumah." Dan setelahnya beliau berjalan ke belakang berpamitan kepada semua orang.
Kami semua mengantarkan keluarga besarku hingga sampai depan halaman. Begitu mobil yang di kendarai oleh Cak Arga sudah hilang di ujung jalan sana kami semua kembali masuk ke dalam rumah.
Sama seperti Neng Atin yang juga menghadiri acara tersebut, ya aku tahu pasti hingga sampai sekarang Neng Atin masih belum bisa menerima Anni sebagai istriku, namun di samping itu juga mobilnya sudah penuh oleh anak-anak.
Setelah kami semua beres-beres, dan aku melipat karpet-karpet di ruang tengah, lalu memasukkan kembali meja kursi, kami semua pun siap beristirahat.
Baru saja merebahkan diri di atas ranjang, aku merasa perasaanku tidak tenang, terus gelisah. Ada apa ini, semoga semuanya baik-baik saja dan kami semua seluruh anggota keluarga besarku selalu dalam lindungaMu Ya Allah.. Aamiin..
" Ada apa Bi, kok kelihatan gelisah begitu?" " Tanya Anni yang ternyata peka dengan apa yang aku rasakan saat ini.
" Entahlah sayang, perasaanku tiba-tiba tidak tenang saja." Jawabku masih dalam cemas.
" Coba hubungi Cacak atau Neng Delisha Bi, hanya memastikan saja apa mereka semua sudah sampai di rumah atau belum?" Usulnya yang langsung aku angguki, benar juga aku belum mendapat kabar dari Cacak sedari tadi.
" Baiklah sayang Abi coba hubungi Cak Arga dulu ya, eh, tidak ada jaringannya, Abi keluar sebentar di teras depan." Pamitku yang ingin keluar rumah.
__ADS_1
" Iya jangan lama-lama di luar Bi." Pesannya yang terdengar ambigu. Jika saja saat ini aku tidak dalam keadaan gelisah, aku pasti akan meresponnya dengan cara menggodanya.
Di kampung ini jaringannya memang agak sulit, kadang ada kadang hilang. Setelah sudah di halaman depan, aku pun segera menghubungi Cacak saat ada jaringan walaupun tidak terlalu kuat, tapi tidak masalah yang penging aku bisa mendaoatkan kabar dari keluargaku.
Deringan pertama dan kedua tidak ada respon, hingga deringan ketiga barulah panggilanku di angkat, dengan segera aku menanyakan maksud tujuanku.
" Assalamualaikum.. Halo Cak apa kalian semua sudah sampai di rumah? Aku menunggu kabar sedari tadi." Tanyaku to the poin, tanpa ingin berbasa-basi.
Aku mendengar suara berisik dari arah seberang sana, dimana mereka saat ini, apa tengah mempir ke suatu tempat, lestoran misal, tapi 'kan tadi semuanya sudah pada makan sebelum pulang, bahkan aku suruh nambah mereka tidak sanggup lagi karena sudah kenyang. Lalu dimana mereka?
" Wa'alaikumsalam, iya Ziz. Ini Neng—
Ternyata bukan Cak Arga yang mengangkat teleponnya, dan suaranya itu jelas Neng Atin dari seberang, kok bisa ada Neng Atin padahal tadi 'kan dia tidak ikut, dan suaranya itu terdengar serak karena menangis.
" Tunggu-tunggu kok bisa Neng Atin yang jawab panggilanku, apa mereka semua ada di rumah? Lalu kenapa ramai sekali disana?" Ujarku memotong ucapannya.
" Kamu dimana, kesini sekarang Ziz, mobil Arga mengalami kecelakaan di pembatas rel kereta api. Pokoknya kamu sekarang juga kesini, Neng tunggu!" Balasnya yang langsung membuatku shock.
" Innalillahi roji'un, Ya Allah... baiklah Aziz kesana sekarang, di bawa ke rumah sakit mana Neng?" Tanyaku dengan gemetaran, mendengar keluargaku kecelakaan tentu saja aku sangat terkejut, pantas saja perasaanku tidak enak sedari tadi
" Di kota, di rumah sakit umum, pelan-pelan saja tidak usah ngebut Ziz." Pesannya.
Dan tanpa berlama-lama aku segera menyudahi panggilannya, dan kembali masuk ke dalam untuk berpamitan kepada Anni, pasti dia juga belum tidur. Perasaanku semakin tidak karu-karuan. Terlebih di dalam mobil ada anak-anak.
Setelah berpamitan dan Anni mengijinkan, dia juga berpesan supaya aku tidak ngebut bawa motornya, sama seperti Nang Atin tadi. Segera kulajukan motor dengan kecepatan sedang yang penting sampai ke rumah sakit.
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.