
Beberapa hari kemudian. Aira sudah di perbolehkan pulang. Sesampainya di aparteman, Aira langsung rebahan sambil melihat lelaki tampan tengah melepas jam tangan. Di depan sebuah cermin ia melihat gambar diri sambil melihat ketapanan yang di miliki.
"Sayang....." Lirih Aira penuh kelembutan.
David menoleh sembari tersenyum "Kenapa sayang?" Bola mata tiba tiba melihat ke arah tangan Aira yang kala itu mengusap perut. Senyumnya seketika menghilang. Setiap kali mengingat akan ada satu bayi di tengah hubungan mereka, sekejap rasa bahagia mulai menjadi ketidak nyamanan. Sejak dulu David tidak begitu menyukai anak anak. Menurut pola pikirnya anak kecil banyak menyusahkan saja, terkadang pula membuat jarak antara pasangan. Mungkin David belum siap menjadi seorang ayah.
"Aku nggak mau anak kita lahir tanpa status yang jelas"
__ADS_1
Seketika dada terasa sesak. Bagaimana pun David belum siap menerima janin di dalam rahim Aira. Bahkan dia ragu kalau janin itu benihnya. Entah kenapa tidak sedikit pun kebahagiaan terlihat di wajah David. Detelah tau Aira hamil, dunia terlihat mendung selalu.
"Saya sudah pikirkan tentang itu, kamu tidak usah cemas" Tiba tiba saja David berjalan membelakangi Aira. Ia berjalan menuju balkon (Saya tidak tau harus berbuat apa, di satu sisi saya bahagia bisa bersatu dengannya lagi. Tapi, di lain sisi saya belum siap menjadi seorang ayah. Hidup ini akan terasa buruk saat mendengar jeritan bayi menyebalkan itu. Apa lagi saya juga masih ragu benih siapa yang ada di rahimnya saat ini?)
"Aku tau kalau dia belum siap dengan semua ini..." perlahan Aira menyingkap selimut kemudian menghampiri sang kekasih"Kamu kenapa sayang? aku lihat sepertinya kamu banyak pikiran" Ujar Aira sembari melingkarkan kedua tangan di pinggang David. Betapa terkejutnya David kala Aira memeluknya dari belakang "Kamu mengejutkan saya" Ujar David sembari mengusap tangan Aira.
"Kita harus bicarakan semua ini dengan keluarga kamu, mas. Aku yakin mereka akan senang menerima garis keturunan keluarga Nickolas, yang ada dalam kandung ku saat ini. Sebentar lagi mereka akan menjadi oma dan opa, begitu pula dengan kita, menjadi ayah dan ibu. Kita akan menjadi keluarga bahagia" Sambil tersenyum Aira membayangkan betapa bahagia kehidupannya kelak.
__ADS_1
Aira merasa ada gelagat kurang mengenakan dari David beberapa hari ini"Sayang, kamu sebenarnya bahagia atau tidak dengan kehamilan ku ini? kenapa sikap kamu sedikit berubah?"
Menarik nafas panjang sembari memejamkan mata sejenak "Tidak seperti itu, hanya saja semua terlalu singkat buat saya"
"Jadi kamu tidak suka atas kehadiaran anak kita ini?" Aira menarik paksa tabgan David sampai mereka saling berhadapan.
"Bagaimana pun kamu harus bertanggung jawab. Kamu ayah dari bayi ini, jangan mau enaknya saja, giliran di suruh tanggung jawab nggak mau. Jahat kamu" Terlihat kedua mata Aira berkaca kaca. Lolongan kesedihan juga kekecewaan terlihat jelas dari tatapannya. Melihat sang kekasih bersedih membuat David tidak tega. Segara ia meraih wajah Aira kemudian mereka bercumbu mesra.
__ADS_1
"Saya sangat mencintai kamu dan...." Tatapan berlaih pada perut Aira. Salah satu tangan menyentuh perutnya "Dia juga adalah anak saya" Lain di bibir lain di hati. Berusaha meyakinkan diri sendiri atas semua keraguan.
Senyum di wwjah Aira mulai melebar. Aira pun langsung memeluk erat sang pujaan hati.