Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Rembukan..


__ADS_3

Anna_PoV


*


Dan ternyata tamu yang datang pagi-pagi ke rumah tidak lain adalah Bang Kholil suamiku mengajak serta Ayah dan Ibu mertua. Yang itu berarti kedua mertuaku sudah mengetahui semuanya.


Dan yang kupikirkan sekarang adalah, apakah Bang Kholil juga mengatakan perihal perbuatannya itu kepada kedua orangtuanya? Yang tega berbicara kasar padaku, juga begitu tega membentakku, hingga mencekik leherku bahkan hampir saja membunuhku jika ia tidak langsung sadar.


Saat semuanya berjalan ke depan untuk menyambut mereka bertiga, aku masih terdiam di belakang bersama Erika putriku yang justru tengah asik menikmati air susunya. Entah karena dia memang haus ataukah memang dia tidak mau bertemu dengan Ayahnya?


Lama aku terdiam seorang diri, seraya memikirkan lagi apa yang harus aku katakan kepada mereka semua orang terutama kepada Bang Kholil, hingga tak lama Mbak Anniyah memanggilku untuk segera ke depan menemui suami dan juga kedua orangtuanya. Huhu! Sepertinya mau menghindar pun percuma, semua masalah ini juga tidak akan ada ujungnya jika aku memilih diam dan terus bersembunyi. Jalan satu-satunya memang harus di hadapi, aku harus siap bertemu mereka dan menghadapi masalah ini, agar cepat selesai.


Aku pun menyudahi acara menyusui Erika dan beranjak bangun menghampiri Mbak Anniyah yang sedang membuatkan minuman untuk keluarga suamiku, yang seharusnya akulah yang melakukannya, menantu macam apa aku ini, tapi 'kan ada penyebabnya juga aku seperti ini.


" Sini Anna bantuin Mbak." Celetukku yang membuatnya langsung menoleh ke arahku.


" Eh, tidak perlu kamu 'kan sedang gendong Erika. Sudah sebaiknya kamu ke depan saja sana, temui suami dan kedua mertuamu, kedua orangtuanya 'kan tidak mempunyai salah sama kamu. Mau sampai kapan kamu akan menghindar darinya, masalah ini tidak akan selesai Dek. Coba ajak suamimu itu bicara baik-baik di belakang sini nggak apa-apa, agar tidak ada yang menganggu, lupakan ego kalian dulu, agar semuanya cepat selasai, apa kamu tidak kasihan sama Erika?" Ujarnya memberiku nasehat juga semangat seraya memandang keponakannya yang aku gendong.


" Iya aku juga sudah berpikir sejak semalaman Mbak, entahlah aku pun sangat bingung sebenarnya. Tapi jika aku harus kembali ke kota dan tinggal dirumah itu lagi, pasti bayang-bayang akan kejadian waktu itu akan membuatku teringat kembali dan tentunya itu membuatku trauma, lalu aku harus bagaimana Mbak? Bantu Anna cari solusinya?" Desakku sungguh tengah di landa kebingungan dalam rumah tangga yang baru au alami.

__ADS_1


Mungkin lain halnya jika aku dan Bang Kholil masih berpacaran itu tidak akan membuatku bingung seperti ini. Tapi faktanya kami sudah menikah bahkan hampir memasuki usia pernikahan yang ke lima tahun, dan itu tidak sebentar, dan keputusan akhir ini sangat menentukan akan di bawa kemana pernikahan kami nanti, akan lanjut ataukah berakhir sampai disini saja.


" Mbak juga bingung An. Tapi jika solusi yang menurut Mbak itu baik belum tentu baik menurut kamu. Maka dari itu, semua jawaban dan keputusan ada di kamu, sebab kamu yang menjalani rumah tangga ini bukan? Bukan Mbak atau orang lain, jadi pikirkan baik-baik sebelum mengambil keputusan, Mbak yakin apa yang menjadi keputusanmu nanti, itulah yang terbaik untuk kamu, Kholil juga Erika putri kalian." Sahutnya yang memberikan nasehat lagi.


Aku masih terdiam karena benar-benar merasa dilema saat ini, dan hanya bisa mengangguk mengiyakan saja. Akhirnya kami berdua berjalan ke depan beriringan. Bisa kulihat semua orang seketika menatap ke arah kami, atau lebih tepatnya menatap ke arahku yang hari ini kembali menjadi pusat perhatian layaknya pengantin baru.


" Ekhem, Assalamulaikum Ayah Ibu." Aku segera menyalami kedua mertuaku secara bergantian.


" Waalaikumsalam Nak, Ya Allah cucu cantik Nenek. Sini, Nenek mau gendong ya, Nenek kangen lho." Seru Ibu mertuaku seraya meraih tubuh gembul Erika, aku pun berusaga tersenyum menyerahkannya.


Sedari tadi aku tahu jika Bang Kholil terus saja menatapku, namun aku sengaja tidak ingin menatapnya sama sekali. Rasa marah, kesal juga ketakutan masih menyelimuti hatiku saat ini.


" Jadi bagaimana ini Pak Zainal?"


" Maaf, Bapak bisa langsung tanyakan kepada yang bersangkutan, ini sudah bukan wewenang saya, semua keputusan saya serahkan semuanya kepada Anna Pak." Sahut Bapak yang ternyata tidak mau salah bertindak.


"Ah ya, Bapak benar. Anna, Ayah benar-benar minta maaf sama kamu Nak atas semua tindakan brutal Kholil yang sudah menyakiti fisik juga hatimu, tadi Ayah juga sudah banyak bercerita tentang kondisi Kholil yang dulu juga pernah seperti ini, hanya saja saat itu Ayahlah yang menjadi korbannya, untung saja bukan Ibunya yang kena pukul, bisa habis dia di tangan Ayah." Jelas Ayah panjang lebar, namun aku sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini.


" Tunggu Ayah! Apa maksud Ayah tentang kondisi Bang Kholil yang dulu? Sungguh ini membuat Anna bingung." Tanyaku, agar beliau mau menjelaskan lagi padaku.

__ADS_1


" Jadi begini Nak Anna, maafkan Ayah dan Ibu jika belum sempat mengatakan ini semua padamu. Ini tentang masa lalu Kholil yang dulu pernah memiliki trauma berat akibat kehilangan Adiknya. Pada saat itu Adik Kholil baru beberapa bulan usianya. Namun karena kelalaian kami berdua, Adiknya tiba-tiba nangis kencang dan ternyata sudah terjatuh dari atas ranjang tempat tidur kami yang ukurannya cukup tinggi dari lantai, dan saat di bawa ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong saat di perjalanan. itulah yang membuat Kholil trauma berat, sebab yang pertama kami melihatnya adalah dia waktu itu. Dan ini untuk pertama kalinya ia seperti ini setelah sekian lama sudah sembuh. Ayah sungguh minta maaf ya Nak Anna mewakili putra Ayah, tolong maafkan Kholil, mungkin itu semua karena dia secara spontan bertindak dan pada akhirnya ia tertindak terlalu jauh pada Nak Anna, dan jika orang lain yang melihatnya pasti juga berpikir sama, terlalu berlebihan terhadap putrinya sendiri. Ayah memaklumi karena sudah mengetahui keadaan putra Ayah seperti apa, jadi Nak Anna Ayah mohon, tolong di pikirkan baik-baik keputusan ini." Ujar Ayah menjelaskan panjang lebar.


Mendengar penjelasan itu tentu saja membuatku sangat shock, sungguh aku sangat terkejut, tidak menyangka saja jika ternyata Bang Kholil suamiku memiliki trauma yang begitu berat selama ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kulirik suamiku yang hanya berdiam diri. Memang setahuku suamiku ini memiliki sikap yang banyak pendiamnya.


Tapi kenapa dia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun padaku, paling tidak kata maaf saja yang kubutuhkan saat ini keluar langsung dari mulutnya. Sepertinya dia amat menyesal dan malu terhadapku juga seluruh keluargaku.


Apa sebaiknya aku ajak dia ke kebelakang saja, agar kami bisa bicara berdua dengan tenang juga agar masalah ini cepat selesai. Aku juga nggak mau masalah ini berlarut-larut. Akhirnya kuputuskan mengajaknya ke belakang rumah.


" Ya sudah kalian bicara berdua, bicarakan baik-baik." Ujar Bapak, kami hanya mengangguk paham, setelahnya kami berdua berjalan ke kebelakang rumah.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2