
Anniyah_PoV
*
Hari berlalu dengan cepat, tidak terasa anak-anaku sudah semakin besar, dan kini aku juga sudah mendapatkan pekerjaan menjadi buruh pabrik kopi di kampungku sendiri. Dan itu tidak masalah yang penting halal dan bisa membantu perekonomian keluarga kecil kami.
Dan sekaligus ada kabar bahagia di dalam keluargaku, kabar bahagianya adalah Mas Anton kini sudahenjadi seorang Ayah. Mbak Iparku Najwa seminggu yang lalu baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan.
Alhamdulillah cucu Bapak dan Ibu bertambah lagi, dan ini adalah cucu pertama laki-laki mereka, yang tentunya kedua orangtuaku sangat bahagia mempunyai cucu laki-laki dari putra mereka.
Dan tentunya aku juga ikut merasa bahagia atas kelahiran putra mereka. Keduanya kini tinggal di rumah Ibu, dan menempati kamar Anna karena yang punya sudah tinggal di rumah suaminya di kota.
" Mbak mau minta bantuan apa? Mumpung aku masih disini." Aku berinisiatif menanyakan sesuatu yang mungkin tidak bisa di lakukan oleh Mbak iparku ini.
" Oh Dek Niyah mau pulang ya? Apa ya, oh tolong isikan air panas di termos ya, aku lagi siapkan pakaian ganti Tole nih." Sahutnya sembari menyiapkan peralatan mandi untuk putranya.
" Iya, baikah Mbak. Mau mandi ya Nino, mau sekalian di siapkan air hangatnya tidak?" Tanyaku lagi karena sekalian aku mau ke belakang.
" Ya boleh kalau begitu, maaf merepotkan Dek Anniyah." Ujarnya yang merasa tidak enak hati padaku.
" Tidak perlu sungkan Mbak, kita 'kan saudara. Aku tahu bagaimana repotnya punya anak bayi yang masih sangat kecil. Mbak duduk saja di atas ranjang pasti sebentar lagi Ibu akan ke sini mengambil Nino." Setelah itu aku pun berjalan ke arah dapur sembari menenteng termos air panas.
Putra mereka memang di kasih susu formula sejak baru lahir, karena asi Mbak Najwa sama sekali tidak bisa keluar. Sudah aku suruh mencoba di sus*in siapa tahu air asinya mau keluar, namun Mbak Najwa sepertinya yang memang tidak ada niat memberikannya, padahal belum juga di coba.
Setelah aku meletakkan termos di atas meja, aku pun berpamitan pulang dan mengajak serta kedua putriku yang tadinya bermain di belakang dengan Kakek dan Neneknya. " Bu Anniyah pulang dulu ya mandiin anak-anak keburu sore." Ujarku sembari menggendong Zaheer dan menggandeng tangan mungil Zia.
" Ya sudah hati-hati Nak."
__ADS_1
Berjalan kaki sekitar sepuluh menitan akhirnya kami sampai di rumah Nenek, yang tentunya melewati jalan tikus samping-samping rumah tetangga. Kalau harua lewat jalan besar akan memakan waktu lama, belum lagi banyak motor dan mobil yang lewat.
" Assalamualaikum,,," Ucapku begitu masuk ke dalam rumah, dan mendapati Nenekku yang sedang duduk di kursi ruang tengah.
" Wa'alaikumsalam, eh sudah pulang cicit-cicit Uyut, sini sayang sama Uyut ya, biar Amimu menyiapkan air hangat untuk kalian mandi." Seru Nenek mengajak kedua putriku duduk di karpet bawah.
" Nenek sudah memasak air?"
" Sudah dari tadi, mungkin sudah sudah hangat Nduk, mandiin dulu ini si kecil." Titah Nenek, aku segera berjalan ke arah dapur dan menyiapkan air di bak mandi. Setelah selesai memandikan kedua putriku, aku pun duduk di karpet bersama Nenek.
" Tadi ngapain aja di rumah Ibumu?" Tanya Nenek menatapku.
" Seperti biasa Nek, bantu Ibu juga Mbak Najwa." Jawabku sembari mengupas buah mangga yang tadi sempat di petik oleh Nenek di depan rumah.
" Anni, kamu tidak perlulah terlalu membantu Najwa, apa-apa kamu bantuin dia, biarkan dia mandiri, jika terus di biarkan, dia akan terus bergantung sama kamu. Nenek hanya memberi saran, entah mengapa Nenek ini tidak ada srek sama sekali dengan istrinya Anton itu." Tegur Nenek menasehatiku.
" Iya Nenek tahu, tapi ya sudahlah, itu juga sudah menjadi pilihannya Anton, jadi biar dia yang merasakannya nanti." Ujar Nenek lagi, yang entah kenapa selalu kesal jika kami sedang membahas Mbak Najwa.
Tak terasa hari sudah malam, aku sedang menidurkan kedua putriku saat ini di kamar, sedangkan Nenek pasti tengah membereskan lapak dagangannya di depan sekalian menutup warungnya karena malam semakin larut.
" An, anak-anak sudah pada tidur?" Terdengar Nenek bertanya dari luar kamar.
Aku segera turun dari ranjang karena kebetulan anak-anak sudah pulas tidurnya. " Ada apa Nek? Anak-anak baru saja tidur." Sahutku setelah berhasil membuka pintu kamar.
" Sini Nenek mau bicara sebentar." Nenek menarikku keluar, lalu mengajak duduk di kursi tengah.
" Ada apa Nek? Kok sepertinya ada masalah serius?" Tanyaku yang menatap heran.
__ADS_1
" Jadi begini An, Nenek 'kan mendapatkan bagian ladang yang cukup luas, jika Nenek yang mengurusnya sendiri pasti tidak akan sanggup. Kamu tahu sendiri Nenek hanya ingin fokus berjualan saja. Jadi Nenek serahkan ladang itu untuk kamu yang mengurusnya, Nenek juga berharap kamulah yang nanti akan menempati dan memiliki rumah ini Nduk, Nenek sudah sangat sayang sekali sama kamu Anni cucu kesayanganku, bagaimana mau ya?" Pinta Nenek berbicara panjang lebar dengan begitu seriusnya.
Tentu saja aku sangat terkejut, aku memang tahu jika Nenek sangat sayang padaku, namun jika memiliki rumah ini, aku takutnya cucunya yang lain akan iri dan cemburu padaku, sebab bukan hanya kami bertiga cucu Nenek, masih ada tiga orang lagi cucunya berbeda Ibu dengan kami.
" Jika untuk mengurus ladang Nenek insya Allah Anni akan usahakan, namun tidak jika harus memiliki rumah ini Nek, tidak perlu sampai begitu, cucu Nenek 'kan bukan hanya Anni seorang, masih ada lima orang lagi. Anni tidak ingin ada pertengkaran nantinya di antara kami semua." Ujarku menjelaskannya akibat yang memang belum terjadi, namun apa salahnya jika mewanti-wantinya lebih dulu.
" Iya Nenek paham itu Nduk, masalah yang lain itu tidak perlu di pikirkan biar menjadi urusan Nenek. Untuk Susi dan Susan pasti mereka mengerti, apalagi keduanya sudah bekerja di kota, terlebih Armand yang sudah sukses, Nenek dengar dia mau menikah dengan orang luar apakah itu benar?" Tanya Nenek menanyakan tentang kebenaran cucu laki-laki pertamanya yang saat ini tengah merantau di luar pulau.
" Anni dengar juga begitu Nek, kita doakan saja supaya cucu-cucu Nenek bahagia selalu dimanapun berada, Aamiin." Aku akan selalu mendoakan mereka bertiga yang lebih mandiri di bandingkan kami bertiga.
" Aamiin, ya sudah tidurlah temani putri-putrimu tidur. Besok saja kita bahas lagi tentang yang tadi." Pinta Nenek yang mengajak menyudahi pembicaraan kami.
" Ya sudah Nenek juga pergi tidur, ini sudah malam lho." Aku segera beranjak bangun dan masuk ke dalam kamar kembali.
" Semoga kamu selalu bahagia Nduk." Ujar Nenek pelan namun masih sempat aku dengar sebelum aku menutup pintu kamarku.
Aku sendiri masih bingung dengan permintaan Nenek tadi, namun aku juga kasihan, Nenek seolah sangat berharap padaku. Entahlah sebaiknya aku segera tidur saja.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.