Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Suamiku Milik Ibunya.


__ADS_3

Najwa_PoV


*


Sikapku selama di rumah biasa saja, bahkan cenderung lebih memilih diam di saat masih ada Ibu mertuaku di rumah. Mudah-mudahan Mas Anton bisa meyakinkan Anniyah agar mau bertukar tempat tinggal dengan kami, sungguh aku sendiri juga tidak tahan menghadapi keadaan ini, aku juga bingung dengan diriku sendiri kenapa bisa semarah itu kepada Ibu mertuaku sendiri, namun balik lagi, sejak awal Ibu tidak minta ijin dulu padaku, sekarang mau bagaimana lagi pun nasi telah menjadi bubur.


Jika Mas Anton tidak berhasil meyakinkan Adiknya, ya jalan satu-satunya aku.akan mengajak suamiku pulang ke rumah orangtuaku saja, toch disana juga tetap ada pekerjaan buruh di sawah, ya walaupun itu sedikit sulit.


Akan tetapi jika suamiku berhasil, aku akan langsung meminta maaf kepada Ibu mertua, bagaimana pun aku juga salah sudah membentak beliau, ya semoga saja Anniyah mau dan itu jauh lebih baik dia tinggal bersama Ibu kandungnya sendiri.


Sudah hampir satu jam-an Mas Anton pergi ke rumah Nenek untuk membicarakan masalah ini, aku sungguh tidak sabar menunggu hasilnya. Semenjak Ibu marah padaku, sejak itu pula aku belajar memandikan putraku sendiri tanpa memintaa bantuan kepada orang lain.


Dan bukankah seharusnya seorang Ibu yang memandikan anaknya sendiri ketika tubuhnya sudah kuat, jika aku tidak belajar dari sekarang, sampai kapan aku akan bergantung kepada orang lain. Jiwa kemandiriku seketika meronta begitu aku teringat sudah beberapa tahun berlalu aku selalu bekerja semenjak aku lulus dari ponpes juga sekolah menengah aku sudah bisa bekerja mencari uang sendiri, tujuan utamaku ingin membantu sekolah kedua Adikku, juga kebutuhan kami sekeluarga, sebab Bapak hanyalah buruh sawah di tempat orang.


Begitu terdengar suara Adzan maghrib berkumandang, secara bersamaan terdengar pula suara motor milik Bapak. Yang itu berarti suamiku sudah pulang, membuatku jadi tidak sabar lagi maka dari itu aku pun bangun untuk menyambut suamiku, namun di ambang pintu langkahku terhenti begitu mendengar suara Ibu mertua yang lebih dulu menyambut Mas Anton.


" Lho Le kamu kok baru pulang? Ibu sedari tadi mencarimu, ternyata kamu belum pulang tho pantesan Ibu nggak lihat!" Tegur Ibu mertuaku kepada suamiku. Sementara aku kembali masuk ke dalam kamar, dan ingin mendengarkan apa yang akan mereka bicarakan setelah ini.


" Sedari pukul tiga aku sudah pulang kok, lalu aku pergi ke rumah Nenek Bu, kenapa Ibu mencariku, ada hal pentingkah?"


Ah, iya tadi memang saat suamiku pulang, Ibu sedang keluar bersama seorang Ibu-Ibu mungkin itu temannya. Dan saat itulah aku juga keluar kamar, memgantar suamiku hingga teras depan.


" Tidak ada kok, hanya saja kenapa itu istrimu tidak mau keluar kamar, 'kan kasihan bayinya tidak terkena angin juga sinar matahari!" Protes Ibu mertua yang kembali nyinyir, heran aku! Memang beliau tahu apa yang aku lakukan pada bayiku seharian ini?

__ADS_1


" Iya nanti coba Anton bicarakan dengan Najwa Bu. Ya sudah Anton mau ke belakang dulu." Pamitnya, yang sepertinya ingin segera menyudahi pembiacaraan dengan Ibunya.


Aku pun dengan sabar menanti suamiku masuk ke dalam kamar, lima belas menit berlalu namun dia tidak kunjung masuk, mungkin sedang beribadah lebih dulu ya. Ya sudah lebih baik aku siapkan pakaian ganti untuknya saja.


Tak berselang lama Mas Anton pun masuk ke kamar, yang ku sambut dengan senyuman. " Ini baju gantinya Mas. Kok lama sekali tadi ke rumah Neneknya!" Protesku mengerucutkan bibirku ke depan. Padahal beberapa detik yang lalu aku masih tersenyum, namun saat teringat dia yang tidak juga pulang membuatku sedikit kesal juga.


" Jangan marah-marah sayang,, nanti cantiknya pindah ke Mas lho!" Godanya yang selalu saja membuatku geram juga tergelak, mau tidak mau aku pun tersenyum karenanya.


" Memang Mas mau jadi cantik? Geli tahu!"


" Kenapa nggak! Si Anton yang tampan plus cantik, juga manis pasti banyak para wanita yang akan kepincut dengan Mas!" Serunya dengan rasa percaya diri.


" Oh, jadi rupanya untuk menggaet para wanita di luar sana! Ya sudah sana tebar pesona, biarkan aku pulang ke rumah orangtuaku!" Gerutuku yang tidak berkesudahan.


" Siapa juga yang marah!"


Sekilas aku melihat suamiku itu sedang tersenyum geli, pasti sedang menertawakanku. Ah lebih baik aku tanyakan saja masalah yang tadi." Gimana Mas, kamu jadi bicara 'kan dengan Anniyah? Apakah dia mau di ajak tukeran sama kita? Lalu apa tanggapannya? Ayo cepat katakan Mas!" Desakku setengah berbisik yang memang sudah tidak sabar lagi menunggu jawabannya.


" Satu-satu dong kalau bertanya, Mas harus jawab yang mana dulu nih!"


" Isshh! Jawab semuanya Mas! Kamu jangan pura-pura ya!" Desisku tertahan agar Ibu dan Bapak tidak mendengarkan pembicaraan kami berdua.


" Ya Mas tadi sudah bicara langsung dengannya, dan Alhamdulillah Niyah mau di ajak tukeran sama kita sayang, ya walau pada awalnya dia sempat protes, sebab ia sudah merasa nyaman tinggal di rumah Nenek. Tapi dia mengalah demi kita lho, kamu harus mengucapkan terima kasih padanya juga kamu tidak lupa bukan untuk meminta maaf kepada Ibu!" Ujarnya mengingatkan.

__ADS_1


Aku yang awalnya mendengar pernyataan awal dari suamiku tersenyun lebar karena merasa bahagia, tapi setelah mendengar kata-kata terakhirnya senyumku langsung memudar seketika.


" Memangnya Mas pikir aku ini anak kecil yang selalu di ingatkan! Tenang saja aku tidak akan lupa kok, aku juga sudah berjanji 'kan sama Mas. Syukurlah, aku pasti juga tidak akan lupa berterima kasih pada Adikmu itu." Pungkasku yang sedikit merasa tersinggung.


Ya aku memang sudah berjanji padanya kalau dia berhasil meyakinkan Anniyah, maka aku akan meminta maaf pada Ibunya. Hanya kata maaf saja itu mah gampang, yang penting aku bisa tinggal sendiri tanpa harua di urusi atau bahkan di campuri oleh mertuaku lagi terkait masalah rumah tanggaku.


Siapapun pasti juga tidak mau menjadi aku, lebih baik punya rumah sendiri walaupun itu ngontrak, daripada setiap hari harus mendengar kata nyinyir dari Ibu mertua kita sendiri. Ya walau sebenarnya ini berawal karena masalah ketidaksengajaan yang beliau lakukan juga kata-kata kasarku waktu itu.


Sebenarnya Ibu mertuaku ini baik, sangat baik. Mungkin beliau merasa sakit hati karena aku sudah membentaknya juga karena kini perhatian Mas Anton tercurahkan sepenuhnya padaku juga kepada putra kami. Ya aku sadar jika suamiku itu putra satu-satunya dan selamanya harus menghormati Ibunya karena itu merupakan kewajiban bagi anak laki-laki terhadap ibunya walaupun anak tersebut sudah menikah sekalipun, sampai kapanpun anak laki-laki adalah milik Ibunya, dan aku tahu benar tentang itu.


Tapi apa iya itu semua salahku? Aku masih ingat betul kata-kata Ibu terakhir kali padaku yang mengatakan jika Mas Anton adalah miliknya. Tapi aku justru ingin melihat suamiku akan memilih siapa di antara aku dan Ibunya kalau aku dan Ibu mertua sama-sama dalam posisi terluka!


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2