
Anna_PoV
*
Aku menarik koper milikku berukuran sedang ke arah halaman depan yang langsung di terima oleh supir angkot yang sudah menunggu di depan rumah sedari tadi, koperku pun di masukkannya ke dalam bagasi mobil angkot miliknya.
Ya hari ini aku akan berangkat ke kota tepatnya ke yayasan tempat penampungan para calon baby sitter yang nantinya akan di cari oleh para majikan orang kaya yang sedang mencari pengasuh untuk bayi-bayi kecil mereka.
" Sini cium Bunda lagi sayang." Aku mengambil Erika dari gendongan Ibuku, rasanya aku ingin membawanya pergi bekerja jika saja di perbolehkan membawa anak. " Nanti kita bakal lama tidak bertemu, jadi Erika nggak boleh nakal ya sayang, nggak boleh cengeng kasihan Nenek, nanti Bunda akan sering menghubungi kamu, doakan Bunda ya sayang, semoga cepat mendapatkan pekerjaan yang dekat-dekat sini saja." Ujarku seraya terus mengecupi wajah gembulnya.
Wajah Erika nampak sedih, ia ingin menangis tapi ia tahan. Sadar jika Bundanya akan pergi, sedari tadi malam rewel terus, namun pagi ini justru dia tidak manangis mungkin sudah lelah.
Setelah puas mengecupi seluruh wajah cantiknya, aku memberikan Erika lagi kepada Ibu seraya menyalami beliau, serta bergantian kepada Bapak dan juga Mbak Anniyah.
Suaminya Bang Aziz sudah berangkat ke kota kemarin sore, awalnya dia ingin mengajakku berangkat bersama, namun aku tolak dengan alasan sudah janjian bersama temanku yang rumahnya di desa sebelah.
" Kamu hati-hati di jalan, ingat pesan Ibu semalam Nduk. Kalau sudah sampai disana kabari kami." Pesan Ibu saat aku sudah akan melangkah pergi.
" Iya Bu, Anna pasti akan menghubungi jika sudah sampai, ya sudah Anna pergi dulu semua Assalamualaikum.." Pamitku berjalan menuju ke mobil angkot dan masuk ke bangku belakang.
" Waalaikumsalam."
" Hati-hati An." Teriak Mbak Anniyah, aku hanya tersenyum dan mengangguk lemah, sedangkan Bapak hanya diam saja sedari tadi. Sebab semalam sudah banyak memberiku wejangan panjang lebar.
Saat mobil akan melaju, barulah kulihat Erika mulai menangis kencang merengek dalam gendongan Neneknya tubuhnya meliuk-liuk ke depan seraya membentangkan kedua tangan mungilnya itu seolah ingin ikut naik ke mobil bersamaku.
Ya Allah sedih sekali rasanya melihat anak menangis seperti itu, namun aku harus tega, ini demi kebahagiaannya juga, demi masa depannya. Dan aku tidak bisa terus mengandalkan kiriman dari Kholil Ayahnya yang hanya cukup untuk kebutuhan putrinya saja, mungkin dia sangat kecewa padaku, dan aku sadar diri itu.
Mobil perlahan melaju, Ya Allah hancur hatiku melihat tangisan jerit dari putriku, maafkan Bunda sayang karena keegoisan Bunda kamu telah menjadi korban dari pernikahan Atah dan Bunda.
__ADS_1
Wajahku pun sudah sembab sepanjang perjalanan menuju ke rumah temanku yang berangkat bersamaku ke kota. Mas Anton, Mbak Najwa serta Nenek tidak ke rumah sebab kemarin sore aku sudah berpamitan kepada mereka semua.
Aku menangis dalam diam, pak supir berkali-kali mengintipku dari kaca spion tengah terlihat iba padaku. Namun aku sama sekali tidak menghiraukannya, masih terus memikirkan nasib putriku.
Tak begitu lama mobil angkotnya sudah berhenti tepat di depan rumah temanku itu. Bisa kulihat ia sedang berpamitan dengan anggota keluarganya di teras rumah. Ternyata keadaannya tidak jauh berbeda dengan keluargaku tadi, terlihat anaknya yang juga tengah menangis kencang sama seperti Erika tadi.
Putrinya jauh lebih besar dari putriku, kira-kira usianya sudah dua tahunan lebih atau entah berapa. Semoga lepas hujan lebat ini akan ada pelangi yang indah yang bisa aku lihat berdama putriku Erika, semoga kami cepat segera berkumpul kembali.
" Eh, kamu juga lagi nangis ya?" Seru temanku yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku.
" Eh maaf, sudah selesai pamitannya? Lihat putrimu juga nangis kencang begitu." Tunjukku ke arah teras rumahnya.
" Ya mau gimana lagi, padahal tadinya mau di ajak pergi muter-muter di jalan sama Adikku, tapi anaknya yang nggak mau, sepertinya dia tahu jika aku mau pergi." Sahutnya dengan raut sedih menatap putrinya yang terus meraung memanggil-manggil namanya.
" Ya semoga kita segera mendapatkan pekerjaan secepatnya dan setelah selesai kita bisa berkumpul kembali bersama putri kita." Ujarku yang sok bijak memberinya semangat, padahal aku sendiri juga tak kalah sedih mengingat putriku yang menangis tadi.
" Aamiin.."
Aku seharus lebih bersyukur karena Erika masih bisa melihat Ayahnya, masih bisa merasakan kasih sayang darinya, walau mereka sangat jarang bertemu, sebab jarak yang memisahkan keduanya. Sedangkan putrinya Maya tidak akan pernah lagi merasakan itu semua. Nasib kami itu sebenarnya sama, sama-sama janda.
Jika aku janda karena bercerai, sedangakn Maya janda di tinggal mati, ya suami Maya baru saja meninggal dunia dan tepatnya lusa kemarin itu adalah empat puluh harian dari mendiang suaminya.
Bukankah seharusnya Maya yang jauh lebih membutuhkan dukungan, sebab sudah tidak ada lagi seseorang yang membantu membiayai kebutuhan sehari-hari atau masa depan putrinya. Sedangkan Erika masih mendapatkan itu dari Ayah kandungnya.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam dengan menaiki bus antar kota kami berdua pun telah sampai di ibukota. Begitu sampai di terminal kota besar ternyata sudah ada sebuah mobil yang bertugas menjemput kami berdua.
" An, sepertinya ada seseorang yang memanggilmu." Celetuk Maya saat kami baru saja masuk ke dalam mobil.
" Siapa? Aku bahkan tidak mempunyai kenalan banyak di kota ini selain Ayahnya Erika, memangnya namanya Anna hanya ada aku, sudahlah biarkan saja." Sahutku cuek yang tidak ingin memikirkan perkataan dari Maya. Memang siapa yang mengenalku di kota besar ini.
__ADS_1
Kami pun di antar ke alamat rumah yayasan oleh sang supir, begitu tiba kami langsung di sambut baik oleh sepasang suami istri yang besar kemungkinan adalah pemilik yayasan tersebut, kami pun memanggilnya Tacik dan Kokoh sebab mereka adalah keturunan orang chinese.
" Ayo masuk Mbak-mbak." Ujar Tacik itu kepada kami, dengan sungkan kami mengangguk dan mengikuti mereka dari belakang.
Setelah saling mengenalkan diri juga mendapatkan banyak penjelasan dan juga materi dari Taciknya, mulai besok kami berdua sudah langsung bisa melakukan training pelatihan di salah satu panti asuhan dimana banyak anak-anak kecil juga bayi yang memang di peruntukkan bagi kami para baby sitter yang baru bergabung untuk belajar demi mendapatkan sertifikat pelatihan, sebab akan susah mendapatkan majikan atau pekerjaan diluar kota besar jika kami tidak mempunyai sertifikat tersebut.
Karena kami yang sudah memiliki seorang putri dan jelas mempunyai pengalaman sehingga besar kemungkinan kami akan melakukan training tidak sampai tiga bulan lamanya, dan itu tergantung diri kita masing-masing serius belajar, dan juga permintaan dari majikan itu sendiri.
" Terima kasih banyak Cik, kalau begitu kami berdua pamit untuk istirahat dulu." Ujarku yang sudah merasa lelah ingin merebahkan diri di kasur, sembari memberi kabar pada keluargaku juga menghubungi putriku, baru beberapa jam tidak ketemu aku sudah kengen dengan Erika.
" Ya silahkan, pasti kalian sudah lelah di perjalanan tadi. Jika ingin makan, ambil saja di meja dapur, bibi sudah menyiapkan makanan untuk kalian semua. Di belakang juga ada beberapa teman kalian yang juga baru datang hari ini. Ya sudah saya tinggal masuk ke dalam dulu ya, selamat beristirahat." Sahut Tacik tersebut dengan ramah, kelihatan sekali orangnya baik.
Kami berjalan ke arah belakang, ternyata ada bangunan sepetak yang di peruntukkan khusus untuk kami para pekerja beritirahat " Permisi." Sapaku dan Maya begitu kami masuk ke dakam rumah, dan di dalam sana sudah ada empat wanita yang sedang rebahan di kasur yang di bentang lebar hampir memenuhi ruangan kamar tersebut, ada yang lebih tua dariku, ada pula yang hampir seumuran denganku.
Kami semua pun saling berkenalan, dan saling mengobrol satu sama lain setelah aku dan Maya selesai bersih-bersih. Ternyata mereka semua pendatang dari kampung juga, bahkan nasibnya juga tak kalah jauh dari aku dan Maya.
Semoga kami semua segera menyelesaikan pelatihan ini dan segera mendapatkan pekerjaan dan majikan yang baiik, Aamiin...
Masa depan itu milik orang yang percaya akan mimpinya dan bekerja sepenuh hati untuk mewujudkannya, semoga kami semua para wanita bisa berjuang bersama.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.