
Anniyah_PoV
*
Aku baru saja selesai mandi dan juga menyantap sarapanku dengan menu sayur bening dan juga martabak jagung, masih dengan raut wajah kesal aku menghabiskan makananku. Selain karena tidak bisa makan sayur kesukaanku, ada hal lain yang membuat moodku memburuk.
Bagaimana tidak, tadi aku di marah habis-habisan oleh Bu Warsinah Ibunya Yudha, apalagi jika bukan masalah tentang provokatorku tadi pagi pada Yudha yang memintanya pada Ibunya untuk membuatkan seorang Adik perempuan.
Tidak ada yang salah memang, tapi entah kenapa Bu Warsinah justru memarahiku hanya karena masalah sepele. Karena tidak ingin terus memikirkan kejadian tadi pagi, aku mencoba mencari kesibukan lain. Dan ya, aku belum bertukar pesan dengan suamiku, sedang apa dia sekarang?
" Assalamualaikum,, Abang sedang apa? Sudah makan belum?" Send,, aku segera mengirimkan pesan tersebut pada suamiku. Tak lama pesanku langsung di balas olehnya.
" Waalaikumsalam,, sayang ini Abang lagi di ruko, ngecek barang. Dedek sendiri lagi apa? Jangan telat makan." Balasnya, yang segera aku balas.
" Iya, sudah makan kok tadi. Kapan Abang pulang ke ruma" Ketikku yang langsung mengirimnya.
" Alhamdulillah kalau begitu, Insya Allah minggu depan Abang akan pulang, kamu yang sabar ya. Nurut apa kata Ibu." Pesannya yang sedikit membuatku lega.
Kami pun menghabiskan bertukar pesan cukup lama, hingga Bang Aziz akan pergi cari makan di warung Budhe. Hmmm, kabar terbaru Budhe sekarang kata Bang Aziz suaminya sudah kembali lagi, entah dari mana. Ada sedikit kelegaan bagiku mendengar hal tersebut, sebab sudah ada seseorang yang akan setia membantu dan di andalkan oleh Budhe. Aku berharap semoga keluarga mereka rukun dan bahagia selamanya.
Tak terasa hari sudah hampir sore, aku mengangkat jemuran di belakang rumah, sementara Ibu masih istirahat di kamar, sebab tadi pulangnya sudah sangat siang. Sementara Bapak sedang menyusun balok kayu di samping rumah yang akan di jual besok pagi. Sekarang tak hanya mencari rumput saja, Bapak juga mencari kayu bakar untuk di jual, walau terlihat jaman sudah canggih, namun di desa kami masih banyak yang menggunakan kayu bakar untuk memasak, apalagi jika ada yang sedang mengadakan acara hajatan besar, pasti butuh banyak kayu bakar. Tidak bisa hanya mengandalkan kompor gas saja, yang akan memakan biaya yang tidak sedikit.
" Pak, mau di buatkan kopi lagi?" Tanyaku yang sudah duduk tak jauh dari Bapak yang sedang mengikat kayu-kayu bakar tersebut.
" Iya, boleh Nduk, yang sedikit pahit saja. Biar nggak kena penyakit gula." Pintanya sambil terkekeh.
" Iya memang benar Pak, jangan manis-manis, 'kan Putri-putri Bapak ini sudah manis, hehe.." Godaku sembari bangkit berdiri untuk membuatku secangkir kopi untuk beliau.
__ADS_1
Setelah Meletakkan gelas mug berisi kopi di atas kayu dekat Bapak, aku hendak berjalan lagi untuk membersihkan diri, sebab hari sudah semakin sore. Aku tidak ingin di omelin Ibu lagi karena mandi kesorean.
" Terima Nduk. Sudah sore, mandilah." Titah Bapak mengingatkanku. Aku tersenyum mengangguk, dan melenggang pergi menuju kamar mandi. Namun sebelumnya aku sudah mengambil pakaian ganti dan juga handukku tadi sebelum menemui Bapak.
***
Tak terasa hari sudah cepat berlalu, tinggal menunggu detik-detik kelahiran anak pertamaku, bahkan ini sudah lewat sehari, harusnya hari kemarin aku waktunya melahirkan. Dua minggu yang lalu aku pun sudah menyiapkan segala keperluan yang akan aku bawa ke tempat bersalin, seperti pakaian bayi, popok, bedak, dan lain sebagainya. Aku masukkan ke dalam tas jinjing berukuran sedang. Karena rumah Bidannya yang memang tidak jauh, sehingga aku tidak membawa pakai banyak, nanti bisa mengambil lagi di rumah.
Namun aku juga sedih Bang Aziz belum bisa pulang, Sebab Ummanya sedang sakit dan di rawat di rumah sakit saat ini, bahkan katanya sudah tiga harian disana. Seharusnya kemarin suamiku sudah datang, berhubung mampir dulu di kota kelahirannya sejenak untuk melihat keadaan kedua orantuanya. Barulah ia akan melanjutkan perjalanannya untuk menemaniku nanti.
Aku terus menunggunya modar-mandir seperti setrikaan di dalam rumah juga di teras depan, sedari sore tadi membuat Ibu dan Bapak geleng-geleng kepala melihatku.
" Sudah larut ini, sana masuk kamar Nduk. Ndak baik wanita hamil di teras rumah begini, nanti kalau suamimu pulang pasti juga kedengeran suara motornya." Omel Ibuku yang memintaku untuk masuk ke dalam rumah.
Benar juga sih apa yang Ibu katakan, jika terdengar suara motor di depan aku pasti dengar, bukan aku saja yang dengar bahkan tetanggaku pasti juga ikut mendengar, secara rumah kami memang jaraknya tidak begitu jauh, hanya beberapa langkah saja jarak dari rumah ke rumah.
Namun baru saja merebahkan diri di atas dipan, aku merasa perutku mulas namun hanya sebentar, mungkin efek aku terlalu lama berdiri tadi juga mondar-mandir jadinya mulas begini. Aku pun tak mempermasalahkannya, lebuh baik aku tidur sejenak sambil menunggu Bang Aziz datang.
Hingga beberapa jam kemudian aku terjaga karena perutku kembali mules, sedikit kram seperti wanita lagi dapet. Kenapa ini ya? Kok semakin sakit tapi sebentar-sebentar saja. Karena aku takut aku pun beringsut bangun dan hendak berdiri, baru saja akan melangkah aku melihat ada bercak darah di atas seprei, aku segera memanggil Ibuku, aku takut. Jangan-jangan aku mau melahirkan?
" Ada apa toch Nduk?" Tanyanya tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamarku.
" Bu lihat ada darah di atas kasurku." Tunjukku ke arah kasur.
" Lho, sepertinya kamu mau melahirkan Nduk, ayo kita ke Bidan sekarang juga, biar Ibu panggil Bapakmu dulu." Ibu Keluar untuk memanggil Bapak yang sedang duduk di belakang rumah.
Sementara aku berjalan tertatih keluar kamar sambil berpegangan pada dinding triplek, rasanya perutku seperti di keras-peras saat rasa mulas itu datang. Jadi seperti ini rasanya wanita mau melahirkan? Bang Aziz kamu dimana? Aku butuh kamu Bang...
__ADS_1
Bapak dan Ibu tampak panik sekali,akhirnya kami mengendarai motor bertiga ke rumah Bidan, aku di apit di tengah-tengah antara Ibu dan Bapak, karena tubuhku dan Ibuku kecil jadi tentu saja muat satu motor bertiga.
Karena kondisi jalan tengah malam ini sudah sepi sekali, tak lama kami pun sampai di rumah Bu Bidan yang sering aku datangi untuk melakukan pemerikasaan. Saking panik dan terburu-buru aku sampai lupa tidak membawa ponselku, dan juga tas yang sudah aku siapkan. Biarlah nanti Bapak pulang lagi untuk mengambilnya. Ibu segera memencet bel rumah, seketika pintu depan pun terbuka dan Bu Bidan yang membukanya langsung.
" Assalamualaikum, Bu ini_
" Waalaikumsalam, sudah mau melahirkan ya?" Potong Bu Bidan yang sepertinya mengerti saat melihatku yang sedang merintih menahan kesakitan." Ayo di bawa masuk Bu, saya periksa dulu ya." Ibu langsung memapahku masuk ke dalam ruangan bersalin dan berbaring di atas ranjang berukuran kecil.
" Ini masih pembukaan lima ya Bu, tunggu sampai pembukaan kesepuluh dulu, Ini dimana suaminya?" Tanya Bu Bidan setelah selesai memeriksa.
" Masih di perjalanan Bu. " Ibuku yang menjawabnya, sebab aku merasa sudah tak memiliki tenaga, bentar-bentar aku menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang. Harus menunggu berapa lama lagi ini, rasanya sakit luar biasa, pinggangku seakan mau lepas saja rasanya.
.
.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1