
Aziz_PoV
*
Sudah dua hari ini aku aku sibuk mengurus ini dan itu, untuk bisa mempertanggung jawabkan kejadian tak terduga tempo hari, terpaksa aku menjual rumah kediaman yang aku belikan untuk istriku, dan juga mobil yang baru beberapa bulan ini kami pakai, ya aku terpaksa karena memang tidak ada lagi yang bisa aku gunakan untuk membayar gangi rugi kepada mereka semua, dan itupun masih kurang.
Dan aku tidak mungkin merepotkan Abah maupun kedua Kakakku, karena memang ini sudah menjadi tanggung jawabku. Aku juga sudah menghubungi istriku Anni dan Alhamdulillahnya dia adakah istri yang sangat pengertian padaku. Aku sangat bersyukur memilikinya.
Barang-barang yang berada di gudang bengkel pun hanya tersisa sedikit yang bisa di gunakan. Mungkin aku akan kembali setelah urusan disini selesai. Sementara aku tinggal di bangkai ruko, walau sebenarnya tempat itu tidak bisa di pakai untuk berteduh setidaknya aku tidak tidur di jalanan, kini yang tersisa hanya sepeda motor kesayanganku ini.
Bowo sudah menawariku untuk tinggal di rumahnya, namun aku langsung menolaknya dengan halus. Bagaimana mungkin aku tinggal ketika ia bersama dengan istrinya. Dan masalah Yono kemarin ternyata dia sedang mengejar Budi yang ternyata kabur.
Yono menjelaskan pada kami semua, jika sebelum pulang sore itu ia menangkap ada sesuatu hal yang Budi lakukan di belakang sana, tepatnya di dekat panel listrik, namun ia tidak tahu Budi sedang melakukan apa, karena tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan selanjutnya sampai pada akhirnya mereka bertiga pulang ke rumah masing-masing, hingga tibalah ia mendengar kabar bahwa bengkel kebakaran malam itu.
Setelah menerima panggilan dari Bowo, Yono bergegas mencari keberadaan Budi yang memang keduanya mengetahui tempat tinggal pria muda itu, saat kedaunya sempat berkunjung sejenak ke tempat kostnya. Namun sayang pria muda itu sudah tidak tinggal disitu lagi, lebih tepatnya ia sudah lebih dulu kabur, itulah yang Yono katakan padaku.
Aku langsung menghela napas panjang begitu selesai mendengar itu, dan aku memang harus banyak bersabar kali ini, ku anggap ini adalah ujian dariNya. Aku juga sudah memberikan keduanya gaji bulan lalu dan juga pesangon ya walau terbilang kecil, ya setidaknya aku masih bisa memberikannya, daripada tidak sama sekali.
Awalnya mereka menolak aku memberinya pesangon dengan alasan karena aku yang lebih membutuhkannya sekarang, namun dengan tegas aku terus memaksa hingga mereka menerimanya. Kalau di bilang butuh, aku memang sangat membutuhkannya saat ini, terlebih tinggal punya Budhe Indhun dan Ibu satunya pemilik Salon yang belum aku bayar kerugiannya, sebab hanya sedikit kerugian mereka.
" Assalamualikum Ziz coba cek, Cacak sudah transfer ke ATM kamu, ya semoga cukup untuk nambahin kekurangan kemarin ya." Ujar Cak Arga di sambungan telepon.
" Waalaikumsalam, Ya Allah Cak kenapa di transfer sih, Aziz jadi merepotkan Cacak kalau begini 'kan." Keluhku sedikit kesal padanya. Aku hanya merasa tidak enak dan tidak ingin merepotkan keluargaku saja.
" Kenapa harus merepotkan, kamu 'kan Adikku, sudah sewajarnya seorang Kakak membantu Adiknya yang sedang dalam kesulitan bukan?" Sahutnya lagi.
__ADS_1
" Baiklah aku terima, terima kasih banyak Cak, nanti kalau sudah ada rejeki Aziz akan ganti, Insya Allah." Ujarku pada akhirnya.
" Apa sih ganti-ganti. Seperti sama siapa saja kamu Ziz, Sudah dulu ya, Cacak mau mengajar ini." Setelahnya panggilan pun terputus.
Alhamdulilah dengan ini aku bisa segera memberikannya kepada Budhe Indhun juga Ibu pemilik salon. Dan Alhamdulillah semuanya sudah selesai, semua atas bantuanMu ya Allah..
Setelah semua urusanku di kota ini selesai, aku berniat akan kembali ke kota JG menyusul istriku Anni. Namun sebelum itu aku ingin mengunjungi anak-anakku terlebih dahulu, rasanya rindu sekali dengan mereka.
Lama tak ada respon dari Mus putriku, aku pun memutuskan untuk langsung datang ke rumah Nikmah saja, sebelum malam tiba. Aku mampir ke kedai makanan membawa makanan ringan untuk ke empat anakku. Tak begitu lama aku sudah sampai di halaman rumah mantan istriku.
Setelah memakirkan motor di carport aku segera melangkah masuk yang secara kebetulan pintu depan memang sudah terbuka jadi tidak perlu mengetuknya ataupun memencet bel lagi. Namun baru akan mengucapkan salam, aku mendengar suara gaduh dari dalam, entah apa yang terjadi di dalam sana, karena panik juga takut akan terjadi sesuatu pada anak-anakku, aku pun nekat berjalan masuk ke dalam rumah.
" Ya aku talak kamu! Puas kamu!"
Aku sungguh terkejut mendengar kegaduhan yang ternyata di sebabkan oleh Nikmah dan suaminya Cak Rojak. Dan yang lebih mengejutkan lagi tentang Cak Rojak yang menalak Nikmah tepat di hadapanku saat ini. Apa yang terjadi pada mereka berdua sebenarnya? Lalu dimana anak-anak?
Aku mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, tak ada satu orang pun selain kami bertiga di dalam termasuk aku. Sadar jika ada orang lain selain mereka, keduanya pun langsung menoleh dan menatapku dengan pandangan yang berbeda.
Jika Nikmah menatapku terkejut dengan wajah yang sudah sembab, berbeda dengan Cak Rojak yang melihatku layaknya melihat musuh bebuyutan, tatapannya begitu tajam dan dingin. Ada apa ini sebenarnya?
" Maaf—
" Oh, ini dia, biang keroknya! Kebetulan sekali!" Seru Cak Rojak masih terus menatapku dan mulai berjalan mendekat, aku semakin di buatnya bingung, apa maksud ucapannya itu padaku?
" Jangan! Dia tidak salah, dia tidak tahu apa-apa Rojak!" Ujar Nikmah yang kulihat berusaha menenangkan suaminya, oh ralat mantan suaminya sebab pria itu sudah menalaknya beberapa manit yang lalu.
__ADS_1
" Tunggu! Maaf kalau kedatanganku menganggu kalian berdua. Tapi aku sungguh tidak mengerti dengan keadaan ini, dan aku datang hanya ingin menjenguk anak-anakku itu saja. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat, baiklah aku pamit saja." Ujarku memberitahu mereka yang sesungguhnya.
Aku hanya tidak ingin ada kesalah pahaman terlalu jauh di antara mereka, terlebih aku tidak ingin di sangkut pautkan masalah mereka berdua. Lebih baik aku pergi dan aku berharap tidak akan datang lagi di hadapan mereka ke depannya.
" Tunggu Pengecut! Jangan beraninya cuma di belakang! Kamu hanya alasan saja 'kan untuk melihat anakmu, tapi yang sebenarnya kamu hanya ingin bertemu dengannya karena merindukan mantan istrimu ini bukan?" Sahut Cak Rojak sembari menunjuk-nunjuk Nikmah yang semakin tergugu.
" Maaf, aku tidak mengerti apa maksud Cak Rojak, tapi sungguh aku datang ingin bertemu dengan anak-anak itu saja. Baiklah aku pemisi." Pamitku yang ingin segera melangkah pergi dari hadapan mereka berdua.
" Hei banc1! Jangan coba-coba kabur ya. Kamu tahu, karena dirimulah aku menceraikannya!" Pekik berang Cak Rojak padaku, aku semakin di buat tidak mengerti dengan maksud ucapannya itu.
Tanpa menoleh lagi aku segera menaiki motorku dan bergegas pergi meninggalkan pertingkaian yang tidak aku ketahui alasannya!!
Ya Allah cobaan apa lagi ini...??
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1