Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Memiliki Trauma.


__ADS_3

Author_PoV


*


Hari pun cepat berlalu, Anniyah memilih untuk ikut kembali ke kota bersama suaminya serta membawa putri mereka. Awalnya Ibunya melarang, sebab rasanya tidak rela harus berpisah dengan cucunya, cucu pertamanya. Namun dengan segala pertimbangan juga nasehat dari sang suami akhirnya sang istri pun mau melepaskan Zia cucunya untuk ikut kembali ke kota bersama kedua orangtuanya.


" Sayang, Zia sudah tidur?" Bisik Aziz memeluk tubuh istrinya dari belakang. Bukan hanya memeluk tetapi juga menciumi tengkuk lalu menjalar hingga ke telinga Anni.


" Ng.. Nanti dulu Bi, biarkan Zia terlelap. Liat dia masih haus, belum selesai minum." Tunjuk Anni ke arah bayi mungilnya, terlihat lucu sekali ketika bibir mungil itu menghisap ****** warna coklat sedikit hitam miliknya.


Aziz terkekeh melihat pemandangan indah itu, ada sesuatu yang ia tahan sedari tadi. Di tambah melihat milik istrinya yang semakin hari semakin berisi dan menantang, kepalanya terasa cenat-cenut berputar-putar.


" Abi juga haus lho sayang. Sangat haus ingin minum juga." Lirih Aziz sembari menyesap kulit putih istrinya, hingga meninggalkan jejak kepemilikan.


" Aahh, Bi tungguhlah sebentar. Nanti Zia bangun lho ini, " Ujar Anni setengah merengek agar suaminya memberikan waktu sejenak untuk bersama putri mereka.


" Hmmm, ya sudah baiklah. Abi tunggu di atas ranjang ya." Bisiknya kemudian mengecup tengkuk putih istrinya itu sebelum beranjak pergi.


Beberapa menit kemudian, Zia—bayi mungil itu terlihat sudah terlelap, secara perlahan ia melepaskan ****** itu sendiri. Setelah meletakkan bayinya ke dalam boks bayi dan memastikkan bayinya dengan aman, Anni pun beranjak dan merangkak naik ke atas ranjang menyusul suaminya yang sudah lebih dulu berbaring disana.


" Sudah tidur?" Bisik Aziz segera bangkit lalu duduk menghadap ke istri cantiknya. Tatapan itu Anni tahu apa maksudnya, akan tetapi jika ia menolak ia akan berdosa, namun jika ia tutruti pasti akan berlangsung lama, sebab ia sangat tahu seperti apa kebringasan suaminya jika sudah di ats ranjang.


" Tapi satu atau dua babak saja ya Bi?" Ujar Anni berusaha mengajak suaminya bernegoisasi. Konyol sekali rasanya.


" Insya Allah. tapi nggak janji ya. 'kan Ami tahu sendiri gimana Abi, humm??" Sahutnya seraya melepaskan helai demi helai pakaian yang menempel di tubuh keduanya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka sebelum memulai aksinya tersebut.

__ADS_1


" Bismillah.. Abi mulai ya sayang, kita buatkan Zia Adik yang ganteng.." Ujarnya seraya memulai gerakan dengan memberikan cumbuan kecil hingga besar kepada istri kecilnya.


Namun belum juga pada ia menyentuh inti tersebut, Anni segera memghentikan gerakannya. Membuat pria lima anak tersebut menatapnya bingung.


" Ada apa sayang? Apa Abi menyakitimu, humm?" Tanyanya dengan napas yang mulai memburu.


Anni menggelengkan kepalanya, memang ia tidak merasakam kesakitan saat ini, namun ada rasa yang mengganjal dalam pikirannya saat ini dan jika ia tidak mengataknnya pada sang suami, ia yakin ini imbasnya untuk masa depan mereka bersama.


" Ada apa? Jangan bilang Ami ingin menyudahi permainan kita yang bahkan belum di mulai?" Desis lirih Aziz sedikit merasakan kekecewaan dari sang istri.


" Bukan Abi. Dengar dulu, sebenarnya Ami belum siap jika harus kembali mengandung, terlebih Zia juga masih kecil lho belum ada satu tahun, masa iya sudah mempunyai seorang Adik, namun terlepas dari itu semua, Ami juga tidak ingin mempunyai anak laki-laki Bi." Jelas Anni dengan cepat mengeluarkan semua uneg-unegnya yang terus saja mengganggu pikirannya selama ini.


" Ami tidak ingin anak laki-laki kenapa sayang? Padahal 'kan anak laki-laki itu paling sayang terhadap Ibu kandungnya." Sahut Aziz mencoba menjelaskan tentang sikap yang di miliki oleh laki-laki.


" Namun nyatanya yang aku lihat tidak demikian, Mas Anton contohnya, dia selalu bersikap kasar pada Bapak dan juga Ibu, juga kadang kasar terhadap kedua Adiknya sendiri, dia—


" Ssstt,, baik-baiklah Abi mengerti sayang, semoga apa yang kamu inginkan terkabul, sebab semua itu atas ijin Allah, kita hambanya hanya bisa berdoa dan meminta padaNya, kamu mengerti bukan? Terus kita gimana nih, lanjut atau tidak?" Lirih Aziz menatap melas ke arah istrinya, membuat Anni mau tidak mau terkekeh melihat itu.


Anni dengan cepat mengangguk mengerti, " Iya Bi. maaf ya. Tapi aku sungguh tidak ingin mempunyai anak laki-laki aku takut di bentak dan di kasari oleh anakku nanti dan aku tidak tahu apa aku bisa kuat dan sesabar itu menerimanya." Lirih Anni yang begitu pesimis akan rasa takut yang belum tentu terjadi.


" Iya, Abi sangat mengerti sayang. Kita berdoa saja ya. Tapi jika yang di atas menghendaki kita memiliki anak-laki, kamu juga harus menerimanya dengan hati yang ikhlas, mengerti!" Pinta Aziz memberi mengertian pada istri kecilnya itu.


" Kita lihat saja Bi, jika nanti aku hamil lagi lalu yang keluar bayi laki-laki mungkin akan aku pites-pites sampai dia—." Sahut Anni dengan cepat, bahkan tidak melihat raut wajah suaminya yang berubah tidak karuan.


" Astagfirullah Ami, kok mau di pites gitu, itu anak kita sendiri lho sayang, anak Abi, masa Ami setega itu sama bayi kandung Ami sendiri, jangan dong sayang. Ya udah kita tidur saja ya kalau gitu." Aziz segera turun dari tubuh sang istri yang tadinya menindihnya.

__ADS_1


Ia sadar diri saat ini istrinya sedang tidak baik-baik saja, ia pun harus mengalah dan lebih bersabar lagi. Menunggu mood sang istri kembali ke semula. Ia tidak ingin hanya perkara menuntaskan hawa na*su semata, namun membuat hubungan keduanya jadi renggang dan berselisih.


Sebab dimana-mana wanita itu yang paling benar. Menurut yang ia lihat dan ia jalani selama ini, ia cukup berpengalaman sebab bukan setahun dua tahun ia membina rumah tangga bersama mantan istrinya Nikmah.


Melihat raut wajah sedih dan tentu saja tersiksa suaminya, membuat Anni jadi tidak tega, ia pun segera mengusap lembut rahang tegas suaminya agar melanjutkan permainan mereka yang sempat terhenti di tengah jalan, akibat ada jalan yang terjal yang ia lewati tadi—yang sedang membahas perihal anak laki-laki.


" Bi, ayo kita lanjutkan saja, sudah kepalang tanggung juga." Ajak Anni yang beriniatif memulai duluan dengan mencium bibir tipis suaminya.


Bak gayung yang di sambut, Aziz serega membalas ciuman dari sang istri, dari yang lembut hingga sampai menuntut yang lebih." Terima kasih sayang atas mengertiannya." Bisik Aziz kembali mengukung tubuh mungil istrinya.


Perlahan tapi pasti kedua tubuhpun mulai menyatu dengan lembut, bergerak sesuatu insting masing-masing. Setelah memberikan cumbuan pada masing-masing tubuh.


" Abi sayang dan cinta banget sama Ami dan putri kita." Bisik Aziz setelah menyemburkan benih unggulnya ke dalam rahim hangat istrinya. Lalu menghujami dengan begitu banyak ciuman yang begitu berlimpah di wajah cantik yang sama-sama sedang berpeluh akibat permainan panas mereka barusan.


" Ami juga sayang dan cinta sama Abi dan juga Zia." Balas Anni dengan nafas yang terputus-putus, seperti habis lari maraton mengelilingi lapangan yang luas.


Keduanya pun berpelukan mesra di sebalik selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya, setelah sang suami membersihkan sisa-sisa percintaan mereka berdua, hingga mereka terlelap.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2