Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Tunggu Ayah Nak..


__ADS_3

Kholil_PoV


*


Karena Ibu dan Ayah terus saja mendesakku, akhirnya mau tidak mau aku pun menceritakan semuanya tentang kejadian tadi pagi di rumah. Telihat wajah Ibu yang shock begitu mendengar aku telah mencekik menantunya, bahkan hampir saja membunuhnya.


Bahkan aku sendiri pun juga tidak percaya dengan apa yang aku lakukan pada istri tercintaku. Bagaimana bisa aku hampir membunuhnya, membunuh wanita yang sangat aku cintai, itu di luar kendaliku, sungguh aku tidak sadar.


" Astagfirulllah... Bagaimana bisa kamu melakukan hal yang,, Ya Allah bagaimana ini Yah,, ini terjadi kembali Yah.. Aduh, kepala Ibu jadi sakit Yah.." Keluh Ibu seraya memegangi sebelah kepalanya.


" Ibu istirahat saja ya, ayo Ayah antar ke kamar." Ujar Ayah membawa Ibu pergi.


Sementara aku masih diam menunduk menyesali semua perbuatanku. " Anna kembalilah.. Abang janji tidak akan marah-marah dan memukulmu lagi. Tolong jangan tinggalkan aku sayang.." Lirihku seorang diri di ruang tengah.


Hingga tak lama Ayah kembali mendatangiku. " Kholil kenapa kamu tidak bisa mengendalikan emosimu itu huh! Kasihan istri dan putrimu jika setiap hari mendapatkan amarah darimu. Sudah sekarang pergi ke kamarmu, besok kita semua pergi ke rumah Anna. Pasti dia pulang ke rumah orangtuanya karena merasa ketakutan oleh perbuatanmu itu!" Titah Ayah yang sama sekali tidak aku dengar.


Sebab untuk saat ini aku terus berpikir dimana istriku berada. Dan kenapa aku tidak kepikiran, benar kata Ayah pasti Anna pulang ke kampung halamannya, memangnya mau kemana lagi, Mbak kandungnya saja sudah tidak lagi tinggal di kota ini.


Aku pun segera beranjak dan akan melangkah ke kamar akan mengambil kunci mobil, namun lagi-lagi Ayah kembali bersuara membuatku berhenti melangkah.


" Tunggu! Kenapa kamu terlihat begitu penik dan gusar? Apa yang kamu rencanakan?!" Desaknya yang membuat emosiku lagi-lagi hampir meledak.


" Ya mau ke rumah Anna lah Yah, sudahlah nanti keburu malam ini." Putusku yang langsung berjalan ke kamar tanpa menunggu jawaban darinya.


" Tunggu! Kamu mau ke kota Anna malam-malam begini dan dalam keadaan kamu seperti ini?! Tidak-tidak Ayah tidak mengijinkanmu pergi Kholil." Serunya yang mencoba menghentikan rencanaku.


Namun aku tidak menghiraukan ucapan Ayah, aku terus saja melangkah begitu ketemu kunci mobilku di atas nakas, aku segera menyambarnya dan melangkah pergi lalu langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Namun saat aku mencoba menstarternya, mobilku tak kunjung hidup. Aku pun segera memeriksa kondisi bahan bakar, seketika aku mendesah panjang saat melihat bahan bakarnya memang kosong disana. Pantas saja saat memasuki halaman rumah tadi agak nyendat jalannya, namun beruntung aku sudah sampai rumah.


Aku pun segera turun dari mobil dan berjalan gontai menuju rumah, dan seketika mataku berbinar saat melihat mobil Ayah, ya kenapa tidak memakai mobil Ayah saja, aku sungguh tidak sabar untuk bertemu anak dan istriku.


" Kholil dengarkan Ayah! Jika kamu pergi sekarang, itu bahaya!" Seru Ayah yang ternyata sudah berada di teras rumah membuntutiku.


" Yah pinjam mobilnya ya, mobil Kholil kehabisan bahan bakar," Bukannya menanggapi ucapan Ayah, aku justru membicarakan hal lain.


" Nggak bisa! Kamu tetap di rumah malam ini, besok baru kesana Ayah dan Ibu akan temanin kamu. Bahaya kalau nyetir sendirian, apalagi kondisimu yang seperti ini, kamu tidak akan sampai ke rumahnya justru ke tempat lain. Jika kamu terus memaksa, terpaksa Ayah akan bertindak tegas sama kamu!" Tegas Ayah yang tidak ingin di bantah.


Tapi benar juga kata Ayah, jika aku memaksakan menyetir, salah-salah aku berakhir di ranjang rumah sakit, sebab memang aku merasakan kepalaku mulai berputar, juga berat sekali. Bahkan padanganku mulai buram, entah apa yang terjadi.


Tanpa kata aku pun masuk kembali ke dakam rumah melewati Ayah, sebaiknya aku segera beristirahat agar besok bisa pergi ke rumah Anna. Namun sebelum itu aku mau bersih-bersih lebih dulu, badanku rasanya sudah lengket seharian bekerja.


Namun baru beberapa langkah tubuhku terhuyung ke depan dan hampir saja jatuh ke bawah jika tidak ada Ayah yang memegangi tubuhku. " Kamu kenapa Lil?" Tanya Ayah panik melihat tubuhku lemas.


" Kholil kenapa Yah?"


" Ayah juga tidak tahu Bu, biar Ayah panggilkan Pak Danu untuk memeriksanya." Sahut Ayah seraya berjalan ke arah telepon rumah.


" Cepatlah Yah.. Ya Allah kenapa kamu tidak bisa menjaga kesehatanmu begini Lil." Lirih Ibu di sampingku seraya menguasap dahi hingga puncak kepalaku terus menerus.


Aku yang sangat lemas tidak bisa merespon atau sekedar menjawabnya, hanya bisa diam dan memejam, karena sungguh kepalaku mulai terasa sakit, entah kerena apa, padahal tadi tidak banyak kerjaan aku aku kerjakan, di gudang pun hanya mengawasi para pekerja saja.


Tak lama terdengar derap langkah dua orang, pasti itu Ayah dan Dokter Danu yang rumahnya memang tidak jauh dari rumah kami pun akhirnya datang dan segera memeriksa keadaanku, aku hanya bisa pasrah berbaring di sofa.


" Bagaimana Dok? Kenapa putraku tiba-tiba seperti ini?" Tanya Ibu dengan tidak sabarnya.

__ADS_1


" Tidak apa-apa Bu Jafar, tidak ada hal yang serius, sepertinya Nak Kholil ini hanya kelelahan saja dan lupa tidak mengisi perutnya, sehingga membuat tubuhnya lemas seperti ini." Ujar sang dokter menjelaskan keadaanku sebenarnya.


Ah, aku baru ingat jika dari tadi pagi aku belum sempat sarapan, hanya minum kopi dan kue saat di kantor tadi. Sungguh aku tidak kepikiran untuk mengisi perut, hanya kepikiran Anna istriku dan ingin segera menyelesaikan pekerjaanku agar cepat selesai, tidak kusangka justru karena mementingkan keegoisanku sendiri sekarang membuat tubuhku menjadi korbannya.


" Astagfirullah, Kholil, Kholil. Kenapa bisa kamu lupa makan begini!" Geram Ibu memukul lenganku pelan.


" Sudah-sudah. Terima kasih banyak Dokter Danu atas bantuannya, mari saya antar kedepan." Sahut Ayah akan mengantarkan Dokter Danu sampai ke depan, kulihat keduanya pun mulai berjalan ke depan.


" Sepertinya Nak Kholil ini banyak pikiran juga Pak Tofa, tekanan darahnya sedikit meninggi. Ini saya kasih resep obat juga vitamin untuk Putra Bapak, mudah-mudahan lekas sembuh. Kalau begitu saya permisi." Pamit sang Dokter setelah menyodorkan selembar kertas kepada Ayah.


" Sekali lagi terima kasih banyak Dokter Danu." Sahut Ayah, setelahnya beliau pun kembali masuk saat Dokter Danu sudah pergi dengan mengendarai mobilnya.


" Sudah ayo Ayah bantu masuk kamar, biar di buatkan bubur sama Ibumu, lalu minum obat setelah itu istirahat agar besok bisa ke luar kota. Jika besok keadaanmu masih seperti ini, kita tunda sampai kamu benar-benar sehat." Ujar Ayah menasehatiku, aku hanya bisa mengangguk lemah.


Sepertinya memang harus seperti ini, aku harus sabar dulu agar besok lekas pulih dan pergi ke tempat Anna. Aku sudah sangat merindukannya terutama putri cantikku Erika, tunggu Ayah datang Nak...


.


.


.


.tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2