Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Istri Sholehahku..


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Ketika kita merasakan jatuh cinta, nggak semua orang berani untuk mengungkapkannya secara gamblang kepada seseorang yang membuat kita jatuh hati. Karena tidak semua orang memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya, tak jarang orang memilih untuk menyembunyikan perasaannya dan hanya mencintai dalam diam.


Ya, bisa menyayangi namun tak bisa memiliki. Lebih sedihnya lagi jika orang yang kamu sayang ternyata tahu kamu menyukainya, tetapi pura-pura tak tahu dan mengabaikanmu. Itu terjadi pada seorang wanita yang cukup dekat denganku dulu, sebab dia adalah Adik kandung dari Sahabatku sendiri. Untuk mengontrol diri dan menjaga perasaannya, aku memilih untuk terus mencoba menjauhinya, walau terlihat sia-sia.


Wanita itu bernama Syifa Hanifa, gadis manis yang dulu banyak sekali menjadi idaman para kaum Adam yang mondok di ponpes kami dulu—Maksudnya tempatku mondok bersama Yanu, akan tetapi di tahun-tahun berikutnya si Syifa ikut mondok di pondok yang sama. Sehingga tak jarang kami sering berpapasan secara tidak sengaja di dalam, walau antara gedung pria dan wanita jaraknya lumayan jauh, akan tetapi mau bagaimana lagi jika dia sering bertemu dengan Abangnya sendiri, yaitu sahabatku Yanu.


Aku menghindarinya bukan karena aku tidak mempunyai perasaan terhadapnya, melainkan aku menjaga baik hubungan persahabatanku dengan Abangnya Yanu. Kita tidak pernah tahu suatu hari nanti akan terjadi apa, atau ada masalah apa jika kami memulai hubungan ke jenjang serius, dan tidak ada yang tidak mungkin, bisa jadi kami dalam ada permasalahan hingga terjadilah perpisahan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya akan terjadi.


Bukan cuma kehilangan seorang istri, wanita yang kita cinta dan sayangi. Melainkan aku juga kehilangan sahabat terbaikku jika sampai itu terjadi. Sehingga aku memilih diam dan pura-pura tidak tahu, setiap ada yang mencoba mengawali pembicaraan mengenai hal tersebut, aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman.


Hingga suatu hari, Syifa mengungkapkan perasaanmu padaku, tentu saja aku tidak menyangka dia akan nekat dan berani mengatakan hal tersebut. Aku tidak langsung menjawabnya dan meminta waktu. Dan di saat aku tengah memikirkan hal itu, tidak sengaja saat menjemput Neng Atin aku bertemu dengan wanita yang menurutku bisa membuatku jatuh cinta, dialah wanita yang telah melahirkan empat orang anak untukku, ya itu benar dia adalah Nikmah. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja aku langsung melamar dan menikahinya, aku tahu saat itu Syifa patah hati, namun aku sendiri bingung takut akan mempengaruhi persahabatan dengan Abangnya.


Hingga tibalah kemarin kami di pertemukan kembali, awlanya aku mengira pria muda yang datang bersama keluarga Yanu adalah suami Shifa, ternyata dia adalah putra sambung sahabatku sendiri. Terkejut? Tentu saja, aku tidak mengira jika takdir jodohnya sahabatku hampir mirip dengan pernikahan Abah.


" Kenapa, kamu terkejut? Ya, tentu saja sudah pasti. Aku sendiri juga tidak mengira jodohku sama dengan Abah. Sebenarnya Bella itu dulunya adalah atasanku sendiri." Ujarnya yang membuatku tersedak minuman yang sedang aku minum.

__ADS_1


" Santai saja Ki. Minum-minum! Dulu itu saat aku bertemu dengan Bella, aku mengira dia masih single. Eh, nggak tahunya dia janda Ki, janda muda, ya walau ia sudah mempunyai seorang anak laki-laki remaja waktu itu. Suaminya tiada satu minggu selepas pernikahan mereka. Gila nggak tuh, janda rasa perawan, hahaha.. Upps, Sorry-sorry.. Jangan di ambil hati perkataanku tadi ya, aku hanya bercanda saja. Adikku Shifa sudah ada calonnya kok, keluarganya juga sudah datang melamarnya." Jelas Yanu padaku, padahal aku tidak menanyakan hal tersebut.


Mendengar kekonyolannya kembali, membuatku tidak bisa marah lama-lama padanya. Jadi merindukan masa-masa saat kami tengah menimba ilmu di ponpes dulu. Banyak kejadian demi kejadian yang kami berdua lewati, terlebih saat kami masuk ke dalam salah satu club motor, sering menghabiskan waktu ber-Adventure bersama teman-teman, namun sering hanya kami berdua saja, sebab selain sering beristirahat dari masjid satu ke masjid lainnya, kami berdua yang paling rajin memasak sendiri di pinggiran jalan atau lapangan, pokoknya seru jika mengenang masa waktu muda dulu.


" Eh, iya kamu dari mana sepagi ini sudah sampai disini. Kirain semalam kamu bercanda saat meminta alamat rumah mertuaku. Ternyata benar, kamu bisa sampai disini juga, eh kamu tidak sedang Adventure 'kan? " Tebakku yang sepertinya benar.


" Ya tebakanmu benarr! Semalam aku berkeliling di pegunungan, hingga tadi malam menginap di salah satu motel di lereng Gunung itu. Bukannya daerah ini masih di lereng gunung ya?" Tanyanya yang penasaran.


" Iya itu benar, disini memang masih di lereng Gunung. Kalau malam udaranya cukup lumayan dingin disini, dan pagi harinya udaranya cukup sejuk dan segar, sebab banyak sekali pepohonan disini. Tidak ku sangka, sudah menikah dan mempunyai anak kamu masih menikmati hal itu." Ujarku tidak percaya. Jika saja aku dulu juga melakukannya? Namun di kota besar mana ada banyak spot untuk menjelajahi alam, tetap cocoknya di pegunungan seperti ini.


" Hei, kenapa tidak! Hidup hanya sekali Ki, kita harus menikmatinya. Jangan tunggu banyak uang baru pergi bersenang-senang, rugi waktu dan juga usia Ki. Kita tidak pernah tahu kapan ajak akan menjemput, kenapa harus sekolot itu. Nikmatilah hidup ini. Oh iya, itu berarti udara disini sangat mendukungmu Ki. Ayo gempur terus, jangan kasih kendor, tambah tiga sampai lima anak lagi-lah." Seru Yanu panjang lebar. Membuatku tergelak, namun apa yang di katakannya ada benarnya juga sih. Kami terus mengobrol hingga seusai shalat Dzuhur di Mushola dan juga makan siang, Yanu berpamitan akan kembali ke kota, sebab ada pertemuan dengan seseorang.


" Aku pamit dulu ya sampai ketemu lagi, salam buat Bapak dan Ibu mertuamu Ki. Mari Mbak, Assalamualaikum.." Pamitnya yang tak lama sahabatku Yanu bersama motornya sudah pergi dari pandangan kami berdua.


" Tunggu! Dari mana kamu tahu jika Adiknya menyukaiku?" Tanyaku yang penasaran, sebab Yanu tadi memang tidak ada menyebut Shifa adalah Adiknya.


" Semuanya aku tahu Bi, tidak usah mencoba menutupinya. Ternyata dulu banyak sekali perempuan yang menyukai Abi ya? Lihat Zia, Abi kamu sudah seperti sebeb saja." Gerutu Anni lagi, yang kini mengadu pada putri kami.


" Bukan seperti itu sayang. Tidak perlu cemburu pada Abi. Ya, Adiknya Yanu memang mempunyai perasaan pada Abi, tetapi Abi 'kan tidak! Kamu pmharus percaya itu, ayo masuk ke dalam, di luar panas." Ajakku masuk ke dalam rumah, sebab tidak ingin kami berdebat di teras depan.

__ADS_1


" Sayang, maaf ya. Tapi besok Abi harus kembali ke kota, kamu tidak apa-apa 'kan, untuk sementara disini dulu." Ujarku bertanya dengan hati-hati. Rasanya tidak tega harus sering meninggalkannya terus, namun aku juga harus bekerja untuk keluargaku. Apalagi sudah lama aku tidak ke bengkel, dan juga tidak lagi mengajar murid-murid ku.


" Berangkat kapan Bi?" Tanya Anni padaku.


" Mungkin nanti malam, kalau tidak besok pagi. Nanti Abi pulang saat acara Aqiqah Zia. Tidak aoa-apa 'kan?" Tanyaku lagi.


" Hemm."


" Hmmm?? Kok hanya hmmm?" Tanyaku yang sudah curiga bahwa dia marah kali ini, akhirnya aku terus berusaha merayunya.


" Gitu dong, istri sholehahnya Abi." Bahagianya jika melihat istriku kembali tersenyum.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2