
Anniyah_PoV
*
Seminggu yang lalu Nenek mengajakku berbicara mengenai ladang miliknya yang sudah di pasrahkan kepadaku untuk mengurusnya. Namun aku masih belum sempat mengurus bahkan melihat ladang tersebut, sebab putriku Zaheera masih sakit kemarin itu.
Namun ternyata Nenek justru mengatakan jika ladangnya akan di urus dan di kelola oleh Mas Anton. Tentu saja aku juga setuju dengan usul itu, terlebih dia 'kan seorang pria pasti jauh lebih kuat tenaganya di bandingkan aku yang perempuan jika mengurusnya, belum lagi mengurus anak-anak.
Dan kenapa aku tidak kepikiran dari kemarin itu? Sebab aku pikir setelah istrinya melahirkan keduanya akan kembali ke kota, mengingat mereka berdua yang memang bekerja disana. Namun Nenek menjelaskan padaku jika mereka berdua sudah tidak kembali kesana lagi, melainkan akan menetap di kampung, bahkan akan pindah penduduk sini.
Tentu saja mendengar hal itu aku sangat senang sekali, berarti Mas Anton akan tinggal di rumah sana dan menemani Bapak dan Ibu, sehingga keduanya tidak kesepian lagi dan tidak hanya berdua saja di rumah. Terlebih telah memiliki cucu laki-laki yang bisa menghibur mereka berdua.
Aku juga mengatakannya kepada Bang Aziz yang ternyata juga ikut mendukung keputusanku, katanya dia juga kurang setuju jika aku yang mengurus ladang itu sendiri, takut anak-anaknya terlantar begitu katanya.
Dan tadi malam suamiku juga baru pulang, dan sekarang ini ia sedang berada di belakang rumah membantu Nenek yang sedang membenahi kamar mandi yang atapnya bocor.
Sedangkan aku saat ini sedang menggoreng pisang sembari memperhatikan Zia yang sedang bermain di dekatku, sementara Zaheera saat ini sedang tertidur, keadaannya juga sudah membaik setelah aku bawa ke Bidan.
" Bi, Nek, ini pisang gorengnya sudah matang aku taruh sini ya," Aku meletakkannya di atas meja dapur dan kenutupinya dengan koran. " Anni tinggal ke depan sepertinya Zaheera juga sudah bangun itu." Aku berjalan ke depan sembari menggandeng tangan mungil Zia.
" Cup-cup sayang Ami disini." Segera kugendong dan menenangkannya je dalam pelukanku. Tak lama putriku pun mulai tenang dan ku ajak keluar kamar agar bisa bermain di karpet depan bersama Kakaknya Zia yang sudah lebih dulu bermain di depan sana.
Namun yang membuatku heran, kenapa Zia tersenyum dan juga bicara sendiri walaupun itu pelan, seperti ada yang ia ajak bicara, namun tidak ada siapa-siapa di ruang tamu ini selain kami bertiga.
" Zia sedang bermain apa sayang?" Tanyaku yang duduk tak jauh darinya dan mendudukkan Zaheera di atas pangkuanku.
" Bermain masak-masakan Ami, Ami mau beli apa?" Tanyanya sembari memegangi mainan masak-masakkannya yang aku belikan waktu itu.
" Eum,, apa ya. Nasi goreng deh Kakak, jangan pedas-pedas ya." Sahutku yang ikut bermain bersamanya.
__ADS_1
" Kok pesannya sama seperti Putri, dia juga beli nasi goreng Ami." Ujarnya yang tentu membuatku mengernyit bingung tidak mengerti dengan ucapannya.
" Putri? Putri siapa sayang?" Ku lihat sekeliling kami, benar-benar tidak ada siapapun disini kecuali kami bertiga, lalu siapa yang di maksud oleh putriku ini?
" Putri itu teman Zia Ami, ini dia jufa sedang menunggu nasi gorengnya." Sahutnya menatapku sekilas, lalu setelahnya ia menatap ke arah depannya lagi sambil tersenyum. " Tunggu ya, nasi gorengnya lagi aku masak." Ujarnya yang entah kepada siapa itu.
Aku spontan menatap ke arah depan Zia, lalu menatap sekeliling kami sekali lagi, namun tetap saja yidak ada siapa-siapa, dan seketika itu pula bulu kudukku langsung meremang berdiri, apa ada makhluk lain selain kami bertiga? Tapi hari 'kan masing terang benderang di luar sana, ya walaupun saat ini hari sudah menjelang sore, namun tetap saja tidak percaya.
" Zia sayang, kamu jangan bicara aneh-aneh ya, tidak ada orang dirumah ini, hanya ada kita saja Nak." Zia terlihat bingung menatapku. " Ya sudah lanjutkan memasak nasi gorengnya."
" Putri temanku itu duduk di depanku Mi." Ujar Zia yang sepertinya tidak terima terhadap temannya itu, entah teman ataukah makhluk jadi-jadian aku tidak tahu.
" Tidak ada sayang."
" Ada Mi."
" Lho-lho ada apa ini? Kok terdengar bertengkar kalian berdua. Ada apa Mi?" Tanya Bang Aziz yang tiba-tiba muncul dari arah belakang rumah.
" Oh, Nenek sedang mandi, tadi belum sempat mandi katanya. Tadi itu kenapa? Ada apa antara kamu dan Zia kok seperti berdebat gitu?" Tanyanya yang heran menatap kami bergantian.
" Ini lho Bi, Zia bilang dia sedang bermain dengan temannya yang bernama Putri, anak tetangga sini bahkan tidak ada yang namanya Putri. Putrimu sendikit aneh lho." Bisikku pelan ke telinga suamiku, agar Zia tidak mendengarnya.
" Oh itu, Zia memang tengah bermain dengan temannya Mi yang duduk di hadapannya, dan namanya benar adalah Putri kok, iya 'kan Zia sayang?" Sahut suamiku yang justru membenarkan perkataan putrinya.
" Abi ichh! Jangan nakutin Ami dong!" Ketusku seraya memukul pundaknya.
" Siapa yang nakutin Ami sih, memang kenyataannya seperti itu, bahkan Ibunya saja juga disini kok, tuh dia sedang duduk di pojokkan sembari melihat putrinya bermain bersama Zia." Sahut suamiku yang semakin menjadi-jadi.
" Abi nih ya, seriusan dong, jangan bercanda tidak lucu tau!" Dengan kesal aku beranjak bangun seraya menggendong Zaheera dan mengajakknya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Siapa yang tidak takut coba saat putri kita sendiri tengah bermain dengan makhluk yang tidak terlihat oleh kita. Lebih parahnya lagi aku juga kesal pada suamiku sendiri yang juga ikutan menakutiku mentang-memtang dia bisa melihat makhluk gaib, dasar!
" Sayang, maafin ucapan Abi tadi ya. Abi tidak bermaksud menakuti Ami, sungguh. Tapi Abi mengatakan yang sesungguhnya lho. Sudah dong, jangan ngambek gitu nanti cantiknya luntur lho." Celetuknya seperti biasa, jika aku sedang marah, pasti suamiku ini mulai merayu dan menggombaliku, dasar lelaki!
" Tapi jangan nakutin juga dong Bi, mentang-mentang— "
Ucapanku pun langsung terhenti tatkala terdengar orang yang mengucapkan salam dari teras depan sana, dan tentu saja suaranya begitu familiar di telinga kami.
" Assalamualaikum, eh cucu Nenek lagi bermain ya, kok sendirian sayang?" Benar saja itu suara Ibu yang sepertinya baru saja datang.
Aku saling pandang sejenak dengan suamiku, setelahnya kami sama-sama keluar dari kamar untuk menyapa Ibuku. " Ibu kok kemari?" Tanyaku yang merasa heran dengan kedatangan beliau, tidak biasanya Ibu sore-sore datang ke rumah Nenek seperti ini.
" Memangnya Ibu tidak boleh datang kemari? Ibu juga kangen dengan cucu-cucu Ibu, sudah hampir satu minggu tidak bertemu mereka, kamu juga tidak mau berkunjung ke rumah Ibu! " Desisnya sedikit ketus padaku, ini ada apa sebenarnya dengan Ibu, kok datang-datang marah-marah tidak jelas begini?
" Bukan tidak mau Bu, Zaheera saja baru saja sembuh lho. Anniyah kok jadi heran sama Ibu, ada apa dengan Ibu? Ibu ada masalah di rumah?" Tanyaku yang sudah tidak sabar lagi bertanya.
" Kamu kok tahu Ibu ada masalah? Huh! Itu lho Najwa, Ibu jadi tidak suka dengannya, mentang-mentang di nikahi Anton, dia jadi ngelunjak sama Ibu lho!!" Sahutnya dengan penuh emosi, tentu saja aku dan Bang Aziz terkejut mendengarnya.
" Mbak Najwa kenapa Bu?"
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.