
Anniyah_PoV
*
" Huaa.. Huaa.."
" Astagfirullah.. Ya Allah kenapa ini Kakak kok Adek bisa jatuh?" Tanyaku begitu panik seraya mengangkat tubuh Zaheera yang sudah tergeletak di bawah ranjang dipan.
" Kakak juga tidak tahu Ami, tahu-tahu Adek sudah jatuh di bawah sana." Tunjuk Zia dengan polosnya aku pun tidak lagi bertanya lebih jauh takut dia menangis karena salah paham aku marahi, ini semua mungkin juga atas kelalaianku tidak mengecek keadaan anak-anak sebelum pergi terlebih dia baru yang bangun dari tidur.
Aku menggendong Zaheera berusaha menenangkannya, mendengar tangisan kencang dari Kakaknya membuat tidur Zefa pun terusik.
" Sudah cup sayang lihat Adek Zefa jadi terbangun, Adeknya aja nggak nangis lho, masa Kakak nangis." Bujukku agar ia kembali tenang. Ia langsung menatap Adiknya Zefa yang berusaha membuka mata namun masih terasa mengantuk, lucu sekali wajahnya itu.
" Aku menurunkan Zaheera di atas ranjang di samping Zefa yang sudah duduk. " Tunggu sebentar duduk di sini dulu Ami ambilkan air minum untuk Zaheer ya sayang.." Ujarku sebelum melangkah pergi ke dapur.
Ini sedikit aneh menurutku, saat aku tinggal tadi dia ada di tengah posisinya, lalu bagaimana bisa Zaheera yang tidurnya ada di tengah bisa terjatuh ke bawah? Namun aku masih berpikir positif mungkin saja tadi Zaheera tidak sadar saat tidur bergeser ke samping lalu terjatuh, padahal di sampingnya ada guling, tetapi guling itu masih tetap berada di atas. Untungnya tak lama Zaheera sudah mulai tenang, mungkin juga karena melihat tingkah menggemaskan dari Adiknya Zefa.
Setelah selesai memasak aku mengajak ketiga putriku mandi lalu sarapan setelahnya langsung berangkat ke sekolah. Zia merengek ingin pergi ke sekolah dengan alasan bosan di rumah ingin bertemu dengan teman-temannya.
Akhirnya aku pun mengiyakan setelah Zia menunjukkan kaki dan tangannya sudah baik-baik saja. Ketika baru keluar dari rumah bersamaan dengan Mbak Yuni yang juga mau mengantar putrinya ke sekolah yang kebetulan memang satu sekolah dan satu kelas dengan Zaheera.
" Tumben siang Mbak berangkatnya?" Tanyanya menatap heran kepadaku.
Memang biasanya jam segini aku sudah sampai di sekolahnya Zaheera dan duduk-duduk disana. Namun karena drama pagi tadi dan juga telat memasak sehingga membuatku kesiangan.
" Iya Mbak tadi Zaheera sedikit rewel, mari berangkat Mbak." Ajakku sekaligus berhenti membicarakan masalahku.
__ADS_1
Yang aku dengar Mbak depan rumahku ini tak kalah panasnya dari Mbak host acara gosip yang sering di tayangkan di televisi. Sehingga lebih baik tidak banyak cerita kepada beliau, takut menjadi bahan pembicaraan orang lain, dan aku nggak mau itu.
Lebih baik cerita sewajarnya, juga bertetanggaan sewajarnya tidak terlalu dekat juga, terlebih kami baru kenal beberapa minggu. Sepanjang perjalanan ke sekolah kami mengobrol mengenai anak-anak saja.
Setelah mengantar Zia sampai depan sekolahnya, kini aku duduk di bangku panjang yang ada di samping sekolah Zaheera sembari mengajak Zefa bermain mainan yang memang sengaja bawa dari rumah.
" Mbak Niyah nunggu sampai pulang sekolah ya?" Tanya Mbak Yuni yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
Aku menoleh ke samping untuk melihatnya, " Iya Mbak, nanggung kalau mau pulang, sekolahnya 'kan hanya sebentar. Mari duduk sini Mbak." Tawarku sembari menggeser tempat duduk.
" Lumayan juga sih kalau harus menunggu disini Mbak. Biasanya Tata tidak perlu di antar jemput juga sudah biasa berangkat dan pulang sendiri Mbak, tapi tadi pagi tiba-tiba minta di antar dan di tungguin, heran sekali aku sama anak itu!" Pungkasnya dengan sedikit kesal terhadap putrinya sendiri.
Aku hanya bisa tersenyum saja menanggapinya, tidak tahu harus ngomong apa. Wajar saja karena setahuku Tata ini anaknya memang pemberani sekali, berbeda dengan Zaheera putriku yang memang masih manja padaku dan anaknya sedikit penakut sekali sama orang, terlebih dengan orang yang baru kenal.
Kami pun jadi terus mengobrol sembari menunggu anak-anak pulang. Mbak Yuni ini mempunyai dua anak yang pertama anaknya laki-laki dan sudah hampir lulus SD, dan yang kedua Tata ini jaraknya cukup jauh ternyata.
Tak terasa waktu terus berputar dan sebentar lagi pasti kelas akan bubar, senangnya sekolah disini sebelum pulang anak-anak mendapatkan cemilan yang berbeda-beda tiap harinya.
" Nggak usah teriak-teriak lah, bikin malu aja." Gerutu Mbak Yuni menatap kesal pada putrinya Tata itu.
Aku hanya diam saja tidak ingin ikut campur, takut salah paham, biarkan saja itu urusan mereka. Kami semua pun akhirnya pulang bersama berjalan kaki. Putriku Zia memang sudah terbiasa pulang sendiri bersama teman-temannya.
Rencanaku sore ini aku mau minta tolong pada Totok untuk kembali memagari rumah, aku merasa hawa di dalam rumah ini semakin sesak saja, juga di samping hingga belakang rumah yang terlihat begitu angker.
Tepat pukul empat sore, aku pergi ke rumah Totok dan mengatakan niatanku tadi. Awalnya ia seperti enggan, namun karena aku terus membujuknya akhinya ia pun berkenan.
Saat aku dan Totok akan memulai acaranya, aku seperti mendengar ada suara motor di depan halaman rumah. Karena penasaran aku berjalan ke ruang tamu, terlihat di depan sana ada Bapak dan Ibu yang membawa kayu bakar se-gerobak. Aku pun berjalan keluar rumah untuk menyambut kedatangan kedua orang tuaku.
__ADS_1
Secara bersamaan Ibu menatap ke arahku, " Assalamualaikum.. Lagi apa Nduk?" Tanyanya seraya melangkah mendekat ke arahku dengan menggendong Erika yang sedang terlelap.
" Waalaikumsalam.. Lagi di belakang tadi, Bapak, Ibu kenapa bawa banyak sekali kayu bakar? Ayo masuk Bu Pak." Ajakku yang mempersilahkan keduanya masuk ke dalam rumah.
Spontan anak-anak langsung heboh dengan kedatangan Nenel dan Kakeknya, " Horee Nenek.. Datang.. Kakek.. Datang.." Teriak Zia dan Zaheera bersamaan terlihat antusias sekali mereka berdua, sementara Zefa terlihat bengong seraya menatap kami semua yang tengah berdiri, lucu sekali dia..
" Aduh cucu Nenek yang satu ini gendut dan lucu sekali." Ujar Ibu mengambil duduk di samping Zefa.
Mendengar suara keributan di sekitarnya membuat Erika pun langsung terbangun dan meminta turun dari gendongan Neneknya.
" Eh Erika sudah bangun Nak sini main sama Kakak Zaheer dan Kakak Zia." Setelahnya aku beranjak ke daput untuk membuat minuman.
" Ada tamu ya Mbak?" Tanya Totok yang tiba-tiba muncul dari samping rumah.
Seketika membuatku menoleh ke samping, aku baru ingat jika dia ada di rumahku sejak tadi. " Iya itu ada Bapak dan Ibuku berkunjung ke rumah Tok. Sudah selesai ya ngisi airnya? Sebentar ya Mbak tinggal ke depan dulu ini, nanti Mbak bantuin." Pungkasku seraya mengaduk kopi dan juga teh hangat untuk kedua orangtuaku.
" Nggak apa-apa, Mbak temani saja kedua orangtua Mbak di depan, aku bisa mengatasinya sendiri kok, Mbak tenang saja." Ujar Totok menyanggupi dan juga paham keadaanku saat ini.
" Nggaklah nanti Mbak bantuin pokoknya tunggu ya." Aku pun berjalan ke depan dan meletakkan dua minuman di atas meja.
" Ada siapa di belakang Nduk?" Tanya Ibu penasaran, sepertinya beliau mendengar aku berbicara dengan Totok tadi. Begitu pun dengan Bapak yang ikut menatapku sama penasarannya.
" Oh itu ada Totok Pak, Bu di samping rumah. Aku memintanya untuk memagari rumah ini lagi, jadi Anniyah tinggal dulu ya mau bantuin dia dulu." Sahutku memberitahu sekaligus meminta ijin.
" Memagari rumah lagi? La memangnya ada apa Nduk? Apa ada yang mengganggumu disini? Sini biar Bapak saja yang bantuin Totok, kamu disini saja temani Ibumu dan anak-anak." Ujar Bapak yang sudah berdiri lalu langsung berjalan ke belakang untuk membantu pemuda itu.
~tbc
__ADS_1
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.