Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Bertemu Kembali Sekian Tahun


__ADS_3

Kholil_PoV


*


Siang ini aku memutuskan untuk makan siang di luar, walau aku sudah membawa kotak bekal makan yang Anna siapkan dari rumah. Namun atasanku Roy mengajak makan di luar, rasanya tidak enak jika harus menolak ajakannya, terlebih alasannya ia ingin mentraktirku karena aku sudah memenangkan proyek sebab ide brilianku di kantor.


Sebenarnya Roy ini adalah sahabat atasanku, namun karena dia sudah lama bekerja disini, tentu saja jabatannya sudah tinggi dariku, sebab dia juga yang dulunya masukkan aku bekerja disini sebagai seorang Manager.


" Gimana Bro, istrimu sudah hamil belum?" Tanyanya saat kami sudah duduk di salah satu meja makan, tepatnya di sebuah Restoran besar di kota ini. Kami mengobrol sembari menunggu makanan yang telah kami pesan datang.


" Belum, mungkin belum rezekinya." Jawabku berdusta. Ya tentu saja bagaimana bisa hamil jika Anna—istriku mengkomsumsi pil pencegah kehamilan, yang katanya belum ingin punya anak dulu, alasannya masih kecil.


Walau sebenarnya aku sangat menginginkan kehadiran buah hati, darah dagingku, sebab aku adalah putra satu-satunya di keluargaku, rasanya rumah terasa sepi sekali. Di tambah saat ini Ayah dan Ibuku sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri acara pernikahan dari salah satu kerabat dari Ibu. Rumah terasa mati tak berpenghuni.


" Sabar Bro, semangat. Hajar terus,, tiap malam losss." Ujar Roy menggodaku. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya.


Hingga tak lama makanan yang kami pesan telah tiba, kami makan dengan lahap sekali. Tak lama tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang menghampiri meja kami yang membuat kami berdua begitu terkejut dengan kehadirannya, dan wanita cantik itu aku sangat mengenalnya, dia adalah sahabat kami dulu.


" Ternyata benar kalian, boleh gabung nggak?" Serunya tanpa menunggu jawaban dari kami, ia sudah lebih dulu menarik kursi dan duduk di sampingku." Hei Kholil, apa kabar?" Sapanya yang tersenyum menatapku, aku yang masih terkejut hanya bisa menatapnya bengong menganga.


Hingga Roy menyenggol lenganku membuatku langsung tersadar. " Eh iya, kamu masih terlihat sangat cantik." Jawabku yang sangat gugup. Seketika tawa Roy meledak saat itu juga. Begitupun dengan wanita cantik ini yang tersenyum malu-malu, eh ada apa ini?


" Hahaha, aduh, Kholil-Kholil, akibat lama tidak bertemu gitu lah. Yang tanya dia cantik itu siapa? " Seloroh Roy yang masih saja tertawa. Membuatku bingung saja, apa coba maksudnya." Dia tanya kabarmu Bro? Segitunya speechless kamu!"


" Maksudnya gimana sih! Kan benar dia— Astaga!" Aku segera menutup mulutku sendiri saking malunya, biasa-bisanya aku justru salah fokus. Kulirik wanita yang bernama Fera, dia tersenyum menatapku. Ternyata dia masih sangat cantik seperti dulu sewaktu kita masih sekolah hingga masuk kuliah.

__ADS_1


" Oh, sorry-sorry Roy, Fer, aku lagi nggak konsen hari ini." Keluhku menjelaskan pada mereka, agar si Roy tidak terus menggodaku.


" Hahaha,, Kholil, Kholil ingat istri di rumah. Oh ya Fer kamu dari mana? Sudah makan belum, aku pesenin makan ya?" Tanya Roy yang kini terlihat serius memanggil salah satu pelayan Restoran.


" Oh, iya boleh-boleh, ini aku habis ketemuan sama teman, terus dia-nya sudah pulang duluan tadi, kebetulan aku lewat sini, ya sudah aku mampir sekalian makan siang, eh begitu masuk nggak tahunya ada kalian berdua." Terangnya pada kami, aku hanya diam menatap keduanya bergantian.


Hingga tak lama makanan Fera datang, kami makan sambil mengobrol bersama. Ternyata Fera masih sendiri hingga sekarang, katanya belum ketemu yang cocok untuk di jadikan suami. Sebenarnya Fera ini adalah mantan kekasihku dulunya, itulah aku agak canggung berada satu meja dengannya. Sebab dulu kami putus saat Fera melanjutkan pendidikannya di negeri jiran, alasanku karena aku tidak bisa hubungan jarak jauh dengannya.


" Eh, kamu menikah dengan orang mana Lil?" Tanya Fera yang menatapku serius.


Aku sedikit tergagap mendengar pertanyaannya, dan entah mengapa aku mendengar ada rasa getir dari nada suaranya, apa maksudnya itu? Dia tidak sedang cemburu 'kan? Aku langsung menggeleng dengan cepat, itu tidak mungkin, bahkan pria di negeri jiran sana pasti jauh lebih dari segalanya dariku.


" Kenapa geleng-geleng kepala gitu?" Kini giliran Roy yang bertanya padaku.


" Eh, bukan—bukan itu maksudnya. Sebenarnya aku menikah dengan Adik temanku. Ya istriku orang jauh dari luar kota." Jawabku tanpa ada yang aku tutupi darinya. " Kamu sendiri kapan pulang?" Tanyaku berbasa basi. Ini sudah hampir empat tahun lamanya kami tidak pernah bertemu, hingga aku merasa sedikit kikuk. Kulihat ia sibuk dengan ponselnya, mungkin kekasih atau calon suami yang menghubunginya.


" Aku baru pulang satu bulan lalu. Oh iya, nanti kita sambung lagi ya, Roy punya kontakku kok, Ini Mama dan Papaku terus menghubungiku sedari tadi minta cepat pulang. Nggak tahu ini ada apa, duluan ya Lil, Roy." Pamitnya yang terlihat tergesa, kami hanya bisa mengangguk melambaikan tangan.


" Okay ayo cabut, nanti aku kirimin kontaknya. Tunggu! Kamu nggak ada niatan balikan sama dia 'kan? Ingat istri di rumah Bro." Tegur Roy saat kami keluar Resto dan akan balik lagi menuju pabrik.


" Astagfirullah, mikir apa kamu! Pernikahan bukan buat mainan ya, aku serius dengan pernikahanku. Dan aku sangat mencintai istriku." Sahutku yang tidak ingin bermain-main.


" Ya syukurlah, ya kamu tahu sendiri seorang pria itu yang di pegang adalah janjinya. " Seru Roy menasehati, aku hanya menganguk membenarkan.


Aku memang kalau sudah memantapkan hati pada satu orang, maka aku akan berusaha untuk setia dan tidak ingin menyakiti hatinya. Itu sebabnya dulu aku minta hubunganku dengan Fera break saja, sebab aku tidak pernah tahu disana dia sedang berbuat apa dengan siapa, aku tidak tahu, maka lebih baik putus daripada nanti aku merasakan sakit hati.

__ADS_1


Hingga tak lama jam pulang pun tiba, namun dalam perjalanan pulang aku merasa mobilku bermasalah, itu sebabnya aku berhenti di pinggir jalan dan ternyata ban depan mobilku kempes, Aahh, sungguh si4l!


Saat berusaha menyusuri jalan mencari bengkel, aku di kejutkan dengan kehadiran Fera, " Lho, kok kamu ada disini?" Tanyaku menatapnya heran.


" Aku yang seharusnya bertanya, kamu sedang apa disini, jalan kaki lagi?" Tanyanya balik padaku.


" Oh, ini aku lagi cari bengkel. Itu mobilku bannta kempes, sepertinya bocor." Tunjukku pada mobil yang tengah berhenti cukup jaih dari tempat kami berdiri.


" Oh, bannya bocor. Sini coba aku hubungin bengkel langgananku, siapa tahu masih buka." Fera pun menghubungi seseorang, hingga tak lama sebuah mobil menarik mobilku menuju ke sebuah bengkel. Dan mobil Fera masih mengikutiku di belakang sana.


" Terima kasih ya Fer, untung ada kamu. Baterai ponselku juga lowbad ini." Ujarku sambil menunjukkan ponselku yang dalam keadaan mati.


" Ya nggak apa-apa, santai aja kali. Kayak sama siapa aja kamu Lil." Jawabnya dengan tersenyum manis padaku, duh senyumnya itu yang dulu sangat aku rindukan..


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2