
Aziz_PoV
*
Walaikumsalam,, silahkan masuk Gus, Ning." Sahut seseorang santriwati yang menjadi abdi dalam di rumah Cak Arga, menyambut kedatangan kami bertiga, kami segera melenggang masuk menuju ke ruang tengah, dimana para anak-anak sedang berkumpul disana.
" Masih sepi rupanya, sayang Abi ke Masjid dulu ya, nanti nitip Zia pada Neng Delisha saja." Pamitku yang bergegas pergi menuju ke arah Masjid yang berada di samping rumah, pondok kami memang masih terbilang kecil.
Seusai menunaikan ibadah aku segera keluar dan akan kembali ke dalam rumah, namun aku berpapasan dengan Cacak di bawah tangga." Lho Ziz, kapan datangnya? Kirain nggak datang tadi?" Seru Cak Arga terlihat tersenyum lega melihatku sudah sampai di rumahnya.
" Maaf Cak, baru saja datang, ya kalau pun sibuk insya Allah Aziz akan menyempatkan waktulah, buktinya datang 'kan!" Sahutku, nggak mungkin juga aku ngaku jika tadi aku minta satu macam sama istriku.
" Ya, yang penting datang kami sudah senang. Ayo." Ajaknya untuk kembali ke rumah, kami pun akan melangkah turun dan berjalan bersama, namun suara panggilan seseorang dari arah belakang, membuat kami terhenti sebab suara itu begitu familiar bagiku.
" Assalamualaikum, Abah. Abah sudah dari tadi disini? Datang bersama siapa tadi? Dimana Neng?" Tanyaku yang langsung mencium tangan beliau, dan juga memeluk tubuh rentannya.
" Wa'alaikum salam. Tadi selepas sholat Ashar supir Cacakmu inu menjemput kami. Ya kamu tahu sendiri, mau melarang bagaimana pun Cacakmu pasti tetap akan memaksa." Sahut Abah yang terdengar sedang menyindir Cak Arga, sambil tekekeh.
Aku langsung meliriknya, namun Cacak hanya menghendikkan bahu dan tersenyum padaku. Kami bertiga pun berjalan bersama menuju ke dalam. Dari jauh bisa kulihat kebersamaan keluarga besar kami berkumpul, hanya minus Umma yang tidak ada di tengah-tengah kebahagiaan kami semua.
Rasanya baru kemarin kami bersenda gurau, namun waktu yang telah memisahkan kami. Aku terakhir ke makam beliau saat acara tahlilan di rumah beberapa bulan kemarin. namun hanya aku dan anak-anak yang datang, sebab saat itu Zia tengah kurang enak badannya.
Beberapa saat kemudian seluruh anggota keluarga dan para tamu undangan semua sudah pada datang, Acara tasyakuran atas kelahiran juga Aqiqah Zac pun di mulai dari pengajian juga acara doa bersama untuknya, agar menjadi anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orangtuanya.
Setelah seluruh serangkaian acara usai, tinggallah kami sekeluarga yang masih tinggal di ruangan keluarga. Para santri juga santriwati juga sudah pada kembali ke asrama mereka masing-masing beserta ustadzah dan juga ustadz mereka.
Aku pun menceritakan kepada seluruh anggota keluarga bahwa jika saat ini Anniyah sedang mengandung calon buah hati kami yang kedua, nampak raut wajah gembira dari mereka semuanya.
__ADS_1
" Alhamdulillah semoga selalu sehat janin bayi dan Ibunya, Aamiin.." Seru Neng Delisha tersenyum kepada istriku.
" Aamiin.." Sahut kami serentak, teelebih aku yang sangat bersyukur sekali. Namun entah mengapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak tenang dan juga gelisah seperti ada sesuatu yang terjadi saat ini, tapi entah itu apa, aku sendiri tidak tahu.
" Ada apa Bi?" Tanya Anni yang seolaj mengerti dengan kegundahanku saat ini.
Aku mencoba tersenyum walau itu terlihat di paksakan, " Tidak ada apa-apa sayang. Ayo kita makan dulu. mumpung Zia tengah di gendong Kakungnya." Ajakku yang mulai beranjak bangun dan berjalan ke arah belakang bersama istriku setelah kami berdua pamit pada semua orang.
Kini aku dan Anni sudah duduk di karpet, duduk di hadapan meja panjang yang di atasnya di penuhi oleh hidangan-hidangan makanan lezat yang tentu saja kesukaan kami sekeluarga.
" Segini Bi?" Tanya Anni yang tengah mengambilkan nasi ke atas piring kosong milikku, aku langsung mengangguk dan mengambil lauk daan juga sayurnya sendiri yang memang tepat berada di hadadapnku saat ini. Walau hati gelisah tetap aku paksa harus makan agar tidak sakit yang ujung-ujungnya justru merepotkan istriku nantinya.
" Bi sebenarnya apa yang Abi tengah sembunyikan dari Ami? Tolong jawab jujur?" Tanyanya yang belum memulai makan makanannya yang berada di atas piring miliknya.
Aku berhenti menyuap dan menghela napas panjang, apa aku harus mengatakan yang sejujurnya pada istriku, tapi aku takutnya ia justru ikut kepikiran nanti bagaimana? Tapi jika aku tetap tidak jujur, dia pasti akan terus mendesak agar aku bicara yang sesungguhnya.
" Entahlah sayang, mengapa pikiran dan perasaanku tidak enak sekarang, gelisah sedari tadi saat pengajian berlangsung. Pikiran Abi sungguh tidak tenang, entah ada apa, apa terjadi sesuatu yang menimpa orang terdekat kita?" Jawabku pada akhirnya yang memilih jujur saja, toch tidak ada salahnya.
" Sudah sayang, tapi katanya semuanya baik-baik saja. Dan semoga tidak terjadi apapun kepada mereka semua." Sahutku yang memang tadi sempat mengirim pesan kepada Mus, bahkan menghubunginya walaupun hanya sebentar saja, namun aku sudah lega mendengar anak-anak baik-baik saja.
" Alhamdulillah, lalu bagaimana perasaan Abi? Masih terus gelisah atau bagaimana?" Tanyanya lagi yang ikutan gelisah tidak tenang, inilah yang aku takutkan.
" Sayang coba hubungi keluargamu dulu, semoga semuanya baik-baik saja." Titahku sebelum melanjutkan makananku.
Anni segera mangangguk dan mengambil ponsel miliknya dan menghubungi keluarganya, aku merasa deg-deg-an benar-benar takut terjadi sesuatu menimpa keluarga kami.
Hingga akhirnya Anni berhasil menghubungi Anna, dan juga Mas Anton yang Alhamdulillah keduanya baik-baik saja, bahkan Anna juga mengabari jika tadi ia sempat menghubungi Bapak dan Ibu di kampung yang kabar keduanya juga sama baiknya.
__ADS_1
Setelah selesai menghubungi Anni langsung menatapku, " Tuh 'kan Bi, semuanya sehat wal afiat. Terus gimana kamu masih gelisah tak menentu?" Tanyanya dengan nada sedikit menggodaku.
Padahal aku sama sekali tidak dalam mode bercanda sama sekali, yang mana perasaanku semakin tidak tenang saja saat ini. Entah apa yang terjadi, seusai kami makan, kami pun kembali ke tempat yang tadi, dan ternyata semuanya masih terkumpul bersama.
" Lho Zia kemana Bi?" Tanya Anni padaku, dan benar saja putri kami tidak terlihat disini.
" Lha kemana sayang? Itu Abah ada disana? Lalu kemana putri kita." Sahutku bingung, kami saling celingukan mencari keberadaan putri kami yang tiba-tiba tak terlihat oleh kami berdua.
" Cari siapa? Zia ya?" Tanya Neng Atin menoleh padaku.
Trililing,, trililing..
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba saja ponselku berdering nyaring, pertanda ada panggilan masuk. Aku segera merogoh ponselku di kantong depan kokoku, yang ternyata panggilan dari Bowo pegawaiku di bengkel, aku pun segera mengangkat panggilannya, tumben dia menghubungimu malam-malam begini.
" Assalamulaikum, ada apa Wo?" Tanyaku begitu panggilan sudah tersambung, aku ingin mendengarkan sahutan darinya, ada apa hal yang akan ia kabarkan padaku malam-malam begini.
" Waalaikum salam, cepat kesini Cak, ruko Cak Aziz kebakaran!" Sahutnya terdengar begitu panik di seberang sana.
Degh!!
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.