Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Dunia Serasa Milik Berdua..


__ADS_3

Anna_PoV


*


Aku dan Najwa langsung masuk ke dalam kamarku setelah mendengar perintah dari Bapak. Bapak sebenarnya adalah orang yang sangat asyik jika di ajak bercanda, mengobrol berdua, hanya saja jika sudah merasa sangat kesal, sikap tegasnya langsung keluar, kami sekeluarga langsung terdiam tidak mampu menjawabnya.


Namun sebenarnya Bapak bersikap demikian karena rasa sayang juga cintanya pada kami anak-anaknya. Aku sedikit merasa menyesal tadi sudah bicara kasar pada Beliau, padahal aku tahu itu semua adalah yang terbaik untukku.


Namun aku sendiri juga tidak bisa mundur, aku sangat mencintai Kolil, pria pertama yang bisa membuatku merasakan bahagia, menangis, juga kesal uring-uringan. Tommi kalah jauh dengannya. Aku tidak peduli jika weton kami tidak cocok, yang penting 'kan hati kita, kita yang ajan menjalani pernikahan bukan mereka! Aku tetap keukeuh ingin menikah dengan Bang Kolil, rasanya aku tak mamlu hidup jika tidak bersamanya. Konyol memang, namun itulah yang aku rasakan saat ini.


" Wa, Maaf ya, jika ada perkataan Bapakku yang menyinggung perasaanmu tadi?" Sesalku pada Najwa. Kami sudah berbaring bersisian di atas ranjang kecilku, untung saja tubuhku kecil begitu pun dengan tubuh temanku Najwa.


Dulu aku memang mempunyai badan gemuk, namun aku bertekad akan diet setelah lulus sekolah nanti. Alhamdulillah keinginanku terwujud, kini aku memiliki tubuh yang ideal sama dengan Mbak Anniyah, ya walau tubuhku kini justru lebih kurus darinya.


" Iya, tidak masalah. Toch yang di permasalahan 'kan bukan hubunganku dengan Mas Anton, jadi aku pasti baik-baik saja. Kamu yang sabar, semoga niatan kalian berdua di kabulkan oleh yang di atas. Aamiin.." Ujanya yang mendoakan hubunganku dan Bang Kolil berjalan lancar.


Entah mengapa aku merasa Najwa sengaja menyindirku, ya walau kenyataannya apa yang dia ucapkan memang benar. Hubunganku dan Bang Kolil masih belum pasti, nggak tahu bagaimana akhirnya." Iya, terima kasih."


Kudengar di luar Bapak, Mas Anton dan Bang Kolil masih saja mengobrol, entah mereka membahas tentang apalagi, semoga niat kami terwujud minggu depan ini Ya Allah,, Aamiin..


***


Setelah acara Selapanan dan Aqiqahnya Zia keponakanku tadi malam selesai, masih pagi-pagi sekali aku segera mengemasi barang-barangku, mandi lalu bersiap. Ini aku, Mas Anton, Najwa, dan juga Kolil langsung kembali ke kota pagi itu juga dengan menggunakan mobil milik Kolil. Sebab cuti kami sudah habis, kami juga harus bekerja kembali.


" Kalian hati-hati di jalan. Itu Ibu bawakan banyak sayuran juga perlengkapan bumbu dapur, di bagi nanti dengan Masmu Nduk." Pesan Ibu padaku, aku hanya mengangguk dan memeluk tubuh kurusnya.


Di ujung sana ada Bang Aziz suaminya Mbak Anniyah yang sepertinya juga sedang berpamitan pada istri dan juga putrinya yang akan kembali ke kota. Namun ia mengendarai motornya sendirian.

__ADS_1


" Abi hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebutan kayak anak remaja." Pesan Mbak Niyah yang kelihatannya begitu positif pada suaminya. Bang Aziz sendiri sepertinya type lelaki yang menurut pada istrinya, terbukti ia langsung memberikan kecupan di kening Mbakku sedikit lama, lalu mengusap kepalanya yang tertutup kerudung berwarna hitam itu, tak lupa pria itu juga mengecup pipi putrinya, Ahh,, so sweet banget mereka berdua, rasanya aku juga ingin di perlakukan demikian oleh suamiku kelak.


Akhirnya acara pamitan pun berakhir, kami sekeluarga saling berpelukan sejenak, lalu menyalimi Ibu dan Bapak secara bergantian. Aku segera masuk di bangku belakang bersama Najwa, sementara Mas Anton duduk di sebelah Bang Kolil yang sedang menyetir.


Lambaian tangan mengiringi perjalanan kami, hingga mobil kami yang di kendarai oleh Bang Kolil menghilang di ujung gang, hingga tak terlihat lagi. Aku mendesah panjang menatap ke depan.


" An, tadi kamu bawa bekal nggak?" Tanya Mas Anton yang berada di kursi depanku.


" Ada nih, aku kebetulan sudah membungkus empat nasi untuk bekal kita. Kamu sudah lapar Mas, tumben?Aku ambilkan dulu di belakang." Aku segera bangkit, dan mengambil bekal yang sudah aku siapkan tadi pagi. Setelah berhasil tas yang lumayan besar aku segera kembali duduk, dan menyodorkan satu kotak bekal untuk Mas Anton, lalu menyodorkan sati kota bekal juga untuk Najwa yang duduk di sampingku.


" Bang Kolil mau makan sekarang apa nanti?" Tanyaku pada calon suamiku, benar 'kan, dia memang calon suamiku. Kami mau menikah minggu depan ini kok.


" Nanti saja Dek, Abang masih kenyang tadi sama teh manis buatanmu. Kamu makan dulu saja, bareng mereka, aku gampang kok." Sahut Bang Kolil yang menatapku sekilas, lalu fokus kembali ke depan.


" Baiklah, jangan nyesel lho. Atau mau aku suapi? Hmm?" Tanyaku yang sengaja menggodanya dengan cara menarik turunkan kedua alisku, dan itu membuatnya terkekeh.


" Jangan mulai, bahaya ini aku sedang menyetir. Ton bilangin Adikmu itu jangan terus menggodaku." Protesnya pada Mas Anton yang sibuk menikmati makanan bekalnya. Aku memang suka sekali menggodanya, dia terlihat berani di depan mata, namun saat ku tantang ternyata dia sangat polos, diam tak berkutik, menggemaskan sekali.


Tak lama setelah kami bertiga selesai makan, ku lirik Najwa ternyata sudah terlelap, mas Anton sepertinya juga sudah terlelap juga. Pasti karena srmakam kurang tidur ni pada. Dan ini kesempatanku untuk menyuapi Bang Kolil, aku segera membuka kotak bekal yang masih tersisa satu untuknya dan segera mengeluarkan sendoknya juga.


" Bang, sini aku suapin. Kasihan nanti kena maag lho, semua sudah pada makan, sudah pada teker juga tih!" Tunjukku pada kedua penghuni lainnya di mobil ini.


" Iya, bentaran. Ini aku mau belok ke pom isi bahan bakar dulu, baru makan." Ujarnya, hingga tak lama ia pun turun untuk mengisi minum mobilnya, tak lama ia kembali masuk ke dalam mobil dan sedikit memajukan mobilnya ke tepi pom.


" Sini bekalnya, biar Abang makan sendiri." Aku segera menyodorkan kitak bekal tersebut padanya, yang langsung di lahap olehnya.


" Kelaparan ya Pak? Pelan-pelan saja Pak, tidak ada orang yang akan meminta kok." Kekehku menatapnya geli. Namun ia hanya tersenyum, dan tetap makan dengan cepat, tak perlu butuh lama, makanan itu telah ludes tak bersisa." Wah, mau nambah lagi Pak?" Gurauku sebenarnya, namun justru di anggap serius olehnya.

__ADS_1


" Iya boleh, mana sini!" Pintanya sedikit memaksa, mana ada lagi coba, orang hanya ada empat kotak nasi saja.


" Mana ada lagi sih Bang! Kan aku cuma bawa empat kotak makan aja, lagian aku tadi juga becanda kali." Sahutku sedikit sewot.


" Sini." Pintanya tang tidak aku mengerti. Mau apa dia?


" Kemana?" Tanyaku bingung.


" Sini, bentar deketan."


Walau sedikit bingung, aku pun maju mendekat padanya, begitu sudah hampir di tengah bangku antara dirinya dan Mas Anton, kedua mataku langsung membulat sempurna, saat ia menarik tengkukku dan menempelkan kedua bibir kami.


Dua benda kenyal itu, tak hanya menempel tapi juga meluk*t bibirku, seketika pikiranku kosong, aku terhanyut ke dalam permainan bibir dan lid*hnya, entah berapa menit kami berciuman saling membalas, hingga tak sadar samping dan belakang ada manusia lain selain kita berdua.


" Mmmpp." Aku sedikit mendorong d**anya begitu sadar." Isshh, kok tiba-tiba sih.!" Keluhku mengerucutkan bibirku ke depan, yang nampak imut.


" Maaf, habisnya kamu cerewet banget sedari tadi, sehingga aku tidak tahan ingin memakan mulutmu yang bergerak-gerak sedari tadi. " Sudah jangan marah-marah, nanti cantiknya hilang. Ayo duduk lagi, ini mau lanjut jalan lagi, makasih ya Dek, manis punyamu." Bisiknya dengan tatapan nakal.


Astaga, bisa-bisanya si Kolil ini! Ternyata dia mes*m sekali ya. Hah! Tapi aku juga seneng sih, berasa kaya dunia milik kita berdua, yang lain cuma numpang doang. Haha..


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2