
Antoni_PoV
*
" Alhamdulillah.. Ayo kita pulang." Ajak temanku seraya membereskan meja lapak kami.
Ya Alhadamdulillah, sore ini aku pulang lebih cepat dari hari biasanya, sebab dagangan sayuran kami laku keras beberapa menit yang lalu sebab di borong oleh salah satu restoran yang tengah mendapatkan pesanan katering dalam jumlah yang cukup banyak.
Semoga saja setiap hari dagangan sayuran kami ludes habis terjual seperti hari ini, Aamiin.. Setelah selesai, aku dan temanku pun berjalan ke arah parkiran untuk mengambil motor, lalu bergegas pulang ke rumah.
Jarak antara pasar induk dan desa kampungku lumayan cukup jauh, tepatnya berada di ibukota kecamatan lama. Sehingga daerah sini sudah seperti kota besar saking ramainya, sebab kebanyakan penduduk asli disana semuanya berniaga. Di sepanjang jalan raya kalian hanya akan menemukan para pedagang, seperti ruko-ruko pakaian, sembako, supermarket, minimarket dan lain sebagainya, untuk itulah suasananya sangat ramai.
Sekitar setengah jam-an, kami sudah sampai di rumahku, aku di turunkan tepat di halaman depan rumah oleh temanku. Setelahnya ia pun langsung berpamit pulang karena ada keperluan yang mendesak. Pasti karena ingin malam mingguan dengan pacarnya, dasar anak muda!
Ya temanku yang bernama Iwan ini memang lebih muda dua tahun dariku, ya dia seumuran dengan Adikku Anniyah, lebih tepaynya mereka teman satu kelas dulu. Bahlan yang aku dengar Iwan temanku ini dulu pernah menyukai Adikku, hanya saja Anniyah tidak bisa membalasnya, bukan karena dia tidak menyukai pria itu, melainkan Anniyah belum memikirkan soal pacaran, sebab dulu ia sedikit gil4 untuk mencari sesuatu yang bisa di jual dari hutan, tentunya bersama temannya si Kartini itu yang sama-sama gil4nya mencari uang recehan.
Sebenarnya Tini teman Anniyah itu seusia denganku, ya kami dulu satu kelas yang sama. Dan dia sudah lebih dulu menikah, bahkan anak sulungnya saja sudah masuk sekolah dasar tahun ini. Ya pada dasarnya yang namanya seorang gadis yang sudah cukup umur pasti sudah lebih dulu menikah di bandingkan kami para pria, terlebih di kampung ini sudah menjadi adat istiadat, asak ada gadis yang berdiam diri lama di rumah dan sudah tidak bersekolah, sudah pasti akan segera di minta oleh seorang pria mapun keluarga dari si pria tersebut untuk di peristri. Dan jika sampai si gadis atau keluarganya menolak lamaran dari si pria tersebut, konon katanya si gadis akan sulit untuk bertemu dengan jodohnya suatu hari nanti.
Begitu aku berbalik badan dan akan melangkah maju, terlihar Ibu yang baru keluar dari rumah dan sepertinya akan pergi." Assalamulaikum Bu."
" Eh, wa'alaikumsalam. Kok tumbenan kamu sudah pulang Ton?" Tanyanya menatapku sedikit heran, dan sedikit ketus. Ini hanya perasaanku saja atau bagaimana?
" Iya Bu, Alhamdulillah dagangan sayur kami laku keras alias terjual habis jadinya Anton bisa cepat pulang hari ini." Jelasku apa adanya, saat akan melanjutkan langkah terdengar Ibu kembali bersuara, membuatku terhenti dan kembali menatap beliau.
" Syukurlah, semoga rejekimu selalu berlimpah Le, Aamiin,, ya sudah Ibu mau ke warung dulu, tolong lihatin Bapak di kamar ya, tadi Bapak kamu mengeluh sakit kepala, dan sekarang sedang istirahat di dalam." Ujar Ibuku yang sepertinya perginya akan sedikit lama.
" Aamiin,, memangnya Ibu mau pergi kemana lagi selain ke warung?" Tanyaku dengan hati-hati agar beliau tidak tersinggung.
__ADS_1
" Kenapa kamu urusin Ibu! Urusin aja istri kamu itu, yang sok pintar. " Sarkasnya dengan nada kembali ketus, tentu saja aku sangat terkejut mendengar apa yang Ibu katakan barusan.
" Kok Ibu ngomong begitu, apa Ibu ada masalah dengan Najwa?" Desakku, agar Ibu mau menjawab pertanyaanku.
" Kamu tanya sendiri saja pada istrimu itu, sudah Ibu mau pergi dulu!" Pamitnya dengan segera berjalan cepat menuju ke jalan tikus.
Sepertinya Ibu akan ke rumah Nenek, bukannya ke warung. Karena sudah tidak sabar ingin mendengar penjelasan dari Najwa, aku pun segera masuk ke dalam rumah dan memilih berjalan menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum menyapa anak dan istriku.
Tak berselang lama aku pun segera menyudahi acara ritualku dan keluar dari kamar mandi. Setelahnya aku berjalan ke arah kamar hanya melilitkan handuk sepinggang untuk menutupi bagian tubuh bawahku saja.
" Assalamualaikum...sayangnya Mas dan Ayah sedang apa? Wah, lagi asyik ngobrol kok nggak ajak-ajak Ayah sih!" Sapaku begitu masuk dan melihat kedua orang yang sangat aku cintai ini sedang bersenda gurau, walau putra kami masih sangat kecil dan belum mengerti dengan apa yang Ibunya katakan, namun ia terlihat tersenyum sebentar-sebentar.
" Wa'alaikumsalam, Eh, lihat Ayah sudah pulang sayang. Alhamdulillah Mas pulang cepat hari ini." Ujar istriku yang masih mengajak Nino mengobrol.
Selesai berpakaian aku segera mendudukkan diri di tepi ranjang, seraya mengusap pelan puncak kepala mungil putraku Nino.
" Iya, Alhamdulillah dagangan Mas laku habis tadi, jadi cepat pulang Dek. Sini Ayah mau gendong tolenya." Pintaku, Najwa segera mengulurkan Nino kepadaku yang langsung aku gendong dengan hati-hati.
Aku mengangguk mengerti, ku ciumi pipi merahnya kulitnya sungguh halus sekali. Tak lama kemudian aku baru teringat dengan perkataan Ibu tadi, dari pada semakin pernasaran lebih baik aku langsung tanyakan saja kepada Najwa, semoga ia bisa menjelaskan yang sebenarnya padaku.
" Oh iya Dek, Mas mau tanya. Kamu ada masalah dengan Ibu? Kok Ibu kelihatan begitu marah denganmu?" Mendengar pertanyaanku seketika membuat Najwa langsung menoleh cepat menatapku.
" Oh jadi Ibu mengadu sama Mas! Letakkan dulu Nino di kasur Mas!" Titahnya yang segera aku lakukan, dengan sangat hati-hati aku meletakkan putraku di kasur, setelahnya aku kembali duduk di tempat semula." Ya salahkan saja Ibu Mas itu, masa Nino yang masih bayi di kasih makan pisang sama nasi yang sudah di haluskan. Terang saja aku marah juga kesal pada Ibu Mas! Ya aku akui aku memarahi Ibu karena tadi pagi sungguh aku sangat shock sekali saat melihat Nino menangis kencang tapi di biarkan saja sama Ibu, justru Ibu terus menyuapinya. Coba Mas yang di posisi aku tadi pagi, pasti juga melakukan hal yang sama bukan?!!" Terangnya panjang lebar.
Aku memang sedikit terkejut setelah mendengar penjelasan dari istriku, tak menduga ia tega memarahi Ibuku, Ibu yang telah melahirkanku ke dunia ini. Namun aku juga bingung kenapa Najwa sampai marah kepada Ibu bukankah begitu caranya menyuapi seorang bayi?
" Tunggu dulu Dek, Mas bukannya tidak sepaham denganmu, tapi kamu kok berani memarahi Ibu, dia Ibuku lho. Mas tidak membenarkan tindakanmu ini yang jelas salah, kamu harus minta maaf nanti dengan Ibuku. Dan Mas kok jadi bingung dimana letak kesalahan yang Ibu lakukan? Menyuapi seorang bayi 'kan memang seperti itu, katanya kalau bayi menangis makannya jadi lebih cepat, orang kampung disini juga begitu kok, bahkan Zia dan Zaheera dulu juga bagitu, Mas lihat sendiri."
__ADS_1
Jelasku yang dulu saat pulang ke rumah saat Zia masih bayi, aku akui aku memang anak yang nakal dan badung dulu juga tak jarang jika aku sedang marah dan kesal sampai membentak Ibuku, tapi itu dulu saat masih remaja. Melihat Ibu di marahi orang lain, walaupun itu wanita yang telah aku nikahi tentu saja aku tidak terima.
" Kok Mas jadi nyalahin aku, dan membela Ibu! Mas sadar nggak sih, Nino itu masih bayi belum genap sebulan Mas. Ya kamu lihat dong Mas, Nino itu hanya minum formula saja lho, pasti kondisi fisiknya lebih lemah di bandingkan bayi-bayi yang lain, jangan samakan Nino dengan dua keponakanmu itu, sungguh aku nggak mau Nino kenapa-kenapa Mas!! " Pungkasnya dengan nada yang teramat kesal juga terdengar sedikit kecewa, seketika membuatku sadar akan kondisi putraku.
" Astagfirullah maaf sayang, Mas melupakan hal itu, ya ampun kasihan Nino, tapi putra kita baik-baik saja bukan? Nggak ada hal yang serius setelah memakan itu? Ya sudah setelah ini hati-hati lagi, dan semoga kejadian ini untuk yang terakhir kalinya terjadi." Putusku agar masalah ini tidak berkepanjangan.
" Tapi aku nggak mau meminta maaf lho dengan Ibu, jelas-jelas Ibu yang salah! Dan juga lebih baik kita pindah dan tinggal di rumah Nenek saja Mas, aku nggak mungkin bisa berhadapan dengan Ibu dan tinggal serumah dengannya! Ini sangat terlihat canggung untuk kami." Desaknya yang kembali mengajak pindah.
Ya sejak hari itu Najwa terus saja memintaku berdiskusi dengan Anniyah agar kami bisa bertukar tempat tinggal, aku tinggal di rumah Nenek, sedangkan Anniyah akan tinggal dengan Ibu dan Bapak.
" Ya sudah Mas coba bicarakan dengan Anniyah dan Aziz nanti, tapi kamu harus janji dulu dengan Mas, kalau kamu akan meminta maaf dengan Ibu besok! Mas nggak ingin istri dan Ibuku bertengkar." Titahku tanpa ingin di bantah.
" Kok gitu? Tapi Mas,,"
" Nggak ada tapi-tapian."
" Oke, baiklah. Tapi benar ya kita harus secepatnya pindah ke rumah Nenek, aku nggak mau tahu Mas, kalau tidak kita pulang saja ke rumah orangtuaku!" Putusnya, yang tentunya membuatku terkejut.
Huh!!...
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.