
Anna_PoV
*
Malam semakin larut namun aku tidak bisa tidur, air mataku juga rasanya terus mengalir hingga rasanya hampir mengering. Bahkan bantal yang aku pakai untuk sandaran kepala pun sudah sangat basah, rasanya aku hanya ingin di dalam kamar, tidak mau beranjak keluar dari sini.
Namun niat hanya tinggal niat jika panggilan alam yang membuat aku mau tidak mau aku harus keluar, aku pun beringsut bangun dan akan pergi ke kamar mandi, begitu melintasi kamar Ibu dan Bapak, aku seperti mendengar ada suara dari dalam sana, siapa yang belum tidur pikirku. Namun beberapa menit kemudian tidak ada suara lagi, aku pun berniat akan melanjutkan langkahku, namun kemudian langsung terhenti saat mendengar suara itu kembali.
" Ya Allah kenapa nasib rumah tangga putri kita juga seperti ini Pak. Apa salahku ya Gusti... Ampuni hamba, suami dan anak cucu hamba jika telah melakukan dosa, hukum saja hamba jangan anak keturunan hamba Ya Gusti, hamba akan ikhlas menerimanya.." Terdengar suara lirih Ibu.
Ya benar itu suara Ibu, jadi Ibu belum tidur karena memikirkan masalah yang menimpa rumah tanggaku? Pasti Bapak juga tidak bisa tidur. Mendengar hal itu seketika membuat kristal beningku kembali luruh membasahi pipi. Sepertinya kedua orangtuaku sangat terpukul setelah mendengar penjelasan dariku. Dan juga pasti keduanya sangat kecewa terhadap Bang Kholil menantunya yang sudah menyakiti putri mereka.
" Sudahlah Bu tidurlah, nanti anak-anak malah dengar, dan membuat mereka semakin sedih. Kita tunggu saja suaminya datang ke rumah besok, jika dalam minggu ini dia tidak datang, ya sudah terserah bagaimana maunya Anna dan suaminya, Bapak sungguh tidak mampu memikirkan semuanya." Sahut Bapak yang terdengar sudah pasrah.
Ya Allah gara-gara masalahku Ibu dan Bapak menjadi seperti ini, lalu aku harus begaimana lagi. Apa aku harus kembali ke kota menemui Bang Kholil? Tapi aku takut jika nanti dia tambah marah padaku dan justru lebih parah dari tadi pagi.
Aku pun buru-buru pergi ke kamar mandi untuk membuang hajat, dan tak lama aku kembali ke kamar. Tak lupa aku juga mambawa air minum di dalam gelas untuk persediaan minumku. Untungnya Erika tidak begitu rewel hari ini, sepertinya dia sangat mengerti dengan keadaan Bundanya.
Entah pukul berapa aku tertidur tadi malam, lalu saat aku terbangun ternyata sudah pukul setengah enam pagi. Aku pun beringsut bangun dan membuka jendela kamar terlihat Mbak Anniyah yang sedang menyapu halaman, aku pun tersenyum.
Mbak Anniyah orang yang paling sabar di keluarga ini, di ajak tukeran tempat tinggal dengan Mas Anton saja dia terlihat pasrah. Mbak Anniyah memang orang yang paling tidak tega melihat oranglain menderita, terlebih keluarganya sendiri, pasti agar Ibu dan Mbak Najwa tidak lagi saling berdebat, sehingga ia menyetujuinya. Atau jangan-jangan ia terpaksa melakukannya karena ingin melindungi keluarganya? Aiihh, sepertinya kemungkinannya sedikit.
Suaminya Bang Aziz juga kok bisa-bisanya menyetujui, mungkin karena dia jarang pulang kali ya. Jadinya ya ngikut saja, toch yang terpenting anak istrinya ada tempat tinggal daripada tidur di hutan.
Setelah membasuh muka aku pergi ke depan untuk merenggangkan otot-otot tubuh yang terasa pegal-pegal, sudah lama juga aku tidak pijit. Hingga tak lama Mbak Anniyah menyadari kehadiranku, ia menoleh lalu tersenyum hangat.
" Pasti pada pegal ya tubuhnya? Begadang sih! Pukul berapa tidurnya semalam?" Tanyanya seraya mendekatiku setelah mencuci kedua tangannya di keran air.
__ADS_1
Aku tergelak, " Entah pukul berapa, aku ketiduran Mbak." Aku hanya menyengir kuda menatapnya karena memang tidak ingat.
" Sepertinya pukul sebelas lewat kamu keluar kamar?"
" Iya ya. Oh, tadi malam aku ke kamar mandi."
Di kamar memang tidak ada jam dinding, sedangkan ponselku memang sengaja aku matikan agar tidak ada yang mengangguku, terutama Bang Kholil.
" Hmm.. pasti kamu menguping pembicaraan Ibu dan Bapak saat melintasi kamar mereka bukan?" Tudingnya.
" Dari mana Mbak tahu!" Kejutku, ternyata tak hanya aku saja yang mendengar suara Ibu dan Bapak Mbak Anniyah juga." Jangan katakan Mbak masih terjaga tadi malam?"
Mbak Anniyah langsung mengangguk tanpa ingin mengelak." Ya aku tengah menyusui Zaheera yang tiba-tiba terbangun. Mbak berharap masalahmu cepat teratasi Dek, kasihan Bapak dan Ibu kalau ikut terbebani seperti ini.." Ujarnya sendu.
" Semoga Mbak, aku sendiri juga tidak enak hati pada Ibu dan Bapak. Apa aku kembali saja ke kota dan berbicara langsung dengan Bang Kholil?" Tanyaku yang tidak mendapatkan solusi.
" Maaf-maaf Mbak mengejutkanmu ya. Tapi sungguh jangan ke sana dulu, terlebih dia pasti bertambah marah saat pulang ke rumah tidak menemukanmu. Dengarkan Mbak, kita tunggu saja kedatangannya ke rumah kita, lalu kita semua berembuk. Kasihan juga Erika masih sangat kecil jika harus kamu ajak bolak-balik naik kendaraan umum." Pungkasnya.
Benar juga yang Mbak Anniyah katakan." Baiklah kita tunggu Bang Kholil saja yang datang." Putusku mengikuti sarannya.
" Sip, ayo masuk sebantar lagi anak-anak pasti bangun." Ajaknya, kami pun masuk ke rumah bersama dan benar saja terdengar suara tangis anak-anak yang pada terjaga dari tidur panjangnya.
" Cup,, cup. Anak Bunda sudah bangun ya sayag.. ayo kita ngopi ke belakang yuk." Segera kugendong putriku keluar kamar dan berjalan ke arah dapur, dimana semuanya tengah berkumpul disana.
" Oalah, cucu-cucu Nenek sudah pada bangun. Ayo siapa ini yang mau Nenek gendong?!" Seru Ibu dengan senyum ceria dan juga antusias menatap ketiga cucu perempuannya yang baru bangun.
Zaheera langsung di gendong oleh Neneknya, sementara Erika di gendong oleh Kakeknya. Hanya melihat pemandangan ini saja sudah membuatku tersenyum bahagia, lalu kebahagian apalagi yang ingin aku cari, jika keluargaku saja sanggup memberikannya.
__ADS_1
Mungkin hatiku yang akan kosong jika aku lebih memilih menyudahi semua ini. Tunggu dulu! Apa ini adalah karma untukku, sebuah kutukan dari seorang pria yang tersakiti, karena waktu itu aku lebih memilih pria kota daripada dirinya? Ya dia. Dia mantan kekasihku.
" Ami Kakak mau pipis." Ujar Zia membuat atensiku teralihkan. Aku pun keponakanku yang justru sedang menatap ke arah Aminya, namun Mbak Anniyah justru tengah sibuk membuatkan kopi dan teh untuk kami semua.
" Sama Tante saja yuk pipisnya, Ami sedang membuat susu untuk Zia, nanti setelah keluar dari kamar mandi, susunya sudah siap deh." Bujukku, ternyata Zia ini anaknya sangat penurut.
Kami bersenda gurau bersama anak-anak duduk di dipan belakang seraya menatap kambing-kambing yang sedang berjemur di dalam kandang. Hingga tak lama terdengar suara gedoran di pintu depan sana bersamaan dengan suara seseorang yang mengucapkan salam.
Tok... Tok...Tok..
" Assalamualaikum.."
" Siapa yang datang Nduk...??"
Degh!!..
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1