
Satu jam setelah Wirra dan Anna beranjak dari kediaman Meyta, Mutiara pun tiba di rumah. Gadis kecil itu berlari memasuki rumah dengan riang.
Meyta begitu sumringah begitu mendengar suara anak perempuannya itu. Dia begitu merindukan Mutiara. Dan gadis kecil itu pun pasti sangat merindukan dirinya karena suara Mutiara terdengar begitu riang. Begitulah pikir Meyta.
Namun, nampaknya Meyta harus menarik turun sudut-sudut bibirnya. Wajahnya yang tadi sumringah kini mendadak penuh amarah. Ternyata keceriaan Mutiara bukanlah karena kepulangan dirinya ke rumah.
“Bu Anna ... Bu Anna ... Sore ini kita akan memasak apa?!” teriak Mutiara.
Gadis kecil itu bahkan terus bersuara memanggil nama Anna karena wanita yang dicarinya tak kunjung menyahut. Hingga tibalah Mutiara ke kamar sang ibunda. Namun, tentu saja bukan Anna yang ditemuinya di dalam kamar itu. Mutiara terperanjat, matanya bahkan membulat.
“Eh, Mama sudah pulang? Mama sudah sehat?!” tanya gadis kecil itu dengan penuh antusias.
Meyta menyambut pertanyaan sang buah hati dengan tersenyum sumringah. “Iya, mama sudah pulang sejak pagi tadi,” ucapnya.
“Kamu tidak merindukan mama, ya?” lanjutnya.
“Tentu saja Rara merindukan mama,” jawab gadis kecil itu dan membalas senyum sumringah sang ibunda.
“Lalu kenapa kamu tidak ke sini dan memeluk mama?” rengek Meyta sembari merentangkan kedua tangannya. Wanita itu berharap sang buah hati akan mendatangi dan memeluk dirinya.
Harapan Meyta pun terwujud. Dengan berlari kecil, Mutiara menghampiri sang ibunda. Mutiara pun memeluk erat Meyta.
“Lain kali, mama harus hati-hati ya. Rara tidak mau kalau mama sampai kecelakaan lagi. Rara sangat khawatir waktu mendengar mama kecelakaan dan tak sadarkan diri!” ucap gadis kecil itu. Mutiara bahkan memasang wajah sinis, seolah tengah marah pada sang ibunda. Meyta tertawa kecil melihat tatapan sinis sang anak padanya.
“Iya sayang ... Mama berjanji. Nanti, kalau kaki mama sudah benar-benar sembuh dan bisa berjalan kembali, mama akan lebih hati-hati,,” bisik wanita itu. Mutiara pun tersenyum mendengarnya.
“Oh iya, Ma, Bu Anna di mana? Dari tadi Rara panggil-panggil tapi tidak muncul juga. Padahal, biasanya Bu Anna sudah berada di teras menyambut Rara setiap pulang sekolah.”
“Di teras?!” tanya Meyta tak percaya.
Mutiara menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Iya, Ma. Setiap Rara pulang sekolah, Bu Anna selalu menyambut Rara di teras, memeluk Rara dan menanyakan apakah Rara lelah atau tidak hari ini,” jelas Mutiara.
Meyta tentu saja merasa kesal mendengarnya. Wanita paruh baya itu bahkan menghela napas kasar karena tidak suka dengan apa yang dipaparkan oleh anak pertamanya itu.
Sepertinya Anna bukan hanya berusaha merebut perhatian Wirra. Dia bahkan ingin merebut perhatian Rara. Berani sekali dia!
Tanpa sadar tangan Meyta mengepal.
“Dia sudah pulang!” ketus Meyta.
__ADS_1
Mutiara terkejut dengan penjelasan yang diberitahukan oleh sang ibunda.
“Bu Anna pulang, Ma? Pulang ke rumahnya?!” tanya Mutiara tak percaya.
“Iya, dia sudah pulang. Dan tidak akan kembali lagi ke sini!” jawab Meyta.
Mutiara terlihat sedih dengan apa yang diucapkan oleh Meyta. Gadis kecil itu bahkan menundukkan kepalanya. Entah mengapa Mutiara merasakan sakit di hatinya saat mengetahui fakta kalau Anna meninggalkan dirinya begitu saja.
“Kenapa Bu Anna tidak berpamitan dengan Rara,” keluh gadis kecil itu.
Meyta tentu saja tak menjawabnya. Meyta sudah begitu kesal hanya melihat ekspresi sedih di wajah sang anak.
“Padahal Bu Anna sudah berjanji kalau hari ini kita akan memasak makan malam bersama,” rengek Mutiara.
“Kalau kamu ingin memasak makan malam, kamu bisa mengajak nenek untuk masak bersama. Kenapa harus dengan dia?!”
“Rara inginnya masak bersama Bu Anna. Masak bersama nenek tidak seru,” keluh Mutiara.
“Nanti, kalau kaki mama sudah pulih, mama janji kita akan memasak bersama. Jadi, kamu jangan lagi sebut-sebut nama ibu tiri kamu itu. Mama tidak suka!”
Mutiara menatap Meyta dengan wajah bingung. Kenapa sang ibunda tak menyukai ibu tirinya itu? Padahal ibu tirinya itu adalah sosok wanita yang berhati lembut dan bersikap baik.
Meyta mengehentikan ucapannya. Dia tak mungkin memberitahukan pada sang anak kalau dirinya memergoki Anna dan Wirra tengah bermesraan, hingga membuatnya dikuasai amarah.
“Yang jelas perlu kamu tau, dia adalah salah satu penyebab kecelakaan yang mama alami. Kaki mama jadi seperti ini karena ibu tiri kamu itu!”
Mutiara menganga. Betapa terkejutnya gadis kecil itu mendengar ucapan sang ibunda.
Benarkah ibu tirinya yang cantik dan baik seperti bidadari itu, yang telah mencelakai ibu kandungnya?
Hati Mutiara menolaknya. Gadis kecil itu merasa yakin kalau ibu tirinya tak mungkin melakukan hal itu.
“Kamu mengerti kan sekarang?!” tanya Meyta.
Terpaksa Mutiara menganggukkan kepalanya.
“Sekarang kamu ganti baju sekolah, dan jangan lupa mandi. Kamu bau asem,” keluh Meyta. Mutiara kembali menganggukkan kepalanya.
Mutiara keluar dari kamar sang ibunda. Tadinya, Mutiara ingin langsung masuk ke kamarnya, namun gadis kecil itu mengurungkan niatnya. Mutiara berjalan ke dapur menghampiri sang nenek yang tengah menikmati kudapan yang pagi tadi sudah dibuatkan oleh Anna.
__ADS_1
“Nek, Bu Anna benar-benar sudah pulang dan tidak kembali ke sini lagi?”
“Iya, Bu Anna sudah kembali ke rumahnya. Lagian, kan mana sudah sembuh. Jadi, Bu Anna sudah bisa pulang,” jelas sang nenek.
Mutiara kembali mengeluh pada neneknya. Gadis kecil itu merasa sedih karena Anna meninggalkan dirinya begitu saja tanpa berpamitan.
“Mungkin Bu Anna lupa. Soalnya tadi semuanya serba buru-buru. Papa harus segera mengantarkan Bu Anna agar bisa secepatnya kembali ke rumah,” jawab wanita lanjut usia itu. Mutiara terlihat mengembuskan napas berat. Kekecewaan jelas terlihat di wajahnya.
“Kamu hubungi Bu Anna saja. Ponsel nenek ada di kamar tuh.”
Mutiara seketika sumringah. Tanpa pikir panjang, gadis itu berlari ke kamar sang nenek dan menghubungi Anna.
“Maafkan ibu, ya sayang. Harusnya ibu tunggu sampai kamu pulang sekolah,” ucap Anna saat Mutiara merengek padanya.
“Nanti kalau ada waktu, ibu akan menginap lagi di sana,” janji Anna.
Mutiara tersenyum kecut. Dirinya seolah mengerti jika ibu kandungnya tak menyukai ibu tirinya itu. Janji yang diberikan oleh Anna tak akan pernah terwujud.
Mendengar Anna berbicara begitu akrab dengan Mutiara, bibir Wirra tersenyum sumringah. Tak pernah dia sangka jika anak sambungnya itu bisa begitu menyayangi Anna.
Mutiara terus berbicara melalui seluler dengan Anna hingga wanita itu tiba di kediamannya.
“Maaf ya Mas tidak bisa mampir. Mas takut Meyta mengamuk. Kesehatan dia belum pulih betul. Emosinya masih tidak stabil,” ucap Wirra.
“Iya, Mas. Aku paham kok. Sekarang, Mas fokus saja pada Meyta agar dia pulih dengan cepat. Dengan begitu, Mas bisa secepatnya menginap di sini.”
Bibir Wirra melengkung membentuk sebuah senyuman. Walau dia sangat merindukan dekapan hangat Anna, pria itu tak mau ambil risiko. Kali ini, dia harus menuruti keinginan istri keduanya itu.
Namun, sebelum Anna turun dari kendaraannya, Wirra memberikan sebuah kecupan manis di bibir istrinya itu.
“Besok pagi Mas ke sini,” bisiknya.
“Jangan, Mas. Nanti Meyta marah. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi.”
“Semuanya sudah Mas atur, kamu tenang saja. Pokoknya, besok, Mas akan di sini bersama kamu seharian penuh. Si Mbok jangan disuruh datang ya,” ucap Wirra dengan kedipan mata.
Wirra memang sudah mengaturnya. Dia sudah minta izin untuk tak bekerja esok hari. Namun, tentu saja dia tak akan memberitahukan hal itu pada Meyta. Dia akan pergi bekerja seperti biasa dan pulang sedikit lebih awal agar Meyta tak merasa curiga. Wirra begitu merindukan Anna. Dia tak mungkin menghampiri baru istri pertamanya itu sampai kondisi Meyta pulih total. Rindunya sudah begitu menggebu pada Anna.
Anna mengembuskan napas panjang mendengar penjelasan sang suami. Perasaan bersalah atas kecelakaan yang dialami Meyta, membuat wanita itu tak berani untuk menyetujui rencana Wirra. Tapi, rasa rindunya pada sang suami, membuat Anna akhirnya mengangguk setuju.
__ADS_1
Wirra lantas bergegas pergi begitu Anna menyetujui usulnya. Pria itu bahkan melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh agar segera tiba di kediaman Meyta. Dia tak mau sang istri kedua merasa curiga dan kembali mencari-cari masalah dan menyudutkan Anna.