Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Bertapa


__ADS_3

Author_PoV


*


Pasca mengalami kehilangan memang bukan hal yang mudah. Perasaan sedih pasti dirasakan saat kehilangan seseorang yang amat kita cintai. Bersedih karena baru saja kehilangan orang yang kita sayangi boleh saja, akan tetapi kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan.


Kehilangan memang dapat menyayat hati, bahkan kita tidak bisa terlupakan sepanjang hidup. Apalagi jika yang pergi adalah wanita yang telah melahirkan kita ke dunia ini. Namun, kehidupan teruslah berjalan dan kamu hanya bisa berdoa agar orang yang telah pergi akan tetap berbahagia. Kamu juga harus yakin bahwa kebahagiaanmu adalah yang diinginkannya.


Aziz baru saja masuk ke dalam kamar setelah acara tahlilan tiga harinya Umma Salima, lalu di lanjut juga dengan mengobrol-ngobrol ringan dengan sanak saudaranya tadi. Namun baru akan merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang, terdengar suara pintu kamarnya yang di ketuk dari luar, mau tidak mau ia pun beringsut lalu berjalan melangkah kembali ke arah pintu.


Begitu pintu terkuak, Arga Cacaknya sudah berdiri menunggunya di luar." Kenapa Cak?" Tanya Aziz menatap heran pada Cacaknya, sebab mereka baru saja selesai mengobrol banyak hal, dan kini kenapa menemuinya kembali, apa ada sesuatu yang terjadi di depan? Pikirnya dalam hati.


" Itu malam-malam anak-anak datang bersama Uminya, di antar oleh seorang pria." Jawab Arga memberitahu hal serius kepada Adiknya.


" Anak-anak Cacak? Bukannya sedari sore sudah disini." Tanya balik Aziz yang belum paham.


" Bukanlah. Kalau itu Cacak juga tahu. Itu keponakan Cacak pada datang semua." Jelasnya.


" Maksudnya, Anak-anak Aziz datang bersama Nikmah Cak?" Tanyanya ulang memastikan.


Bagaimana bisa mereka semua datang malam-malam begini? Pertanyaannya siapa yang memberitahu pada mereka tentang meninggalnya Umma Salima? Sebab Aziz sadar diri, dia belum sempat memberitahukan kabar tersebut pada yang lain. Bahkan ia belum menyentuh ponselnya seusai tahlilan tadi, yang ia letakkan di dalam tas kecilnya.


" Ya mereka semua datang, itu ada di depan." jelas Arga kembali, yang akan berbalik badan.


Akhirnya keduanya pun berjalan kembali ke depan untuk menyambut kedatangan mereka semua. Aziz berpikir pasti Nikmah di antar oleh sepupunya Rojak kemari, sebab tidak mungkin mantan istrinya itu menyetir mobilnya sendiri ke luar kota. Apalagi di tambah keadaan si bungsu Zikri yang sedang sakit, pikirannya jadi tidak tenang.


" Abi." Teriak Hilda bersamaan dengan Zikri saat keduanya sudah melihat kedatangan Abinya, mereka langsung berhampur ke dalam pelukannya.

__ADS_1


" Assalamualaikum.. Anak-anaknya Abi. Sehat semuanya?" Pria itu langsung membalas pelukan kedua putra-putrinya. Tak lama Aziz mengurai pelukannya. " Tidak salim dulu dengan Abi?" Tanyanya yang langsung menyodorkan tangan kanannya yang di sambut dengan baik oleh keduanya.


" Waalaikym sakam. Abi, Hilda sangat merindukan Abi." Sungutnya yang kemudian memeluk tubuh Abinya kembali.


" Iya, Abi juga merindukan kalian semua. Tunggu dulu! Zikri gimana sayang keadaan kamu? Maaf Abi tidak bisa menemani Zikri saat sedang sakit kemarin." Sesalnya menatap sendu ke arah putra bungsunya tersebut, namun anak lelaki itu justru tersenyum senang bisa melihat Abinya kembali.


Sebab akhir-akhir ini kedua bocah itu jadi jarang bertemu dengan Abi mereka. Setiap kali bertanya pada Uminya, Uminya selalu menjawab jika Abinya sedang bekerja di luar kota. Karena keduanya yang memang masih kecil dan polos.


Hanya salah satu dari mereka berempat yang mengetahui perihal perceraian kedua orangtuanya. Ya dia adalah si sulung yang memang sudah remaja beranjak dewasa. Namun bukan itu alasannya, sebab pagi itu ia sendiri yang sudah terjaga dari tidurnya panjangnya, saat akan ke dapur untuk mengambil air putih, indra pendengarannya tidak sengaja mendengar pembicaraan dari kedua orangtuanya yang sedang bersitegang di meja makan.


Jadi begitulah Mus mengetahui segalanya, dan ia juga mengetahui hubungan Uminya yang diam-diam menjalin kasih bersama Pamannya sendiri. Seharusnya disini Mus marah dan kecewa kepada Uminya, namun ia memilih diam tidak ingin ikut ikut campur, biarlah itu menjadi keputusan orang dewasa.


" Zikri 'kan sudah sehat Abi, lihat ini." bocah laki-laki itu memutarkan tubuhnya di hadapan semua orang, hingga mengundang gelak tawa geli dari semuanya.


Mus dan Aidan pun ikut berdiri dan menyalimi Abinya, kedua anak ini memang cenderung lebih memiliki sifat pendiamnya, ketimbang di bandingkan dengan kedua anaknya yang lain.


Apa mereka berdua secara terang-terangan menunjukkan hubungan mereka? Ah sudahlah terserah mereka saja. bukan hakku lagi. Aku hanya memikirkan anak-anak saja.


****


Di tempat lain Anni sedang menyusui putrinya yang hampir terlelap, rasa sedih masih ia rasakan. Terlebih suaminya masih ada disana di rumah mertuanya hingga tujuh hari lamanya. Ia pun sangat mengerti sebagai seorang istri bagaimana ia harus bersikap.


Namun walau begitu, keduanya masih terus saling memberi kabar via telepon. Malam ini ia berusaha tidak akan tidur duluan sebelum menghubungi suaminya. Yak di pungkiri rasa rindu juga ia rasakan.


" Hmmm, sudah kenyang ya sayangnya Ami, bobok yang nyenyak ya sayang." Ia kecupi kedua pipi merah putrinya setelah itu di letakkanlah bayi yang masih merah itu di atas ranjang, lalu ia tutupi menggunakan tudung agar tidak di ganggu oleh makhluk kecil penghisap darah.


" Cantiknya putrinya Ami Anni dan Abi Aziz." Di pandanginya sejenak kemudian ia meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya.

__ADS_1


Sore tadi ia juga baru kembali dari rumah sang Bidan, sebab kondisinya yang masih lemah di haruskan untuk menginap disana dengan di temani oleh sang Ibu yang ijin tidak bekerja. Sementara Bapaknya bolak-balik pulang ke rumah, tetap mencari rumput untuk kambing ternaknya.


" Anni, kamu sudah tidur?" Sang Ibu bertanya dan langsung masuk ke dalam kamar begitu tidak lagi mendengar suara tangis cucunya yang kehausan.


" Belum Bu, Zia juga barusan terlelap. Kenapa Bu?" Tanya Anni menatap Ibunya penasaran, ia tidak bisa bergerak, sebab ia harus melakukan kebiasaan adat jawa yang setelah melahirkan harus bertapa di atas ranjang selama masa nifas berakhir. Tidur pun tidak boleh berbaring, ia harus duduk setengah berbaring sembari bersandar ke dinding rumah.


" Hmm, cucu Mak sudah tidur ya? Padahal pengen gendong. Kamu masih lapar tidak An? Itu Ibu tadi bawa lauk dari rumah Nenek." Sahut sang Ibu sembari menatap lekat ke arah cucunya yang sudah terlelap.


" Lauk apa Bu? Boleh deh Anni sedikit lapar juga, hehe.." Jawabnya yang nyngir.


" Nenek kamu 'kan habis panen jagung, dia beli sate kambing itu dua porsi. Ibu ambilkan bentar ya." Ujar Ibu sembari melangkah keluar untuk mengambilkan putrinya makanan.


Anni mengangguk tersenyum menatap punggung Ibunya, Neneknya itu selalu menempatkan untuk datang setiap hari pagi dan sore hanya untuk membantu memandikan bayinya. Anni merasa sangat bersyukur masih di tungguin oleh Ibu dan Neneknya sehingga ia merasa jauh lebih baik di bandingkan berada di kota, tak ada siapalah yang akan membantunya, walau memang ia memiliki banyak tetangga di kontrakan barunya, namun ia sadar pasti mereka datang membantu hanya sekedar saja.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


"

__ADS_1


__ADS_2