Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Pulang Bersama..


__ADS_3

Anton_PoV


*


Lambat laun, kami berempat semakin dekat, ternyata si Kolil juga kesemsem sama Adikku Anna. Hah! Kok keduluan dia sih, padahal yang ingin cari jodoh itu 'kan aku? Kenapa justru jadi temanku yang lebih dulu jadian dengan Adikku.


Awalnya aku juga mengajak Najwa berpacaran, namun dia menolak, alasannya karena kedua orangtuanya tidak mengijinkan dia berpacar-pacaran katanya.


" Baiklah, nanti aku datang melamarmu kalau begitu." Ujarku mantap, entah kenapa pilihanku langsung jatuh kepadanya, terlebih dia juga lulusan ponpes seperti Aziz, pasti bisa mendidik anak-anakku kelak. Biarlah aku ngaku pada Anna dan Kolil jika kami sudah jadian, walau kenyataannya kami hanya dekat, tidak ada hubungan apapun, gengsi dong.


" An, bukannya kamu masih berhubungan dengan si Tommi ya?" Bisikku saat menghampirinya di belakang yang sedang membuatkan minuman untuk kami berempat. Anna tak langsung menjawab, ia menoleh ke belakang terlebih dahulu, mungkin takut ada yang mendengar pembicaraan kami berdua.


" Sebenarnya aku sudah putus sama Tommi minggu kemarin Mas. Ya kamu tahu sendirilah, dia itu terlalu over sama aku. Lagian juga aku nggak bisa pacaran jarak jauh, bawaannya kesal terus sama dia, kalau dia lagi hubungi aku, dia juga curiga sama aku, padahal 'kan aku disini memang kerja bukan kelayapan nggak jelas, kamu juga tahu sendir Mas. Ya Udahlah ya, mungkin memang kami nggak jodoh. Memang Mas nggak suka aku jadian, atau misalnya nikah sama Kolil?" Tanyanya meminta pendapatku.


" Mas bukannya nggak setuju kamu sama si Kolil, aku tahu dia orangnya baik, mapan, pekerjaannya juga bagus. Bahkan Mas mau di usulkan untuk menjadi manager juga sama seperti dirinya. Tawaran bagus, sayang 'kan kalau di tolak? Ya kalau kamu memang serius sama si Kolil, Mas dukung-dukung saja. Toch nanti yang menjalaninya kamu sendiri." Kelasku panjang lebar.


" Alhamdulillah kala gitu, kamu memang Masku yang sangat pemgertian, tinggal minta restu Bapak dan Ibu saja. Ayo kita ke depan, nanti mereka lama nuggunya." Ajak Anna sembari membawa nampan berisi minuamn dan makanan cemilan.


" Ya, kamu duluan gih. Mas mau buang air dulu." Ujarku yang segera masuk ke dalam kamar mandi. Begitupun Anna yang langsung berjalan ke depan.


Hingga tibalah waktunya aku mengantar Najwa pulang ke kampung halamannya, ternyata rumahnya tak begitu jauh dari dari kota asalku. Daerah ini terbilang masih sangat jauh dari kampung halamanku. Jarak antara rumah ke rumah lumayan jauh, pokoknya lebih maju desaku dari pada disini.

__ADS_1


Begitu sudah masuk ke dalam rumah, aku langsung bertemu dengan kedua orangtuanya, terucaplah niatku yang datang ingin meminang putrinya, kepada mereka. Itu pun aku mengatakannya dengan hati yang berdebar, baru kali ini aku datang ke rumah seorang wanita, dengan tujuan meminta putrinya langsung kepada keluarganya. Tak kusangka semuanya berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan, keduanya pun langsung setuju. Dan menantikan kedatanganku beserta keluargaku untuk datang melamar.


" Terima kasih banyak Pak, Bu. Insya Allah saya dan keluarga saya akan datang kemari secepatnya." Ujarku sangat berpuas hati.


" Ya kami menantikan kedatangan kamu sekeluarga. Ya sudah, Wa antar Nak Anton ke kamar depan, biar nanti si Nanda tidur di kamarnya Nanang." Titah calon Bapak mertuaku pada putrinya. Cie,, calon mertua aja nie, rasanya sungguh tidak percaya. Aku sudah berada dalam tahap seperti sekrang.


" Ayo Mas." Ajaknya dengan suara lembut. Aahh, rasanya ingin ku kurung dan ku kekepin aja di dalam kamar. Jadi semakin tidak sabar lagi aku ingin menikahinya. Sabar Antoni Ghani, anaknya Bapak Zainal Abidin yang paling ganteng, semua akan indah pada waktunya..


Ternyata aku dan Najwa memiliki kesamaan, yaitu sama-sama anak sulung di dalam keluarga. Najwa ini adalah anak pertama dari tiga bersaudara, bedanya kedua Adiknya ini semuanya laki-laki. Tak berlama-lama, aku dan Najwa akhirnya pamit kembali ke kota keesokan hatinya, sebab kami mempunyai tanggung jawab pekerjaan masing-masing.


Hingga minggu depannya aku pulang kampung bersama Anna yang kebetulan ada acara selapan dan Aqiqahnya keponakanku yang cantik, yang belum sempat aku lihat. Pak Poh macam apa aku ini, keponakan lahir, malah tidak bisa pulang!


Namun bukan tanpa sebab aku tidak bisa pulang, tapi memang saat itu, aku sibuk dan mendapat giliran kerja lembur malam. Kami para pria mendapatkan giliran rolling lembur malam setiap minggunya, ya hitung-hitung cari uang tambahan aja. Sebab kerjaanku masih sama menjadi pengrajin borongan, membuat lemari, kursi, meja pokoknya macam-macam perabotan rumah tanggalah. Dan aku sangat menikmati pekerjaanku yang sekarang ini, di bandingkan kemarin hanya mengangkut balok kayu yang ukurannya lumayan besar dan memotong-motong tidak bisa mendapatkan pengalaman sama sekali, jika seperti itu. Kalau pekerjaan yang sekarang ini 'kan suatu saat nanti aku bisa membuka bisnis mebel sendiri, sebab aku sudah banyak sekali mengantongi pengalaman, Aamiin, semoga terkabul harapanku.


Beberapa jam menikmati perjalanan naik bis, akhirnya kami berdua telah sampai di kota kami. Aku segera memesan dua ojek untukku dan Anna. Tak lupa membeli buah untuk Ibuku, yang memang menyukai buah-buahan.


Sebenarnya Najwa bersikeras ingin ikut pulang bersama kami, alasannya ia ingin mengenal dekat dengan samua anggota keluarga. Namun aku menolak, sebab waktunya kurasa kurang tepat, aku juga belum mengatakan apapun perihal masalah hubungan kami, bahkan rencana kami akan menikah secepatnya pun belum sampai ke telinga Bapak dan Ibuku.


Dengan terus merayu dan membujuknya, akhirnya ia mau mendengarkan alasanku. Dan aku sedikit lega, ia begitu menurut padaku. Aku juga tidak ingin membuat acara Adikku kacau, dengan kabar yang akan aku sampaikan pada Bapak dan Ibu nanti.


" Terima kasih banyak Bapak-bapak." Ujarku pada kedua supir ojek yang sudah mengantarku dan Anna, sembari memberikan selembar uang merah pada mereka berdua. Setelah kedua ojek itu berlalu, kami segera masuk ke dalam rumah, tampak sepi dari luar, mungkin semuanya sedang berada di belakang rumah.

__ADS_1


" Assalamualaikum,," Ujarku berbarengan dengan Anna, sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


" Waalaikum salam, wah kalian sudah datang." Sambut Anniyah yang keluar dari kamarnya, bersama putrinya yang ia gendong.


" Wah, sayangku,, keponakan Tante. Aduh, Tante kangen banget lho. Sini-sini Tante gendong." Ujar Anna yang sudah mulai ribut dah, dasar para wanita ratu drama!


" Eits,, sudah dari belakang belum? Sana ke belakang dulu! Kalian bedua harus ke belakang, biar nggak bawa baran- barang yang aneh-aneh." Seru Anniyah yang mulai kumat lebaynya.


Akhirnya malam ini aku kebagian gendong Zia, keponakan cantikku, hah! Setelah sekian lama menunggu para wanita yag rempong akhirnya kini giliranku juga mengendongnya, aku menghujami banyak kecupan di seluruh wajahnya, hingga ia terus mengeliat pelan, lucu dan menggemaskan sekali kamu ini Nak, ingin aku gigit aja rasanya.


Keesokan harinya aku membantu menyembelih Kambing Aqiqah Zia bersama Bapak dan Aziz. Entah pukul berapa Aziz datang semalam, karena saking lelahnya, aku tidak mendengar suara apa-apa, yang padahal tidur di dipan depan, apa karena selimut tebal yang menutupi kedua telingaku sehingga tidak kedengaran? Entahlah..


Hingga siang harinya aku dan Anna di kejutkan oleh kedatangan tamu tak terduga, " Kalian!!"


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2