Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Noda Merah


__ADS_3

Rojak_PoV


*


Emosi? Itulah yang aku rasakan. Aku sungguh membenci Juleha Adikku sendiri. Persetan dengannya! Hingga saat aku sudah masuk kuliah aku memilih tinggal sendiri di perumahan kecil, hunian yang aku beli sendiri memakai uang tabunganku, dengan alasanku karena jaraknya lebih dekat dengan kantor. Aku mengambil kuliah kelas karyawan yang hanya seminggu dua kali saja itu pun sore hari, sebab pagi harinya aku harus pergi bekerja, ya aku ikut terjun langsung mengurus kantor milik mendiang Kakek bersama Ayahku, lebih baik di mulai dini hari daripada harus menunggu menyelesaikan kuliah, itu sangat lama. Dan nyatanya aku bisa tetap kuliah sambil bekerja.


Waktu cepat berlalu, aku menyibukkan diriku dengan bekerja dan bekerja. Hingga aku mendapat kabar bahwa Nikmah menikah dengan seorang pria yang lulusan ponpes. Ya aku sadar diri, bahwa diriku banyaklah dosa, hingga tak pantas mendampingi hidup Nikmah wanita yang dulu aku cintai sekaligus aku hancurkan.


Terlebih dia juga ikut masuk ponpes yang mungkin dia sudah bertaubat dan yang pasti memilih pria yang baik pula tidak seperti diriku. Aku hanya bisa melihat dan memperhatikannya dari jauh. Sejauh ini aku melihat pria bernama Aziz yang usianya bahkan di bawah usiaku juga Nikmah sendiri, memperlakukan Nikmah dengan sangat baik, mencintainya dengan tulus, dan aku pun perlahan melepaskannya, melepaskan wanita yang hingga kini masih menetap di hati.


Beberapa tahun berlalu, Ayah dan Ibuku terus mendesakku untuk segera menikah. Namun aku terus menolak dengan dalih ingin fokus bekerja dan memang belum ingin menikah. Yang padahal usiaku sudah lewat tiga puluh tahun namun aku masih betah sendiri, bukan karena apa, harus aku akui memang benar cinta pertama itu memang sulit untuk di lupakan.


Saat itu ada acara ulang tahun pernikahan Ayah dan Ibu, mereka mengundang Nikmah beserta suami dan anaknya. Aku terus bersikap biasa saja di hadapan mereka semua, uang padahal setengah mati aku menahan rasa cemburu pada suami Nikmah.


Hingga acara berakhir aku di suruh menginap di rumah okeh Ibu, aku yang memang tidak ingin membuat hari bahagia Ibu rusak, akhirnya mengiyakan. Tapi sayang saat aku sedang frustasi berusaha melupakan Nikmah, Juleha memanfaatkan keadaan.


Juleha memberikan minuman padaku, hingga membuatku tidak sadar malam itu. Pagi harinya kami, aku dan Juleha membuat gempar seisi rumah. Bagaimana tidak, kami tidur seranjang, tepatnya di kamarku, dalam keadaan sama-sama polos tidak memakai sehelai benang pun yang menempel di tubuh kami.

__ADS_1


Namun sayang semua jawabanku tidak ada yang membuat Atau dan Ibu percaya. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka lihat di kamarku, di atas ranjangku, yang katanya kami tidur saling berpelukan layaknya suami istri. Huh! Aku sungguh Shock, namun aku juga tidak ingin membuat Kedua orangtua yang telah tulus merawat dan menyayangiku layaknya putra mereka sendiri ini semakin kecewa padaku.


Dan setelah kejadian memalukan itu, aku terpaksa harus menikahi Juleha Adikku yang licik itu. Padahal seingatku aku tidak melakukan apapun padanya, jangankan melakukan hubungan badan, menciumnya saja aku tidak pernah melakukannya pada Leha.


Setelah beberapa bulan kami menikah, ku ajak dia tinggal di rumahku sendiri, awalnya Ibu dan Ayah menolak sebab di rumah tidak ada kami dua-duanya. Namun aku terus beralasan denfan dalih ingin mengajari Leha supaya menjadi istri yang mandiri, akhirnya mereka pun mengerti.


Dan di rumahku, aku sekalipun tidak pernah menyentuhnya. Tidur seranjang pun tidak. Aku memilih tidur di ruang kerja, menghabiskan waktuku di salah satu kamar yang ku jadikan sebagai kantor pribadi jika ingin mengerjakan suatu pekerjaan di rumah. Dalamnya sudah ku sulap ada satu ranjang walau berukuran lebih kecil di bandingkan yang ada di kamar utama, itu lebuh baik daripada dari tidur sekamar dengan rubah kecil.


Ya aku memilih hunian yang memang hanya ada dua kamar tidur saja, pikirku aku hanya tinggal sendirian waktu itu, sehingga tidak terpikirkan sampai sekarang ini. Namun sayang seribu sayang, Leha tak sekedar rubah kecil yang licik tetapi juga seekor kancil yang cerdik.


Suatu malam sepulang bekerja dan juga seusai mandi aku pergi ke dapur untuk membuat kopi lalu kembali ke kamar untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang tinggal sedikit, entah mengapa setelah menghabiskan secangkir kopi, tubuhku merasa kepanasan padahal aku sudah menyalakan pendingin ruangan, namun tetap saja, kepalaku juga seakan terasa berputar-putar, ya aku merasa nge-fly malam itu. Sepertinya ada yang salah dengan kopi yang aku minum tadi. Hingga tak lama pintu ruang kerjaku di buka dari luar, dan kulihat samar-samar wajah wanita cantik yang selama ini aku rindukan.


Kami semakin dekat, hingga tak sabar aku segera mencium bibirnya dengan sedikit kasar, aku sungguh merasa tidak tahan lagi ingin segera tersalurkan hasaratku yang telah lama terpendam ini. Kami berciuman saling membalas dan menggebu-gebu.


Ku bimbing dia naik ke atas ranjang kecil di sana. Dengan cetakan cepat ku lucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya dengan sekali tarikan tubuh mulusnya sudah polos. Begitu pun denganku. Aku kembali mencumbunya dengan mesra, tetapi sedikit tergesa-gesa, sebab efek yang tengah aku rasakan.


Hingga penyatuan tubuhpun terjadi, awalnya aku mendengar ia berteriak keras, saat otongku seperti mengoyak sesuatu di bawah sana. Namun aku sadar Nikmah 'kan memang sudah tidak utuh lagi, sebab aku yang telah merawaninya dulu. Atau mungkin ini karean kami sudah lama tak melakukannya, hingga ia menjerit seperti tadi.

__ADS_1


Hingga otongku sudah terbenam sampai dalam terasa sudah mentok aku mulai bergerak maju mundur, " Oh, sayang, punyamu semakin nikmat dan juga legit, Aah.." " Desisku disela-sela menikmati rasa yag sudah lama tak pernah aku rasakan.


Aku terus mendengar ia terus mendes*h di bawahku, kami terus bergerak, meliuk-liuk. Dan berganti-ganti gaya, yang dulu pernah kami lakukan bersama. Oh, padahal ini jauh lebih nikmat. Ternyata walau ia sudah menikah dan mempunyai empat orang anak, miliknya tetap sempit dan semakin nikmat. Kami terus mengulang beberapa ronde malam itu, sungguh aku merasa begitu sangat puas mendapatkan layanannya.


Hingga pagi harinya aku mulai terjaga, samar-samar aku mengingat kejadian semalam, ya aku ingat tadi malam habis bertarung panas bersama Nikmah, namun di sampingku tidak ada siapa pun. Apa ia sudah pulang? Au segera menyibak selimut tebal, mataku terbelalak saat melihat ada noda merah di atas seprai tempat tidur.


Dan aku tahu pasti, aku bukan anak kemarin sore yang tidak tahu arti noda tersebut. Dan jelas itu bukan milik Nikmah, ya bukan! Yang itu berarti semalam ituβ€” Huh! Ini pasti ukah rubah kecil Juleha. Entah mengapa aku semakin membencinya saja.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2