
Anniyah_PoV
*
Hari ini Zia aku izinin tidak masuk ke sekolah karena kejadian kemarin pagi itu, dan hanya mengantar Zaheera saja ke sekolah. Setelah ketiga putriku semuanya sudah tidur siang, aku segera beranjak bangun lalu berjalan ke arah belakang rumah menuju ke kamar mandi. Setelah keluar aku tak langsung masuk ke dalam rumah melainkan memperhatikan lahan kosong di samping rumah.
Aku jadi teringat ucapan Mbak tetangga depan rumah tadi saat aku pulang setelah mengantar Zaheera ke sekolah dan ia mengatakan, ' Sayang lho Mbak ada lahan kosong tidak dimanfaatkan, kenapa tidak di tanami sayuran saja atau jagung bisa untuk cemilan sendiri'. Begitulah kira-kira ucapannya tadi padaku saat kami selesai berbelanja sayuran di Ibu penjual sayur keliling l*****n kami.
Jika kuperhatikan samping rumah memang tidak terlalu luas, namun lebih dari cukup jika aku tanami sayuran untuk di konsumsi sendiri, ya benar juga kata Mbak Yuni, kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja aku membuat kebun sendiri.
Aku mengambil cangkul yang ada di samping kamar mandi, mulailah aku membuat tanah gundukan dan akan segera kusebari benih yang tadi sempat aku beli di kios depan sekolahnya Zia.
Walau di luar cuaca begitu panas karena teriknya matahari, namun tidak menyurutkan niatku untuk terus mencangkul tanah yang kering ini.
" Assalamualaikum,, wah Mbak lagi bikin apa nih? Aku denger dari rumah, kirain siapa siang-siang panas begini mencangkul, " Ujar Totok yang tiba-tiba datang mengintrupsiku, membuatku langsung menoleh ke arah luar dimana dia sudah berdiri di luar pagar.
" Waalaikumsalam, eh iya ini. Lagi iseng buat kebun sayuran Tok. Sudah tutup warungnya ya?" Tanyaku sembari mengusap peluh yang ada di dahi menggunakan ujung jilbab yang aku pakai.
" Sudah tutup lebih awal rada sepi Mbak, aku ajak aja Nenek untuk menutup warung, eh ternyata beliau juga setuju." Sahutnya yang kini perlahan membuka pintu bambu tersebut. " Mau di bantuin nggak Mbak, mumpung lagi nganggur ini." Tawarnya yang sepertinya terlihat serius.
" Nggak usah nanti ngrepotin, pasti kamu juga capek pulang dari warung, tinggal sedikit saja kok ini." Tolakku halus, agar ia tidak tersinggung.
" Ngrepotin apa sih, nggaklah Mbak orang aku banyak duduknya di warung tadi. Sini biar aku lanjutin, Mbak yang nanem benihnya saja. Memang rencananya mau di tanamin apa Mbak?"
" Sayur sama jagung dulu aja Tok, tadi belinya juga cuma sedikit kok, mau nyoba dulu." Sahutku sembari berjalan mengambil benih yang aku letakkan di gantungan dekat pintu belakang rumah.
" Wah lumayan tuh Mbak, jagungnya bisa buat persiapan tahun baru nanti, hehe.." Ujarnya yang yang terlihat begitu semangat.
Aku tinggalkan sebentar Totok ke dapur untuk membuatkan minuman dingin untuk kami, nanti saja bisa di lanjut lagi menanem benihnya.
" Di minum dulu Tok esnya" Tawarku sembari meletakkan nampan berisi teko dan gelas di kursi kayu kecil dekat kami.
" Terima kasih banyak Mbak, wah cocok ini dengan cuacanya." Sahutnya bersemangat yang langsung menuangkan esnya ke dalam gelas.
__ADS_1
Setelah itu kami pun segera menyelesaikan acara berkebun siang ini, tak terasa hari sudah hampir sore padahal tanahnya aja nggak begitu luas, namun terasa juga capeknya.
" Terima banyak Tok sudah di bantuin." Ujarku saat ia akan pamit pulang.
" Sama-sama Mbak, nggak usah sungkan begitu kayak siapa saja. Ya sudah Totok pulang dulu ya Mbak mau masak air hangat buat mandinya Nenek." Sahutnya sembari menutup kembali pintu bambu tersebut dari luar.
Setelah Totok sudah menghilang, aku pun juga ikut beranjak untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam rumah.
Saat baru masuk ke dalam kamar untuk beribadah, aku melihat anak-anak ternyata sudah pada bangun dan tengah bermain di atas ranjang. Ya Allah pantas saja tumbenan mereka kok belum pada bangun jam segini ternyata pada asyik bermain, si kecil juga nurut saja di kerjain kedua Kakaknya ini, bikin gemes saja tiga bocah ini..
" Ami sholat dulu ya Nak, Ya Allah ada-ada saja kalian ini." Aku benar-benar geleng-geleng kepala melihat kelucuan ketiganya.
Seperti biasa pukul lima sore semua pintu sudah aku tutup dan kunci semua, dan aku menyiapkan ember kecil untuk persiapan anak-anak jika malam kebelet pipis, karena aku benar-benar sedikit trauma dengan kejadian tadi malam di dapur, berharap malam ini tidak ada lagi gangguan dari mereka semua.
Saat sedang asyiknya nonton televisi bersama anak-anak, tiba-tiba kami semua mendengar pintu belakang seperti ada seseorang yang mendobraknya! Tentu saja kami semua terkejut, namun tidak bisa berbuat apa-apa padahal saat ini masih pukul delapan malam.
" Ami itu suara apa di belakang? Ada anjing orang yang masuk ya?" Tanya Zaheera dengan polosnya.
Karena takut anak-anak akan terus bertanya, lebih baik kita semua segera beristirahat agar tidak semakin gelisah dan penasaran, mumpung malam juga belum terlalu larut. Alhamdulillahnya anak-anakku langsung menuruti perintahku.
Entah pukul berapa aku kembali dikejutkan dengan suara-suara aneh dan gaduh di samping rumah, tepatnya di lahan kosong yang tadi aku tanami sayuran.
Apa mereka mengamuk karena samping rumah aku buat kebun tadi siang, tapi 'kan hakku yang sudah menempati rumah ini, ini sungguh aneh sekali padahal tidak ada niatan aku mengganggu mereka yang mungkin sudah lebih dulu tinggal disini.
Padahal waktu ini rumah juga sudah di pagari oleh suamiku, tetapi kenapa bisa ada yang masuk dan terus menggangguku. Apa berarti memagari rumahnya gagal?
Saat aku masih melamun memikirkannya, tiba-tiba dinding rumah samping tepat di sampingku seperti ada yang menendangnya dari luar, sehingga membutku sedikit terlonjak saking kagetnya. Dinding rumah ini memang terbuat dari triplek sudah pasti lama-lama bisa jebol juga.
Aku segera membaca ayat kursi juga ayat-ayat suci lainnya untuk mengusir mereka, agar mereka tak lagi mengangguku. Namun percuma rasanya itu hanya berlangsung sebentar saja.
Karena saking lelahnya aku tidak sadar sudah berapa lama tertidur, hingga adzan subuh berkumandang aku baru terjaga dari tidur panjangku.
" Alhamdulillah.." Ucapku lirih seraya mengusap satu persatu puncak kepala ketiga putriku yang masih terlelap.
__ADS_1
Aku berjalan ke arah depan rumah saat mendengar penjual sayur yang lewat setiap pukul lima pagi. Terlihat Ibu-Ibu tetangga sudah banyak yang berkumpul mengelilingi Bang tukang sayurnya.
" Eh Mbak Anniyah mau belanja juga, kemarin kemana kok tidak belanja?" Tanya salah satu Ibu tetangga yang melihat kedatanganku.
" Maaf kemarin bangun kesiangan saya Bu, jadinya tidak mendengar suara Bang sayurnya lewat." Sahutku apa adanya tanpa ada yang aku tutupi.
" Oalah, padahal suaminya tidak pulang kok ya masih begadang." Sahut Ibu yang lain yang terdengar sedikit sewot, entah apa masalahnya denganku, aku pun tidak paham.
" Husshh! Kamu ini ngomong apa Mbak Titik, begadang bukan berarti saat ada suaminya juga, Mbak Anniyah ini 'kan mempunyai tiga putri yang masih kecil-kecil sudah pasti repot sekali, saya membayangkan saja belum tentu sanggup seperti yang di jalani Mbak Anniyah, apalagi kamu yang hanya punya anak satu tapi tidak terurus dengan baik." Timpal Mbak Yuni yang berusaha membelaku.
" Sudah Mbak Yuni, saya tidak apa-apa kok. Bang saya hanya beli ini sama ini saja ya, totalnya berapa Bang?" Tanyaku sembari menyodorkan sebungkus paket sayur sop sama dua tempe di bungkus daun pisang yang masih terlihat segar.
" Totalnya sepuluh ribu Mbak." Sahut si Abang tukang sayur.
" Terima kasih Bang, saya duluan Ibu-Ibu, permisi.." Ujarku yang akan melangkah ke halaman rumah.
Bruuaakkk!!...
Baru dua langkah berjalan aku terkejut mendengar ada suara gaduh dari dalam rumah, aku buru-buru berlari melangkah masuk ke dalam untuk segera mengeceknya.
" Suara apa itu?"
" Iya suara apa ya?"
" Mungkin anaknya yang kecil jatuh!"
Saat menutup pintu aku sempat mendengar suara bisik-bisik dari para Ibu tetangga, namun tidak aku hiraukan. Aku lebih khawatir dengan keadaan anak-anakku saat ini, berharap ketiganya baik-baik saja.
~tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1