
Anna_PoV
*
Sepeninggalan suamiku, aku terduduk lemas di dekat ranjang Erika, seraya mendekap Erika yang sudah mulai tenang dalam pelukanku. Kenapa kehidupan rumah tanggaku jadi seperti ini? Sungguh aku masih sangat ketakutan dengan apa yang terjadi beberapa menit lalu.
Aku mulai sadar saat Erika mulai berceloteh, segeralah aku bangkit dan membawa bayiku untuk aku mandikan terlebih dahulu setelahnya aku menyuapinya dengan bubur yang sudah aku masak tadi pagi. Dalam diam aku terus memikirkan kejadian tadi pagi yang hingga sekarang masih membekas di hati dan juga pikiran.
Aku sudah berusaha menjadi istri yang terbaik untuk suamiku, namun sepertinya perjuanganku kini tidak berarti sejak kehadiran Erika di hidup kita. Aku tahu dia adalah putri yang aku lahirkan dari rahimku, tapi kenapa aku justru merasa tidak adil dan sedikit merasa marah terhadap putriku sendiri.
Walau tidak semestinya aku bersikap demikian, tapi sungguh hati kecilku sangat iri terhadapnya. Laki-laki yang aku cintai kini sudah jauh berubah hanya karena terlalu menyayangi dan mencintai putrinya dengan cara berlebihan.
Aku tidak tahu pasti kenapa dia cepat sekali berubah dalam kurun beberapa bulan saja sejak kelahiran Erika putri kami, ia pun tidak pernah mengatakan alasannya. Dan ini membuatku terus berpikir, bagaimana jika setiap hari dia marah hanya karena mendengar putrinya menangis? Dan besar kemungkinan apa yang ia lakukan tadi bisa saja terulang kembali, bahkan lebih dari pada yang tadi ia lakukan padaku!
Padahal yang namanya seorang bayi bisanya hanya menangis, sebab belum bisa berbicara untuk mengungkapkan keinginannya. Erika memang baru berusia enam bulan minggu lalu. Tentunya menangislah yang bisa ia lakukan untuk meminta sesuatu kepada kedua orangtuanya.
Seperti itu saja kenapa Bang Kholil tidak peka sama sekali, tidak bisa pengertian, jika istrinya ini juga manusia biasa, manusia yang tidak sempurna, banyak kekurangannya. Dan juga bagaimana bisa aku menyuruh seorang bayi untuk diam tenang tidak boleh sama sekali menangis?
Sepertinya lama-lama aku sendiri bisa saja tidak waras berhadapan dengannya, jika mengikuti semua keinginan dari suamiku. Entah bisikan dari mana, pikiranku seketika itu juga ingin pulang ke kampung halaman mungkin itu bisikan set4n atau apapun itu, sebab ini salah, tentu salah besar jika sampai kabur dari rumah laki-laki yang masih sah menjadi suamiku.
Tapi sekuat tenaga aku memikirkannya, hanya itu jalan satu-satunya untuk bisa menjadi penengahnya dan bisa meredam rasa kecewaku ini. Di kampung aku bisa sedikit lebih tenang disana sebab ada Ibu dan Mbak Anniyah yang akan membantuku menjaga Erika, sedangkan disini walau juga ada Mama mertua aku merasa sungkan tidak enak hati, terlebih aku belum siap untuk bertemu dengan suamiku, jujur aku masih trauma dengan apa yang ia lakukan padaku tadi pagi..
Bagaimana bisa seorang suami menodongkan celur*t ke leher istrinya sendiri? Ini benar-benar membuatku shock berat. Ya bisa saja aku di bunuh olehnya suatu hari nanti bukan? Ini sungguh membuatku sulit berpikir jernih. Dengan cepat aku kemasi pakaianku dan juga pakaian Erika ku masukkan ke dalam tas berukuran sedang, tidak semua yang penting ada pakaian ganti saja di rumah nanti. Tanpa meninggalkan apapun pada suamiku, aku bergegas cepat keluar rumah dengan menggendong Erika dan menenteng tas karena takut ketahuan Mbak Sum yang sedang mencuci pakaian di belakang rumah.
__ADS_1
Aku hanya membawa barang penting milikku saja dan uang simpanan yang selama ini aku simpan sendiri, tanpa mau membawa barang milik suamiku. Tak lama mobil online yang aku pesan sudah sampai di depan rumah, segeralah aku masuk ke dalam." Mau ke terminal ini ya Mbak?" Tanya si supir menatapku dari kaca spion depannya.
" Iya benar Pak, tolong cepat ya." Titahku sedikit memohon sembari melihat kesekeliling rumah, takut jika ada orang yang melihatku. Sungguh aku seperti pencuri yang takut tertangkap.
" Baik Mbak." Perlahan mobil pun melaju meninggalkan rumah mertuaku. Seketika aku bernapas lega, si supir nampaknya merasa heran terhadapku, sekali-sekali ia mengintip ke spion, namun aku cuek dan tidak meresponnya.
Hingga setengah jam kemudian mobil pun mulai memasuki gardu terminal dan berhenti di tempat parkir tidak jauh dari pintu masuk loket, aku segera membuka pintu samping untuk turun setelah menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribuan kepada si supir.
" Mbak ini uang kembaliannya!" Teriaknya saat aku sudah berhasil turun dari mobil.
" Simpan saja buat Bapak, terima kasih banyak sudah mengantar saya." Sahutku berusaha tersenyum kepada beliau, lalu berjalan ke arah pintu masuk keberangkatan.
" Biar saya bantu membawakan tasnya Mbak." Tawar si Bapak supir yang ternyata mengikutiku dari belakang.
" Tidak usah Pak, saya bisa sendiri kok."
Tak lama kami sampailah di dalam bus kota tujuanku, dan alhamdulillahnya aku mendapat bangku duduk paling depan tepat di belakang sang supir karena bus memang baru saja masuk ke antrian keberangkatan.
" Sekali lagi terima kasih banyak ya Pak sudah membantu saya, dan ini untuk Bapak." Ujarku seraya menyodorkan selembar pecahan uang dua puluh ribu kepada beliau.
" Sama-sama Mbak, eh tidak perlu di kasih lagi Mbak, yang tadi saja uang Mbak masih ada kembaliannya di saya. Kalau begitu saya pamit dulu, hati-hati ya Mbak, semoga sampai tujuan dengan selamat, Aamiin." Tolaknya seraya berpamitan.
Aku kembali mengucapkan terima kasih kepada si Bapak supir sebelum beliau turun dan kembali ke mobilnya, melihatnya aku jadi merindukan Bapakku. Pun aku memasukkan kembali uangku ke dalam dompet, sembari bernapas lega, akhirnya sebentar lagi aku akan meninggalkan kota besar ini.
__ADS_1
Setelah menunggu setengah jam-an akhirnya banyak para penumpang yang mulai masuk, dan bus pun mulai melaju meninggalkan pelataran terminal. Sepanjang perjalanan aku terus berdoa, semoga niatku ini tidak membuat suamiku semakin murka setelah tidak menemukanku dan putrinya di rumah, dan semoga dia mengerti dengan keadaanku saat ini.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih hampir empat jam-an. akhirnya aku telah sampai di kota kelahiranku, walau jarak dari rumah masih lumayan jauh dari tempat pemberhentian bus, namun dipasar inilah yang cukup dekat dari rumah.
Aku berjalan ke arah pengkolan ojek di tepi jalan." Mas bisa anterin saya ke kampung Ringinjowo?" Tanyaku kepada para ojol tersebut.
" Ayo naiklah Mbak, biar saya anterin."
Aku segera naik ke jok belakang, sementara tasku di letakkan di depannya. Segeralah motor si ojol mulai melaju pelan. Aku melirik putriku yang masih terlelap, untungnya Erika tidak rewel sepanjang perjalanan tadi, hanya minta asi saja.
Hingga beberapa saat kemudian tibalah aku di halaman depan rumah kedua orangtuaku. Setelah membayar ongkos kepada si ojol, sejenak aku terdiam menghirup udara segar sebanyak-banyaknya yang tentunya selalu membuat pikiranku fresh.
Setelahnya aku berjalan ke arah teras tidak sabar rasanya memeluk semua anggora keluargaku. Pasti semuanya terkejut melihat kedatanganku ini. Tapi biarlah itu nanti saja di pikirkan, yang penting aku sudah lega, sudah berada di rumah orangtuaku sendiri.
" Assalamualaikum..."
.
.
.
.tbc
__ADS_1
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.