
Author_PoV
*
" Cup, cup sayang... sudah ya Nak. Ayo kita cari Ami lagi ya." Ujar Aziz berusaha membujuk putrinya Zaheera yang terus saja menangis sedari tadi sebab tidak menemukan Ibunya saat bangun tidur.
Setelah pernyataan yang Aziz katakan tadi pagi, wanita yang tengah hamil lima bulan lebih itu pergi entah kemana meninggalkan rumah tanpa pamit kepada siapapun. Sehingga kini Aziz kelabakan mencarinya di bantu oleh Anna yang tidak tahu apa-apa perihal masalah tersebut.
Saat ini Anna sendiri tengah mencari ke rumah Neneknya barangkali Mbaknya itu ada disana. Namun sudah lebih dari satu jam-an Anna belum juga kembali, yang entah sedang apa disana. Aziz sendiri bingung mengatasi dua anaknya yang rewel ingin bertemu dengan Ibu mereka.
" Abi, Ami kemana? Zia mau Ami." Seru Zia yang baru kembali dari kamar mandi.
Di tengah keadaan yang panik juga genting, tiba tiba sang Kakek yang baru saja pulang dari mencari rumput terlihat bingung juga karena merasa heran lantaran melihat menantunya di landa kebingungan seorang diri di tambah lagi satu cucunya yang menangis kencang, dia juga tidak melihat putrinya Anniyah.
" Lho ada apa ini Ziz? Kenapa Zaheera menangis kencang begitu?" Tanyanya saat sudah berdiri di hadapan menantu prianya.
Sebenarnya Aziz tidak ingin memberitahu kepada Bapak mertuanya perihal istrinya yang menghilang, namun apalah daya saat mendengar suara tangis kedua putrinya ia pun menyerah.
" Sebenarnya Anniyah tidak ada di rumah Pak, Aziz sendiri tidak tahu perginya kemana, sebab sepulang dari mushola tadi Aziz kira dia ada di belakang rumah, ternyata setelah Aziz cari kemana-mana tidak ada." Adunya apa adanya.
" Ya Allah.. Dimana anak itu, lalu kamu sudah mencarinya di rumah Nenek?" Tanya Sang mertua yang ikut panik memikirkan putri keduanya itu.
" Kebetulan saat ini Anna yang sedang mencarinya ke rumah Nenek Pak. Aziz mau mencarinya di luar tapi Zaheera terus saja menangis tidak mau diam, sudah saya buatkan susu juga dia malah tidak mau." Terangnya dengan hati yang terus gelisah.
" Huh! Kemana dia, Ibumu juga belum pulang?" Tanya sang mertua kembali seraya menggendong cucu pertamanya.
" Assalamualaikum..ada apa ini? Kok si kecil nangis kencang begitu hingga sampai jalan besar sana kedengeran lho suaranya." Seru Ibu mertuanya yang baru saja pulang.
__ADS_1
" Waalaikum salam."
" Kok tumben baru pulang Bu?" Bukannya menjawab, sang suami yang justru melayangkan pertanyaan lain.
" Iya tadi Pak sindernya mengadakan acara di dekat rumahnya selesai bekerja, jadi Ibu di suruh bantu bantu sama yang lainnya juga, Ibu juga di kasih baju ini sama istrinya." Sahutnya seraya berjalan mendekat ke arah menantu dan cucunya yang masih saja menangis.
" Putrimu Anniyah nggak ada di rumah lho Bu, entah kemana anak itu meninggalkan putrinya yang sedang tidur." Sekarang giliran suaminya yang mengadu.
" Kok bisa! Lalu dimana dia sekarang? Kamu sudah mencarinya Ziz!?" Raut wajah ibu mertuanya langsung berubah garang, layaknya seekor induk ayam yang kehilangan anaknya.
" Sudah Bu tapi di sekitaran rumah saja, sebab Zaheera menangis sedari tadi, Aziz jadi bingung dan tidak bisa berbuat apa apa." Sahut sang menantu yang sedikit menyesal karena tidak becus menjaga istrinya sendiri.
" Haduh... ada ada saja lho, bentar ya Nenek mau ke belakang dulu bersih-bersih." Ujarnya kepada sang cucu yang belum paham, sebelum ia berlalu ke belakang.
Dan entah bersih bersih yang seperti apa menurut wanita paruh baya tersebut tak sampai sepuluh menit wanita itu sudah kembali dengan tubuh sedikit segar dan juga sudah berganti pakaian.
" Baik Bu. Aziz titip anak anak dulu kalau begitu, Assalamualaikum." Pamitnya yang berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci motor lalu bergegas keluar rumah.
Aziz berharap istrinya belum jauh dari desa ini dan semoga ia segera menemukannya, ia sangat takut terjadi apa apa kepada wanita yang telah melahirkan dua putri untuknya. Terlebih kondisinya yang sedang hamil besar, tentunya membuatnya terus kepikiran juga tidak tenang di sepanjang perjalanan mencari keberadaan istrinya tersebut.
Hingga sampai ke perbatasan desa sebelah Aziz tetap belum menemukan istrinya. Ia pum memutuskan mencari ke desa tersebut siapa tahu wanita hamil itu ada disana, begitu pikirnya.
Sudah hampir satu jam-an ia berkeliling, namun sosok yang sedang ia cari masih belum di temukan. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu jika istrinya itu mempunyai sahabat dekat di kampungnya.
Ia pun memutuskan untuk berputar balik kembali ke kampung istrinya, dan menuju ke rumah sahabat Anniyah yang bernama Tini, beruntung ia pernah mengantarkan istrinya itu kesana waktu itu.
***
__ADS_1
Sementara di tempat lain.
Wanita yang sedang di cari-cari oleh anggota keluarganya saat ini justru tengah merenung seorang diri di warung kosong dekat dengan jembatan yang menghubungkan antar desa.
Memang jaraknya lumayan jauh dari kampungnya sendiri, mungkin karena banyaknya pikiran membuatnya tidak sadar sudah pergi sejauh itu, juga tidak sadar dengan kondisinya yang hamil besar yang seharusnya banyak beristirahat.
Wanita itu sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa di siang bolong dirinya justru memutuskan untuk keluar dari rumah. Tak di pungkiri pernyataan dari suaminya tadi pagi sangat menyiksa juga menyakiti perasaannya.
Walau suaminya tadi sudah berusaha juga terus menerus menjelaskan yang sejujur-jujuran namun tetap saja rasa sesak itu tidak bisa hilang begitu saja dari dalam hatinya.
Siapa yang tidak sakit hati setelah di khianati oleh suaminya sendiri. Wanita mana saja pasti akan sangat kecewa juga marah bukan, mendengar suaminya menikah kembali dengan wailnita lain. Terlebih wanita lain itu adalah mantan istrinya sendiri.
" Apa ini adalah karma yang Tuhan kasih padaku, saat dulu aku pun sudah merebut kebahagian wanita lain, tapi saat itu aku tidak tahu yang sebenarnya jika laki-laki yang menjadi suamiku telah beristri. Sedangkan Mbak Nikmah jelas-jelas sudah tahu jika aku ini masih menjadi istri sah-nya Bang Aziz, tapi kenapa? Kenapa dia tega?" Lirihnya dengan berderai air mata.
" Mungkin aku memang sudah di takdirkan menjadi yang kedua untuk selamanya...Sudah pasti Bang Aziz lebih memilih wanita itu yang jauh lebih sempurna dan telah melahirkan empat orang anak, tidak seperti aku yang hanya wanita pengangguran ini..." Imbuhnya yang terus saja tidak terima, dan merasa tidak layak..
Terkadang emosi dan kemarahan membuat kita lupa akan tindakan-tindakan yang kita lakukan, dan betapa bodohnya kesalahan yang kita lakukan saat itu.
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.