Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Sesi Curhat


__ADS_3

Aziz_PoV


*


" Ya tidak masalah, memang akulah yang salah waktu berkunjung. Namun di duniaku saat ini masih siang hari, sedangkan di duniamu malam hari, dan begitu kebalikannya." Sahutnya dalam hati tanpa menggerakkan mulutnya yang begitu mengerikan jika ada orang yang bisa melihat itu terlihat begitu seram sebab ke empat gigi taringnya yang begitu panjang atas dan bawah keluar dari sela kedua bibirnya.


Ya dia adalah tamuku tidak kasat mata yang hampir setiap malam selalu berkunjung hanya untuk mengobrol denganku. Panggil saja dia Pak Wowo, dan entah sudah berapa ratus tahun usianya saat ini.


" Lalu malam ini ingin curhat apalagi?" Todongku yang seakan tahu tujuannya datang malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya yang selalu mendengar cerita cinta juga keluhan darinya.


Ternyata tidak hanya manusia saja yang bisa merasakan indahnya jatuh cinta, jin dan syetan pun ternyata bisa. Dan lucunya lagi makhluk yang terlihat begitu seram juga menakutkan berwarna hitam pekat karena bulu lebatnya ini ternyata mempunyai perasaan yang sedikit melow juga sensitif. Dan yang pasti Anni tidak tahu menahu tentang tamu astralku ini, yang nanti bisa saja membuatnya merasa ketakutan.


" Biasalah Cak, si Miska selalu saja membuatku kesal, sudah punya anak juga masih ingin tebar pesona dengan para bujangan yang baru saja meninggal, mau cari yang bagaimana lagi coba? Dan juga suami mana yang tidak kesal jika melihat istrinya berkelakuan seperti itu!" Sungut si Wowo kepadaku.


Ingin rasanya aku tertawa terbahak, namun takut dosa sebab sedang menertawakan makhluk yang sedang bersedih atau galau istilah gaulnya. Entahlah, Pak Wowo ini sudah seperti anak remaja saja yang sedang kasmaran, melihat pasangannya tebar pesona sedikit saja sudah kelipungan seperti kebakaran rambut-rambutnya yang hampir menutupi seluruh tubuh besarnya itu. Lalu bagaimana jadinya jika istrinya itu di embat oleh Wowo lain, atau makhluk lain, mungkin Wowo akan mengakhiri hidupnya dengan cara membakarkan dirinya di kobaran api yang sangat besar.


" La terus gimana kabarnya si Dini yang selalu menempel kepada Pak Wowo? Pasti Mbak Miska juga menahan kesal juga amarah bukan? Lalu apa bedanya?" Sahutku yang menengahi juga sekedar mengingatkannya saja, hingga membuatku kembali sedikit kesal.


Apalagi teringat kejadian tadi saat si Dini berusaha mengganggu juga menjahili aku dan Zia yang sudah akan tidur. Ya aku akui si Miska dan si Dini ini memang mahluk yang suka sekali mengganggu orang juga anak kecil, namun Dini-lah yang jauh lebih jahil di bandingkan dengan Miska yang kemana-kemana selalu menggendong putrinya, sedangkan Dini katanya Wowo dulunya adalah seorang janda muda yang cantik yang gantung diri di pohon sirsak, ya pohon sirsak yang ada di pinggir jalan sana. di tambah pakaiannya yang senang sekali memakai pakaian berwarna merah terang layaknya warna darah, pakaian terakhir yang ia pakai sesaat sebelum melakukan aksi sesatnya. Na'udzubillah..

__ADS_1


" Eh, kalau yang itu..."


Terlihat sekali Pak Wowo ini sedang bingung untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin adalah sebuah penyangkalan, namun banyak bukti nyata yang dia perlihatkan padaku walau itu terlihat sekilas saja, tapi tetap saja aku mengetahuinya.


" I-itu berbeda denganku Cak, jika laki-laki sah-sah saja berdekatan dengan banyak wanita, la dia nggak ada namanya wanita poligami atau mempunyai suami lebih dari satu, dimana-mana itu pria yang mempunyai banyak dayang yang melayaninya, bukankah di duniamu juga seperti itu, namun bedanya di dunia kami lebih dari sepuluh wanita pun tidak masalah, sah-sah saja bukan." Sahut Wowo yang merasa membela dirinya sendiri.


" Ya itu memang benar, namun di dunia kami hanya di batasi empat wanita saja yang bisa kami nikahi, dan itupun jika kami para suami bisa bersikap adil kepada para istri-istri kami. Namun jika tidak bisa bersikap demikian, sebaiknya satu istri saja cukup yang penting rumah tangga sejahtera. Aku dulu juga pernah mengalami hal itu, namun melihat penghianatan di depan mata suami mana yang tidak sakit hati?! Maka dari itu aku lepas istri pertamak." Terangku panjang lebar.


" Jadi Cak Aziz ini pernah menikah dua kali? Dan istri yang disini istri kedua, berarti berapa anak-anakmu Cak dari istri muda dan juga istri tua?" Tanyanya yang mungkin penasaran.


" Dengan istri pertamaku aku mempunyai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan, sedangkan dengan istri kecilku ini aku mempunyai dua orang putri. Terlepas hubunganku dan mantan istri, nafkah kepada emke empat anakku tetap aku berikan sebab itu tanggung jawabku selagi mereka belum bisa bekerja sendiri." Pak Wowo terlihat mangut-mangut mengerti.


Ya Wowo dan si istrinya Miska ini dulunya juga manusia seperti kita, namun berubah menjadi seperti sekarang sebab konon katanya mereka sangat jauh dari Tuhannya, tidak pernah melakukan ibadah, puasa ataupun bersedekah. Ya walau katanya mereka berkeyakinan berbeda denganku, pasti agama lain pun akan tetap melakukan ibadah walaupun caranya berbeda.


" Begini saja jika sudah berkeluarga dan yakin juga dengan pasanganmu, jauhi dan singkirkan si Dini penggoda itu. Terlebih kamu dan Miska sudah mempunyai buah hati yang akan terus memperkuat hubungan kalian berdua. Akan tetapi jika kamu sudah tidak percaya lagi dengan pasanganmu dan lebih percaya kepada wanita penggoda itu tinggalkan saja istrimu, atau nikahi wanita itu dan besar kemungkinan kamu juga akan sulit untuk bertemu dengan putrimu sendiri nantinya" Ujarku memberikan saran kepadanya.


" Baiklah terima kasih banyak atas sarannya Cak, ini sungguh berarti sekali bagiku yang minim pencerahan seperti ini." Balasnya.


Dan setelah kami mengobrol panjang kali lebar tentang masalah lainnya, tak lama aku pun berpamitan ingin beristirahat sebab malam semakin larut juga besok seuasai sholat subuh aku akan kembali ke kota untuk pekerjaanku, menjalani rutinitasku kembali mencari nafkah untuk keluargaku.

__ADS_1


***


Pagi pun tiba, aku dan Anni istriku baru saja selesai beribadah dan saat ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi. Anni juga telah menyiapkan pakaian ganti untukku di dalam tas ransel, yang langsung aku gendong di punggungku.


" Abi pergi dulu Mi, hati-hati di rumah jaga anak-anak dan jag kesehatan." Anni segera mencium punggung tanganku. Lalu aku beralih mencium tangan Nenek." Nek Aziz berangkat dulu, Assalamualaikum." Pamitku yang kemudian berjalan ke arah motor yang sudah aku keluarkan lebih dulu di halaman rumah.


" Walaikum salam, hati-hati." Ujar Anni dan Nenek secara bersamaan. Aku pun mulai melajukan motorku ke jalanan yang masih gelap dan juga sepi, dan jangan lupakan dinginnya udara pagi yang seakan menusuk hingga ke tulang-tulang sendi tubuhku.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2