
Aziz_PoV
*
Alhamdulillah malam ini aku bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan anak dan istriku yang sudah hampir satu minggu ini tidak bertemu sebab karena pekerjaanku yang yang harus ke luar kota di ajak temanku Roni.
Alhamdulilah juga kini aku bisa mendapatkan pekerjaan walau pekerjaan itu tidaklah menentu. Kadang aku di ajak oleh Roni untuk mengambil barang-barang aneh dan sangat kuno seperti keris, pisau kecil, atau barang semacamnya yang besar kemungkinan sudah berumur puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu.
Untuk sementara aku kerjakan dulu saja pekerjaan ini, daripada aku harus menganggur tidak mendapatkan penghasilan. Sedangkan aku harus menghidupi istri dan juga ke lima anak-anakku.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam dari rumah sahabatku Roni, akhirnya motorku memasuki halaman rumah sederhana yang berukuran sedang. Dan ini adalah rumah Pakde kenalanku saat aku masih mondok dulu. Dan aku bersyukur di pertemukan kembali dengan beliau di saat aku bingung mencari kontarkan di sekitar kota kelahiranku ini.
Walau jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah orangtuaku, namun aku yakin Anni tidak pernah pergi kemana-mana selain denganku. Setelah memarkirkan motor di depan teras, aku segera mengetuk pintu dan mengucap salam pelan, sebab maoam sudah larut takut menganggu tetangga yang sedang beristirahat di rumah mereka masing-masing.
Hingga tak lama pintu depan pun terbuka, dan muncullah sosok istriku yang cantik dengan wajah bantalnya yang sedikit di tekuk, sungguh menggemaskan sekali ekspresinya itu, pasti aku sudah mengganggu mimpi indahnya.
" Wa'alaikumsalam, Abi sudah pulang?" Anni segera menyalamiku, dan aku pun mencium keningnya begitu kami sudah berada di dalam rumah.
" Apa kalian semua baik-baik saja sayang?" Tanyaku sembari berjalan masuk ke arah ruang tengah di ikuti Anni dari belakangku untuk meletakkan tas berukuran sedang yang berisi pakaianku dan juga tas slempang kecil yang selalu aku bawa kemana-mana.
" Alhamdulillah kami semua baik dan sehat Bi. Abi sudah makan? Mau bersih-bersih dulu atau makan dulu?" Tanyanya yang kini sudah ada di hadapanku.
" Belum sayang, tapi Abi mau ganti pakaian dulu, tadi sudah mandi di ruko Roni. Oh iya, ini Abi bawa dua bungkus nasi goreng, temani Abi makan ya." Ku keluarkan kresek berwarna putih dari dalam tas yang memang tidak tertutup itu yang isinya bungkusan.
" Ya sudah sini Ami siapkan makanannya, Abi ganti saja dulu." Pintanya, aku segera berjalan ke arah kamar, lalu membuka pintu itu dengan sangat hati-hati agar Zia putriku tidak terbangun karena suara berisik dari Abinya.
__ADS_1
Tak lama aku pun keluar dari kamar dengan pakaian tidur yang ternyata sudah di siapkan oleh istriku entah sejak kapan. Ya memang tadi pagi aku sempat mengirimi pesan kepada istriku jika malam ini aku akan pulang.
Kulihat Anni yang sedang berdiri di depan wastafel, aku pun berjakan menghampirinya." Sayang sudah siap? " Bisikku mesra yang langsung memeluknya dari belakang.
Tanganku otomatis mengusap pelan perutnya yang sudah buncit sembari mengecupi tengkuk juga belakang telinganya, yang membuatnya seketika meremang, kulihat bulu halus di tubuhnya yang langsung berdiri tegak yang seolah kaget saat aku tiba-tiba menciumnya, membuatku terkekeh dalam hati." Sayang aku sangat merindukanmu." Bisikku lagi yang kini mulai lebih dari yang sebelumnya.
" Eummhh, Bi. Kita makan dulu." Tegurnya lirih yang aku yakin ia sedang menahan sesuatu yang pasti apa yang aku lakukan sudah membuatnya terpancing.
" Tapi aku ingin memakanmu lebih dulu sayang. Apa kau merasakannya?" Lirihku yang semakin berat saja, sembari memberinya kode bahwa otongku di bawah sana sudah tegang ingin di keluarkan.
" Ish, makin lama kok makin mesum sih Abi ini, gitu kok di panggil ustadz!" Keluhnya yang langsung memutar tubuhnya menghadapku. Kami pun jadi bertatapan.
" Ya apa salahnya sih sayang, walau ada yang memanggilku demikian aku tetap saja laki-laki yang butuh itumu. " Sahutku yang semakin menggodanya.
" Jangan dong, okay-okay baiklah ayo kita makan dulu, tapi setelah itu, Abi tengokin dedek ya?" Tawarku yang terus saja berusaha, agar malam ini mendapatkan jatahku, kami pun segera menyantap dua bungkus nasi goreng langgananku dulu. Aku majan sedikit cepat, sebab aku sudah tidak sabar lagi.
Ya kalian bayangkan saja hampir satu minggu aku tidak menyalurkannya pada istriku, dan sudah pasti bagaimana rasanya kepala atas juga kepala bawahku yang pasti cenat-cenut tidak karuan karena tidak bisa bertemu dengan pawangnya.
Entah sejak kapan aku sangat mencintai istri kecilku ini, yang padahal dulu kami menikah saja terpaksa, tanpa dasar rasa cinta dan juga sayang dari kita masing-masing. Namun seiring berjalannya waktu rasa cinta dan juga sayang itu ternyata mulai tumbuh subur hingga sampai saat ini.
Sungguh aku sangat bersyukur mempunyai istri seperti dirinya. Walau sekarang ini kehidupan kami sudah tidak sama seperti dulu, alias kami mulai dari nol lagi, tapi Anni istriku sama sekali tidak mengeluh, mungkin karena memang dulunya ia sudah terbiasa hidup sederhana dan itu membuatnya tidak kaget lagi, karena terbiasa.
Berbeda jika itu adalah Nikmah mantan istriku, aku yakin dia tidak bisa hidup seperti yang kami jalani sekarang ini, aku yakin itu. Astagfirullah! Kenapa aku jadi membanding-bandingkan mereka berdua, wanita yang sama-sama telah melahirkan anak-anakku.
Setelah selesai menggosok gigi dan juga mencuci muka, aku pun keluar dari kamar mandi dan duduk di sofa panjang yang terdapat di sudut kamar kami. Sebab tidak mungkin kami berdua melakukan hubungan suami istri di samping putriku yang sedang terlelap di atas ranjang sana.
__ADS_1
Sambil menunggu Anni yang sedang di kamar mandi, aku pun mengecek ponselku yang ternyata ada pesan masuk dari Roni sahabatku, yang isinya katanya besok aku di suruh ke rumahnya pagi hari karena ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan padaku, entah apa itu, aku pun segera membalas pesannya dan mengatakan Insya Allah akan datang mungkin agak siangan.
Karena terlalu sibuk membalas pesan dari dari Roni, membuatku tidak sadar jika Anni istriku ternyata sudah keluar dari kamar mandi. Ia berjalan di hadapanku menuju ke sisi ranjang yang biasa ia tempati untuk tidur.
Namun dengan cepat aku segera mencekal sebelah lengannya sedikit kuat hingga membuatnya oleng ke samping dan tepat sasaran ia pun duduk di atas pangkuanku. Tidak sia-sia aku menariknya tadi.
" Aww, Abi, Ishh! Kalau aku jatuh ke bawah gimana coba?" Omelnya sembari mengelus perutnya.
" Astagfurullah, maaf sayang aku sungguh melupakan kamu yang tengah hamil, apakah sakit?" Tanyaku sedikit panik, bagaimana bisa aku lupa jika istriku sedang hamil saat ini, Ya Allah,, ini pasti karena terlalu lama aku menahannya hingga aku hampir saja mencelakakan istri dan juga calon anakku.
" Sudahlah sebaiknya kita tidur, kamu pasti juga lelah!" Ujarnya seraya bangkit dari atas pangkuanku dan berjalan menuju ranjang untuk tidur, yang otomatis langsung membuatku terkejut menganga menatapnya yang mulai merebahkan diri dan memeluk putri kami Zia yang masih terlelap.
Ya Allah cobaan apalagi ini..?
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1