Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Menyampaikan Niat.


__ADS_3

Antoni_PoV


*


Mendengar pertanyaan dari Najwa, entah aku harus menjawab apa pertanyaannya, jika aku berkata jujur aku takutnya ia tidak mendukung keinginanku ini, apa yang harus aku katakan?!


" Tidak ada aa-apa sayang, ayo sebaiknya kita segera istitahat, kamu pasti juga lelah mengurus putra kita, apalagi tengah malam juga harus bangun." Ujarku yang ingin mengalihkan pembicaraan tentang masalah ladang Nenek.


Nanti saja sebaiknya aku katakan padanya jika aku sudah bicara dengan Nenek. Aku pun tidur sambil memeluk tubuh istriku bagian bawah, sebab selama empat puluh hari lamanya Najwa harus tidur setengah berbaring di sandaran ranjang.


Entah apa artinya aku tidak mengerti, hanya saja ini semua Ibuku yang menyarankan, bahkan Anniyah dan Anna sewaktu lahiran juga merasakan hal yang sama, dan ini hanya berlaku saat seorang wanita melahirkan untuk pertama kalinya, setelahnya tidak perlu.


***


Pagi harinya aku membantu Bapak yang sedang menyusun kayu bakar ke dalam gerobak yang akan di antar ke pemasok kayu. Sekitar pukul tujuh pagi Bapak pun berangkat seorang diri. Sedangkan Ibuku sudah lebih dulu berangkat bekerja menjadi buruh pabrik sekitar pukul enam pagi tadi, jadi tinggallah kami berdua di rumah.


Selesai sarapan aku pun langsung mencuci pakaianku, istri dan juga putraku. Kasihan Najwa yang setiap malam selalu begadang belum lagi jika di tambah harus mencuci baju kami, jadi biarlah aku saja yang mencucinya. Mumpung aku juga libur bekerja hari ini, aku ingin menyempatkan ke rumah Nenek.


" Sayang, aku mau ke rumah Nenek dulu ya, sebentar." Pamitku seraya mengecup sebelah pipi Nino yang sedang asik menyusu Bundanya.


" Mau ngapain kesana Mas?" Tanyanya menatapku heran.


" Mas ada urusan sebentar sama Nenek, kamu di rumah sendiri nggak apa-apa 'kan? Mas janji nggak akan lama disana." Ujarku menjelaskan agar ia tidak kepikiran.


" Ya sudah tapi benar ya jangan lama-lama, nanti—

__ADS_1


" Assalamualikum,," Belum selesai Najwa berucapa, terdengar suara seseorang di teras depan, dan suara itu sepertinya suara Nenek.


" Sebentar sayang." Aku pun segera keluar dari kamar, dan benar saja Nenek lah yang datang ke rumah, ada apa ya pagi-pagi datang ke rumah?


" Nenek, tumben masih pagi kesini, ada apa Nek?" Tanyaku dengan heran.


" Tentu saja Nenek mau memandikan cicitku, kamu ini aneh! Mana cicitku yang ganteng itu?" Sahutnya sedikit ketus padaku dan langsung berjalan masuk ke arah kamar kami.


" Oh, kirain ada apa? Lho memangnya Nenek yang biasanya mandiin Nino?" Tanyaku yang baru tahu akan hal itu.


Namun ini sungguh sangat kebetulan sekali, mumpung Nenek yang kesini sendiri, lebih baik aku katakan saja niatku tentang masalah ladangnya yang ingin aku urus. Aku yakin Nenek pasti setuju secara aku adalah cucu laki-lakinya yang tentunya bisa di handalkan, aku jadi tidak sabar untuk membahasnya.


" Biasanya 'kan Anniyah toch yang datang membantu mandiin tole setiap hari. Dan sekarang, karena Nenek juga 'kan libur jualannya di sekolah jadi ya Nenek sajalah yang kesini. Soalnya tadi Zaheera badannya agak hangat, jadi Nenek suruh Anni di rumah saja jagain anak-anaknya, kasihan 'kan. Ayo Le mandi dulu yuk sama Nenek uyut." Jawab Nenek menjelaskan panjang lebar padaku lalu bersiap akan menggendong putraku yang varu selesai menyusu.


Dan aku baru tahu jika ternyata Anniyah-lah yang membantu istriku paska Najwa melahirkan. Dan aku sendiri bahkan berniat akan merebut ladang Nenek darinya, tapi niatku 'kan juga baik untuknya, mana bisa ia yang seorang wanita mengurus ladang itu seorang diri. Dan aku yakin Aziz juga tidak akan bisa membantu mengurusnya.


" Sepertinya mau tumbuh gigi lagi. ya biasalah anak kecil, ya sudah sana." Titahnya, aku pun mengangguk.


Setelah selesai menyiapkan, aku pun kembali berjalan ke kamar secara bersamaan Nenek juga baru saja keluar seraya menggendong Nino dalam gendongan beliau yang sudah di lucuti pakaiannya.


" Eh putra Ayah sudah siap mandi aja, hati-hati ya Nek mandiin Ninonya ini." Ujarku yang seolah sedang berbicara dengan putraku yang masih bayi itu, sebelum Nenek berjalan ke arah belakang.


" Kamu ini seperti tidak percaya sekali dengan Nenek! Memangnya siapa yang dulu mengurusimu, memandikanmu, menyuapimu? Ya tetep Nenek Ton, sebab dulu Ibu dan Bapakmu sama-sama bekerja berangkatnya subuh. Huh, kamu ini! Apa kamu pikir Nenek ini seperti gadis ingusan kemarin sore, begitu?" Desis Nenek terlihat sangat kesal yang ternyata tersinggung dengan kata-kataku barusan, sungguh aku sangat terkejut mendengarnya.


" Bukan! Bukan begitu Nek, maafin Anton Nek, sungguh Anton tidak bermaksud demikian kepada Nenek, tolong maafin Anton ya jika kata-kata Anton tadi menyinggung Nenek." Lirihku memelas padanya, aku hanya tidak ingin ada pertengkaran antara aku dan Nenek. Dan lebih parahnya bisa saja Nenek tidak setuju jika ladangnya aku yang mengurus.

__ADS_1


" Halah kamu ini!" Ketus Nenek sembari melenggang pergi dari hadapanku.


Ya Allah ada-ada saja yang terjadi, padahal aku hanya ingin bercanda tadi, tidak menyangka saja justru bercandaku membuat Nenek marah dan kesal padaku. Aku pun masuk ke dalam kamar, terlihat Najwa istriku sedang menyiapkan pakaian ganti untuk Nino putra kami.


" Mas tadi itu kenapa, kok tiba-tiba Nenek jadi marah-marah gitu sama kamu, Mas tidak berbuat sesuatu hal yang buruk 'kan terhadap Nenek?" Tanyanya yang sedikit curiga padaku.


" Astagfirullah, ya nggak mungkinlah Mas berbuat sesuatu hal buruk terhadap Nenek Mas sendiri sayang. Antara aku dan Menek hanya salah paham saja, tadi Mas juga sih yang salah bicara, jadinya Nenek marah sama Mas, tapi Mas sudah minta maaf kok tadi sayang." Jelasku agar Najwa tidak kembali bertanya yang aneh-aneh.


" Oh begitu, ya sudah lain kali Mas hati-hati kalau bicara dengan orang yang lebih tua, dan tolong bawakan pakaian kita yang sudah kering dong Mas, bawa ke kamar ya biar aku langsung lipatin agar tidak membuatku mengantuk." Aku segera melenggang pergi ke belakang rumah dan melakukan permintaan dari istriku itu.


Beberapa saat kemudian begitu aku masuk ke kamar kembali, ternyata Nenek sudah selesai memandikan Nino, dan sekarang tengah memakaian pakaian untuk cicitnya. Terlihat wajah Nenek yang masih di tekuk, pasti masih kesal padaku.


" Ya sudah Nenek langsung pulang ya Wa, kan ada suamimu di rumah, nggak apa-apa 'kan?" Ujar Nenek berpamitan ingin pulang.


Namun sebelum itu, aku sudah lwbih dulu mencegahnya." Nek tunggu dulu! Anton mau bicara sebentar saja dengan Nenek." Pintaku, mudah-mudahan beliau mau.


" Mau bicara apa memangnya kamu? Ya sudah cepat katakan! Nenek mau buka warung ini." Tanyanya yang terlihat terpaksa.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2