
Anniyah_PoV
*
Barang-barang seperti pakaianku, pakaian anak-anak sudah aku masukkan ke dalam koper kecil dan juga ada beberapa tas yang berukuran sedang, memang masih ada sisa pakaian yang sengaja aku tinggal jika sewaktu-waktu kami menginap disini.
Sekarang tinggal menunggu suamiku saja yang tengah dalam perjalanan pulang kemari, tadi malam aku sempat menghubunginya jika jadi pindah pagi ini juga, itupun juga atas saran darinya jika hari ini adalah hari baik bisa untuk pindah tempat tinggal.
Sejak dua hari kemarin setelah keputusanku kepada si Ibu pemilik rumah yang aku beli itu, malam harinya aku langsung memberitahu suamiku, perihal aku membeli rumah di daerah kecamatan. Awalnya tentu saja ia sangat terkejut, tapi pada akhirnya ia pun setuju karena aku terus meyakinkannya.
Dan aku sudah mengeceknya rumah itu kemarin pagi di antar oleh putrinya si Ibu si pemilik rumah, dan sungguh tidak terduga olehku, jika rumah yang aku beli ternyata tepat berada di samping rumah Nenek Uyung, Nenek yang waktu itu menolongku saat tiba-tiba pingsan di warung.
Dan rumah itu juga yang dulu sempat aku dan Nenek bicarakan waktu itu. Sungguh semuanya seakan takdir yang akan mempertemukanku kembali dengan Nenek itu lagi. Namun kemarin saat aku pergi kesana, aku tidak melihat Nenek, rumahnya juga tergembok dari luar, sepertinya sedang pergi.
Dan aku menceritakan hal itu kepada Bang Aziz, suamiku sedikit lega karena aku sudah mendapatkan tetangga yang sudah di kenal walau belum pindah kesana. Dan niatnya nanti sore kami mengadakan acara slametan syukuran kecil-kecilan.
Hanya mengundang tetangga disana juga sanak saudara saja. Dan tidak di sangka Pak Ran dan Bu Sam yang rumahnya tepat di samping rumah kami juga ingin ikut mengantar kami ke rumah baru. Aku sungguh di buat terharu oleh mereka, memang selama ini aku cukup dekat dengan keluarga mereka yang bahkan Bu Sam adalah orang pendatang dan bukan asli orang sini namun kami sudah sangat akrab dengan beliau dan Pak Ran ini adalah Pak Leknya Lasmi.
Untungnya aku masih punya tabungan yang selalu aku simpan, sebagian lagi yang aku belikan perhiasan dan terpaksa aku menjualnya untuk uang tambahan. Dan Alhamdulillahnya cukup tidak sampai meminta lagi kepada suamiku. Paling minta untuk membeli perlengkapan rumah, dan berbelanja saja.
Saat ini aku duduk di karpet bawah depan televisi sembari menemani anak-anak bermain. Tak lama Bapak datang menghampiri dan duduk di sebelahku.
__ADS_1
" Niyah kamu sudah pikirkan matang-matang keputusan untuk kepindahanmu ini? Bapak hanya ingin memastikan saja, sebab ini terlalu mendadak, baru kemarin kamu bilang senang tinggal dengan Bapak karena ada yang membantu jaga anak-anak, tapi sekarang justru ingin tinggal sendiri, coba ceritakan apa ada masalah yang membuatku mengambil jalan ini? Jujur saja pada Bapak." Seru Bapak yang terus menerus mendesakku agar aku mengatakan alasan kepindahanku ini.
Bagaimana mungkin aku mengatakannya kepada beliau, jika alasannya adalah Ibu. Tapi tak di pungkiri juga aku memang ingin hidup mandiri, seperti para Ibu rumah tangga lainnya, sama saat masih tinggal di kota dulu. Mau ngapain-ngapain pun tidak masalah tidak akan yang melarang juga tidak akan merasa canggung atau hal lainnya.
Berbeda jika kita masih tinggal satu atap dengan Ibu atau mertua kita. Mau ngapa-ngapain tidak bisa bebas, ada rasa sungkan tentunya terlebij jika mita tinggal di rumah mertua. Untung saja aku tidak sampai tinggal di rumah orangtua Bang Aziz. Walau dulu pernah menginap itupun hanya beberapa hari saja selepasnya jangan lagi, terlebih sudah tidak ada lagi kedua mertua yang ingin aku kunjungi.
" Insya Allah yakin Pak, barang sudah deal, sudah Niyah bayar juga kontan. Maaf sudah membuat Bapak mungkin kepikiran dengan keputusan yang Anniyah buat ini tapi jujur Niyah juga ingin belajar mandiri, mau sampai kapan Anniyah harus bergantung atau terus merepotkan Bapak dan juga Ibu, Anniyah mohon Bapak merestui dan mengijinkan niat baik Niyah ini." Sahutku yang dengan mantapnya.
Aku tahu mungkin Bapak kecewa atau apalah, tapi mudah-mudahan ini adalah keputusan yang terbaik untukku dan semuanya. Agar aku dan juga anak-anakku tidak terlalu merepotkan Ibu, aku tahu Ibu pasti lelah mengasuh Erika seorang diri, lalu melampiaskannya kepada kami.
Tak lama suamiku pun datang, setelah sedikit mengobrol dengan Bapak kami samua bersiap menuju ke daerah tempat tinggal baruku. Bapak dan Ibu satu motor sembari menarik gerobak berisi barang-barang milik kami. Sedangkan aku dan suami berboncengan berlima bersama anak-anak di depan sebagai penunjuk jalan. Dan Pak Ran dan sang istri di belakang memgikuti kami.
Tak berapa lama kami semua sudah sampai, terlihat semua orang sedikit merasa heran mungkin karena melihat kondisi rumah yang cukup sederhana. Kulihat suamiku justru memejamkan mata setelah tirun dari motor, sepertinya ia sedang berkomunikasi dengan makhluk lain.
Dan aku percaya kita hidup di dunia ini saling berdampingan dengan makluk lain, tak hanya hewan dan tumbuhan namun ada juga yang tak kasat mata sekalipun. Terlebih rumah ini letaknya paling ujung, di sebelahnya ada kebun kopi yang sepertinya di urus dengan baik.
" Ayo kita masuk semua. Assalamualaikum..." Ujar suamiku mengajak kami semua untuk masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat tadi termenung. Dan kami langsung menjawab salam tersebut pelan.
" Lho Ustadz, Assalamualaikum.." Seru seseorang dari arah samping.
" Waalaikumsalam, oh kamu Tok. Apa kabar?" Jawab suamiku seraya berjalan menghampiri pemuda tersebut.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik Ustadz.. Maaf ini kalau lancang bertanya, Kok rame-rame begini seperti orang tengah pindahan saja, atau jangan-jangan Ustadz memang akan tinggal di rumah ini." Ujarnya bertanya, namun dia sendiri yang menjawabnya.
Aku memilih masuk seraya mengajak semuanya juga masuk ke dalam rumah. Dan keadaan rumah sudah cukup bersih, sebab kata Ibu pemilik rumah ini kemarin sore beliau datang dan langsung membersihkan rumah ini sekalian memperbaiki jika ada yang rusak sebelum beliau pulang seraya mengambil barang miliknya yang masih tertinggal.
Aku kembali dari belakang, sembari membawa nampan berisi beberapa minuman kemasan juga kudapan yang memang aku suruh belikan suamiku tadi saat di perjalanan pulang ke rumah.
" Lumayan nyaman kok rumahnya ya 'kan Pak?" Celetuk Ibu sembari menatap sekelilingnya begitupun dengan yang lainnya juga.
" Iya, yang penting masih layak di tinggali, atapnya juga kelihatan masih aman." Sahut Bapak menanggapi.
" Mudah-mudahan betah Niyah." Seru Bu Sam sembari tersenyum padaku.
" Aamiin... Terima kasih Bu Sam sudah hadir mengantar juga mendoakan kami sekeluarga. Mudah-mudahan kami betah tinggal disini. Aamiin.." Sahutku sembari memangku Zefa yang tadi sempat aku tinggalkan ke belakang.
" Iya sama-sama."
~tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1