
Meyta memutuskan untuk mengalah. Wanita itu membiarkan Wirra membawa Anna ke rumahnya setiap akhir pekan. Namun, setiap Anna datang berkunjung, Meyta hanya mengurung diri di kamarnya. Bahkan, untuk makan pun, Meyta lakukan di dalam kamar. Dia tak sudah melihat wajah Anna.
Hal itu berlangsung selama satu bulan. Itu artinya sudah empat kali Anna berkunjung ke kediaman Meyta. Dan tampaknya, Meyta tak bisa lagi menahan diri. Kala mendengar suara Anna tertawa bersama anak dan suaminya, membuat hati Meyta meradang. Dia tak mau Anna merebut perhatian dari orang-orang yang dia sayangi.
Dengan mengambil kedua tongkatnya, Meyta melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju asal suara. Dan saat melihat pemandangan di depan matanya, hati Meyta semakin terbakar.
Meyta meremas tongkatnya saat melihat semua orang yang dia sayangi sedang bersenda gurau bersama Anna.
Anna yang tengah membawa Arkana dalam gendongannya, dikelilingi oleh Wirra dan Mutiara yang juga saling berebut ingin dipeluk oleh wanita itu.
Meyta murka.
Wanita itu pun mengatur sebuah siasat agar Anna tak lagi mau menginjakkan kakinya di rumahnya.
Biasanya, setelah selesai makan malam, Anna akan bergegas untuk kembali ke kediamannya. Namun, kali ini tak begitu.
Meyta yang biasanya tidak pernah ikut bergabung, mendadak ingin makan malam bersama keluarganya dan juga Anna. Hal itu tentu saja membuat seluruh anggota keluarga menatap Meyta dengan penuh rasa heran. Dan mereka bertambah heran saat Meyta menawarkan Anna untuk tinggal beberapa hari di kediamannya.
Mutiara bersorak gembira mendengarnya.
“Kita bisa memasak bersama lagi, Bu!” pekik gadis kecil itu. “Terima kasih ya, Ma. Mama sudah mengizinkan Bu Anna menginap.”
Meyta hanya membalas ucapan sang anak dengan tersenyum tipis. Sementara Anna yang merasa bingung dengan perubahan sikap Meyta yang mendadak itu, menatap sang suami. Seolah wanita itu meminta pendapat Wirra atas tawaran yang diberikan oleh Meyta. Wirra hanya membalasnya dengan mengangkat kedua pundaknya. Pria itu membiarkan Anna yang membuat keputusan. Wirra tak mau berada di tengah-tengah dua wanita yang dia cintai itu.
“Ibu sih mau saja menginap di sini. Tapi, sayangnya tidak bisa karena ibu tidak membawa pakaian ganti,” ucap Anna. Mutiara pun menghela napas karena merasa kecewa.
“Kalau masih diizinkan, akhir pekan depan, ibu akan menginap di sini,” ucap Anna hati-hati.
Wanita itu bahkan mengecilkan volume suaranya. Dia berharap Meyta masih mengizinkannya untuk menginap. Sama seperti Mutiara, istri pertama Wirra Pramudya itu juga merindukan kebersamaan dengan Mutiara di dapur.
“Boleh ya, Ma,” rengek Mutiara.
Kembali dengan tersenyum tipis, Meyta menganggukkan kepalanya. Hal itu sontak membuat Mutiara dan Anna menjadi sumringah. Tapi, tak begitu dengan Wirra. Pria itu merasa ada yang janggal dengan sikap Meyta.
__ADS_1
Sejak menikahi Meyta, wanita itu jelas sekali tak menyukai Anna. Bahkan, mereka berdebat saat dirinya membawa Anna ke kediaman ini setiap akhir pekan.
Ada apa dengan Meyta? Mengapa istri keduanya itu mendadak berubah dan meminta Anna menginap di sana?
Wirra terus memikirkan hal itu selama perjalanan mengantarkan Anna pulang.
“Mungkin Meyta sudah mulai terbiasa dengan keberadaanku, Mas. Mungkin Meyta ingin kami menjadi akrab,” ucap Anna.
Wirra hanya menghela napas. Benarkah Meyta sudah bisa menerima jika dirinya telah membagi hati pada Anna?
“Mas ... Bukankah ini hal yang baik, jika kedua istri kamu menjadi akur?”
Wirra menatap Anna. Pria itu pun tersenyum tipis. Sejak dirinya menikahi Meyta, pria itu memang ingin jika kedua istrinya bersahabat.
Tanpa sadar, Wirra tersenyum sumringah. “Sepertinya tingkat keegoisan Meyta sudah berkurang,” gumamnya dalam hati.
...----------------...
Anna berlari kecil menghampiri Wirra saat pria itu tiba di kediamannya.
“Kamu senang sekali,” ucap Wirra.
“Aku akan kembali menjadi ibunya Rara dan Arka selama satu Minggu, Mas. Bagaimana aku tidak merasa senang. Tentu saja aku sangat senang!”
Wirra pun tersenyum sumringah saat melihat binar bahagia pada wajah istri kesayangannya itu.
Selama perjalanan ke kediaman Meyta, Anna terus mengoceh mengenai rencana yang sudah disusunnya untuk satu Minggu ke depan. Wanita itu benar-benar bersemangat.
Anna pun benar-benar menjalankan rencana yang sudah dia buat. Hampir setiap hari dia memasak bersama Mutiara setelah gadis kecil itu pulang dari sekolah. Wanita itu benar-benar mengurusi Mutiara sepenuhnya. Anna bahkan tidur di kamar yang sama dengan Mutiara. Dirinya bahkan sesekali mengobrol bersama Meyta.
Sudah tiga malam Anna menginap di kediaman Meyta. Wanita itu benar-benar merasa bahagia. Begitu juga dengan Wirra. Saat melihat Anna dan Meyta duduk berdampingan sembari mengajari Mutiara mengerjakan pekerjaan rumah, Wirra tersenyum sumringah. Inilah kedamaian yang dia idam-idamkan. Pernikahan poligami yang seperti inilah yang dia impikan saat menikahi Meyta.
Wirra menghampiri kedua istrinya dan duduk di antara Anna dan Meyta. Pria itu bahkan bergantian mengecup dahi Meyta dan Anna.
__ADS_1
Wirra berharap, kedamaian ini berlangsung selamanya. Dia benar-benar tak sanggup jika harus memilih antara Anna dan Meyta. Jika bertanya pada hatinya, tentu saja hati itu akan memilih Anna. Dia begitu mencintai Anna, saat ini. Tapi, dia tak mungkin meninggalkan Meyta karena wanita itu sudah memberikan kebahagiaan tak terkira untuknya— Arkana. Wanita itu sudah mempertaruhkan nyawa demi memberikan dirinya seorang anak.
Tapi, kedamaian yang dia lihat tiga hari ini, membuat Wirra bisa bernapas lega. Wirra benar-benar merasa damai.
Namun, akankah kedamaian itu benar-benar bisa terjadi selamanya?
Di hari keempat Anna menginap, Meyta meminta wanita itu menemani sang ibunda membawa Arkana ke posyandu terdekat.
“Bulan Februari, biasanya di posyandu ada pembagian vitamin A. Kamu bisa kan, mengantarkan ibu dan Arka? Kasihan kalau ibu harus menggendong Arka dan berjalan kaki ke posyandu.”
Anna tentu saja menyanggupi permintaan itu. Dia bahkan merasa sangat senang. Namun, saat di tengah perjalanan, Anna kembali mengirimkan pesan singkat pada Anna.
^^^“Buku kesehatan Arka tertinggal, An. Kamu bisa mengambilnya lagi ke rumah kan? Nanti kamu tinggal masuk saja. Aku letakkan di ruang keluarga. Soalnya Wirra masih membantu aku bersiap.”^^^
Anna pun menyerahkan Arkana yang tadi berada dalam gendongannya kepada nenek bayi itu. Gegas Anna kembali ke kediaman Meyta.
Sementara itu, di kediamannya, Meyta yang baru saja selesai mandi, bergegas merayu Wirra yang hendak berangkat bekerja.
“Kamu yakin?” tanya Wirra.
Meyta pun menganggukkan kepala. “Aku merindukan kamu,” rengek wanita itu. Jemari Meyta bahkan langsung beraksi dengan membuka ikat pinggang pria itu dan menerkam daerah sensitif Wirra.
Anna yang menginap di kediaman Meyta saat wanita itu baru saja selesai dalam masa menstruasi, membuat Wirra belum sempat melampiaskan hasratnya selama 10 hari. Wirra pun jadi begitu bergairah saat Meyta mulai memberikan remasan kecil di bawah sana.
Wirra akhirnya memberikan apa yang Meyta inginkan. Pria itu menggendong dan membawa Meyta ke kamar.
“Biarkan saja pintu kamar terbuka. Tidak ada siapapun di rumah ini,” bisik Meyta seraya memberikan gigitan-gigitan kecil di telinga Wirra. Wirra yang tak bisa lagi menahan hasratnya tentu saja menurutinya.
Dan saat Anna tiba di sana. Wanita itu dapat mendengar erangan Meyta dan Wirra yang saling sahut menyahut.
Anna membeku. Untuk kedua kalinya dia menyaksikan bagaimana Wirra memangsa Meyta.
Ternyata hubungan kalian masih sepanas ini, Mas. Bahkan saat kaki Meyta masih belum sembuh total, kamu masih begitu menggebu.
__ADS_1