Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Talak..


__ADS_3

Aziz_PoV


*


Aku segera melangkah keluar kamar menuju ke dapur, dari kejauhan terlihat Nikmah yang tengah memasak. Jika dugaanku ini benar, ini tidak bisa di toleransi lagi, dia sudah melakukan dosa besar menghianati pernikahan kami. Lebih dari itu, ia sudah berzina dengan pria lain di saat masih berstatus sebagai seorang istri, tentu saja dosanya aku yang menanggungnya sebagai suami sahnya.


" Nikmah." Panggilku dengan nada sedikit menyentaknya, dan seketika itu ia menoleh ke belakang menatapku denhan wajah tegang mungkin karena saking terkejutnya.


Mungkin juga terkejut lantaran aku memanggil namanya langsung. Jika biasanya aku selalu memanggilnya Umi, berbeda saat ini, aku tengah kesal menahan amarah yang siap meledak. Semua orang pasti punya batas kesabaran bukan? Mungkin kali ini kesabaranku mulai habis, karena ulahnya yang mungkin lebih parah dari sebelumnya.


Aku akui selama kami tinggal bersama dalam satu atap menjalani biduk rumah tangga, Nikmah adalah pribadi yang keras kepala, mau menang srndiri, selalu curigaan kepadaku tanpa mengetahui kenyataan yang ada. Asal nuduh orang sembarangan, tetapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik.


Ya seperti itulah yang namanya manusia, tidak ada yang sempurna begitupun denganku, yang banyak memiliki kekurangan. Aku memintanya mematikan kompor terlebih dahulu sebelum kami duduk di meja makan saling berhadapan hanya meja makan sebagai pembatas kami. Ku tatap matanya sebelum bertanya.


" Apa ada yang kau sembunyikan dari suamimu ini?" Tanyaku dengan tegas, kulihat dia terlihat gugup mungkin karena tahu aku sesuatu yang ia sembunyikan dariku, namun aku masih berusaha mengontrol kemarahanku, sadar saat ini sedang berada di dapur, ada anak-anak di kamar mereka, yang mungkin saja sudah terjaga.


" Me-menyembunyikan a-apa? Umi tidak mengerti Abi?" jawabnya sedikit menunduk, melihat seperti ini saja sudah membuatku kesal. Kenapa dia tidak jujur saja, dari pada sembunyi-sembunyi.


" Ini apa? Bukankah semenjak kejadian waktu itu, kita sudah tidak pernah melakukan hubungan suami istri? Lalu kenapa kamu mengkonsumsi obat ini? Apa semalam itu, kamu pergi dengan pria lain, dan bermain di belakangku? Jawab dengan jujur?" Aku bertanya dengan berusaha terus mengendalikan diri, agar tidak meledak saat ini juga.


Lama dia terdiam menunduk, sambil menautkan kedua telapak tangannya di atas meja. Hampir lima menit dia tetap diam mengunci bibirnya. Diamnya seperti ini justru sudah menjawab semua pertanyaanku.


" Siapa dia? Apa Cak Rojak? Jawab Nikmah?!!" Hardik menatap tajam padanya, namun Nikmah tidak berani menatapku.


" Maafkan Umi, Abi. Sungguh—

__ADS_1


" Stop! Kalian itu sudah melakukan dosa besar, tetapi masih bisa bersikap tenang seolah-olah kalian hanya mengobrol biasa. Aku sungguh tidak percaya,,


" Maafkan Umi, tetapi Umi di ancam olehnya." Elaknya berusaha meyakinkanku.


" Oke, anggap saja kamu di ancam olehnya. Tetapi kamu pasti menikmati perbuatannya bukan?" Tudingku yang sudah mulai tidak terkontrol lagi. Sakit hati? Sudah pasti.


Nikmah langsung terdiam, tidak bisa menjawabnya. Dan itu berarti jawabannya adalah benar, dia menikmati permainan yang di lakukan oleh pria lain. Huh! Ya Allah..


" Jika kamu melakukan ini semua karena perbuatanku yang menyakitimu dengan menikah lagi dengan Anniyah, sungguh aku minta maaf. Aku mengaku salah tidak langsung terus terang padamu waktu itu. Tapi maaf kita sudah tidak bisa bersama lagi, mulai sekarang." Cetusku, entah mengapa tiba-tiba saja pikiran untuk berpisah dengannya tercetus begitu saja.


" TIDAK!! Jangan ceraikan Umi, Abi. Umi tidak akan mau, sudah cukup Abi menyakitiku dengan menerima maduku, tetapi Umi tidak akan mau kalau kita sampai berpisah. Kasihan anak-anak, setidaknya pikirkan mereka Abi." Serunya yang langsung menatapku. Dan aku sedikit iba, menatap wajahnya yang ternyata sudah sembah, ternyata sedari tadi ia menangis dalam diam. Sejenak aku berpikir sungguh jika seperti ini aku bingung sendiri, tetapi benar tidak seharusnya kami memikirkan ego kami, kasihan anak-anak yang menjadi korban, tetapi jalan ini sudah salah. Aku tidak ingin Nikmah terjerumus semakin dalam. Dan aku juga tidak ingin terus menerus menyakitinya.


" Baiklah, demi anak-anak Abi akan tetap sering datang kemari. Tapi kita tidak bisa tinggal bersama satu atap lagi. Jalan satu-satunya kita harus berpisah, rumah tangga kita sudah tidak sehat dan Abi minta untuk kalian menikah walaupun secara agama, daripada terus melakukan perbuatan zina seterusnya. Abi mohon kamu setuju dengan keputusan ini. Abi akan sering datang ke rumah hanya untuk melihat anak-anak." Terangku, yang akhirnya memberi solusi yang mungkin ini adalah keputusan yang terbaik bagi kami.


Aku tahu Nikmah masih merasa sakit hati karena aku telah menikah lagi dengan Anni? Tapi apalah dayaku, semua di luar kendaliku. Aku pun dulu juga tidak berpikir, ingin menikah lebih dari satu istri. Aku pasrah mungkin karena ini memang jalan takdirku.


Bukankah buah tidak jatuh dari pohonnya, seperti halnya Abahku yang menikahi Umma di saat Umma kehilangan seorang suami, dan juga sudah memiliki seorang putri yaitu Neng Atin yang saat itu masih berusia satu tahun, Abah menerima status Umi dengan ikhlas dan menyayangi Nengku dengan setulus hati layaknya putri kandungnya sendiri.


Dan sekarang aku pun menikah untuk kedua kalinya dengan wanita yang masih belia, dan Nikmah menerimaku dan statusku dengan ikhlas. Akan tetapi jika seorang istri yang masih memiliki suami telah melakukan perzinahan, apa yang harus di lakukan oleh suaminya? Mungkin jika kejadian waktu itu bisa aku pahami, sebab keadaan Cak Rojak yang tengah mabuk sehingga lepas kontrol. Namun kali ini berbeda, mereka melakukan hal perzinahan itu dalam keadaan sadar, aku sungguh tidak bisa memaafkan perbuatan mereka berdua.


" Nikmah," Panggilku dengan lembut membuatnya mendongak dan menatapku dengan wajah sembabnya, kami saling bertatapan.


" Saya Aziz Abdullah menalak engkau mulai hari ini, dan engkau bukan lagi istriku. Maafkan aku, aku tetap akan terus memberi nafkah pada anak-anak... " Ujarku dengan berat hati. Sebenarnya aku tidak tega, tetapi pernikahan ini sudah terkoyak, dan aku sadar aku yang lebih dulu mengoyaknya.


Aku beranjak berjalan masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat subuh yang sudah terlambat. Ku dengar Nikmah semakin menangis tersedu-sedu. Tapi ini sudah jalan kami yang harus di tempuh.

__ADS_1


Setelah membereskan beberapa helai pakaian ke dalam tas yang berukuran sedang aku keluar dari rumah, ternyata hari sudah terang. Kulihat anak-anak yang sudah duduk rapi dengan pakaian sekolah mereka di meja makan dan menyantap sarapan mereka. Sungguh aku nanti akan merindukan saat-saat pagi seperti ini, maafkan Abi sayang-sayangku..


" Abi, mau pergi ya?" Celetuk Zikri yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku. Aku pun berjongkok mensejajarkan tinggiku dengannya.


" Iya, Abi ada perlu beberapa hari di luar, jadi Abi tidak pulang. Tapi Abi janji akan sering datang untuk menemui kalian. Kalian tidak boleh nakal ya? Jadi anak yang nurut pada Umi dan jadi anak sholeh-sholehah." Aku mengusap puncak kepalanya, lalu Hilda, Aidan dan Mus datang mendekati kami. Aku pun melakukan hal yang sama pada mereka semua. Putriku Mus terlihat sangat kecewa padaku,, Maafkan Abi..


Setelah cukup lama kami berbincang juga bercanda, aku berpamitan pada mereka semua tak terkecuali Nikmah, wanita yang tadi pagi aku talak. Dia seolah berat melepaskanku, tapi ku harap ini keputusan yang terbaik bagi kami semua.


" Assaalamulaikum.." Pamitku, setelah mendengar balasan dari mereka semua aku berjalan keluar rumah, lalu melajukan motorku menuju ke kost Anni. Ya hanya disanalah tempatku berpulang saat ini.


.


.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2