
Anna_PoV
*
Dan disinilah kami berdua sekarang duduk di dipan belakang tempatku tadi pagi berkumpul dengan semua anggota keluargaku, minus Mas Anton, Mbak Najwa dan juga Nenek.
Hampir sepuluh menit berlalu kami masih saja terdiam, tanpa ada yang mau memulai perbincangan ini. Padahal disini sudah tidak ada orang lagi, hanya kita berdua saja, tetapi masih saja Bang Kholil betah berdiam.
Hingga tiba-tiba tanpa aku sangka-sangka ia langsung berdiri dan duduk berjongkok di hadapanku, tepatnya di bawahku, sungguh tindakannya membuatku terkejut juga geli, tidak pernah sekalipun dia bertindak sejauh ini sebelumnya, lalu dari mana dia mempelajari cara-cara merayu wanita?
Bukankah ini kategori tindakan untuk seorang pria yang akan merayu seorang wanita pujaannya, lalu di sodorkannya sebuket bunga indah dan tak tertinggal sebuah kotak kecil yang isi dalamnya sudah pasti sebuah cincin pertama yang indah.
Sepertinya adegan ini tidak ada romantis-romantisnya, dan aku sangat mengenal seorang Kholil seperti apa. dia pria yang sedikit kaku, namun penyayang. Wataknya keras namun memperlakukanku dengan lemah lembut. Dia tidak banyak bicara kepada orang lain, tapi saat kami hanya berdua saja dia mengungkapkan semua isi hatinya. Tapi itu kemarin dulu sebelum Erika lahir dan berada di tengah-tengah kami.
Dan lihatlah! Dia mencoba merayuku, coba kita ihat dulu dia akan mengatakan hal apa setelah ini. Atau biar ku tebak pasti dia hanya mengatakan maaf dan menyesal. Memangnya mau mengatakan apa.
" An,, Abang minta maaf ya. Sungguh Abang menyesal, Abang tidak sadar saat melakukannya, tolong maafin Abang sayang.. Abang berjanji tidak akan menbentak atau bahkan menyakitimu lagi. Dan mengenai barang kecil itu sudah Abang buang jauh-jauh. Tolong percaya sama Abang sayang... Abang sangat sayang dan cinta sama kamu, tolong jangan tinggalkan Abang sayang,, " Ujarnya begitu lirih dengan suaranya yang serak basah bahkan aku bisa menebaknya jika saat ini dia tengah menangis.
Aku pun sebenarnya sangat mencintainya, menyayanginya. Dia pria yang penyayang, perhatian kepada semua anggota keluarganya, terlebih kepada istrinya sendiri, hanya satu kekurangannya ia sangat emosional jika itu menyangkut anaknya yang menangis.
Dan wanita yang beruntung menjadi istrinya itu harus mempunyai kesabaran yang luas, seluas samudra di lautan. Dan aku bukanlah wanita sempurna itu yang mempunyai kesabaran dan kekuatan yang orang lain miliki. Aku akui aku adalah orang yang mudah menyerah, walau sekalipun aku sangat suka tantangan.
" Iya, aku udah maafin kamu kok Bang. Jangan melakukan hal itu lagi ya, bahakn kepada siapapun juga." Aku bisa melihat wajahnya yang lega juga berbinar.
" Terima kasih sayang. Terima kasih banyak kamu sudah maafin Abang. Abang akan berusaha tidak akan melakukan hal itu lagi, ayo kita kembali pulang ke rumah..."
" Tunggu Bang! aku belum selesai bicara, jangan salah tanggap dulu. Aku memang sudah maafin Abang, tapi bukan berarti aku mau kembali pulang bersamamu. Aku juga masih sangat trauma kembali ke rumah itu!" Selaku memotong ucapannya, semoga ia paham dengan yang aku maksud.
__ADS_1
" Maksud kamu apa sayang? Oh, kamu masih ingin tinggal disini bersama keluargamu? Abang tidak keberatan sama sekali, Abang akan tunggu hingga kamu siap untuk kembali ke kota, nanti abang jemput." Ujarnya menyimpulkannya sendiri.
Aku menggeleg pelan, saat ia terus memandangku meminta jawaban." Bukan itu juga!"
" Bukan? Lalu apa maumu?! Intinya kamu tidak mau kembali ke rumah orangtuaku? Baiklah! Kalau begitu secepatnya Abang akan carikan tempat tinggal baru untuk keluarga kecil kita, kita akan tinggal bertiga saja." Sahutnya yang ternyata masih belum paham juga kemana arah ucapanku.
" Maaf jika Anna harus mengatakan hal ini. Tapi sebaiknya kita sampai disini saja Bang. Kalau hubungan ini terus di paksakan kita sama-sama akan terluka, aku bukanlah orang yang sabar. Dan tolong kamu urus secepatnya surat cerai kita,,,"
" Tunggu! Cerai? Kamu mau kita bercerai? Jangan gil4! Aku tidak mau bercerai denganmu sayang.. Abang mohon tarik kembali kata-katamu itu!" Ujarnya memotong ucapanku.
" Maaf, tapi ini keputusan yang terbaik untuk kita berdua. Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan Bang, sewaktu-waktu kamu bisa saja kembali menyakitiku, dan aku tidak mau hal itu terulang kembali, please hargai keputusanku. Dan satu hal lagi, aku minta hak asuh Erika jatuh di tanganku, karena ia masih membutuhlan asi dariku, sudah itu saja. Aku tidak akan meminta harta kamu sepersen pun, tapi aku juga tidak akan melarang kamu untuk bertemu dengan Erika." Ujarku panjang lebar.
Namun Bang Kholil terus saja menolak apa yang sudah menjadi keputusanku, hingga tak lama aku seperti mendengar ada suara keributan dari dalam rumah. Spontan aku berdiri dan berjalan ke depan di ikuti Bang Kholil di belakangku.
" Huh! Di belakang kamu rupanya! Sini kamu bang-satt!! Beraninya kamu menyakiti Adikku huh!" Bentak Mas Anton yang tiba-tiba saja memukul wajha Bang Kholil hingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
" Sudah Mas hentikan! Tolong lepasin Bang Kholil!!" Teriakku padanya, bahkan semua orang ikut membamtu melerai dan menjauhkan Mas Anton dari Bang Kholil, hingga tak lama mereka pun berhasil.
" Maafkan aku Ton, sungguh aku benar-benar minta maaf sama kamu, juga semuanya. Tapi aku..."
" Diam kamu! Banyak bacoottt!!"
Mas Anton kembali akan menyerang Bang Kholil namun aku langsung menghalangi berdiri di antara mereka berdua. " Jika Mas Anton kembali memukulnya aku akan pergi ikut dengannya!" Ancamku, berpura-pura.
" Kamu sudah gil4 mau ikut dengannya lagi huh! Dimana harga dirimu sebagai seorang wanita yang sudah di sakiti oleh pria ini." Sarkas Mas Anton yang menatapku tajam juga kepada Banng Kholil.
Inilah sifat jeleknya Masku ini, jika ada orang yang menyakitinya atau anggota keluarganya pasti dia amat sangat membenci orang tersebut. Walau orang itu dukunya adalah temannya sendiri. Bahkan jika ia hanya mendengar ceritanya saja tanpa mengetahui dengan jelas seperti apa kejadian yang sebenarnya, dia akan tetap percaya. Ya dia gampang sekali terhasut oleh omongan orang.
__ADS_1
Setelah di nasehati oleh para orangtua, akhirnya Mas Anton bisa tenang. Dan saat ini sedang duduk di belakang di temani oleh istrinya. Ternyata tadi Mas Anton datang bersama Mbak Najwa dan juga Nenek.
Setelah drama pertingkaian antara Mas Anton dan Bang Kholil mereda, akhirnya semua kembali terdiam. Aku juga sudah mengatakan keputusanku kepada semuanya, itulah yang membuat suasana menjadi hening seperti ini, semuanya dalam pemikiran masing-masing.
Hingga tak lama Ayah mertua angkat bicara. " Baiklah Pak Zainal, kami rasa sudah cukup silahturahmi kami ke rumah Bapak. Sekali lagi kami sekeluarga mengucapkan beribu-ribu kata maaf kepada keluarga besar Bapak semuanya terutama Nak Anna yang sangat kami sayangkan dengan keputusannya. Saya kira saya salah dengar, namun ternyata inilah kenyataannya, mau bagaimana lagi kami mau tidak mau harus ikhlas menerima keputusan dari Nak Anna, karena memang putra kami yang bersalah. Kalau begitu kami permisi dulu, untuk selanjutnya kami serahkan semuanya kepada anak-anak saja. Assalamualaikum..." Pamit Ayah mertua panjang lebar.
Kulirik sekilas Bang Kholil yang sedari tadi mununduk, sebenarnya aku sangat kasihan dengannya, wajahnya jadi babak belur seperti itu karena ulah Mas Anton. Tapi ini sudah menjadi keputusanku, aku pun harus menerima semua ini..
Bahkan dia sama sekali tidak melirikku, atau pun mengucapkan sepatah katapun padaku. Hanya saja tadi kulihat dia sempat memberikan banyak kecupan di wajah putrinya yang tengah di gendong Nenek.
Kami semua mengantarkan ketiganya hingga sampai di depan rumah. Mulanya aku tidak sadar, ternyata Bang Kholil menghampiriku yang kini sudah menggendong Erika..
" Aku Kholil Ahmad Jafar memberikanmu talak tiga Anna Anisa, semoga kamu bahagia dengan keputusanmu, itu bukan keinginanmu? Sudah aku penuhi.. selamat tinggal, sayang baik-baik sama Bunda ya..Ayah akan datang menjengukmu." Bisiknya pelan di telingaku, tak lupa kembali mencium putrinya, tapi mungkin semuanya juga bisa mendengar ucapannya..
Akhirnya semuanya hanya sampai disini, bahkan usia pernikahan kami belum genap lima tahun.. Sekarang lebih baik aku menatap masa depanku, dan fokus untuk mengurus dan membesarkan Erika, walau seorang diri sekalipun...
Aku memilih untuk bercerai bukan karena aku tidak mencintai kamu lagi Bang,, tapi karena aku lebih memilih untuk bahagia tanpamu...
Ya siapa saja bisa berubah, aku atau kamu hanya harus menerima kenyataan kalau diri ini tak lagi sama seperti yang dulu..
.
.
.
tbc
__ADS_1