
Anna_PoV
*
" Makasih ya sudah mau ngaterin Mbak, yuk mampir dulu, aku buatkan kopi atau teh." Ajakku kepada pemuda yang bernama Nanda yang tadi mengantarkanku ke desa sebelah untuk bertemu dengan teman yang lusa akan berangkat bersama denganku ke kota untuk masuk yayasan.
Dan Nanda ini adalah Adik kandung dari Mbak Najwa iparku yang sudah dua hari ini berkunjung ke rumahnya. Dan kemungkinan besar dia belum kemana-mana sejak kemarin, sebab Mbaknya terlalu sibuk ngurusin putranya sendiri.
" Makasih Mbak Anna, tapi Nanda langsung pulang saja ini sudah hampir sore, takut Mbak Najwa nanti malah nyariin aku." Tolaknya dengan memberi alasan yang sedikit konyol.
Aku tergelak mendengarnya, orang jelas-jelas tadi Mbak Najwa melihat aku keluar di anterin oleh dia. Kalau seandainya Nanda nggak pulang, sudah pasti nyarinya ya ke rumah ini, mau kemana pagi! Tapi aku juga menahan tawa, masa iya Adik laki-laki yang sudah dewasa masih di cariin Mbaknya.
Kalau yang aku lihat Nanda ini sudah pantas menikah dan memiliki anak, usianya hanya beda dua tahun saja denganku, di luar sana sudah pasti banyak pemuda yang sudah menikah seumuran dengannya.
" Memang kamu umur berapa sampai Mbak kamu nyariin, sudah ayo masuk dulu sebentar pasti Mbakmu juga repot dengan keponakanmu itu, ayo." Desakku, namun belum juga Nanda menjawabnya, terdengar suara seorang gadis yang datang dari arah depan, membuat atensiku dan juga Nanda pun teralihkan.
" Maaf Mbak Anna, Bu Titiknya ada di rumah nggak? Las mau meminjam pasrahan." Seru gadis bernama Lasmi yang rumahnya tepat di samping rumahku.
" Oh, mau masak kebo ijo ya, biar aku ambilkan di belakang, ayo masuk dulu Las, ayo Nanda masuk juga." Ajakku kepada mereka berdua.
" Eh iya Mbak." Sahut Lasmi mengikutiku dari belakang.
" Assalamualikum.." Ujar Lasmi dan Nanda bersamaan.
Dan tidak sengaja aku melirik ke arah Nanda yang tiba-tiba raut mukanya berubah lain sejak kedatangan Lasmi ke rumah ini. Aku lebih dulu berjalan menuju ke arah belakang seraya tersenyum sendiri, jika apa yang aku pikirkan ini benar maka, aku ingin mengetesnya.
Tak lama aku kembali kedepan lagi seraya membawa nampan berisi satu gelas kopi untuk Nanda yang ternyata sudah duduk kikuk, dan segelas teh untuk Lasmi yang duduk seberang pemuda itu, Lasmi terlihat menunduk sedari tadi, entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak bisa mendengarnya saat ke belakang tadi.
" Ini Las pasrahannya, Oh iya Las kenalin ini Nanda Adik iparnya Mas Anton." Aku menyodorkan pemotong sayur itu kepadanya dan mengenalkan Nanda sekalian, atau mungkin mereka sudah saling berkenalan tadi?
" Eh iya Mbak makasih. Aduh repot-repot di buatin minuman, ini aku pinjam dulu ya, punyaku nggak tahu ada dimana, sudah aku cari kemana-mana tetap aja nggak ketemu." Adunya menyengir kuda." Eh iya salam kenal juga."
__ADS_1
" Ya pakai saja dulu. Aku tadi pagi juga habis masak kebo ijo kok tapi di lodeh campur dengan kacang tolo gitu hmm, rasanya mah nggak kalah sama masakan di lestoran, hehe." Sahutku yang membanggakan masakanku sendiri, emang siapa yang mau membanggakan masakanku kalau bukan diriku sendiri.
" Benar banget itu Mbak, apalagi kalau sudah sampai bléndrang gitu bisa-bisa habisin sebangkul nasi, haha.." Timpal si Lasmi menambahi guyonanku.
Kulirik Nanda yang ikutan tersenyum, hah! Baru aku lihat senyumnya yang ternyata cukup manis di wajah tampannya itu. Hmm.. sepertinya aku ada ide!
" Eh ada tamu ya An?" Seru Mbak Anniyah yang baru datang dari belakang bersama suaminya, mungkin mereka sedikit penasaran setelah mendengar suara berisik kami di ruang tamu.
" Eh iya kenalin ini Nanda Adiknya Mbak Najwa yang baru datang dari kampungnya Mbak, dulu pas acara nikahan kita semua 'kan nggak sempat kenalan." Sahutku yang mengenalkan Nanda kembali.
" Oh iya, salam kenal juga. Aku Anniyah Adiknya Mas Anton dan ini suamiku. Ya sudah di lanjut saja kami mau masuk ke kamar dulu." Pamitnya.
Aku merasa sangat kasihan apa yang telah menimpa ruamh tangga Mbakku itu, aku pikir masalah rumah tanggaku kemarin sudah sangat berat, ternyata masalah rumah tangga Mbakku jauh lebih besar lagi, tapi aku akui dia adalah wanita yang sangat kuat, dan mandiri pasti dia bisa melewati ini semua dengan baik. Apalagi mengingat kejadian menghilangnya Mbakku kemarin, aku ikut bersedi dengan itu. Namun setelah tahu semua, kami sekeluarga hanya bisa mendukung dan mendoakan saja, yang terbaik untuk keduanya.
Tak lama terdengar suara tangis Erika dari dalam yang begitu kencang, pantas saja dulu Bang Kholil selalu kesal mendengar putrinya menangis, aku saja yang mendengarnya juga kesal.
Dan setelah itu aku tinggal mereka berdua sebentar ke kamar Ibu untuk mengambil Erika yang baru bangun tidur. Tak lama aku sudah kembali bersama putri cantikku, bisa kudengar mereka tengah mengobrol namun terdengar sangat pelan.
Aku pura-pura nggak dengar aja, dan langsung kembali duduk di tempatku tadi. " Ya Allah lucunya anak Mbak, pengen gendong tapi masih takut." Celetuk Lasmi terus menatap ke raah Erika.
" Takut kenapa? Harusnya kamu itu sekallian belajar Las, biar nanti kalau sudah menikah sudah pintar deh ngerawat anak sendiri." Sahutku yang berusaha menggodanya.
" Ya Allah Mbak, siapa juga yang mau nikahi aku yang masih kecil ini. Mbak ini ada-ada saja."
" Lho jangan salah, aku dulu nikah juga seumuran kamu Las, lupa ya."
" Oh iya ya, maaf lupa Mbak maklum pikirannya terus mikirin kebun singkong mulu, hehe." Sahutnya menyengir kuda memperlihatkan gigi gisulnya sebelah itu." Oh iya Mbak makasih teh-nya ya, sudah repot-repot di buatin minuman, kalau begitu Las pamit dulu ya mau masak kebo ijo, hehe. Assalamualaikum.." Pamitnya seraya tersenyum padaku lalilu mengangguk pelan ke arah Nanda sebelum ia melangkah pergi.
" Waalaikumsalam.."
Dan kini tinggallah aku dan Nanda saja yang sedari tadi kulihat dia menahan senyumnya. " Ekhem!" Sengaja memang aku berdehem keras, eh nggak tahunya dia langsung menoleh kikuk ke arahku.
__ADS_1
" Nan kamu suka nggak sama Lasmi?" Tanyaku tiba-tiba ingin mengetesnya.
" Maksudnya Mbak Anna apa ya?"
" Ya aku tanya, kamu suka nggak gadis seperti Lasmi itu? Dia itu belum pernah pacaran lho, boro-boro mau pacaran Nan pergi keluar bersama teman-temannya saja nggak pernah lho, setiap harinya sepulang sekolah dia selalu ikut membantu Bapak Ibunya di kebun. Ini aku bilang sesuai fakta yang aku lihat selama ini lho ya, selebih itu aku nggak tahu." Terangku panjang lebar yang justru terlihat seperti Mak jomblang yang sedang menjodohkan mereka berdua, hahaha, ada-ada saja.
Tapi kalau misalnya jadi pun, bukan masalah 'kan. Toch mereka suka sama suka, juga belum tentu mereka berjodoh 'kan. Contohnya aku, belum genap lima tahun usia pernikahan sudah selesai, mungkin akunya yang nggak sabaran dan juga yang nggak bisa bertahan dengan sikap suamiku.
" Ah Mbak bicara apa sih, aku dan dia nggak ada apa-apa kok, sumpah." Elaknya yang tegang tanpa berani menatapku.
" Ada apa-apa juga nggak apa-apa kok Nan, kamu tenang aja nggak usah tegang gitu, hehe." Seloruhku yang semakin menggodanya.
" Mbak Anna ini, ya sudah kalau begitu Nanda pamit pulang dulu ya Mbak, sudah mau maghrib juga, Assalamualaikum..." Pamitnya yang langsung melangkah keluar rumah.
" Ya sudah hati-hati ya di jalan ya, makasih ya untuk yang tadi." Ujarku setengah berteriak mengantarkannya hingga sampai ke depan teras tak lama aku pun kembali masuk ke adalm rumah.
" Sudah pada pulang ya An?" Tanya Mbak Anniyah yang baru keluar dari kamarnya seorang diri.
" Iya Mbak, ya sudah Anna masuk ke kamar dulu ya." Pamitku yang tidak ingin terus melihat wajah sedihnya. Aku tahu ia masih belum bisa menerima kenyataan ini dan berusaha tegar di depan semuanya.
Semoga kamu bisa merasakan kebahagiaan yang kamu inginkan Mbak..
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.