Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Gagal SP.


__ADS_3

Musdalifah_PoV


*


" Eh kok gitu sama istri sendiri!" Protesku yang tentu saja tidak terima laki-laki yang baru beberapa jam menjadi suamiku sudah memalakku. Eh, Astagfirullah ngomong apa aku barusan..


" Ya memang di dunia ini tidak ada yang gratis sayang. Jadi gimana mau di bantuin nggak?" Tanyanya lagi, belum sempat aku menjawab tangannya dengan gesit sudah merayap di bagian kancing yang memang berada di area belakang, agak susah di jangkaunya.


" Nah sudah selesai, kamu cantik sekali sayang.. Sekarang giliranku yang meminta bayaranku." Pujinya lirih tepat di dekat telingaku, membuatku menegang, terlebih ia terus memanggilku dengan sebutan sayang, yang tentunya membuatku berbunga-bunga juga membuat bulu kudukku seketika berjengkit saat dengan sengaja ia sedikit menggigit cuping telingku.


Untung saja aku bersiap sedari tadi sudah memegangi gaunku dari depan sehingga tidak sampai terjatuh saat kancingnya sudah terlepas semua.


" Bayaran apa sih?" Tanyaku bingung. Jujur aku sama sekali tidak mengerti bayaran apa yang ia maksudkan.


" Sini, aku bantu melepas gaunnya dulu baru setelahnya aku jelaskan." Ujarnya memintaku menatapnya.


" Aatagfirullah.." Belum sempat aku protes, gaun yang aku pegang sudah lebih dulu meluncur bebas ke lantai, saat kedua tanganku di tarik paksa lalu di genggamnya.


" Ssttt,, jangan teriak-teriak sayang. Nanti di kira orang rumah kita ngapain-ngapain lagi, ya walau sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu, sebab kita 'kan sudah sah menjadi suami istri, mereka pasti juga paham." Serunya memperingatiku, namun juga kembali menggodaku, ah entahlah.


" Maaf, kamu sih ngagetin aku." Lirihku protes.


" Subhanallah.. tidak hanya cantik. Tapi kamu sangat sempurna sayang, juga indah sekali, beruntung sekali aku mendapakan kamu sayang.." Pujinya yang kini menatap lapar kepadaku bagaikan singa yang tengah kelaparan tidak makan sebulan.


Kini tatapannya tak lepas dari mataku setelah tadi puas menatap seluruh bagian tubuhku. Suamiku pun semakin mendekat le arahku, membuat jantungku terus berdegup kencang.


" Mandinya nanti saja ya, aku minta bayaranku sekarang, kelamaan kalau harus menunggu malam tiba." Bisiknya yang seolah sudah tidak sabar.


Kini aku baru mengerti jika bayaran yang ia maksud adalah begituan. Ya Allah apakah kami akan melakukannya menjelang siang hari ini?


" Tapi ini masih siang lho." Protesku lagi. Masa iya siang-siang begini mau begituan, namanya bukan malam pertama dong, tapi siang pertama.


" Memangnya kenapa kalau masih siang, nanti 'kan sekalian kita mandi lalu beribadah. Jangan curang ya, tadi 'kan suamimu ini sudah membantumu sayang." Ujarnya memperingati.

__ADS_1


" Oh, jadi tadi itu pamrih nolongnya."


" Bukan pamrih sayang, ibaratnya win win solution, kita saling menguntungkan bukan." Sahutnya yang berusaha mengelak.


" Kalau itu sih memang untung di kamu bukan di aku." Timpalku sewot, benar-benar tak habis pikir dengan pikirannya, apa semua para pria memang seperti itu ya?


" Lho kamunya 'kan juga untung sayang, buktinya kamu tidak lagi kesulitan membuka gaun ribet itu lagi, kalau bukan karena suami tampanmu ini." Ujarnya berbangga diri.


" Ya udahlah terserah, aku mau mandi dulu." Ujarku yang akan bersiap melangkah meninggalkannya.


" Eittss, tidak bisa, kamu harus membayar dulu baru boleh pergi." Ia langsung menghadang jalanku yang berniat akan me kamar mandi.


Sedangkan aku tercengang dengan tingkahnya yang sudah seperti anak kecil saja yang meminta mainan yang dia inginkan harus ia dapatkan sekarang juga.


Aku menghela napas panjang, menatap lekat ke arah wajah tampannya. Sebenarnya aku sudah lelah sedari tadi terus memegang kedua bukitku yang terekspos, walau masih tertutup oleh penyangganya tetap saja aku merasa malu kepada suamiku sendiri, sebab ini pertama kalinya aku seint!m dengan seorang pria.


" Kenapa terus di tutupi, aku 'kan mau lihat." Ujarnya kembali membuatku tersadar sedikit melamun.


" Aku sudah gerah lho ini, bairkan aku membilas tubuh lengketku sebentar saja ya." Tawarku terus mencoba membujuk.


" Eh, apa?! Aku bisa mandi sendiri kok, kamu tunggu di kamar saja ya." Protesku lagi.


Benar-benar ya pria satu ini, ia terus saja berusaha. Apa ini modusnya juga agar bisa sekalian meminta bayarannya? Tapi mau bagaimana lagi walau demikian ia sekarang sudah menjadi suamiku.


" Ini airnya sudah aku siapkan sayang di bak. Mau aku bantuan juga nggak melepas dua benda itu." Tunjuknya seraya kembali menatap nakal ke arah atas juga bawah tubuhku.


" Tolong di kondisikan matanya ya Pak, nanti bisa copot kalau kelamaan menatapnya." Sindirku seraya mberi kode agar ia segera keluar dari dalam kamar mandi.


" Padahal 'kan aku hanya ingin membantu menggosok punggungmu sayang. Ya sudalhah jangan lama-lama ya." Ujarnya yang terlihat kecewa, seraya menyeret kakinya keluar, aku tahu ia terpaksa.


Tak lama aku pun keluar dengan tubuh yang sudah segar, karena aku lupa membawa baju ganti, jadi terpaksa aku memakai handuk lebar untuk menutup separuh tubuhku, untungnya tadi pagi aku sudah menyiapkan dua handuk bersih di dalam kamar mandi. Saat sedang sibuk memilah pakaian ganti, aku di kejutkan oleh kedua tangan yang melingkar sempurna di kedua sisi pinggangku, aku sedikit berjengkit namun hanya sebentar karena sudah yakin siapa pelaku utamanya.


" Sayang kamu wangi banget, aku jadi nggak tahan nih." Bisiknya dengan suara sedikit serak, apa dia habis nangis, tapi menangis karena apa? Apa dia merindukan Mamanya? Astaga baru juga beberapa jam tidak bertemu sudah merindukan Mamanya!

__ADS_1


Aku tahu suamiku ini sedikit manja kepada Mamanya, saat itu tanpa sengaja aku mendengarnya tengah merengek entah soal apa, tapi yag pasti dia sedang meminta sesuatu kepada Maminya. Tapi itu hanya sebentar saja, sebab dia menyadari kehadiranku, menyadari itu membuatnya sedikit salah tingkah saat bertemu kembali denganku.


" Boleh ya, sebentar saja." Pintanya dengan sedikit memohon kali ini.


"Tapi 'kanβ€”


Belum sempat aku meneruskan ucapanku, ia sudah membalikkan tubuhku lalu menyerangku. Awalnya sedikit kasar, namun lama-lama jadi lembut hingga aku terbawa suasana dan membalasnya walau sedikit kaku karena ini juga pertama kalinya aku melakukan hal ini.


Perlahan ia menggirungku ke arah ranjang masih dengan bagian atas menempel saling merasakan masing-masing. Hingga tubuh kami s


sudah berada di atas ranjang empuk barulah ia melepaskan serangannya.


" Manis. Punyamu sangat manis sekali sayang boleh ya." Ujarnya meminta ijin.


Aku pun mengangguk lemah karena memang sudah mulai terhanyut dalam permainannya. Pun ia melanjutkan aksinya, Baru saja ia akan mulai inti permainan, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


Membuatnya kami sama-sama tersentak, saking kagetnya. Ibarat maling yang akan tertangkap basah ya seperti itulah kami. Suamiku yang semula dalam mode tegang pun seketika melemas dan beringsut duduk di tepi ranjang, seraya kembali memakai celana pendeknya, sebelum membuka pintu kamar.


" Sepertinya memang harus menunggu nanti malam sayang." Ujarnya yang tidak lagi bersemangat.


Handukku tadi entah berterbangan dimana, begitu ketemu di bawah kolong ranjang, secepatnya aku memungut lalu memakainya kembali sebelum berjalan cepat menuju ke lemari pakaian.


Sedangkan suamiku sudah berhasil membuka pintu tersebut. " Musnya dimana?" Aku sekilas mendengar suara itu. Sepertinya Ummi yang datang ke kamar kami, secepat kilat aku memakai daster rumahan, dan berdiri di belakang pintu untuk bisa mendengarkan juga.


" Oh itu lagi berganti pakaian Ummi." Jawab suamiku sedikit kikuk. Aku yakin ia sebenarnya masih lemas juga kecewa akibat permainanya yang gagal total. Tapi mau bagaimana lagi, memang waktunya yang tidak tepat saja.


" Oh ya sudah. Ini nanti tolong dikasihkan ke dia ya. Itu gaun kalian untuk di pakai acara resepsi nanti malam. Sebab kemarin lusa baru sempat di laundry dan baru selesai siang ini, baru saja di antar. Ya sudah istirahat dulu, sebelum acara pengajian juga resepsi badannya sudah kembali fit." Ujar Ummi sebelum pamit pergi.


Aku langsung bernapas lega." Ya Allah.. Hampir saja.."


~tbc


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2