
Aziz_PoV
*
Selepas dari mushola aku tidak menemukan keberadaan Nikmah dan Aidan. Kamana mereka? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu pada Zikri lalu mereka.. Astagfirullah, pikiran buruk macam apa ini! Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk menimpa putraku dan mungkin saja Zikri sedang di pindahkan ke tempat lain, ya semoga.
Saat melihat beberapa suster yang sedang berdiri tak jauh dari tempatku, aku pun buru-buru berjalan menghampirinya dan menanyakan tentang keberadaan Nkmah dan Aidan, siapa tahu mereka melihatnya.
" Maaf suster, saya mau tanya apa kalian tadi melihat ada seorang ibu memakai pakaian muslimah dan seorang anak laki-laki duduk di bangku itu!" Tunjukku ke arah bangku panjang yang sempat kami duduki tadi.
" Oh Ibu dan anak laki-laki yang tampan itu. Sepertinya baru beberapa menit ya lalu, saya sempat melihat ada anak laki-laki yang sedang berbaring sakit di atas brankar di dorong oleh perawat untuk di pindahkan ke ruang perawatan yang ada di sebelah lorong sana Pak. Untuk lebih jelasnya Bapak bisa tanyakan ke suster yang ada disana nanti." Terang salah seorang suster itu padaku.
Yang seketika membuatku menghela napas lega, lega bahwa Zikri ternyata hanya di pindahkan ke ruang perawatan, itu berarti keadaannya sudah membaik. Tapi untuk lebih tahu kebenarannya aku harus segera kesana menyusul Nikmah dan Aidan untuk melihat sendiri keadaan putraku.
" Kalau begitu saya lamgsung kesana saja, terima kasih banyak suster, mari permisi."
Aku bergegas berjalan ke lorong yang di tunjuk oleh suster tadi, terus berjalan karena tidak melihat Nikmah dan Aidan di luar, hingga aku melihat salah satu Dokter dan perawat baru saja keluar dari salah satu ruangan, mungkin itu ruangannya aku buru-buru menghampiri mereka.
" Maaf Dok mengganggu waktunya, apa ini ruangan pasien yang bernama Zikri? Apa anda baru saja memeriksa anak laki-laki yang sedang sakit DBD? Lalu bagaimana keadaannya" Tanyaku dengan tidak sabarnya ingin mengetahui keadaan Zikri langsung dari mulut sang Dokter.
" Iya benar, pasien baru saja di pindahkan ke tempat ini setelah melewati masa kritisnya, keadaanya sudah lebih membaik dari sebelumnya. Tapi maaf apa anda adalah Ayahnya pasien?" Tanyanya menyelidik.
" Benar Dokter, saya Ayah kandungnya Zikri. Syukurlah kalau keadaan putra saya sudah membaik. Terima kasih banyak Dokter atas bantuannya." Ujarku seraya mengangukkan sedikit kepalaku kepadanya.
" Sama-sama, pesan saya agar pasien banyak istirahat dulu jangan di berikan banyak beban pikiran agar pasien tidak kepikiran dan nanti bisa mengganggu kesehatannya dan juga kondisinya tidak segera cepat pulih. Baiklah kalau begitu kami permisi dulu." Pamitnya, dan aku kembali mengucapkan kata terima kasih sebelum mereka pergi.
__ADS_1
Setelah kepergian keduanya aku pun segera membuka pintu lalu masuk ke dalam ruang perawatan dimana putraku Zikri masih terbaring lemah di atas ranjang kecil milik rumah sakit. Sementara Aidan Abangnya duduk di ranjang tepat di samping kaki Adik ya, sedangkan Nikmah sendiri sedang duduk di kursi di samping ranjang.
" Assalamualaikum. Aidan,, Nak ini Abi bawa makanan, ajak Umi kamu untuk makan dulu ya, biar Abi yang jagain Adik." Titahku seraya menyodorkan bungkusan kresek kepada putraku.
Tadi setelah selesai beribadah aku memang menyempatkan diri untuk membeli nasi, cemilan dan juga minuman untuk mereka di kantin rumah sakit ini, pasti mereka juga belum makan apapun sedari tadi siang.
" Baik Abi. Umi ayo kita makan dulu." Ujar Aidan seraya turun dari atas ranjang." Lho kok hanya ada dua saja Bi? Abi tidak ikut makan juga?" Tanyanya seraya duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan ini.
" Tadi Abi sudah makan lebih dulu di kantin, itu untuk kalian berdua, makanlah habisin makannya Nak." Sahutku yang memilih berdiri di sebelah kanan ranjang, senwntara Nikmah di senelah kirinya.
" Ya sudah Aidan makan duluan saja ya.."
" Lho kok malah nyuruh Aidan, kamu sendiri juga harus makan, agar tidak ikutan sakit. Lalu siapa nanti yang jagain Zikri kalau kamu juga sakit." Selaku yang memintanya untuk menjaga kesehatannya sendiri.
" Iya nanti sajalah."
Setelah berusaha dan terus mendesakannya, akhirnya dia pun mau menuruti permintaanku, entah dia mau karena terpaksa atau karena akasan lain, entahlah. Ya penting dia tidak mengabaikan kondisi kesehatannya. Walau sampai kapanpun dia tetap menjadi Ibu dari anak-anakku yang lain, walau statusnya hanyalah seorang mantan.
Kini perhatianku teralihkan kepada Zikri putraku yang hingga sekarang masih belum sadar. Ku ambil tangan kanan mungilnya lalu ku genggam erat seraya terus melantun sholawat juga doa untuknya.
Aku baru teringat belum memberi kabar Anni sama sekali, jika malam ini tidak bisa pulang kampung. Pasti dia sedang menunggu kedatanganku saat ini. Aku segera mengeluarkan penselku dari kantong celana, kemudian mengetik sebuah pesan dan tak lama terkirimlah pesan itu ke nomor istri kecilku.
Seketika perasaanku sedikit lega, dan kembali menatap Zikri entah sampai kapan dia akan membuka matanya. Kasihan Nikmah dan Aidan jika aku tinggal pulang, lebih baik aku sendiri saja yang disini menunggu Zikri.
" Aidan setelah selesai makan nanti, ajak Umi kamu untuk pulang ke rumah ya, biar Abi saja yang menunggu Adik disini." Titahku yang mudah-mudahan Nikmah mau mendengarkan permintaanku ini.
__ADS_1
" Tidak perlu Bi, biar aku saja yang disini. Dan tolong antarkan Aidan pulang ke rumah saja, aku nggak apa-apa kok sendirian. Pasti kamu merasa canggung berada satu ruangan denganku, aku paham sekali." Sahut Nikmah yang justru beramsumsi negatif sendiri dengan pemikirannya.
Aku langsung menghela napas panjang setelah mendengar hal itu. Dia pasti salah paham, padahalkan niatku tidak begitu, aku hanya merasa kasihan jika dia harus ikut menginap di rumah sakit, terlebih aku kasihan juga sama Aidan.
Belum lagi Mus dan Hilda yang hanya sendirian saja di rumah, tentu mereka juga mengharapkan kehadiran Uminya. Mungkin Nikmah nggak kepikiran sampai kesana karena terlalu fokus memikirkan Zikri saat ini.
" Tidak! Kamu dan Aidan saja yang pulang, biar aku yang disini. Kasihan juga Mus dan Hilda yang sendirian di rumah, pikirkan mereka juga, kamu pasti belum memberi kabar mereka berdua bukan? Sudah pulanglah.. menurutlah kali ini.." Terangku yang mengingatkan akan kedua putrinya yang ada di rumah saat ini.
Tadi siang saat keduanya pergi ke rumah sakit, pasti Mus dan Hilda masih bekerja. Sehingga mereka tidak tahu bahwa Adiknya masuk rumah sakit.
" Tadi siang aku sudah kirim pesan kepada Mus untuk di rumah saja sepulang bekerja serta menjaga Adiknya Hilda." Sahutnya yang tetap bersikeras tidak mau pulang. Tak lama Aidan bangkit dan berjalan masuk ke dalam toilet.
" Kenapa sih kamu keras kepala! Pikirkan anak-anakmu yang lain, kasihan mereka jika kamu terus abaikan, mereka juga butuh kamu lho!" Desisku yang tanpa sadar sedikit menyentaknya.
" Kenapa kamu jadi nyalahin aku!!"
.
.
.
.tbc
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.