Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Reaksi Semua Keluarga.


__ADS_3

Anniyah_PoV


*


" Jadi begitulah Pak, Bu. Maafkan Anna yang justru mencari jalan pintas dengan cara kabur dari rumah seperti ini, yang pasti nanti akan merepotkan Bapak dan juga Ibu." Ujar Anna dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi.


" Ya Allah Gusti,, maafin Ibu yang tidak bisa melindungimu Nak." Lirih Ibu yang tak bisa berkata-kata lagi juga sudah berlinang air mata. Begitupun denganku yang tak kuasa menahan sedih atas apa yang menimpa Adikku. Aku menoleh ke arah Bapak yang tiba-tiba menghela nafas panjang, sepertinya beliau yang terlihat sangat kecewa di bandingkan kami.


" Bapak sebenarnya melarang kamu juga karena alasan ini Nduk, mereka itu keturunan orang yang memiliki watak keras, juga sadis terhadap orang di luar daerah mereka. Bapak bukan membenci penduduk mereka, atau menjelekkannya, Bapak waktu itu hanya mencoba mengingatkan, sayangnya putri Bapak sudah termakan oleh cinta yang kata orang bisa membutakan. Mana mungkin ada orangtua yang akan menjerumuskan anaknya sendiri, pasti sebisa mungkin kami akan menegur dan mengingatkan agar anaknya tidak terlalu jauh tenggelam, akan tetapi kalau ucapan kami tidak di dengar pun kami bisa apa selain hanya bisa pasrah dan mendoakan saja setelahnya. Mana mungkin orangtua akan mendukung jika anaknya berjalan di jalan yang salah, yang bisa saja membuatnya tersakiti, sebab kebanyakan dari mereka sifatnya memang keras begitu Nduk. Di tambah lagi weton ketemu kalian itu hitungannya tidak baik, sebab ketemunya adalah berpisah. Bagaimana pun kita ini orang jawa Nduk, adat istiadatnya sangat kental, apalagi di kampung kita ini, ada adatnya sendiri, jadi lebih baik mengikuti orang yang sudah berpengalaman. Bapak mengatakan ini semua kepada kalian, sebab kami orangtua sudah lebih dulu merasakan manis asamnya kehidupan. Bapak tidak akan banyak bicara semua terserah kamu An, keputusan semua ada di kamu, sebab kamu yang menjalaninya rumah tanggamu, jika kamu tidak mampu bersabar dengan sikap suamimu, pasti rumah tanggamu hanya sampai disini." Nasehat Bapak panhang lebar yang juga menunjukkan wajah sedihnya.


Semua bersedih dengan keadaan yang Anna alami, apalagi setelah mendengar penjelasan Bapak barusan sungguh aku pun baru tahu jika semua ada hitungannya sendiri jika ingin beetindak. Kami pun hanya bisa saling terdiam dalam pikiran masing-masing.


" Bapak bukan menyarankan harus percaya kepada adat juga weton jawa, sebab itu namanya sirik. Hanya saja yang namanya adat istiadar kita patut menjunjung tinggi dan juga menerapkannya hingga je anak cucu kita." Imbuh Bapak.


Hingga tak lama terdengar suara motor di depan rumah entah siapa yang datang, kami semua secara kompak mengusap wajah yang sudah sembab karena air mata kami.


Tak lama terdengar suara orang mengucapkan salam," Assalamualaikum.."


Dan suara itu terdengar sangat familiar, ya itu milik Mas Anton kami." Waalaikumsalam." Sahut kami pelan secara bersamaan.

__ADS_1


" Lho Anna kamu pulang,, lalu mana Kholilnya? Mobilnya tidak ada di depan!" Tanya Mas Anton sembari masuk ke dalam celingukan." Oh iya Bu ini ada sayuran sisa tapi masih segar-segar kok, Ibu mau tidak dari pada kebuang jadi aku bawa pulang saja, ini ada bumbu masak dan juga lauk sekalian tadi Anton mampi beli." Seraya menyodorkan kantong kresek berukuran besar kepada Ibu.


" Banyak sekali Le, kenapa tidak kamu bawa pulang, biar di masak istrimu apa Nenekmu. Sudah bawa pulang saja, Ibu masih ada sayur kok di belakang." Tolak Ibu dengan halus yang justru memikirkan menantu yang pernah berdebat dengannya.


" Tidak ini untuk Ibu, Anton sudah membagi jadi dua, itu ada di kursi depan yang akan aku bawa pulang, sama kok isinya." Jelasnya, tak lama wajahnya terlihat heran menatap kami semua bergantian.


" Tunggu-tunggu ini ada apa semuanya, kok wajahnya pada sembab habis menangis ya. Dan dimana Kholil suamimu An, dia tidak ikut pulang?" Tanyanya lagi menatap ke arah Anna.


Anna menggelengkan kepalanya pelan, tanpa menatap Mas Anton. " Tidak ada apa-apa kok Mas." Jawabnya lirih." Bang Kholil sedang sibuk bekerja."


" Ada apa An, apa kamu dan Kholil sedang ada masalah? Katakan pada Mas dengan jujur!!" Desak Mas Anton yang sepertinya tidak bisa di bohongi, sementara aku dan semuanya hanya bisa terdiam.


Aku takutnya dia nanti nekat pergi ke kota untuk mencari Kholil jika di beritahu kebenarannya, namun menutupinya pun tidak mungkin, pasti Mas Anton akan terus mendesak agar Anna bercerita sesungguhnya.


" Kurang ajar si Kholil b******n itu, berani sekali dia memukulmu dan mencekikmu! Cari mat1 dia denganku!!" Bentak Mas Anton dengan menahan amarahnya, terlihat kedua lubang hidungnya yang kembang kempis layaknya banteng yang siap menyerudruk musuhnya.


" Tapi tunggu dulu, bukan kamu 'kan yang memulainya An?" Tuding Mas Anton memicingkan kedua netranya menatap Anna.


" Maksud Mas apa? Aku? Maksudnya aku yang memulai pertengkaran ini.. Yang Adik ya Mas itu aku apa dia? Bela saja itu temanmu!!" Desis Anna tajam menatap Masnya, lalu beranjak bangun dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


" Ya siapa tahu, kamu 'kan anaknya jahil. Tapi jika benar yang kamu katakan, akan aku buat pergitungan suamimu itu!!" Desis Mas Anton tak kalah tajamnya.


Ya Allah kenapa jadi seperti ini, aku pun menyusul Adikku ke kamar mencoba menenangkannya. Bisa jadi Kholil akan celaka di tangan Mas Iparnya sendiri. Aku tahu betul Masku itu seperti apa, jika ia sedang marah besar, ia akan melakukan segala cara untuk meluapkan emosinya tersebut, bahkan dulu pernah memukul anak laki-laki hingga babak belur, hanya karena anak itu berani mencium Anna.


Orang yang sebenarnya suka bercanda dan humor itu, kalau marah justru menakutkan. Dan lebih menakutkan lagi jika ada orang pendiam seperti aku, ya aku akui aku orangnya sangat pendiam, tidak banyak bicara terlebih kepada orang baru. Maka jangan ada yang berani mengusikku jika tidak ingin aku mengamuk kalian.


Astagfitullah,,


Aku jadi ikutan marah 'kan ketularan Mas Anton. Aku, Ibu dan Bapak berusaha menenangkan Mas Anton sebisa mungkin, dan nanti jika Kholil datang, semoga ini semua bisa di bicarakan baik-baik.


" Sudah Ton tenangkan dirimu, kita tidak boleh langsung menembaknya. Jika nanti suami Anna datang, semua akan di bicarakan dengan cara baik-baik. Bapak tidak ingin kamu melakukan kesalahan besar hanya karena menuruti amarahmu sendiri. Disini yang lebih merasa sangat sakit itu Bapak dan Ibu, terlebih Adikmu. Namun kita harus bisa menenangkan hatinya, jiwanya sedang rapuh sekarang ini, butuh dukungan dari keluarganya, kalau bukan kira semua siapa lagi." Terdengar suara Bapak kembali menasehati putranya.


.


.


.


.tbc

__ADS_1


Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.


__ADS_2