Menjadi Yang Kedua

Menjadi Yang Kedua
Bertemunya Sahabat lama..


__ADS_3

Aziz_PoV


" Walaikum salam.." Jawab Abah sembari berdiri dari duduknya, sementara aku masih tercengang saat melihat siapa seseorang yang tidak ada tidak angin tidak ada hujan tiba-tiba datang berkunjung ke rumah. Ah, aku lupa jika sedang dalam masa berkabung.


Yang membuatku kembali tercengang ternyata yang datang tak hanya satu orang saja, melainkan seluruh anggota keluarga yang terdiri dari enam orang dewasa selain anak kecil yang aku yakin anak cucu mereka. Aku ikut berdiri namun masih berdiam melihat interaksi Abah yang menyambut hangat kedatangan tamunya pagi ini. Entah pukul berapa rombongan ini berangkat tadi pagi.


" Abah, saya sekeluarga datang untuk mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Umma Salima, maaf saya dan sekeluarga baru bisa datang Bah." Ujarnya sembari melirik ke arahku. Aku jadi serba salah kalau sudah begini, sudah sangat lama sekali kami tidak bertemu. Dan mungkin hampir lima tahuan lebih.


" Dan kamu! Sahabat macam apa kamu! Tidak menghubungiku sama sekali? Menikah lagi juga tidak di undang! Sebenarnya aku masih kamu anggap sahabat tidak sih!" Celotehnya yang mulai kemana-mana, aku hanya bisa menghela napas panjang.


" Maaf,, Bukan tidak mau mengabari, tapi aku belum sempat saja, sungguh! Kamu apa kabar?" Sesalku yang mungkin tidak di terima olehnya. Dan aku langsung bertanya kabarnya, ingin mendekatinya aku sedikit malu.


Mungkin ia tahu jika aku ragu untuk melangkah, sehingga Yanu yang lebih dulu memeluk tubuhku, kami saling berpelukan layaknya saudara kembar yang sudah lama terpisahkan. Tak sadar kami berdua sudah larut dalam kesedihan yang mendalam, kedua sudut mata ini sudah merembeskan air mata, langsung ku-usap dengan kasar. Biarlah di anggap cengeng hanya hari ini saja.


" Alhamdulillah, kabar baik Bro.. hehe. Semoga kamu juga sehat. Tapi kurasa kamu selalu sehat, apalagi mendapatkan istri yang jauh lebih muda. Semakin awet mudalah." Bisiknya tepat di telingaku, darimana dia tahu jika aku menikahi gadis kecil? Hah,! Tak ku sangka, ia sudah mengetahui semua hal tentangku, sementara aku? Aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan asmaranya dengan istrinya.


" Sudah-sudah, sebaiknya kita semua masuk dulu. Ayo Nak Yanu dan semuanya." Ajak Abah yang merangakul pria yang bernama Yanu ini menggiringnya masuk ke dalam rumah.


Saat kami semua bergerak melangkah ke dalam rumah, ekor mataku tak sengaja melihat seorang gadis entah sudah berubah jadi wanita atau belum, aku tidak tahu. Tetapi yang jelas aku sedikit malu di buatnya. Pasti dia melihat aku menangis tadi. Ahh, sudahlah, sudah terjadi juga.


" Terima kasih atas kedatangan Nak Yanu dan semua anggota keluarga. Kami sangat terharu sekali." Abah menatap Yanu beserta kedua orangtuanya berkaca-kaca.

__ADS_1


Setelah menyalami Abahnya Yanu, dan seorang pria yang tidak aku kenal, aku memilih pergi ke belakang untuk memberitahu Neng Atin agar membuat tamu kami minuman dan beberapa camilan ke depan, setelahnya aku kembali ke depan.


Yanuar namanya. Ya pria itu adalah sahabatku di satu ponpes dulu, teman masa kuliah, satu anggota club motor denganku. Dan setelah aku memutuskan menikah dengan Nikmah, seketika itu juga kami lost contack. Dan saat aku ada kesempatan datang berkunjung ke rumahnya, justru aku di buat tercengah bahwa ia sudah menikah dan menetap di luar kota, tepatnya dia tinggal di Ibu kota negara bersama istri yang ia nikahi. Dan kedatangannya pagi ini, sungguh membuatku amat terkejut, itu sudah pasti, sekian tahun baru di pertemukan hari ini.


Aku melirik ke arah Yanu, pria itu benar-benar sungguh banyak sekali perubahan, ya walau wajahnya masih tampan dari dulu, tak kalah tampan dariku. Bahkan sekarang jauh lebih tampan mungkin dariku, membuatku sedikit insecure saja. Lalu pandanganku tak sengaja bersirobok dengan seorang wanita, namun ia lebih dulu memutus pandangannya dan memilih menunduk kembali, wanita yang statusnya adalah Adik dari Yanu sahabatku. Dia bernama Syifa, wanita itu pun juga banyak berubah, semakin_Ya Allah, Astagfirullah, mikir apa aku ini, ingat istri di rumah Aziz! Aku sungguh merutuki kebodohanku yang sudah meraja kemana-mana.


Saat aku masih termenung dalam gemelut pikiranku sendiri, aku langsung tersentak begitu pundakku di tepuk oleh seseorang, dan tidak perlu mencari siapa pelakunya jika bukan Yanu sahabat jahilku itu. Ternyata sifat jahilnya masih sama dari dulu.


" Ekhemm! Pagi mikirin apa bro? Ingat istri kecilmu?" Tanyanya menatap geli padaku, apa aku barusan tertangkap basah? Semoga saja ia dan semua orang di ruangan ini tidak melihat aksi konyolku tadi.


" Hah! Oh, tidak ada." Aku memilih duduk dekat pintu penghubung, Yanu pun ikut duduk di sampingku. Padahal tadinya ia memilih duduk bersama seorang wanita yang aku yakini adalah istrinya. " Maaf, aku_


" Anakku sudah lima, dua putra dan tiga putri. Kamu sendiri?" Tanyaku balik, sungguh aku pun merasa penasaran. Walau aku melihat ada dua anak kecil sepasang yang duduk di antara dua wanita, yang mungkin usianya sepantaran dengan putraku Aidan. Dan sudah pasti itu menjadi jawaban atas pertanyaanku, namun aku ingin dengar sendiri jawaban dari sahabatku ini.


" Seperti yang kamu lihat, itu sepasang anak kecil adalah putra-putriku yang kembar. Wah, tidak kusangka kamu rajin juga Mr. Abdullah ngadonnya?." Tanyanya yang sengaja menggodaku," Masih nambah lagi nggak tuh? Sepertinya pinggulmu jauh lebih kuat di bandingkan pinggulku." tambahnya yang semakin terkekeh mengolokku. Kalau tidak ada banyak orang disini, sudah aku kebiri sedari tadi ni orang kesalku.


" Eitss, kita sudah pada tua, tidak boleh marah-marah. Malu sama generasi penerus kita." Celetuknya kembali yang berbisik padaku.


Mungkin ia sudah melihat ujung tandukku yang mulai keluar dari atas kepala, atau mungkin sudah sedikit keluar asap dari sana. Ya hanya dengan sahabatku Yanu-lah aku bersikap begini, sebab ada saja tingkahnya yang membuatku jengkel. Anehnya, justru aku merasa nyaman dengan tingkahnya itu yang bisa membuatku tertawa. Semakin lama hubungan persahabatan kami semakin hari semakin lengket saja, mungkin itu yang namanya sabahat bagaikan kepompong. Dan itu membuatku tidak bisa pergi dan mencari teman pria yang lain, sebab tidak ada seorang sahabat yang seperti Yanu. Sahabat yang dapat dipercaya sekaligus tempat untuk berbagi suka dan dukaku.


Tak lama Neng Atin datang membawa nampan minuman di bantu putriku Mus dan juga putriku Hilda. " Ini dia kedua putriku, namanya Musdalifah dan Hilda. " Ujarku memperkenalkan kedua putriku padanya.

__ADS_1


Setelah meletakkan beberapa piring berisi cemilan di atas karpet, kedua putriku bergantian menyalami Ibu Yanu beserta istri dan juga Syifa, lalu mengatupkan kedua telapak tangannya kepada para pria yang ada disini. Sungguh aku semakin bangga pada kedua putriku.


" Ini tadi dari mana Nak Yanu? Kok bisa pagi-pagi sudah sampai disini?" Tanya Abah yang memang sudah mengetahui, jika Yanu sebenarnya bukan asli orang sini, namun dulunya ia ikut tinggal di rumah Pamannya di kota ini sebelum masuk ke ponpes denganku.


" Sebenarnya baru kemarin kami tiba kesini, ada acara di rumah Cacak saya. Begitu mendengar kabar duka ini, kami semua di ajak berkunjung kemari sama Yanu, yang katanya adalah sahabatnya yang dulu banyak membantu dirinya selama di ponpes dan dimana pun, jadi kami pun ikut kemari, untuk sekalian mengucapkan banyak sekali terima kasih pada Anda pak Haji juga terutama pada Nak Aziz yang sudah sudi membantu putra kami." Ujar Abah Yanu menatapku dengan berkaca-kaca.


" Maaf, saya jadi merasa tidak enak hati jika seperti ini, padahal Yanu pun juga banyak membantu saya Bah, kami saling bantu membantu." Balasku sedikit menunduk. Dan itu benar Abahku tahu dengan jelas, sebab Yanu dulunya sering ku ajak menginap di rumah ini.


" Ya intinya sahabat itu memang saling tolong menolong bukan begitu? Sahabat adalah seseorang yang selalu ada ketika kita ingin berbagi cerita serta memberi perhatian ketika kita membutuhkan. Ketika bersama sahabat kita tidak ada rasa sedih, mereka akan selalu buat kita tersenyum." Sahut Abah yang seolah mengerti, namun aku melihat ada raut bersedih di dalam kedua mata Abahku. Entah apa itu? Kami pun terus mengobrol hingga hampir siang, jika sudah bersama seperti ini, aku juga kadang lupa waktu, tahu-tahu sudah memasuki waktu sholat wajib.


.


.


.


.tbc


Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷


Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.

__ADS_1


__ADS_2