
Anniyah_PoV
*
Kita selalu melihat jalan orang lain yang lebih mudah, itu karena kita tidak tahu rintangan yang mereka hadapi. Bisa saja kesulitan mereka lebih rumit dari apa yang kita alami sekarang. Jika mereka mampu, maka kita seharusnya juga bisa begitu bukan?
Tak perlu menasehati seseorang yang sedang jatuh cinta, karena mereka tidak akan pernah mendengarkan kita. Mata mereka buta, telinga mereka tuli, dan langkah mereka terhenti pada sosok yang di puja. Biarkan saja sampai mereka merasakan sendiri sakitnya jatuh cinta terlalu dalam.
Kini aku duduk di samping suamiku, entah pukul berapa dia pulang tadi malam, sebab saat aku terbangun dia sudah tidur terlelap di sampingku dengan sebelah tangannya memelukku, dan satunya lagi memeluk di samping tubuh kecil putrinya.
Kami semua telah berkumpul di ruang tamu yang di gelari karpet sejak tadi malam, tepatnya setelah acara selametan kemarin sore. Semua anggotaku sudah lengkap hadir, ada pula calon istri Mas Anton juga keluarga besar dari Kholil calon suami Anna Adikku.
Ku lihat sinar binar terpancar dari wajah cantiknya, tak menyangka Adikku sudah besar dan juga akan menikah di usia belia seperti halnya denganku kemarin. Waktu cepat berlalu, padahal baru kemarin kami merasakan masa kecil kami yang tak jarang sering berebut makanan, sering juga bertengkar kecil antar saudara, bukankah suatu hal yang lumrah terjadi pertengkaran kecil di dalam keluarga.
Namun kini kami sudah beranjak dewasa, sudah sama-sama saling mempunyai pasangan hidup, ya walau tinggal Mas Anton saja yang belum halal, tetapi itu tidak lama lagi katanya. Mungkin beberapa bulan kemudian mereka akan melangsungkan pernikahan mereka juga, di rumah Mbak Najwa nanti.
Aku hanya bisa mendoakan kedua saudaraku semoga berbahagia bersama dengan pasangan mereka masing-masing. Walau banyak badai yang menerjang semoga kuat menghadapinya.
" Baiklah, bisa kita mulai acaranya?" Tanya Bapak penghulu menatap ke arah kedua mempelai, juga kepada para tamu yang hadir di acara tersebut.
" Silahkan Pak, sepertinya sudah jam-nya juga." Seru Bapakku mempersilahkan Pak penghulu untuk segera memulai acaranya.
" Baiklah, Bismillah... Mari Masnya ikuti saya ya, jangan terlalu tegang begitu, santai saja, siap ya." Ujar Pak penghulu menggoda sang memperlai pria. Mendengar itu memmbuat semua orang pun tersenyum menatap ke arah keduanya.
" Saya Nikahkan dan kawinkan engkau Kholil Ahmad Jafar Bin Mustofa Jafar dengan Anna Anisa binti Zainal Abidin dengan seperangkat alat sholat dan emas seberat lima gram di bayar tu—nai." Seru Pak Penghulu sembari menghentakkan sebelah tangannya yang sedang berjabat tangan dengan Kholil.
__ADS_1
" Saya terima Nikah dan kawinnya Anna Anisa binti Zainal Abidin dengan mas kawin tersebut di bayar tu—nai." Jawab Lantang Kholil serta dengan satu kali tarikan nafas saja akhirnya terucap.
" Bagaimana para Saksi SAH?" Tanya Bapak penghulu menatap ke arah para saksi.
" SAH, SAH, SAH.." Jawab serentak, bahkan semua orang ikut menjawabnya, ya walau yang datang tidak terlalu banyak, kami hanya mengundang beberapa para tetangga saja, tak terkecuali Pak RT juga Pak RW yang memang rumahnya dekat dengan rumah kami.
" Alhamdulillah..." Bapak penghulu pun segera melantunkan doa untuk kedua mempelai yang sudah sah menjadi sepasang suami istri.
" Silahkan Mbak Anna menyalami suaminya, juga Masnya bisa mencium istrinya ya." Seru Pak penghulu kemudian.
" Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dab warohmah. Aamiin.." Imbuh Pak penghulu kepada mereka.
" Aamiin." Kami semua pun ikut mendoakan yang terbaik untuk keduanya. Aku merasa lega ikut merasakan kebahagiaan yang Anna dan suaminya rasakan. Semoga kebahagiaan akan ikut serta dalam rumah tangganya.
Setelah menunaikan sholat Dzuhur di Mushola, pihak dari keluarga Kholil berpamitan kepada kami, sebab katanya di rumah masih ada urusan lainnya. Sehingga harus segera kembali ke kota.
Kam pun memakluminya, setelah kedua mobil meninggalkan halaman rumah, tinggallah kami sekeluarga, juga masih ada Mbak Najwa yang niatnya sore ini akan kembali ke kota bersama Mas Anton.
" Barakallahu laka wabaaraka alaikuma wa jamaa bainakumaa fii khoir. Selamat mengarungi bahtera rumah tangga ya Mas. Semoga kamu dan Dek Anna selalu dalam perlindungan Allah swt dan selalu diberkahi rezeki melimpah dari-Nya. Dan semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warrahmah." Ujar Bang Aziz kepada Kholil yang saling berjalan tangan dan memeluk ala pria.
" Terima kasih banyak Mas Aziz dan Mbak Anniyah, jangan panggil saya Mas dong, berasa jadi tua, hehe. 'Kan lebih tua-an Masnya juga dari pada saya, terlebih saya menikahi Anna yang statusnya adalah Adik dari Mbak Anniyah. Jadi Mbak dan Mas bisa panggil Kholil saja." Pinta Kholil kepada kami berdua.
Mungkin bagiku dan juga Bang Aziz terbiasa memanggil seseorang yang belum terlalu akrab kenal memanggilnya demikian, layaknya aku yang memanggil siapa saja walau usianya mungkin di bawahku, namun tetap saja, rasanya sungkan dan tidak nyaman saja.
Kecuali jika memang kami kenal sudah lama, dan juga sudah akrab pasti kami tak akan sungkan, walaupun memanggil langsung dengan namanya saja, mungkin itu tidak akan masalah.
__ADS_1
" Ajak makan siang dulu suamimu An, atau ambilkan. Mbak juga mau mengambilkan makan siang untuk Bang Aziz ini." Ajakku pada Anna yang baru saja keluar kamar dan sudah berganti pakaian.
" Iya Mbak, ini Anna memang mau ke belakang ambil makan, sudah laper soalnya. Bapak dan Ibu mana ya?" Tanyanya sembari berjalan bersamaku ke belakang.
" Iya, ya. Mbak juga nggak lihat. Mungkin beliau sedang ada di belakang rumah. Biar Mbak cek dulu, kamu ambil makan saja duluan ya." Pintaku, dan setelahnya aku pun berjalan ke arah pintu belakang. Dan terlihatlah Bapak dan Ibuku yang sedang duduk temenung berduaan, entah apa yang tengah mereka pikirkan saat ini.
Langkahku mengayun mendekati keduanya namun dengan langkah begitu pelan." Ya sudah, nanti sore aku suruh Pak Jamal untuk datang kerumah agar ia lihat dulu barangnya, sepertinya yang dua itu memang sudah waktunya Buk. " Kudengar Bapak berbicara kepada Ibu, entah apa yang sedang mereka bahas saat ini.
" Ya sudah, mana baiknya saja Pak. Toch kita masih ada kambing yang lain. Mudah-mudahan yang betina itu segera melahirkan, dan semoga selalu di beri tambahan rezeki kepada keluarga kita ya Pak." Sahut Ibuku berdoa.
" Maaf, jadi Bapak dan Ibu ingin menjual kambingnya? Bapak dan Ibu lagi butuh uang berapa? Dan memangnya buat apa juga?" Tanyaku yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan keduanya.
" Ya Allah Gusti, Niyah, kamu ngagetin Ibu saja." Gerutu Ibuku sembari mengusap d**anya pelan.
.
.
.
.tbc
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.
__ADS_1