
Nikmah_PoV
*
Aku mengetahui perihal kematian mantan Ibu mertuaku dari sosmed seseorang yang mengetag Neng Atin. Aku nekat datang kesana, walau aku sadar selama ini semua keluarga Aziz tidak merestui hubungan kami, hanya Neng Atin, itupun dulu, sekarang ia juga ikut membenciku. Dan yang paling menetang adalah Ibunya yang sekarang sudah pergi, jadi Abahnya pasti tidak mungkin akan mengusirku, apalagi aku membawa cucu-cucunya.
Aku sama sekali tidak melihat Neng Atin di dalam rumah, entah kemana dia? Atau mungkin dia sengaja menghindariku? Tidak masalah, suatu hari nanti pasti kita akan bertemu kembali entah itu kapan.
Sepulang mengantar anak-anak ke rumah mantan mertuaku tadi, aku dan Rojak yang kini telah menjadi suamiku langsung pulang menuju ke rumahku. Ya walau pernikahan kami banyak pihak yang menentang terutama Juleha istri pertama Rojak yang kini menjadi kakak maduku, akan tetapi Rojak selalu meyakinkanku jika semuanya akan baik-baik saja.
Di tambah perlakuan Rojak padaku semakin hari semakin sayang, aku tidak pernah meragukan hal itu, sebab memang dari dulu cintanya Rojak hanya padaku seorang. Bukan tanpa sebab aku meminta Rojak menhikahiku, aku hanya takut jika sampai aku hamil lalu bayiku tidak punya ayah, sedangkan aku sudah di ceraikan oleh Aziz.
Menyesal sudah pasti? Jika saja hari itu aku tidak nekat keluar rumah mendatangi kontrakan Anni, aku tidak akan bertemu kembali dengan Rojak. Namun memang nasibku yang sial, atau memang itu sudah menjadi takdirku, mau bagaimanapun semuanya sudah terlanjur terjadi.
Awalnya Paman dan Bibiku sungguh mengecam buruk padaku, menghinaku sebagai pelakor murahan yang telah merebut suami sepupuku sendiri, tapi semua bukan salahku. Dan untungnya Rojak selalu membelaku, selalu punya waktu untukku.
Dan akhirnya aku resmi di nikahi oleh Rojak sepupu angkatku, tepat setelah masa Iddahku selesai. Juleha sepupuku memilih pasrah dengan keputusan suaminya yang akan menikah lagi demi anaknya. Begitu pun denganku semua demi anak yang mungkin saja sedang tumbuh di rahimku. Jika Juleha demi anak dan juga cintanya yang besar pada Rojak, kalau aku hanya sebatas itu, rasa cintaku tetap milik Aziz pria yang sudah menceraikanku.
Tadi di rumah mantan mertuaku sebenarnya aku sengaja memancing Aziz, yang terus bermanja-manja pada Rojak, mengambilkan Rojak makanan yang tak pernah aku lakukan padanya. Justru aku sering melakukannya pada Aziz, bahkan rasa maluku aku singkirkan sejenak hanya untuk demi menarik simpatinya, setidaknya ia merasa cemburu dengan apa yang aku lakukan. Sebab belum ada satu tahun kami bercerai.
Namun dugaanku salah, Aziz sama sekali tidak meresponnya, justru bersikap cuek seolah kami tidak pernah menikah dan tinggal bersama dulunya. Hah! Sia-sia saja usahaku tadi. Maka dari itu, sekitar pukul sepuluh aku mengajak Rojak pulang ke kota, sebab tidak mungkin kami menginap, aku pun sekarang sudah memiliki pekerjaan bersama teman-temanku, ya sekedar mencari kesibukan agar tidak merasa jenuh di rumah setelah menngantarkan anak-anakku ke sekolahnya. Juga hitung-hitung untk biaya kehiduoan kami. Karena aku yakin Aziz tidak sepenuhnya memperdulikan kondisi keuanganku lagi.
__ADS_1
Walau Rojak sempat melarangku untuk bekerja, namun karena aku terus membujuknya akhirnya ia pun pasrah dengan keinginanku. Aku tahu Rojak mempunyai pekerjaan yag jauh lebih menjanjikan dari pada Aziz mantanku yang hanya bisa mengandalkan bengkelnya saja. Namun tetap saja aku tahu kondisi rumah tanggaku yang sudah hancur ini juga semuanya karena diriku. Mungkin inilah yang di sebut karma atas perlakuan burukku di masa lalu.
Dan setelah bercerai dengan Aziz, pikiranku sedikit terbuka, setidaknya aku ingin menjadi seorang wanita, seorang Ibu yang jauh lebih baik dari sebelumnya, ya aku menyadari semua kesalahanku. Walau statusku dan Juleha kini sama-sama istri dari Rojak, aku jadi berpikir mungkin seperti ini yang di rasakan Anniyah waktu itu.
Hingga tak sadar mobil yang kami tumpangi sudah berhenti tepat di garasi rumah, entah sejak kapan kami sampainya, terasa cepat sekali mungkin saat aku termenung tadi.
" Ayo masuk sayang." Ajaknya yang sudah membukakan pintu samping untukku. Inilah perbedaan Aziz dan Rojak, jika dulu bersama Aziz aku sendiri yang membuka pintu mobil, jika bersama dengan Rojak ia penuh dnegan pengertian. Selalu siap siaga, namun kini perasaanku jauh lebih condong ke Aziz di bandingkan Rojak yang dulunya pernah membuatku gil4.
Tak ingin menjawab aku segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah yang ternyata sudah di buka pintu utamanya. Sepertinya tadi saat sebelum membukakan pintu, Rojak lebih dulu membuka pintunya.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar meletakkan tas kecilku di atas sofa, lalu berjalan ke arah kamar mandi, untuk bersih-bersih. Dengan cepat aku tanggalkan seluruh kain yang melekat di tubuhku dan berdiri di bawah guyuran air.
Saat akan mengambil sabun, aku tersentak begitu ada lengan kekar memeluk tubuhku dari belakang. Sudah di pastikan pasti itu Rojak, aku merutuki kebodohanku yang lupa mengunci pintu.
" Sayang, kamu tega, lihat ni si ot*ng sudah berdiri tegak, pengen menyatu denganmu." Bisiknya dengan suara parau berat, dan aku tahu pasti hasratnya sudah mencapai ke ubun-ubun.
Awalnya aku ingin menolak ajakannya yang ingin berhubungan badan, namun apalah daya, semua sentuhan darinya selalu memabukkan, membuat semakin menggil4. Kalau sudah begini aku pun pasrah oleh apa yang ia lakukan yang semakin menbuat tubuhku melayang.
" Eummhh.." Lenguhku saat merasakan jilatannya di area sensitifku yang telah basah, yang membuat tubuhku bergetar tanpa bisa beranjak dari tempatku semula. Rojak selalu bisa melumpuhkanku.
Hingga tak lama erangan keras mengudara dari mulutku, ya aku sudah mencapai puncak pertamaku. Tubuhku langsung lunglai tak bertenaga. Dengan sigap Rojak menahan tubuhku agar tidak terjatuh, ia menggendongku keluar kamar, dan meletakkan tubuh polosku di atas ranjang, bersiap akan melakukan penyatuan kembali.
__ADS_1
" Aku mulai ya?" Bisiknya. Hingga suara lenguhan tertahan kami mengudara begitu tubuh kami sudah menyatu. Menikmati gelombang rasa, saling mencari titik kenikmatan masing-masing.
" Aah, sayang aku hampir sampai." Lirihnya yang kurasa ot*ngnya semakin membesar di dalam sana, aku pun sudah tidak tahan lagi.
" Faster sayang." Pintaku yang sebentar lagi juga akan sampai. Hingga detik berikutnya lenguhan panjang keluar dari mulut kami bersamaan. Dan bisa kurasakan rahimku terasa hangat oleh tembakan lava putihnya. Nafas kami memburu sembari menormalkan keadaan semula.
" Bukankah malam ini, seharusnya kamu tidur bersama Juleha?" Tanyaku yang baru ingat jika kami mempunyai perjanjian yang konyol, selama tiga hari berturut-turut, Rojak akan berbagi tempat untuk bermalam untuk kami kedua istrinya.
" Besok saja, aku sudah sangat lelah." Lirihnya yang sudah memejam, berbaring di sebelahku sembari memeluk tubuhku dengan erat, seolah takut aku akan pergi darinya.
" Tapi_
" Sssttt, tidurlah sayang. Kita sudah bekerja keras." Selanya yang seolah tak ingin di bantah.
" Bekerja keras, ot*ngu itu!" Desisku kesal, namun tak ada balasan darinya, hanya saja lengannya semakin mengerat di perutku. Aku hanya bisa mendengkus kesal. Seperti inilah kehidupan yang sekarang aku jalani, tetapi aku sedikut merasa bahagia, rela menjadi istri yang kedua.
.
.
.tbc
__ADS_1
Mohon dukungan dari semuanya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.