
Zubair_PoV
*
Selepas selesai acara pengajian lalu berlanjut ke acara resepsinya, kulihat istriku sejak tadi terus bergerak gelisah di kursinya, entah apa yang terjadi padanya, karena penasaran aku pun bertanya.
" Sayang kamu kenapa?" Tanyaku pelan dan juga semakin heran saat melihatnya tiba-tiba berdiri dari duduknya.
" Aku sudah tidak tahan lagi, apa acaranya sudah selesai?" Jawabnya lirih seraya terus bergerak.
" Sepertinya sudah, kamu ini kenapa sih? Tidak tahan apa? Kamu capek? Kalau gitu kita masuk saja yuk." Ajakku, yang mungkin saja dia memang sudah lelah sedari tadi duduk di pajang di pelaminan.
" Aku mau ke kamar udah kebelet banget ini, ya udah yuk anterin. Kakiku juga sebenarnya juga sudah pegal." Keluhnya seraya menahan sesuatu yang mungkin sudah penuh minta di keluarkan.
" Ya udah yuk." Sahutku bersemangat.
Tentu saja sudah pasti aku bersemangat, mengingat malam ini adalah malam pertamaku dengan istriku Ifah. Ya aku sedari dulu pertama mengenalnya selalu memanggilnya demikian, mungkin panggilan sayangku padanya.
Yang memang pertama kali bertemu dengannya aku sudah suka, entah apa yang aku sukai darinya. Awalnya aku kira usianya di bawahku satu atau dua tahun, tidak tahunya justru lebih tiga tahun lebih tua dariku, tapi itu tidak masalah bagiku, karena bagiku dia masih kelihatan awet muda.
" Lho kalian mau kemana? Acaranya 'kan belum selesai?" Tanya Budhe Atin yang tiba-tiba saja muncul di hadapan kami berdua saat baru akan melangkah masuk ke dalam rumah.
" Ini budhe Mus sudah kebelet, sudah tidak tahan lagi. Sepertinya tamunya juga sudah agak sepi, paling tinggal tamu Abi dan Ummi saja yang datang. Bolehkan kalau kami ijin masuk, nanti balik lagi kok, Mus juga kakinya sudah pegal ini minta di rendam sebentar." Sahut istriku menjawab apa adanya.
" Oh ya sudah kalau begitu sana gih, sepertinya tamunya juga sudah jarang, tinggal sedikit. Nanti tidak perlu keluar lagi, biar Budhe yang menjelaskan kepada kedua orang tua kalian, jika mereka nanti bertanya." Sahut Budhe sebelum melenggang pergi.
Kami sama-sama menghela napas lega, pun segera masuk menuju ke kamar kami, aku menuntun istriku membantu memegangi gaunnya yang sedikit panjang bagian bawahnya. Walau acara malam ini belum selesai tapi aku sudah mengajak istriku masuk ke dalam rumah, biar sajalah, mereka pasti memaklumi kami, juga aku sudah tidak sabar lagi.
__ADS_1
" Sini aku bantuin buka gaunnya." Ujarku tanpa miinta, setelah itu istriku langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi, membuatku menggeleng pelan, lucu sekali tingkahnya ini.
Aku juga langsung melepas pakaian yang aku pakai, dan hanya menyisakan celana pendek saja lalu setelah itu aku mengambil kaos polos yang ada di dalam lemari dan langsung memakainya.
Tadi pagi saat berangkat dari rumah aku memang sudah membawa koper kecil berisi pakaianku. Tidak banyak karena setelah ini kami memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri, rumah yang sudah aku persiapkan jauh hari bersama istriku nanti.
" Gimana udah lega?" Tanyaku yang kini sedang duduk di kursi kecil dekat ranjang sembari bermain ponsel.
" Alhamdulillah lega sekali rasanya Sayang,, tadi aku juga sempat merendamkan kakiku sebentar di dalam air hangat, jadi sedikit berkurang pegalnya." Pungkasnya tanpa di tanya dulu.
" Pantesan sedikit lama, ya sudah naiklah ke atas, nanti setelah bersih-bersih aku pijitin kakinya. " Ujarku sebelum melangkah ke kamar mandi.
Tak berapa lama aku pun sudah keluar dan berjalan ke arah ranjang. Kulihat istriku sudah berbaring tengkurap, ternyata dia sudah siap menungguku. Aku pun merangkak naik, dan perlahan memegang kakinya mulai memijat.
" Gimana enak nggak pijatanku sayang?" Tanyaku tanpa menghentikan pijatanku yang semakin naik ke atas.
" Hmmm, enak sekali. Sepertinya cocok jadi tukang pijat, kenapa tidak buka jasa pijat saja?" Usulnya yang ku balas dengan senyuman.
" Oh jadi mau mijit wanita lain, ya sudah sana. Sudah tahu dosa tapi tetap saja berkata seperti itu. Dan tidak ada bayaran-bayaran double." Jawabnya sedikit ketus, kali ini aku tidak tahan lagi untuk tidak tertawa.
" Aduh sayang,, sayang. Maaf, mana mungkin juga aku mau mijit wanita lain, kalau sudah punya kamu. Yuk sekarang saja, sudah sesak ini." Ajakku yang memang milikku sudah menegang sejak melihatnya tengkurap tadi.
" Kamu sih bikin aku kesal. Apanya yang sesak?" Tanyanya penasaran. Dia ini tidak mengerti atau polos sih?
" Ya itu, dia sudah bangun dari tadi. Minta di pertemukan dengan pawangnya.. Yuk ah sayang.. jangan lama-lama." Ujarku sedikit gemas, tanpa banyak bicara lagi aku segera membalikkan tubuhnya menjadi terlentang, segeralah aku menyerangnya.
Sungguh ini sangat manis, rasanya tidak ingin berhenti menyesap rasa yang sudah membuatku kecanduan. Apalagi saat ia membalas perlakuanku, rasanya sungguh seperti sedang terbang ke angkasa.
__ADS_1
Baru seperti ini saja rasanya sudah nikmat, lalu bagaimana rasanya saat kami sudah menyatu nanti? Karena suhu tubuhku sudah semakin naik, aku dengan cepat melucuti pakaian tidur kami, dan membuangnya asal.
" Aku mulai ya..?" Bisikku yang semakin tidak sabar lagi ke inti permainan panas kami." Bismillah.."
Awalnya aku sedikit kesulitan, tapi istriku ikut membantuku. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya kami pun bisa menyatu, pernikahan kami telah sempurna. Dan pada akhirnya kami bisa merasakan yang namanya nikmatnya surga dunia yang kebanyakan orang bilang.
Memang aku akui, ini memang sangat luar biasa bisa membuat semua orang menggil4 jika sudah merasakannya. Pantas saja banyak pemuda pemudi yang salah kaprah dalam pergaulan mereka.
Dan Alhamdulillahnya aku dan istriku tidak sampai terjerumus, buktinya malam ini akulah yang telah menjebol gawang pertahanannya dan mencetak gol kemenangan. Dan aku semakin mencintainya.. Ku bersihkan menggunakan tissue sisa permainan kami barusan di masing-masing alat tempur kami, lalu aku tidur menyamping memeluknya dengan erat.
" Terima kasih ya sayang, semoga segera jadi benih yang ku tanam di dalam sini. Tadi itu sangat luar biasa, sampai-sampai si otong sedikit kewalahanan di servis oleh pawang cintanya." Aku tersenyum bahagia seraya banyak menghadiahi kecupan di seluruh wajah cantiknya itu, dia hanya diam membiarkan saja perlakuan sayangku.
" Sama-sama suamiku, itu sudah menjadi kewajibanku sebagai istri, terlebih aku juga merasa bahagia sekarang, jadi makin sayang.." Balasnya yang tak segan lagi memeluk tubuhku yang masih polos.
Ya tentunya di balik selimut tebal ini kami masih dalam keadaan sama-sama polos. Rasanya tenagaku terkuras habis setelah permainan kami. Padahal hanya tiduran, mungkin itulah penyebabnya kebanyakan orang menyebutnya olah raga malam.
" Istirahat dulu, sembari kita kumpulkan tenaga kembali siapa tahu nanti aku mau nambah." Ujarku memejam sengaja menggodanya, seraya sebelah tanganku mengusap punggung polosnya itu.
" Lagi? Tapi ituku masih sedikit perih lho." Lirihnya mengerucutkan bibir mungilnya membuatku sedikit gemas saja saat membuka sedikit mataku barusan.
" Masih sakit ya, ya maka dari itu cepat tidur. Bisa jadi besok pagi aku mintanya." Sahutku cepat tanpa berpikir lagi.
" Sudah tahu, pakai nanya lagi!" Desisnya seraya membalikkan tubuhnya membelakangiku, pasti ngambek ini.
" Ya sudah kita tidur saja. Jangan lupa berdoa sayang.." Ucapku yang kini memeluknya dari belakang. Walau ia tidak membalas ucapanku, tapi aku bisa merasakan jika dia nyaman aku peluk seperti ini.
~tbc
__ADS_1
Minta dukungan dari semuanya ya, tekan like dan favoritenya,, dan juga hadiahnya jangan lupa..🌷🌷🌷
Terima kasih sudah mampir membaca, maaf kalau masih banyak typo dimana-mana.